로그인Valin terdiam untuk beberapa waktu. Devan, kekasihnya yang sudah dia pacari sejak dua tahun terakhir. Di depan Valin Devan bersikap sangat manis. Hanya saja akhir-akhir ini, keduanya dilanda kesibukan, hingga waktu untuk bertemu nyaris tidak ada.
Komunikasi cuma terjalin lewat chat. Itupun Valin sadari mulai jarang belakangan ini. Jadi ini penyebabnya. Devan punya hubungan dengan Tessa, dokter magang yang ternyata putri direktur rumah sakit. Valin menghela napas. Mungkin begini lebih baik. Jika Devan tidak serius dengannya, putus saja. Toh hubungan mereka tidak terlalu intens. "Aku bosan dengannya. Dia terlalu lurus. Masak ciuman saja tidak mau." Valin yang ingin pergi dari sana urung beranjak begitu mendengar ucapan Devan. "Kuno sekali. Di zaman sekarang, mana ada orang pacaran cuma makan sama pegangan tangan saja," cetus Tessa dengan nada mengejek. Perempuan itu sepertinya merasa bangga bisa merebut Devan dari Valin. Kakak Vante mendorong napasnya kasar. Dia bukannya sok suci, tapi ingin menjaga diri. Kalau Devan pikir dirinya terlalu kolot. Tidak masalah jika pria itu memilih yang lain. Hidupnya sudah terlalu rumit dengan berbagai masalah. Tidak punya kekasih mungkin akan mengurangi bebannya. Jika disebut dia tidak marah kalau Devan selingkuh, Valin jelas marah, juga tidak terima. Tapi apa gunanya meratapi seseorang yang tidak ingin bersamanya. Valin hanya akan merendahkan diri jika memohon pada Devan, agar pria itu kembali padanya. Valin kali ini yakin untuk melepaskan Devan. Tapi ucapan Tessa selanjutnya kembali membuat Valin tidak jadi pergi dari sana. "Lalu bagaimana dengan donor ginjal. Aku dengar kamu sudah dapat orangnya." Valin tercekat, donor ginjal itu, Devan berjanji mencarikannya untuk Vante. "Memang aku sudah dapat. Tapi dia ternyata juga cocok dengan ibumu. Jadi, ibumu yang akan menjalani transplantasi bulan depan." Kali ini Valin tidak bisa tinggal diam. Dia berbalik dengan tangan terkepal di kedua sisi tubuhnya. "Apa maksudmu ginjal itu untuk orang lain?" Devan dan Tessa terperanjat mendapati Valin berdiri di hadapan mereka. Devan segera menjauhkan diri dari Tessa yang seketika cemberut. Katanya tidak punya rasa, tapi Devan tidak mau terang-terangan di depan Valin. Tessa mendengus tidak suka. Valin memang cantik dan pintar. Tessa akui itu. Bahkan ayahnya kerap memuji Valin. Hal ini memicu kecemburuan Tessa. Valin hanyalah gadis biasa dari kalangan bawah. Kuliah kedokteran pun full beasiswa. Apa hebatnya Valin. Hingga dia bisa mengalahkan Tessa yang seorang putri direktur. "Valin, kamu di sini? Aku dan Tessa ...." "Aku tidak peduli dengan apa yang kalian lakukan. Yang aku ingin tahu kenapa ginjal untuk Vante jadi beralih untuk ibu dokter Tessa." Valin menatap tajam pada Devan dan Tessa bergantian. Devan tampak kecewa ketika Valin tidak bereaksi apa-apa saat melihatnya bersama Tessa. "Jawab dokter Devan kenapa dokter diam saja." Devan mengerutkan dahi, kenapa Valin jadi formal sekali padanya. Padahal dulu wanita itu akan menempel padanya jika ada kesempatan. "Valin dengarkan aku. Vante masih muda, dia bisa menunggu. Tapi ibunya Tessa." "Tidak! Vante tidak bisa menunggu! Ingat, dia mengalami kerusakan ginjal parah karena apa?" Devan tercekat, rasa bersalah terlihat di wajahnya. Dia tahu jelas kenapa Vante sampai gagal ginjal. "Aduh, dokter Valin. Semua orang juga tahu kecelakaan itu musibah. Devan juga tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini." "Devan? Manis sekali dokter Tessa ini. Tapi dokter sebaiknya diam saja. Dokter tidak