Share

BAB 4 NEGO TERAKHIR

Author: sugi ria
last update Last Updated: 2025-12-19 19:23:55

"Dokter, saya mohon."

"Maaf, Valin. Saya sudah coba bicara dengan direktur. Tapi dia memilih istrinya."

Valin terhuyung ke belakang, nyaris ambruk andai rekannya tidak menahan tubuhnya.

"Dilihat dari urgensinya, seharusnya Vante diprioritaskan. Tapi beliau tidak mau menunggu. Kami bahkan siap patungan jika pihak rumah sakit minta dana operasi di awal. Tapi ayah Tessa tidak mau mengalah."

Valin menangis. Sejak kemarin di sela jadwal operasi dan tugas rutinnya sebagai dokter di rumah sakit. Valin berkeliling mencari dukungan agar Vante bisa dioperasi.

Donor ginjal yang ditemukan Devan sangat spesial sebab ada dua pasien yang mengantri untuk operasi transplantasi.

Mereka seperti bertarung untuk satu kesempatan hidup yang lebih baik. Ibu Tessa dengan segala privilege-nya menang. Tidak peduli jika pasien lain kondisinya akan makin buruk. Itu bukan urusan mereka.

"Maaf, Valin."

Ucapan itu datang dari berbagai sisi. Melukai Valin dari segala arah. "Vante, Vante," sebutnya penuh keputusasaan. Vante adalah separuh nyawanya. Valin tidak bisa kehilangan dia. Atau dia akan ikut mati.

Gadis itu masih sibuk memutar otak ketika ponselnya berdering. "Ya Maria, ada apa?"

Valin lekas berlari ke arah ruang cuci darah. Begitu dia berada di sana, dia langsung menghambur ke arah Vante.

"Vante bertahan. Kakak mohon," katanya seraya memeluk tubuh Vante yang lemah.

"Aku belum mati, Kak. Selama aku belum mati aku akan bertahan." Vante berujar dengan mata terpejam.

Kondisi Vante mendadak ngedrop di tengah proses cuci darah berlangsung. Tekanan darah Vante turun drastis. Ini biasa terjadi pada pasien cuci darah. Sebab tubuh tidak mampu mengatasi penurunan volume cairan yang cepat.

"Kakak tenang saja. Aku akan berada di sisi Kakak, sampai aku tidak bisa melakukannya lagi."

Vante menatap kakaknya. Cantik seperti ibu mereka. Namun kesulitan hidup telah menggerus segalanya. Bahkan cinta yang seharusnya jadi milik kakaknya direbut wanita lain.

Pemuda itu bukannya tidak tahu kabar yang beredar di rumah sakit. Dia cukup akrab dengan rumah sakit ini. Sebagian besar orang mengenal dirinya. Sebagai pasien juga sebagai adik dokter Valin. Dokter baru yang sangat berbakat.

"Jangan nakutin Kakak, Vante."

Vante mengusap air mata Valin. "Padahal aku dulu yang janji bakal jaga kakak. Tapi malah kebalik. Aku tidak berguna. Dan semua gara-gara si brengsek tidak tahu terima kasih itu." Tangan Vante terkepal teringat Devan.

"Sudah, Vante. Sudah. Kakak yang salah. Kakak juga tidak terlalu memikirkan dia. Dia mau punya perempuan lain, Kakak juga tidak peduli. Kakak cuma mau kamu."

Senyum Vante yang langka terbit. "Kita dating habis ini kalau begitu."

Senyum Vante menular pada Valin. Gadis itu turut melengkungkan bibir. Vante adalah poros hidupnya. Jika Vante senang, Valin akan ikut bahagia.

Dan senyum Vante sudah cukup jadi pelipur lara untuk kelelahan Valin. Mood Valin yang buruk berubah cepat karena sang adik.

Valin sendiri berjanji tidak akan pernah menyerah soal operasi Vante. Dia mendengar seorang dokter bicara.

"Kecuali kamu bisa bertemu pemilik rumah sakit, mungkin dia mampu membalik keadaan. Dia bisa saja membuat direktur mengubah keputusannya."

