تسجيل الدخولFajar POVAku hanya bisa menatap Maya tanpa berkedip.Di bawah cahaya lampu ruang keluarga yang redup, wajahnya tampak begitu tenang. Hijab berwarna lembut membingkai wajahnya yang sejak dulu selalu berhasil membuatku lupa bagaimana caranya bernapas dengan normal.Bahkan setelah semua yang kami lalui...Bahkan setelah begitu banyak air mata yang jatuh...Bagiku Maya tetap perempuan paling cantik yang pernah kutemui."Memangnya apa yang nggak bisa kamu dapatkan?" tanyanya pelan.Aku tersenyum hambar."Kamu."Seketika senyumnya memudar.Tatapan kami bertemu.Aku bisa melihat matanya mulai berkaca-kaca."Nyatanya sampai sekarang aku masih begitu sulit untuk meyakinkan kamu."Suasana kembali sunyi.Hanya suara jam dinding yang terdengar berdetak pelan."Sebelumnya aku sudah berusaha menerima semuanya," lanjutku lirih. "Aku berharap kamu bisa menjalani hidup kamu dengan bahagia dan aku bisa melanjutkan hidupku dengan tenang."Aku menarik napas panjang."Nyatanya yang kulihat sekarang ... k
Maya POV Sejak keluar dari rumah Bu Halimah, suasana di dalam mobil terasa begitu sunyi. Aku duduk memandangi jalanan di luar jendela, sementara Fajar fokus menyetir tanpa banyak bicara. Awalnya aku mengira kami benar-benar sedang menuju kontrakanku. Namun setelah beberapa puluh menit berlalu, aku mulai menyadari ada yang tidak beres. "Jar." "Hm?" Aku menoleh ke arahnya. "Ini bukan jalan ke kontrakanku." Fajar tidak langsung menjawab. Tangannya tetap menggenggam kemudi dengan erat. "Jar?" "Aku tahu." Aku langsung mengernyit. "Kamu mau bawa aku ke mana?" "Ke tempat yang lebih baik daripada kontrakan kamu," tegas Fajar dingin. Aku menatapnya tidak percaya. "Jar, cepat putar balik, antar aku ke kontrakan saja." Aku mulai mendesaknya dengan mengunggah nada jengkel. Fajar mengembuskan napas panjang. "Sudah aku bilang aku nggak akan mengantarkan kamu ke kontrakan itu." Seketika emosiku tersulut. "Fajar!" "Aku serius." "Aku juga serius." Aku l
Maya POV"Fajar!"Suara Bu Halimah terdengar tegas hingga membuat kami berdua menoleh secara bersamaan.Aku langsung menundukkan kepala mulai merasa tak enak mendapati tatapan kecewa Bu Halimah pada putranya sesuatu yang sangat jarang terjadi."Kamu kok malah ngobrol sama Maya di sini? Katanya tadi cuma mau ambil minum sebentar?""Aku cuma cari angin di sini, Bu," jawab Fajar sekenanya.Sungguh aku tak pernah melihat Fajar membantah ibunya sendiri, sosok yang setahuku selalu dia hormati dan dia sayangi."Ayo temuin Anisa lagi," desak Bu Halimah sedikit memaksa."Anisa mau pulang sebentar lagi. Masa kamu malah ngobrol di belakang terus?" tegur Bu Halimah.Fajar mengusap tengkuknya pelan."Iya Bu, nanti aku ke depan," ucap Fajar dengan enggan."Bukan nanti. Sekarang."Nada suara Bu Halimah terdengar tak bisa dibantah.Aku bisa melihat rahang Fajar mengeras sesaat sebelum akhirnya ia berdiri."Oke, aku ke depan dulu."Sebelum pergi, Fajar sempat menatapku."Nanti kita ngobrol lagi."Aku
Maya POV"Maukah kamu menikah denganku May?"Lamaran Fajar sontak mengagetkan aku. Keseriusannya malah menambah perih di hatiku.Aku sudah terlalu pesimis dengan kisah kami. Terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan kembali terutama tentang perasaan Bu Halimah.Aku menatapnya lama yang kini justru juga diiringi dengan air mata.Fajar langsung mendekat tangannya segera terulur ia ingin menghapus jejak basah di mataku.Namun aku langsung berpaling dan menghapus air mataku sendiri."May ....?"Aku menggeleng dengan air mata yang kembali berderai."Aku masih berduka Jar, bahkan kuburan Dita masih basah, aku tak sanggup untuk ...."Aku tak melanjutkan kalimatku.Saat mengingat putriku aku kian tak bisa menyembunyikan kesedihanku. Nyatanya rasa dukaku bisa aku jadikan alasan untuk mengabaikan lamaran Fajar tanpa harus merasa bersalah karena menolaknya."Maafkan aku May, aku tak bermaksud untuk tak peduli dengan rasa duka kamu, aku terlalu emosional karena mendengar kehidupan kamu yang m