tahu apa yang terjadi. Ini masalah saya dan dokter Devan!" Tessa meringis ketika aura Valin menekannya. Dia mundur sambil mencengkeram lengan Devan. "Devan, aku takut," adu Tessa. Rasa bersalah Devan hilang, berganti amarah yang mendadak muncul. "Kamu menakuti Tessa, Lin." "Aku? Menakutinya? Bahkan menegurpun sekarang adalah sebuah ancaman, begitu? Dokter Devan, aku tidak peduli kalau kalian punya hubungan di belakangku." "Kamu ingin putus dan menjalin kasih dengan putri direktur rumah sakit, silakan. Tapi aku ingin donor ginjal untuk Vante tetap dijalankan sesuai prosedur. Tidak ada penundaan apalagi gagal." Valin bersikeras. Vante harus naik meja operasi secepat mungkin. "Devan, ibuku juga tidak bisa menunggu," rengek Tessa penuh tipu. "Kondisi ibu dokter Tessa lebih baik dibanding adik saya. Ibu Anda bisa menunggu." Valin dengan tegas menyerang Tessa. "Yang paling tahu kondisi pasien adalah Devan. Dia kan dokternya. Semua keputusan ada di tangannya. Benar tidak?" Tessa mengedipkan sebelah mata dengan tangan menjalar ke belakang punggung lalu turun ke pinggang. Valin hanya bisa menatap trikTessa yang dia anggap murahan. "Jadi keputusan dokter Devan apa?" Todong Valin langsung. Dia enggan berbasa basi lagi pada dua orang di depannya. "Bagaimana dengan biaya untuk Vante. Apa kamu sudah menyiapkannya?" Valin terkesiap. "Itu ...." Devan menghela napas. "Peraturannya berubah, Valin. Mereka minta tunai, tidak ada lagi bayar separuh seperti dulu." "Tapi, tapi. Kamu bilang akan membantuku. Devan, ingat! Vante begini karena menyelamatkanmu!" Emosi Valin akhirnya meledak juga. Matanya berkaca-kaca. Sungguh, dia tidak pernah mengira kalau Devan akan jadi manusia tidak tahu balas budi seperti ini. "Valin, aku tidak pernah minta Vante menolongku." Apa? Valin bengong di tempatnya berdiri. Apa tadi Devan bilang? Jadi pria itu ingin lepas tangan atas apa yang terjadi pada Vante tiga tahun lalu. "Kamu jahat, Van. Dia menderita karena kamu. Dan kamu sekarang ingin lari dari tanggung jawab, begitu?" "Valin cukup! Memangnya dua tahun jadi bonekamu belum cukup?!" Valin tercekat. Inikah yang sebenarnya yang Devan rasakan pada hubungan mereka. Jadi boneka? "Kamu tidak pernah mengerti aku. Aku harus selalu menuruti keinginanmu. Aku muak, aku bosan. Denganmu aku serasa mati rasa, tapi dengan Tessa, aku merasa hidup." Kakak Vante tercengang. Hatinya terluka mendengar ucapan Devan. Jadi boneka, tidak pernah mengerti, muak, bosan. Air mata gadis itu tumpah juga akhirnya. "Aku ingin putus denganmu. Dan masalah Vante, kecuali kamu bisa siapkan satu setengah miliar di awal, transplantasi ginjal Vante akan segera diproses. Jika tidak, ibu Tessa yang akan naik meja operasi." Sesak memenuhi dada Valin, satu setengah miliar dibayar di muka. Di mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Devan benar-benar ingin menghabisi Vante pelan-pelan. Valin tertunduk dengan air mata perlahan menuruni pipi. Sementara Devan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. "Menyedihkan. Dibuang kekasih, adiknya juga gagal operasi," cibir Tessa sebelum berlari menyusul Devan. Valin tidak tahu jika Zen mengawasinya dari balik dinding kaca di sisi kiri. Ekspresinya tetap datar, tidak terbaca apa yang sebenarnya Zen pikirkan. "Zen ini informasi yang kamu minta." Zen membuka map yang diberikan asistennya. "Hanya ini saja?" "Ada masalah?" "Dia mengingatkanku pada putri keluarga Quincy yang telah lama hilang."Dua bulan kemudian. "Kamu ikut papamu dulu ya. Lihat bunga." Yang diajak bicara mengedip