LOGIN"Dokter, saya mohon."
"Maaf, Valin. Saya sudah coba bicara dengan direktur. Tapi dia memilih istrinya." Valin terhuyung ke belakang, nyaris ambruk andai rekannya tidak menahan tubuhnya. "Dilihat dari urgensinya, seharusnya Vante diprioritaskan. Tapi beliau tidak mau menunggu. Kami bahkan siap patungan jika pihak rumah sakit minta dana operasi di awal. Tapi ayah Tessa tidak mau mengalah." Valin menangis. Sejak kemarin di sela jadwal operasi dan tugas rutinnya sebagai dokter di rumah sakit. Valin berkeliling mencari dukungan agar Vante bisa dioperasi. Donor ginjal yang ditemukan Devan sangat spesial sebab ada dua pasien yang mengantri untuk operasi transplantasi. Mereka seperti bertarung untuk satu kesempatan hidup yang lebih baik. Ibu Tessa dengan segala privilege-nya menang. Tidak peduli jika pasien lain kondisinya akan makin buruk. Itu bukan urusan mereka. "Maaf, Valin." Ucapan itu datang dari berbagai sisi. Melukai Valin dari segala arah. "Vante, Vante," sebutnya penuh keputusasaan. Vante adalah separuh nyawanya. Valin tidak bisa kehilangan dia. Atau dia akan ikut mati. Gadis itu masih sibuk memutar otak ketika ponselnya berdering. "Ya Maria, ada apa?" Valin lekas berlari ke arah ruang cuci darah. Begitu dia berada di sana, dia langsung menghambur ke arah Vante. "Vante bertahan. Kakak mohon," katanya seraya memeluk tubuh Vante yang lemah. "Aku belum mati, Kak. Selama aku belum mati aku akan bertahan." Vante berujar dengan mata terpejam. Kondisi Vante mendadak ngedrop di tengah proses cuci darah berlangsung. Tekanan darah Vante turun drastis. Ini biasa terjadi pada pasien cuci darah. Sebab tubuh tidak mampu mengatasi penurunan volume cairan yang cepat. "Kakak tenang saja. Aku akan berada di sisi Kakak, sampai aku tidak bisa melakukannya lagi." Vante menatap kakaknya. Cantik seperti ibu mereka. Namun kesulitan hidup telah menggerus segalanya. Bahkan cinta yang seharusnya jadi milik kakaknya direbut wanita lain. Pemuda itu bukannya tidak tahu kabar yang beredar di rumah sakit. Dia cukup akrab dengan rumah sakit ini. Sebagian besar orang mengenal dirinya. Sebagai pasien juga sebagai adik dokter Valin. Dokter baru yang sangat berbakat. "Jangan nakutin Kakak, Vante." Vante mengusap air mata Valin. "Padahal aku dulu yang janji bakal jaga kakak. Tapi malah kebalik. Aku tidak berguna. Dan semua gara-gara si brengsek tidak tahu terima kasih itu." Tangan Vante terkepal teringat Devan. "Sudah, Vante. Sudah. Kakak yang salah. Kakak juga tidak terlalu memikirkan dia. Dia mau punya perempuan lain, Kakak juga tidak peduli. Kakak cuma mau kamu." Senyum Vante yang langka terbit. "Kita dating habis ini kalau begitu." Senyum Vante menular pada Valin. Gadis itu turut melengkungkan bibir. Vante adalah poros hidupnya. Jika Vante senang, Valin akan ikut bahagia. Dan senyum Vante sudah cukup jadi pelipur lara untuk kelelahan Valin. Mood Valin yang buruk berubah cepat karena sang adik. Valin sendiri berjanji tidak akan pernah menyerah soal operasi Vante. Dia mendengar seorang dokter bicara. "Kecuali kamu bisa bertemu pemilik rumah sakit, mungkin dia mampu membalik keadaan. Dia bisa saja membuat