Share

138. Menjauhi Fajar

Penulis: Mastuti Rheny
last update Tanggal publikasi: 2026-10-24 13:42:08

Maya POV

"Maya!"

Aku dan Fajar sontak menoleh ke arah suara yang memanggilku. Kulihat Hans berjalan mendekat dengan langkah mantap. Namun, begitu pandangannya beralih kepada Fajar, raut wajahnya seketika berubah dingin.

"Kamu sudah dari tadi keluarnya?" tanyanya kepadaku, tetapi matanya tetap tertuju pada lelaki di sampingku.

Aku segera mengangkat bingkisan di tanganku.

"Iya," jawabku sewajar mungkin meski sekarang aku sudah mulai resah saat melihat tatapan Hans yang begitu menelisik pada Fajar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    138. Menjauhi Fajar

    Maya POV"Maya!"Aku dan Fajar sontak menoleh ke arah suara yang memanggilku. Kulihat Hans berjalan mendekat dengan langkah mantap. Namun, begitu pandangannya beralih kepada Fajar, raut wajahnya seketika berubah dingin."Kamu sudah dari tadi keluarnya?" tanyanya kepadaku, tetapi matanya tetap tertuju pada lelaki di sampingku.Aku segera mengangkat bingkisan di tanganku."Iya," jawabku sewajar mungkin meski sekarang aku sudah mulai resah saat melihat tatapan Hans yang begitu menelisik pada Fajar.Sementara balasan sorot mata Fajar menjadi kian menajam."Ada apa?" Hans kembali bertanya."Tidak ada apa-apa. Fajar hanya memberikan oleh-oleh karena kebetulan baru pulang dari Yogyakarta."Aku menunjukkan kotak pia yang diberikan Fajar tadi. Aku berharap penjelasan sederhana itu cukup untuk menghilangkan kecurigaan Hans.Sayangnya, tatapan lelaki itu masih terasa tajam."Oh, begitu." Hans mengangguk tipis. "Saya kira ada urusan lain yang membuat seorang dokter rela meluangkan waktu untuk da

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    137. Membatasi Pertemuan

    Maya POVAku menatap Fajar dengan sungguh-sungguh. Inilah kesempatan yang kutunggu untuk membuatnya memahami bahwa pernikahannya dengan Anisa bukan sesuatu yang bisa diperlakukan sesuka hati."Aku ingin kamu membuka hati untuk Anisa, Jar. Dia istrimu. Dia mencintaimu dan ingin mendapatkan cinta yang sama darimu."Fajar menghela napas panjang."Aku sudah berusaha, May. Tapi, aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri.""Maksudmu?""Aku selalu membandingkan Anisa denganmu. Saat dia memperhatikanku, aku teringat caramu memperlakukanku dulu. Bahkan ketika kami bersama, pikiranku sering kembali kepadamu."Aku menggeleng tak percaya."Jar, berhenti membicarakan hal seperti itu.""Aku hanya ingin jujur. Aku merasa tersiksa menjalani pernikahan ini. Kadang-kadang aku menyesal telah mengambil keputusan untuk menikahi Anisa."Fajar terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan."Aku tahu dia perempuan baik. Tapi, aku tidak bisa memberikan cinta yang seharusnya dia dapatkan."Aku menggeleng gundah. Je

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    136. Pertemuan Dengan Fajar

    Maya POV"Mbak maukah kamu menemui Mas Fajar?"Aku terdiam mendengar permintaan Anisa. Perempuan berhijab itu menatapku dengan mata berkaca-kaca, seolah aku adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya."Aku ingin Mbak menemui Mas Fajar. Tolong bicara dengannya dari hati ke hati. Yakinkan dia agar mau membuka hatinya untukku."Aku menghela napas panjang."Anisa, aku dan Fajar sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. Aku juga tidak ingin ikut campur dalam rumah tangga kalian. Bagaimana kalau pertemuan kami justru menimbulkan salah paham?""Aku tidak akan menyalahkan Mbak.""Tapi, kamu harus mengerti bahwa perasaan Fajar bukan tanggung jawabku."Anisa menunduk. Air matanya mulai berjatuhan."Aku tahu, Mbak. Tapi, aku sudah berusaha menjadi istri yang baik. Aku selalu mencoba memahami dia, tetapi ternyata hatinya masih tertinggal pada perempuan lain."Suaranya bergetar."Bayangkan bagaimana perasaanku ketika suamiku sendiri mengakui bahwa dia masih mencintai perempuan yang pernah menjad