"Pemilik rumah sakit? Siapa dia, namanya saja aku tidak tahu," batin Valin sambil menggandeng tangan Vante usai cuci darah selesai. Keadaan pemuda itu berangsur membaik.

Orang akan mengira mereka pasangan jika tidak tahu kalau keduanya kakak adik. Mereka belanja sebentar di mini market dekat rumah sakit. Inilah dating yang Vante maksud.

Sekedar jalan berdua, menikmati waktu yang masih bisa mereka lewati bersama. Valin terus berusaha untuk kesembuhan Vante. Namun di sisi lain dia juga tidak bisa mengubah. Jika waktu yang mereka miliki makin sedikit. Kalau Vante tidak segera dioperasi.

"Kalian membuat pasien kelaparan!"

Suara itu membuat Valin dan Vante kompak melihat ke sofa. Di mana seorang pria bertelanjang dada duduk di sana.

"Tuan belum pergi?" Valin tidak menyangka Zen masih ada di sana.

"Aku tidak punya tempat tinggal," balas Zen. Mata tajamnya serasa memindai dua beradik di depannya.

"Bohong!" Vante menyahut cepat.

"Seorang pembunuh bayaran sepertimu pasti uangnya banyak. Kau di sini hanya untuk bersembunyi," lanjut Vante.

"Cerdas sekali! Dan ingat, pembunuh ini bisa menghabisi kalian kapan saja."

"Bunuh saja aku, biar beban kakakku hilang."

"Vante!" Jerit Valin tidak suka.

Zen terus menatap Vante yang anehnya tidak takut sama sekali padanya. Sikap Vante cenderung menantangnya. Hal ini bukan sikap yang dimiliki oleh pria biasa.

Padahal sejauh yang Zen tahu, Vante hanyalah pemuda pengidap gagal ginjal akut. Nasibnya tinggal menunggu maut, jika transplantasi ginjal tidak segera dia dapatkan.

"Aku bisa berikan uang banyak jika kamu mau jadi dokter pribadiku. Tawaranku masih berlaku."

"Tidak, terima kasih. Saya masih sayang hidup saya. Berurusan dengan pembunuh bayaran sama saja dengan saya menggadaikan diri. Tuan jelas akan memprioritaskan keselamatan Anda lebih dulu jika ada ancaman."

Sudut bibir Zen tertarik. Logika Valin luar biasa cerdas. "Mari kita ubah syaratnya."

"Tidak ada nego ulang."

"Keselamatanmu dan Vante aku akan mengutamakannya. Bahkan di atas hidupku."

Vante memicing, sepertinya pemuda itu jauh lebih kritis pemikirannya dari yang Zen kira.

"Alasannya?" Vante mendesak.

"That's my privacy. Kamu tidak perlu tahu."

"Tolak saja kalau begitu. Dia bisa dapatkan banyak dokter pribadi di luar sana. Kakak tidak perlu membahayakan hidup Kakak untuk dapatkan uang banyak."

"Setuju," sambut Valin tanpa ragu.

Zen menggertakkan gigi. Duo V di depannya ternyata sangat sulit ditakhlukkan.

"Makanannya, Tuan."

Zen melirik piring di hadapannya. Sepanjang mereka nego, Valin masih bisa memasak. Dan hasilnya membuat Zen keroncongan.

"Lukanya terbuka lagi," adunya sambil melahap makanannya. Seketika Zen tercengang. Berapa banyak bakat yang Valin miliki. Masakan Valin lezat sekali.

"Nanti, kamu tidak akan mati hanya karena jahitan jebol."

Sial! Valin mulai berani padanya. Padahal ketika ditodong senjata hari itu. Gadis berambut hitam tersebut ketakutan setengah mati.

Zen lihat Valin makan di sisi Vante. Valin tampak lebih banyak bicara dibanding Vante. Valin cerewet dan Vante pendiam.

Ketika Zen masih asyik dengan pikirannya sendiri. Mendadak tatapannya bersirobok dengan sorot dingin Vante. Dua pria itu beradu pandang. Tidak ada yang mau mengalah untuk beberapa waktu.

