Home / Romansa / PEREMPUAN BERKALANG NODA / 134. Meminta Bantuan Andien

Share

134. Meminta Bantuan Andien

Author: Mastuti Rheny
last update publish date: 2026-10-18 07:52:58

Hans POV

Aku baru saja meninggalkan kantor ketika sebuah pikiran terus mengusik ketenanganku. Sejak percakapan terakhir kami melalui telepon, bayangan Maya tak pernah benar-benar lepas dari benakku.

Aku tahu perempuan itu sedang berada di rumah sakit bersama Andien. Ayah sahabatnya itu tengah menjalani pemeriksaan setelah mengalami serangan jantung. Dan meskipun Maya tak pernah meminta bantuanku, aku tahu dia bukan tipe perempuan yang akan berpangku tangan ketika orang terdekatnya sedang kesul
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    134. Meminta Bantuan Andien

    Hans POVAku baru saja meninggalkan kantor ketika sebuah pikiran terus mengusik ketenanganku. Sejak percakapan terakhir kami melalui telepon, bayangan Maya tak pernah benar-benar lepas dari benakku.Aku tahu perempuan itu sedang berada di rumah sakit bersama Andien. Ayah sahabatnya itu tengah menjalani pemeriksaan setelah mengalami serangan jantung. Dan meskipun Maya tak pernah meminta bantuanku, aku tahu dia bukan tipe perempuan yang akan berpangku tangan ketika orang terdekatnya sedang kesulitan.Itulah yang membuatku memutuskan untuk menyusulnya.Aku tak ingin dia menghadapi semua itu sendirian. Bukan setelah segala sesuatu yang pernah terjadi dalam hidupnya. Bukan pula ketika aku masih memiliki kesempatan untuk berada di sisinya, meski hanya sebagai seseorang yang belum sepenuhnya dia percaya.Aku tak membutuhkan waktu lama untuk menemukan sosok yang kucari.Maya berdiri di dekat ruang UGD bersama Andien. Perempuan yang selalu memenuhi pikiranku itu tampak sedang berusaha menenan

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    133. Kegamangan Andien

    "Siapa yang nelpon?"Pertanyaan Andien seketika membuat perhatianku teralihkan setelah panggilan dari Hans baru saja aku tutup."Aku tadi denger kamu nyebut nama Hans, apa itu pria yang pernah aku lihat saat aku berkunjung ke rumah kamu?"Aku mengedikkan bahu tipis."Di rumah itu aku cuma numpang, dan Hans itu pemilik rumahnya.""Dia terlihat baik banget sama kamu."Aku langsung menatap lurus ke arah Andien yang saat ini sedang duduk di sisiku."Menurutmu seperti apa hubunganku sama Hans?" Aku melontarkan sebaris tanya. Aku ingin meraba apa yang ada di dalam pikiran.Andien hanya diam menatapku."Kamu pernah mikir nggak kalau Hans itu sugar daddyku?"Andien langsung membeliakkan kedua matanya saat mendengar kalimat sarkasku."May ..., tapi kamu dan Hans nggak kayak gitu kan?"Ganti aku yang membisu."Kalau sekarang memang tidak, tapi dulu ..."Andien memandangku lekat, menunggu aku menyelesaikan kalimatku.Aku menarik nafas panjang sesaat."Hans adalah pria pembeliku saat Mas Angga m

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    132. Keributan Di Rumah Andien

    MAYA POVPercakapan kami langsung terjeda ketika suara deru beberapa kendaraan terdengar berhenti tepat di depan rumah Andien.Aku yang semula masih sibuk memikirkan cara mendapatkan uang sebesar tujuh ratus juta rupiah itu sontak mengalihkan perhatian. Begitu pula Andien yang langsung menoleh ke arah pagar rumahnya dengan raut wajah yang mendadak pucat.“Astaga, mereka datang lagi,” gumamnya lirih.“Siapa, Ndien?”Andien tidak segera menjawab. Dia justru tampak gelisah ketika melihat beberapa laki-laki bertubuh besar turun dari kendaraan yang mereka tumpangi. Wajah mereka terlihat keras, dengan sorot mata yang sama sekali tidak bersahabat.Salah seorang di antara mereka bahkan langsung mendorong pagar rumah Andien hingga terbuka lebar.“Mana orangnya?!” serunya lantang. “Kami datang untuk menagih utang! Jangan pikir kalian bisa terus-terusan menghindar dari tanggung jawab!”Aku terperanjat.Beberapa detik kemudian, seorang laki-laki yang mengenakan kaus hitam melangkah masuk ke halam