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    135. Permintaan Anisa

    Maya POVHari-hariku di kampus mulai dipenuhi kesibukan. Tugas-tugas yang menumpuk, diskusi kelompok, serta materi perkuliahan yang harus kupelajari kembali membuatku nyaris tak memiliki waktu untuk memikirkan hal lain.Meski usiaku lebih tua dibandingkan sebagian besar teman seangkatan, perlahan aku mulai terbiasa. Awalnya, aku sempat merasa canggung berada di antara mereka yang masih berusia awal dua puluhan. Namun, seiring waktu, aku menyadari bahwa usia bukanlah penghalang untuk kembali belajar dan meraih impian yang sempat tertunda.Aku menikmati setiap prosesnya. Ada kebahagiaan tersendiri ketika akhirnya aku bisa kembali melakukan sesuatu untuk diriku sendiri setelah sekian lama hidupku hanya berkutat pada persoalan rumah tangga dan luka masa lalu.Setidaknya, kini aku memiliki kesibukan yang membuatku tidak terus-menerus memikirkan hal-hal yang belum tentu bisa kuubah.Namun akhir-akhir ini ada yang bergayut di pikiranku. Apalagi jika bukan Hans, dan yang lebih mengerikan Andi

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    134. Meminta Bantuan Andien

    Hans POVAku baru saja meninggalkan kantor ketika sebuah pikiran terus mengusik ketenanganku. Sejak percakapan terakhir kami melalui telepon, bayangan Maya tak pernah benar-benar lepas dari benakku.Aku tahu perempuan itu sedang berada di rumah sakit bersama Andien. Ayah sahabatnya itu tengah menjalani pemeriksaan setelah mengalami serangan jantung. Dan meskipun Maya tak pernah meminta bantuanku, aku tahu dia bukan tipe perempuan yang akan berpangku tangan ketika orang terdekatnya sedang kesulitan.Itulah yang membuatku memutuskan untuk menyusulnya.Aku tak ingin dia menghadapi semua itu sendirian. Bukan setelah segala sesuatu yang pernah terjadi dalam hidupnya. Bukan pula ketika aku masih memiliki kesempatan untuk berada di sisinya, meski hanya sebagai seseorang yang belum sepenuhnya dia percaya.Aku tak membutuhkan waktu lama untuk menemukan sosok yang kucari.Maya berdiri di dekat ruang UGD bersama Andien. Perempuan yang selalu memenuhi pikiranku itu tampak sedang berusaha menenan

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    133. Kegamangan Andien

    "Siapa yang nelpon?"Pertanyaan Andien seketika membuat perhatianku teralihkan setelah panggilan dari Hans baru saja aku tutup."Aku tadi denger kamu nyebut nama Hans, apa itu pria yang pernah aku lihat saat aku berkunjung ke rumah kamu?"Aku mengedikkan bahu tipis."Di rumah itu aku cuma numpang, dan Hans itu pemilik rumahnya.""Dia terlihat baik banget sama kamu."Aku langsung menatap lurus ke arah Andien yang saat ini sedang duduk di sisiku."Menurutmu seperti apa hubunganku sama Hans?" Aku melontarkan sebaris tanya. Aku ingin meraba apa yang ada di dalam pikiran.Andien hanya diam menatapku."Kamu pernah mikir nggak kalau Hans itu sugar daddyku?"Andien langsung membeliakkan kedua matanya saat mendengar kalimat sarkasku."May ..., tapi kamu dan Hans nggak kayak gitu kan?"Ganti aku yang membisu."Kalau sekarang memang tidak, tapi dulu ..."Andien memandangku lekat, menunggu aku menyelesaikan kalimatku.Aku menarik nafas panjang sesaat."Hans adalah pria pembeliku saat Mas Angga m

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    38. Dukungan Andien

    Saat aku menoleh ke arah pintu kulihat Andien, sahabatku sejak lama telah berdiri di ambang pintu.Sorot matanya lugas, segera menerbitkan tanya di hati."Wa'alaikumsalam, masuk Ndien," balasku seraya menyambut kedatangannya dengan seuntai senyuman. "Maaf, aku baru datang sekarang," ucap Andien se

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    6. Memperpanjang Waktu

    "Cukup kamu tahu kalau aku dan papamu dulu pernah saling kenal."Jawaban tegas Hans tetap tak bisa membungkamku. Rasa penasaranku tetap saja membuncah."Jika kamu mengenal papaku, kenapa kamu tega memperlakukan aku seperti ini? Kamu sudah membuatku seperti seorang pelacur."Aku mengunggah keberania

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    5. Rahasia Hans

    Kupandangi foto itu dengan hati memendam gundah sekaligus rasa penasaran.Gambar di layar itu memampang terlalu lugas sebuah keakraban. Pelukan erat mereka semakin menegaskan tentang interaksi yang terunggah hangat. Ditambah dengan senyuman lebar keduanya kian memancing rasa ingin tahuku, sebenarny

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    4. Dalam Kuasa Pria Dominan

    ["Siapa ini?"] tanyaku lugas saat kudengar suara wanita asing ketika aku menghubungi ponsel suamiku.Tapi sebelum aku mendengar penjelasan apapun dari perempuan itu segera kudengar suara Mas Angga dari seberang sana.["Kamu kenapa nelpon aku? Apa Om Hans nggak sama kamu?"]Saat mendengar nada bicar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status