Maya POVAku menatap Fajar cukup lama.Permintaannya menggantung di antara kami, membuat dadaku terasa sesak oleh berbagai perasaan yang bahkan sulit kujelaskan.Jujur saja, aku tidak ingin kembali bergantung pada siapa pun.Tapi dalam kondisi seperti sekarang, aku juga tidak memiliki tenaga untuk memulai semuanya dari awal.Aku terlalu lelah.Terlalu hancur.Pada akhirnya aku mengangguk pelan."Iya, Jar."Untuk pertama kalinya sejak pemakaman Dita, kulihat senyum tulus mengembang di wajah Fajar.Pria itu terlihat begitu lega."Sungguh?"Aku kembali mengangguk."Asal cuma sementara."Tatapan Fajar langsung melembut."Tidak masalah. Yang penting kamu tidak sendirian."Aku menundukkan kepala.Entah kenapa, mendengar kalimat itu justru membuat hatiku semakin perih.Karena orang yang paling ingin menemaniku saat ini sudah tidak ada lagi.Dita."Aku janji aku akan selalu menjagamu, May, dengan sepenuh hatiku."Aku termangu kelu mendengar janji Fajar yang terdengar terucap dengan begitu sun
Maya POVAku bahkan tidak ingat bagaimana caranya aku bisa kembali berdiri setelah mendengar vonis dokter malam itu.Semuanya terasa kosong.Suara-suara di sekitarku terdengar samar.Tangisku sudah tak lagi sekeras sebelumnya, tetapi rasa sakit yang menggerogoti dada justru semakin dalam.Seolah ada bagian dari diriku yang ikut mati bersama Dita.Aku hanya duduk di kursi rumah sakit sambil memandangi pintu ruangan tempat tubuh kecil putriku berada.Putriku.Anak yang selama ini kuperjuangkan. Hingga aku sanggup mengorbankan apapun demi kebahagiaannya.Tapi kini aku harus mengikhlaskan kepergiannya, padahal aku baru saja berhasil menemukan setelah sekian lama kami dipisahkan oleh keadaan yang sulit."Maya."Suara Fajar terdengar pelan.Aku tidak menjawab, masih termangu, hanyut dalam kesedihan.Aku bisa merasakan Fajar mulai mendekat, dia kemudian duduk di dekatku."May, ada beberapa hal yang harus segera diurus."Aku menoleh perlahan.Mataku terasa bengkak dan perih."Kuatkan dirimu M
Saat aku menoleh ke arah pintu kulihat Andien, sahabatku sejak lama telah berdiri di ambang pintu.Sorot matanya lugas, segera menerbitkan tanya di hati."Wa'alaikumsalam, masuk Ndien," balasku seraya menyambut kedatangannya dengan seuntai senyuman. "Maaf, aku baru datang sekarang," ucap Andien se
Waktu berjalan terlalu hambar. Setengah jiwa ini terasa telah tergadai. Nyatanya takdir seakan tak memberiku banyak pilihan.Aku menatap lembaran uang di tanganku tanpa ekspresi.Lipatannya masih rapi. Aromanya bahkan masih terasa baru. Seharusnya aku merasa lega, setidaknya untuk hari ini, aku bis
"Setelah apa yang kamu lihat apa kamu masih menganggap diri kamu istimewa?"Mas Angga mulai mencibir sinis.Sementara aku hanya bisa membuang muka ke arah jendela lebar di sampingku.Aku sama sekali tak kuat untuk terus memandang kemesraan Hans bersama wanita lain.Sosok yang sebelumnya pernah terl
"Jika kamu sudah tahu dia licik, kenapa kamu menjualku sama dia?"Mas Angga hanya dia saat mulai aku cecar."Aku tahu kenapa kamu melakukannya, semua kamu yang serakah Mas, kamu oportunis, kamu sudah menghisapku habis, setelah aku tak lagi memiliki harta apapun, kamu akhirnya menjual harga diriku,