direktur mengubah keputusannya." "Pemilik rumah sakit? Siapa dia, namanya saja aku tidak tahu," batin Valin sambil menggandeng tangan Vante usai cuci darah selesai. Keadaan pemuda itu berangsur membaik. Orang akan mengira mereka pasangan jika tidak tahu kalau keduanya kakak adik. Mereka belanja sebentar di mini market dekat rumah sakit. Inilah dating yang Vante maksud. Sekedar jalan berdua, menikmati waktu yang masih bisa mereka lewati bersama. Valin terus berusaha untuk kesembuhan Vante. Namun di sisi lain dia juga tidak bisa mengubah. Jika waktu yang mereka miliki makin sedikit. Kalau Vante tidak segera dioperasi. "Kalian membuat pasien kelaparan!" Suara itu membuat Valin dan Vante kompak melihat ke sofa. Di mana seorang pria bertelanjang dada duduk di sana. "Tuan belum pergi?" Valin tidak menyangka Zen masih ada di sana. "Aku tidak punya tempat tinggal," balas Zen. Mata tajamnya serasa memindai dua beradik di depannya. "Bohong!" Vante menyahut cepat. "Seorang pembunuh bayaran sepertimu pasti uangnya banyak. Kau di sini hanya untuk bersembunyi," lanjut Vante. "Cerdas sekali! Dan ingat, pembunuh ini bisa menghabisi kalian kapan saja." "Bunuh saja aku, biar beban kakakku hilang." "Vante!" Jerit Valin tidak suka. Zen terus menatap Vante yang anehnya tidak takut sama sekali padanya. Sikap Vante cenderung menantangnya. Hal ini bukan sikap yang dimiliki oleh pria biasa. Padahal sejauh yang Zen tahu, Vante hanyalah pemuda pengidap gagal ginjal akut. Nasibnya tinggal menunggu maut, jika transplantasi ginjal tidak segera dia dapatkan. "Aku bisa berikan uang banyak jika kamu mau jadi dokter pribadiku. Tawaranku masih berlaku." "Tidak, terima kasih. Saya masih sayang hidup saya. Berurusan dengan pembunuh bayaran sama saja dengan saya menggadaikan diri. Tuan jelas akan memprioritaskan keselamatan Anda lebih dulu jika ada ancaman." Sudut bibir Zen tertarik. Logika Valin luar biasa cerdas. "Mari kita ubah syaratnya." "Tidak ada nego ulang." "Keselamatanmu dan Vante aku akan mengutamakannya. Bahkan di atas hidupku." Vante memicing, sepertinya pemuda itu jauh lebih kritis pemikirannya dari yang Zen kira. "Alasannya?" Vante mendesak. "That's my privacy. Kamu tidak perlu tahu." "Tolak saja kalau begitu. Dia bisa dapatkan banyak dokter pribadi di luar sana. Kakak tidak perlu membahayakan hidup Kakak untuk dapatkan uang banyak." "Setuju," sambut Valin tanpa ragu. Zen menggertakkan gigi. Duo V di depannya ternyata sangat sulit ditakhlukkan. "Makanannya, Tuan." Zen melirik piring di hadapannya. Sepanjang mereka nego, Valin masih bisa memasak. Dan hasilnya membuat Zen keroncongan. "Lukanya terbuka lagi," adunya sambil melahap makanannya. Seketika Zen tercengang. Berapa banyak bakat yang Valin miliki. Masakan Valin lezat sekali. "Nanti, kamu tidak akan mati hanya karena jahitan jebol." Sial! Valin mulai berani padanya. Padahal ketika ditodong senjata hari itu. Gadis berambut hitam tersebut ketakutan setengah mati. Zen lihat Valin makan di sisi Vante. Valin tampak lebih banyak bicara dibanding Vante. Valin cerewet dan Vante pendiam. Ketika Zen masih asyik dengan pikirannya sendiri. Mendadak tatapannya