分享

17. Adzan Di Kairo

作者: Mastuti Rheny
last update publish date: 2026-04-07 10:32:15

“Maksudmu… penawaran?” tanyaku pelan, nyaris tanpa tenaga.

Hans akhirnya menoleh. Senyum tipis itu kembali muncul, senyum yang selalu membuatku merasa seperti sedang ditakar, dinilai… lalu ditentukan harganya.

“Aku tidak suka sesuatu yang setengah-setengah, Maya,” ucapnya ringan. “Aku juga tidak suka berbagi.”

Dadaku terasa sesak.

“Aku bisa memberimu segalanya,” lanjutnya, suaranya tenang tapi penuh tekanan. “Kehidupan yang tidak pernah bisa diberikan oleh suamimu yang pemalas itu, atau bahkan
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節
評論 (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
bertobatlah..sebetulnya dulu pernikahan apa yg diberikan orang tuamu..??
查看全部評論

最新章節

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    51. Makan Malam Dalam Rajukan

    Meski masih dipenuhi rasa ingin tahu, aku memilih mengabaikan rasa penasaranku dan fokus untuk bisa segera sampai di rumah ibu.Seperti biasa ibu menyambut kepulanganku dengan ekspresi beliau yang penuh rasa bahagia.Segera kucium punggung tangannya dengan takzim sebelum aku masuk dan melepas sepatu yang aku pakai."Kamu sholat dulu, Jar, habis itu kita makan bareng, ibu masak agak banyak malam ini karena nanti akan ada seseorang yang mampir mau makan bareng kita."Aku mengernyit penasaran."Siapa ya Bu?"Aku mulai mengikuti langkah ibuku ketika beliau menuju meja makan.Ternyata di meja itu telah terhidang banyak makanan. Ada sambel teri, terong balado, bali ikan bandeng yang selalu menjadi favoritku, juga tak lupa semangkok kecil acar timun dan wortel."Ibu, masak semua ini sendiri?""Dibantu sama Bulek Marni tadi," jawab ibu datar sembari tangannya fokus menata piring-piring di atas meja.Walau usia ibu lebih dari 60 tahun tapi gerakan beliau masih lincah dan sehat. Barangkali kare

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    50. Menghabiskan Waktu Bersama

    "Mas Fajar?" Panggilan itu segera membuatku menoleh. Segera kulihat wajah Bella di sana, adik dari temanku Rizal yang selama ini terkesan selalu ingin menarik perhatianku."Bella," sebutku gamang pada sosok yang selalu menampakkan senyum lebarnya ketika di hadapanku."Lagi belanja Mas?""Iya," jawabku singkat namun tanggapanku yang sekedarnya malah kian menyulut kegenitannya.Sampai akhirnya kulihat Maya mulai berjalan ke arahku sambil membawa sebotol merica bubuk untuk dimasukkan ke dalam troli belanja yang sejak tadi aku dorong.Kehadiran Maya sontak menerbitkan ekspresi kaget di wajah Bella.Gadis ekspresif itu langsung menyergap Maya dengan sorot mata tidak suka.Terlebih saat aku melemparkan senyuman lembut pada sosok anggun yang kini sudah berdiri di dekatku."Sudah? Habis ini cari apalagi?" tanyaku penuh perhatian."Beras, terus sayuran buat masak nanti malam," jawab Maya singkat."Dia siapa Mas?"Kehadiran Maya segera memancing tanya buat Bella."Dia teman lama aku," jawabku

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    49. Bahagia Bersama

    POV Fajar["Bagaimana Jar, bisa kan kamu nanti makan siang di rumah?"]["Kamu mau dimasakin apa nanti?"]Nada bicara ibu sudah terdengar sangat antusias.Hati ini menjadi dilema. Rasanya aku akan sangat bersalah jika tak memenuhi keinginan ibu yang terasa sudah begitu merindukan aku, karena mengingat sudah 2 hari ini aku tak pulang.Jika kemarin malam aku berada di rumah sakit tapi tadi malam aku menemani Maya yang sedang demam.["Eh ... kebetulan banget Bu, aku udah janji sama teman, jadi aku nggak bisa makan siang di rumah nanti. Tapi Insya Allah nanti malam aku akan usahakan buat pulang biar bisa makan malam sama Ibu di rumah."]Dengan terpaksa aku kembali mengunggah kebohongan. Aku lebih memilih untuk memenuhi janjiku pada Maya meski hati kecilku merutuki kebohongan yang aku lontarkan.Aku menghembuskan napas pelan, lalu kembali mendekatkan ponsel ke telinga.[“Gimana kalau nanti siang aku pesankan makanan? Ngomong-ngomong Ibu mau makan apa?"] tawarku demi meredakan rasa bersalahk