sambil tersenyum. Menampilkan gusinya yang masih belum bergigi. Ompong tapi justru sangat manis untuk bayi. "Kamu nanti bikin dia insecure," seloroh Zen yang kemampuan berjalannya sudah pulih. Tidak seperti ingatannya yang masih stuck, tak bertambah. "Niatku kan baik. Aku tidak bermaksud mengintimidasinya." Valin merapikan tampilannya. Dia baru saja menyusui sang putri. "Terserahlah. Ayo, Re, kita jalan-jalan dulu. Aku hubungi kalau dia nangis." "Paling pol dia bakal tidur lagi," kata Valin sambil membuka pintu mobil. Zen menggendong Rea menjauh dari Valin. Pria yang mengenakan kemeja putih itu benar-benar menjelma jadi hot daddy. Matang, tampan dan mempesona. Dalam gendongan lengan kekar Zen, Rea tertawa-tawa sambil melihat keadaan sekitarnya. Sementara Valin, perempuan bergaun hitam itu berbalik setelah melihat Zen menghilang di balik pintu. Tubuh Valin tampak ramping. Tapi aset kembar d
"Sudah sembuh?"Yang ditanya hanya menunjuk bekas luka seperti selulit tapi versi lebih parah di lehernya."Dijadwalkan untuk bedah estetik, biar mulus lagi." Balas Kian lelaki yang beberapa kali melirik ke arah Rea. Bayi cantik yang masih lelap dalam tidurnya."Dapat kloningannya?""Nope! She's is mine," sambar Zen tegas. Dia tahu ke arah mana pembicaraan Kian.Dulu Zen mungkin tak terlalu peduli pada eksistensi Kian. Tapi kini dia sadar kalau lelaki di depannya masih punya sesuatu yang disembunyikan dengan apik.Perasaan Kian belum sepenuhnya lepas dari Valin. Dengan ingatan lama, Zen tidak bisa melihatnya. Namun ketika dia amnesia. Saat dia menilai sikap Kian dari sudut yang berbeda. Dia menemukannya. Dia bisa menyadarinya."Aku akan menikah."Itu bukan pemberitahuan itu klaim. Kian seolah ingin membuktikan kalau dia sudah move on dari Valin. Padahal yang sebenarnya tidak ada yang tahu."Jangan menyakiti perasaan orang.""Kali ini tidak. Dia setuju menikah denganku."Zen menarik su
Kian. Nama itu memunculkan sensasi aneh di dada Zen. Dia diberitahu kalau pria itu tangan kanannya. Orang kepercayaannya. Namun sekarang ada alarm yang berbunyi kencang di kepalanya.Seolah dia bisa meraba kalau ada sesuatu yang tidak beres soal nama itu. Atau dia cemburu pada Kian."Apa dia salah satu dari mereka yang menyukaimu. Mereka bilang kamu punya banyak penggemar rahasia."Zen mengajukan pertanyaan setelah semua orang pergi. Di sana tinggal dia dan Valin."Kayak dia enggak saja. Yang mengejarmu juga tidak sedikit. Cuma yang agak gila satu. Untungnya sudah diikat sama Yuan."Valin membalas sambil menggendong putrinya setelah selesai menyusu. Perempuan sudah bisa duduk, sudah bisa berjalan meski pelan. Hanya saja Valin masih merasa lemas. Jadinya dia belum banyak bergerak. Kecuali ke kamar mandi.Lagi-lagi Zen dibuat menganga. Apa Valin sejak dulu seseksi itu. Kalau iya, pantas dirinya cinta mati pada sang istri. Siapa juga yang rela berbagi jika Valin memenarik itu.Bersamaan
"Untung semua aman."Perkataan Sylus nyaris seperti gerutuan. Dia benar-benar tak habis pikir dengan Zen. Nekad sekali orang itu. Nasib baik tak ada saraf atau otot yang robek saat pria itu memaksakan diri berjalan tanpa bantuan.Yang dimarahi hanya nyengir lebar. Tanpa dosa, tanpa merasa bersalah telah membuat semua orang cemas juga takut.Ditambah dia mengamuk saat Valin dioperasi. Siapa yang tidak makin ngeri waktu melihat atau bertemu Zen."Kan sudah kubilang. Aku bisa.""Buktikan kalau begitu. Tapi memang kamu seharusnya bisa jalan. Orang habis caesar itu pulihnya lama. Gak kayak orang lahiran normal. Dia perlu bantuan buat ngurus anak kalian.""Kata siapa?" Zen menyanggupi tantangan Sylus. Dia perlahan berdiri. Perlu beberapa kali percobaan sampai dia akhirnya bisa melakukannya. Dua staf tampak berjaga di sisi kiri dan kanan Zen. "Kata mereka. Aku tidak tahu, aku belum pernah mengalaminya.""Otewe kalau begitu." Zen meringis ketika merasakan seluruh ototnya meregang karena tin