Sampai Zen menemukan ide. Dia tahu kelemahan Valin.

"Nego terakhir. Jika kamu bersedia jadi dokter pribadiku. Aku bisa jamin Vante dapat dioperasi. Kapan saja, sesuai keinginan kalian."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 13 PAPA ZEN

    Suasana meja makan pagi itu cukup menegangkan. Setidaknya bagi Valin. Sementara si empunya rumah tampak tenang sambil menikmati sarapan hasil karya Valin.Gadis itu tampak bingung. Dia duduk di samping Zen, tapi sama sekali tidak menyentuh makanannya. "Kamu akan pingsan jika tidak makan!" Desis Zen penuh ancaman."Aku bisa makan nanti."Lirikan tajam Zen membuat Valin tidak berkutik. Tangan Valin baru akan menyentuh sendok. Ketika suara lain membuat Valin menarik kembali tangannya."Papa, dia siapa? Kenapa dia ada di rumah kita?"Valin memandang pada si bocah yang baru menyebut papa pada Zen."Papa? Siapa papamu? Papamu sudah mati!" Zen menjawab tanpa hati. Kalimatnya tajam setajam belati, dan si anak langsung menangis mendengarnya.Valin tentu tak enak hati. Bagaimana bisa dia masuk dalam rumah tangga orang lain. Salahnya kemarin tidak bertanya lebih dulu soal status Zen.Ditambah lagi, kemarin dia yang meminta pernikahan pada Zen. Valin meringis ngilu. Sekarang kehadirannya bak ora

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 12 TES LAGI

    "Ujian pertama, orang itu benar-benar setres! Bagaimana jika kucing itu tiba-tiba menggigitku. Sepertinya aku besok harus minta vaksin rabies. Siapa tahu si Molly belum divaksin. Arrghhh!"Valin kembali menjerit ketika Molly mendadak muncul di sekitar kakinya. Menggesekkan kepala dengan ekor bergoyang ceria."He! Kamu masuk dari mana?" Valin bertanya mengingat dia sudah menutup pintu.Molly hanya mengeong sebagai jawaban seolah paham pertanyaan Valin."Molly, aku tanya. Kamu mau ngapain ke sini? Aku mau mandi. Mau tidur, capek aku. Besok harus kerja lagi."Molly mengeong sambil mengusap wajahnya dengan kaki depannya."Alah sudahlah, kamu mana paham perkataannku."Valin memulai touring kamarnya yang berada di lantai dua. Di mana dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat pelataran The Dream yang ternyata cukup luas. "The Dream, tuanmu punya mimpi apa. Lolos dari semua jerat hukum? Atau bisa sukses dalam tiap misinya."Valin terus mengoceh dengan Molly secara ajaib menimpali. Tentu saja

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 11 LOLOS UJIAN

    "Mohon tanda tangan di sini, Nona."Kian menyerahkan satu berkas pada Valin. Gadis itu menerimanya dengan ragu. Valin langsung tercekat melihat kop berkas surat yang akan dia tanda tangani. Formulir pendaftaran pernikahan.Jadi Zen serius dengan niatnya. Kian sendiri hanya diam, tidak bicara sama sekali. Pria itu sesekali memandang Vante yang berada di brankar. Benar-benar situasi yang menguntungkan Zen."Tuan, boleh saya bertanya? Kenapa Tuan yang menghandle perawatan adik saya. Apa tuan itu sangat berkuasa?"Kian menarik sudut bibirnya. Berkuasa? Lumayan juga. "Iya, begitulah."Valin mengerti keengganan Kian untuk menjawab. Pastinya Kian punya batas tertentu dalam menjawab pertanyaan mengenai sosok Zen. Sudah pasti identitas pria itu tidak boleh terbongkar."Jika Nona setuju, Nona bisa tanda tangan. Setelah ini saya akan antar Nona pulang."Valin terdiam. Dia ragu. Beberapa saat dia hanya mematung. Sampai dia melihat bayangan Vante tersenyum di benaknya. Benar, dia ingin melihat sa