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    131. 700 Juta

    "Kamu kenapa?" Hans langsung melontarkan tanya kala melihat perubahan ekspresiku. Gelisahku terlalu ketara. Tapi aku bersikeras untuk mengulas senyuman demi menyamarkan perasaanku saat ini. "Nggak apa-apa," jawabku sekenanya. Hans yang sedang menyetir kemudian malah tersenyum sarkas meski saat ini tatapannya masih mengarah ke depan pada jalanan Ibukota yang saat ini kami lalui. "Aku tahu apa yang membuatmu mendadak suntuk kayak gini." Sontak aku menoleh padanya dan menyergapnya dengan tatapan lugas. "Aku juga melihat apa yang kamu lihat tadi." Aku mengernyit gundah. "Kamu nggak usah cemburu lihat Dokter itu menggandeng istrinya, kalau kamu mau aku akan gandeng tangan kamu pas kita jalan berdua." Hans terdengar begitu santai merespon kegundahanku. Tanpa sadar aku membeliak kesal. Hans justru terkekeh. Seakan aku adalah obyek lucu yang patut untuk ditertawakan. Entah mengapa sekarang segala perasaan melankolisku mendadak menguap hanya karena sikap Hans yang terk

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    130. Daftar Ulang

    Aku memeriksa kembali semua berkas yang semalam sudah aku siapkan. Berkas yang susah payah kumpulkan bila mengingat segala carut marut yang terjadi di hidupku sebelumnya hingga berkas penting itu tercecer di beberapa tempat dan untungnya segala kendala berhasil teratasi dan lagi-lagi berkat bantuan Andien.Andien bahkan dengan sigap mendatangi rumah Fajar hanya untuk mengambil beberapa berkasku yang tertinggal di sana, sesuatu yang jelas tak bisa aku lakukan. Karena aku benar-benar tak mau mengusik hidup Fajar yang sudah membuka lembaran baru bersama sosok wanita pilihan ibunya.Sejenak aku berdiri di depan cermin dengan kemeja paling sederhana yang kupunya kupadu dengan sehelai hijab warna krem.Setelah memastikan penampilanku sempurna aku segera ke luar dari kamar sambil mencangklong tas ransel yang berisi semua berkas yang diperlukan.Namun sebelum aku beranjak ke luar dari rumah mendadak terdengar suara bariton yang mengagetkan."Sayang, kamu sudah siap?"Jelas itu Hans. Siapa lag

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    129. Bucin

    "Ada tamu rupanya."Suara Hans membuatku seketika salah tingkah.Jelas aku sangat kaget dengan kedatangannya yang tak terduga ini meski sebelumnya dia juga sering muncul di rumah ini tanpa merasa perlu untuk mengabariku.Aku bangkit dari sofa, sementara Andien masih memandangi pria yang memakai stelan rapi itu dengan tatapan penuh tanda tanya."Iya, Hans. Ini Andien, sahabatku.""Oh jadi dia Andien yang sering kamu ceritakan itu?"Hans tersenyum tipis.Lalu, tanpa merasa ada yang aneh, pria itu berjalan mendekat dan berdiri tepat di sampingku.Tangannya bahkan dengan santai mendarat di pundakku.Aku langsung menegang."Hans..."Aku menatapnya dengan sorot mata memperingatkan.Namun bukannya mengerti, dia malah tersenyum."Kenapa, Sayang?"Aku hampir tersedak mendengar panggilan itu.Aku melirik Andien.Sahabatku sedang menatap kami berdua dengan mata membulat."Sayang?"Aku ingin sekali menginjak kaki Hans.Tapi tentu saja tidak mungkin kulakukan di depan Andien."Eh... maksudnya..."

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    63. Bimbang

    Aku melenggang dengan langkah ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan.Berkat dukungan Fajar yang selalu mendampingiku aku mampu memberikan keterangan dengan lancar.Fajar selalu meyakinkan aku jika Benny tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum begitu saja karena kesalahannya terpampang nyata le

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    38. Dukungan Andien

    Saat aku menoleh ke arah pintu kulihat Andien, sahabatku sejak lama telah berdiri di ambang pintu.Sorot matanya lugas, segera menerbitkan tanya di hati."Wa'alaikumsalam, masuk Ndien," balasku seraya menyambut kedatangannya dengan seuntai senyuman. "Maaf, aku baru datang sekarang," ucap Andien se

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    6. Memperpanjang Waktu

    "Cukup kamu tahu kalau aku dan papamu dulu pernah saling kenal."Jawaban tegas Hans tetap tak bisa membungkamku. Rasa penasaranku tetap saja membuncah."Jika kamu mengenal papaku, kenapa kamu tega memperlakukan aku seperti ini? Kamu sudah membuatku seperti seorang pelacur."Aku mengunggah keberania

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    5. Rahasia Hans

    Kupandangi foto itu dengan hati memendam gundah sekaligus rasa penasaran.Gambar di layar itu memampang terlalu lugas sebuah keakraban. Pelukan erat mereka semakin menegaskan tentang interaksi yang terunggah hangat. Ditambah dengan senyuman lebar keduanya kian memancing rasa ingin tahuku, sebenarny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status