"Jangan lihat mereka. Pandang saja aku," bisik Zen ketika sayatan pertama Paula lakukan.Tidak ada perih yang terasa. Dokter anastesi melakukan tugasnya dengan baik. Satu-satunya lelaki selain Sylus yang akhirnya diizinkan masuk. Mereka kehabisan waktu, hingga Zen tak punya pilihan selain mengizinkan dokter anastesi pria membantu persalinan Valin.Ruangan itu kemudian hanya diisi oleh suara alat bedah yang bekerja. Bisturi atau pisau bedah/scalpel. Lalu gunting metzenbaum, gunting mayo, pinset, retraktor berurutan digunakan.Hingga ketika bisturi atau scalpel alias pisau bedah kembali digunakan. Banjir langsung terjadi di bawah sana.Ketuban Valin berhasil dirobek. Beberapa klem arteri digunakan untuk mengontrol aliran darah selama fase operasi. Paula dan Sissy sesaat bertatapan. Sebelum dengan perlahan mereka mendapatkannya.Semua orang menahan napas. Ketika tangis kencang memenuhi ruangan itu. Sissy bahkan sampai berkaca-kaca ketika dia menangani bayi cantik bermata biru tersebut.
Detik berlalu berubah jadi menit. Menit menjelma jadi jam. Selama itu Zen terus mendampingi Valin yang sedang berusaha menahan kesakitan guna melahirkan anak mereka.Hampir enam jam proses itu berlangsung. Dengan pembukaan tujuh sebagai hasilnya. "Tidak ada masalah bukan?" Sylus kembali bertanya."Tidak ada. Tiap proses melahirkan memang berbeda. Tak semua sama. Sissy bilang, tidak ada masalah waktu pemeriksaan terakhir. Dia sudah mengirimkan hasilnya padaku.""Bahkan USG-nya sampai paling detail. Valin ingat Tristan terlilit tali pusat meski cuma satu lilitan.""Lalu apa masalahnya?" Sylus tampak bingung."Tidak ada. Hanya belum waktunya. Lagi pula kondisi Valin dan bayinya terpantau masih aman. Air ketubannya masih cukup. Masih bagus untuk melindungi bayinya.""Sudah bagus dia lahir sekarang. HPL-nya sudah lewat empat hari. Sissy bilang kasih waktu seminggu. Kalau bayinya belum juga lahir. Terpaksa harus di-SC."Sylus menghela napas. "Sayang sekali Sissy sedang menangani kasus ibu
Sudah hampir lima belas menit, tapi Zen sama sekali tidak bicara sepatahkatapun. Kian muncul hanya untuk menjemput Valin. Sekali lagi Kian jadi perisai untuk hubungan Valin dan Zen. Setelah itu Kian menghilang, tugas selesai, dia pergi.Valin pikir dia akan menerima kemarahan Zen seperti biasa jika
"Itu bukan kontrak namanya.""Kamu pilih jadi janda.""Yang tahu kita sudah menikah siapa?"Zen ingin menjawab, tapi tatapan menantang dari Valin membungkamnya. Selain anak buahnya dan Vante memang tidak ada yang tahu kalau dia dan Valin telah menikah."Kamu ingin go publik?""Dengan seorang pembun
Zen lumayan terkejut mendengar jawaban Valin. Tapi itu tidak lama, sebab setelahnya Zen tersenyum tipis."Sudah kamu pertimbangkan akibatnya?"Valin menggigit bibir. Tangannya terkepal. "Kami akan pergi dari The Dream. Kita tidak akan bertemu lagi. Untuk hutang operasi Vante, aku akan membayarnya t
Valin memandang Zen yang duduk santai sambil menyesap anggurnya. Pria itu tampak tenang. Bahkan ketika Valin dipenuhi dengan bara penasaran.Namun perempuan itu berusaha tidak menunjukkannya. Rasa ingin tahu itu berpadu dengan pertanyaan, kenapa Zen melakukan ini. Apa pria itu sedang menjelaskan pa