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    48. Sulit Memutuskan

    POV Fajar Aku sempat mengira Maya akan meminta sesuatu yang sulit atau bahkan aneh. Tapi ketika jawabannya keluar dari bibirnya, justru sesuatu yang sederhana—terlalu sederhana untuk seseorang seperti dia. "Nasi Padang... di dekat sekolah kita dulu." Aku terdiam sesaat. Lalu tanpa sadar sudut bibirku terangkat. Tempat itu. Tempat penuh kenangan. Tempat di mana dulu kami sering berdebat soal lauk mana yang paling enak, di mana Maya selalu mencuri sambal di piringku dan berpura-pura tidak bersalah. "Masih inget tempatnya?" tanyaku pelan. Maya mengangguk, matanya berbinar. "Aku pengen ke sana lagi." "Ya udah," jawabku mantap. "Nanti siang aku ajak kamu ke sana." Entah kenapa, hanya dengan mengatakan itu saja sudah membuat dadaku terasa hangat. Seolah aku sedang memperbaiki sesuatu yang dulu pernah hancur. Sungguh aku selalu ingin mengembalikan senyumnya seperti dulu. Senyum indah yang selalu mampu memberikan semangat untukku. "Beneran? Apa kamu nggak sibuk, Jar?"

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    47. Pagi Bersama Maya

    "Aku takut Jar, aku takut ...."Maya kian mengeratkan dekapannya. Kulitnya yang sehalus sutera mendistraksi tubuhku.Kain tipis yang membungkus tubuhnya hanya menambah sensasi menggetarkan untukku.Selama ini aku berusaha menjaga diri dan apa yang terjadi sekarang kuanggap sebagai godaan terhebat apalagi datang dari sosok yang selama ini selalu memenuhi isi pikiran nyaris menjadi obsesi yang sulit dilawan.Tubuhku seketika menegang. Namun ketika aku mendapati kedua mata Maya yang kembali terpejam disertai dengan badannya yang terlihat menggigil semua distraksi itu seketika menguap, berubah menjadi kecemasan yang pekat."May, aku akan ambilkan obat dulu, kamu demam."Dengan cepat aku mengambil tasku di ruang depan dan segera kukeluarkan satu tablet paracetamol.Kuraih segelas air putih yang tersedia di atas nakas. Setelah itu dengan hati-hati aku kembali merengkuh tubuh ringkihnya dan kuminta Maya untuk membuka matanya sebentar agar aku bisa meminumkan paracetamol itu.Maya meminum oba

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    46. Godaan Cantik

    "Jadi Benny yang sudah melakukan penyiksaan itu pada Maya?"Aku tersentak kaget saat mendengar penjelasan Andien yang pada akhirnya bisa mengorek keterangan dari Maya, yang sebelumnya masih saja tutup mulut enggan mengungkap sosok pria yang sudah melakukan penyiksaan padanya."Benny, teman kuliahnya Maya yang satu kampus dulu?"Aku memperjelas keterangan yang sudah aku dengar dari Andien.Segera aku teringat jika dulu Benny pernah mengejar Maya. Lelaki itu juga dulu yang selalu mengejekku karena dia tahu aku menjalin kedekatan dengan Maya. Lelaki yang dulu sering menyebutku sebagai orang miskin yang tak pantas untuk bisa bersanding dengan Maya."Iya, Maya yang sudah mengatakannya sendiri padaku," ucap Andien dengan sangat yakin."Kalau begitu aku akan segera membuat laporan ke kepolisian. Kedua pria brengsek itu harus mendekam di penjara."Tanpa sadar aku mengepalkan kedua tangan, menjadi terlalu geram bila mengingat apa yang sudah mereka lakukan terhadap Maya."Bagus, aku akan dukung

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status