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 10 BUKAN PRIA SEMBARANGAN

    "Saya tidak mau tidur dengan Anda! Saya bukan perempuan murahan!"Valin spontan menolak kontrak dari Zen. Apa Zen pikir dia serendah itu."Tidak masalah, aku bisa menyuruh Kian mengeluarkan Vante dari sektor satu sekarang."Tubuh Valin terhuyung. Dia lupa kalau Zen menyandera Vante. "Sebenarnya apa mau, Tuan."Air mata mulai menitik di pipi. Dadanya sesak, tubuhnya lelah, dan otaknya mendadak buntu."Simple, aku mau seseorang yang bisa menolongku secara keseluruhan. Dalam duniaku ada banyak jebakan. Salah satunya afrodisiak.""Jadi itu hanya untuk keadaan darurat?" Valin bisa sedikit bernapas lega. "Bisa dibilang seperti itu. Tapi ada banyak kondisi yang memungkinkan hal tersebut terjadi.""Bukankah mudah bagi kalian untuk menemukan perempuan untuk melampiaskannya." Valin bertanya dengan sangat hati-hati.Takut menyinggung Zen yang mode senggol bacok."Itu bukan urusanmu. Intinya, kamu mau atau tidak?" Sekali lagi Zen tidak memberi ruang bagi Valin untuk menolak atau bernegosiasi. J

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 9 PENGHANGAT RANJANG

    "Kamu kapan pulang? Kenapa tidak kasih tahu aku.""Aku ingin kasih kejutan ke kamu sama Vante. Oh iya, kabar Vante bagaimana? Sekarang aku punya uang, aku bisa bantu kamu bayarin operasinya Vante."Disinggung soal Vante, paras Valin meredup sesaat. "Ada yang salah? Lin, kasih tahu aku bagaimana kabar Vante?""Vier, Vante baik-baik saja. Dia akan dioperasi dalam dua hari. Kamu jangan cemas."Yang dipanggil Vier tertegun. Dia bisa menangkap gurat kesedihan dibalik ekspresi bahagia yang Valin paksakan. Ada apa sebenarnya."Benarkah? Kamu dapat pinjaman dari mana untuk biaya operasi Vante. Aku akan bantu lunasi hutangmu. Proyekku sukses, uangku banyak sekarang.""Tidak perlu, Vier. Pihak rumah sakit berbaik hati membantuku. Semua biaya operasi dan perawatan Vante ditanggung rumah sakit."Dahi Vier berkerut. Dia bukan orang yang mudah ditipu. Dan Valin bukan orang yang pandai berbohong. Gadis di hadapannya terlalu baik, karena itu dia selalu ingin menjaganya.Di balik dunia gelap yang Vie

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 8 TERIKAT PENUH PADAKU

    Valin terdiam, netra hazelnya dengan tekun menyimak kata demi kata yang tertulis dalam kontrak yang baru saja diberikan Zen.Sedang pria itu tidak mengganggu sama sekali. Zen hanya diam sambil mengawasi Valin. Entah kenapa sosok di depannya jadi begitu menarik untuk diperhatikan."Saya masih bisa bekerja seperti biasa?" Valin memastikan."Tentu saja. Kamu akan dipanggill saat aku membutuhkan. Tapi aku adalah prioritasmu. Jika aku memanggimu, kau harus siap setiap saat."Valin menelan ludah. Itu artinya sama saja dengan hidup Valin berada dalam genggaman Zen."Kamu bisa mempertimbangkan, tapi hidup Vante bukan sebuah pertimbangan."Demi mendengar nama Vante disebut, Valin dengan cepat menorehkan tanda tangannya. Benar, apalagi yang Valin tunggu, hidup Vante berada di tangannya.Zen menarik sudut bibirnya. "Kamu bisa kembali bekerja. Tapi nanti kamu tidak perlu kembali ke sini.""Maksud, Tuan?"Zen melengkungkan bibir. Satu tindakan yang membuat Valin merinding. "Ingat, dengan menandat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status