bersirobok dengan sorot dingin Vante. Dua pria itu beradu pandang. Tidak ada yang mau mengalah untuk beberapa waktu. Sampai Zen menemukan ide. Dia tahu kelemahan Valin. "Nego terakhir. Jika kamu bersedia jadi dokter pribadiku. Aku bisa jamin Vante dapat dioperasi. Kapan saja, sesuai keinginan kalian."Langkah Zen lebar dan cepat. Dia seolah ingin kakinya membawa dirinya secepat mungkin ke tempat tujuan. Informasi yang baru saja dia terima dari Shane membuat waktu berhenti sesaat.Langit di atas kepalanya serasa runtuh menimpanya. Dunia Zen diselimuti kegelapan total. Pria itu sempat terhuyung. Syok dengan apa yang baru saja dia dengar.Hingga perintah Zen terdengar parau, "Bawa aku padanya."Dan di sinilah Zen berada. Sebuah ruangan yang membuat dadanya sesak seketika. Sesosok tubuh terbujur kaku di atas di brankar. Kain putih menutupi raga yang tidak bergerak sama sekali."Tidak mungkin. Ini bukan dia! Kalian salah bawa!" Ucap Zen dengan mata merah. Untuk pertama kalinya dia menangis.Bahkan ketika ibunya meninggal, Zen kecil tidak menangis. Bukan karena dia tidak sedih. Bukan juga karena dia tidak sayang ibunya.Hati Zen kecil sudah terlalu ikhlas jika sang ibu pergi. Dari pada kesakitan, lebih baik sang ibu pergi.Namun kini, di depan jasad istrinya, Zen terisak hebat. Dia bahka
"Aku hanya sedang mencari kakakku," balas Vante.Pemuda itu tidak mengalihkan pandangan dari ponselnya. Sampai dia berlari menuju sofa, di mana seuntai gelang tergeletak di sampingnya."Ini punya Valin?" Nick mengerutkan dahi.Vante menggenggam erat benda tadi. "Kakakku ada di sini. Tadi, tapi sekarang di mana dia?"Perasaannya berkecamuk. Dia benar-benar panik, takut juga resah. Dia takut hal buruk terjadi pada kakaknya. Satu-satunya keluarga yang dia miliki.Ketika Vante dan Nicky masih mencari, Kian muncul di sana. Pria itu langsung ke sini begitu diinfokan oleh Shane."Dia tidak mungkin menghilang secepat ini." Kian memberikan komentar. "Kalau begitu di mana dia?" Vante bertanya dengan gusar."Jangan-jangan ini hanya pengecoh. Sebenarnya dia tidak pernah berada di sini. Seseorang mungkin membawanya pergi." "Diculik maksudmu?" Nick beralih cepat ke arah Vante yang seketika lemas. Wajahnya berubah putus asa, dia benar-benar kehilangan akal saat ini.Sama seperti Zen yang setelah d
"Zen, Valin kecelakaan!"Berkas yang tengah pria itu pegang meluncur jatuh ke lantai. Diikuti bunyi pintu yang tertutup kasar. Semua yang ada di ruangan itu menganga. Tidak percaya melihat Zen berlari, meninggalkan meeting karena satu nama."Valin, siapa dia?" Seorang direktur buka suara."Valin, Arvirosely Valin bukannya kekasih tuan Egan. Kenapa tuan Archlight juga ikut panik." Yang lain menyambar. Dalam sesaat, tempat itu dipenuhi bisik-bisik dengan tema sama. Nama Valin mendadak jadi trending topic di kalangan pejabat internal Excellent Hospital dan jaringannya.Desas desus berkembang cepat dan liar, membuat nama Valin seketika jadi bahan perbincangan paling panas.Sama dengan suasana di sekitar jembatan. Hanya saja panas bercampur tegang. Tubuh Zen mematung melihat separuh lebih jembatan runtuh. Hanya tinggal sedikit yang tersisa. Yang lain runtuh ke aliran sungai di bawahnya.Jantung lelaki itu mendadak nyeri. Dia menekannya kuat tapi rasa itu tak kunjung hilang."Cari sampai k
"Tunggu dulu, Lin. Kamu akhir-akhir ini aneh. Kamu menghindariku?"Zen menahan tangan Valin di tengah tangga. Valin yang terkejut, nyaris jatuh berguling menuruni tangga ketika ia terserimpet kakinya yang lain.Untungnya Zen sigap menahan pinggangnya hingga wanita itu selamat dari hal buruk. "Kamu tidak apa-apa?" Zen menatap netra hazel Valin yang sesaat panik."Lepas, aku baik-baik saja." Perempuan itu melepaskan diri dari jeratan Zen. Sang suami jelas kebingungan. Dia belakangan ini sangat sibuk. Beberapa kelompok terus membuat onar. Mengganggu pengiriman, mengacaukan distribusi organ vital yang harus di antar ke sejumlah rumah sakit tepat waktu.Selain itu beberapa teror juga menyerang Zen. Walau serangan datang dari berbagai sisi, pria itu tetap tegak berdiri tanpa goyah sedikitpun. Instruksinya mengalir jelas dan lancar, membasmi para perusuh yang sejatinya hanya mengecoh fokusnya.Zen sadar ada hal besar yang sedang direncanakan oleh kelompok tertentu. Insting Zen mengacu pada
Zen baru saja keluar dari sebuah sebuah ruangan meeting ketika satu pukulan menghantamnya. Mark langsung menahan sang pelaku yang tidak lain adalah Adrian.Zen sendiri hanya mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Sakit? Hanya pukulan Adrian tidak akan membuatnya tumbang."Kau pembunuh! Audrey meninggal karenamu. Kau penyebab dia meninggal!" Teriak Adrian, wajahnya memerah dengan amarah menggelegak naik sampai ke ubun-ubun.Zen hanya menyeringai. "Jangan konyol. Dia tidak akan mati semudah itu." Adrian kembali berteriak. Zen benar-benar tidak berhati. "Aku sendiri yang menguburkan mayatnya. Aku sendiri yang menerima laporan tes DNA-nya, dia Audrey, adikku! Zen kau harus bertanggungkawab!""Bagaimana caranya? Apa kau ingin membunuhku juga? Silakan kalau begitu."Zen merentangkan tangan, siap menerima apapun yang Adrian lakukan padanya. Bahkan jika Adrian ingin menghabisinya, Zen tidak masalah.Kenapa Zen berani menantang Adrian, sebab pria itu tidak akan bisa menembakkan sebutir peluru
"Cinta?"Kata itu spontan terucap dari bibir Zen. Keningnya berlipat dalam, sedang matanya menyipit. Seolah kata cinta adalah sebuah rumus rumit yang harus dia pecahkan. "Kamu mencintainya?"Zen mengedikkan bahu tanpa sadar. Dan Sylus seketika mendorong napasnya kasar."Kau tidak ingin kehilangannya?"Suami Valin mengangguk."Kenapa?"Zen terdiam. Pertanyaan itu dia tidak tahu jawabannya. Lebih tepatnya tak mengerti. Pasalnya selama ini Valin hanya dia anggap sebagai pelampiasan, pemuas nafsu berbalut janji pernikahan.Namun semakin ke sini, dia tidak mau kehilangan Valin. Dia ingin Valin selalu ada di sisinya. "Apa kamu hanya menganggapnya sebagai teman tidur saja? Tidak lebih.""Aku, aku tidak mau yang lain. Aku hanya mau dia. Lebih baik tidak, jika bukan dia." Zen menjawab lirih.Awalnya ragu, tapi kemudian memang itulah yang ada di otaknya."Kamu mulai jatuh cinta padanya."Zen sejenak terkejut. Apa dia seperti itu."Mungkin kamu tidak sadar. Tapi tindakanmu, sikapmu menunjukkan







