Beranda / Romansa / PEREMPUAN BERKALANG NODA / 64. Tawaran Yang Merendahkan

Share

64. Tawaran Yang Merendahkan

Penulis: Mastuti Rheny
last update Tanggal publikasi: 2026-05-23 08:37:37

Maya POV

Tanganku gemetar saat akhirnya membuka kunci pintu itu.

Pintu kayu terbuka perlahan, menampilkan sosok Rizal yang berdiri tegap di hadapanku. Aroma parfum mahalnya langsung menyeruak masuk bersama udara malam.

Aku mundur satu langkah memberi jarak.

“Aku cuma ingin bicara,” katanya tenang.

Sorot matanya jauh berbeda dibanding malam pertama saat aku mengenalnya dulu. Kali ini tak ada senyum santai ataupun guratan menggoda. Wajahnya terlihat serius.

Aku menelan ludah pelan.

Meski begitu a
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
si Maya ini normal atau super oon..fajar ga ada berani memasukan orang spek si Rizal??
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    128. Kunjungan Andien

    "Penawaran apa Hans?"Aku masih memandangnya dengan penuh rasa penasaran.Hans tidak langsung menjawab. Pria itu justru kembali menyendok bubur ayamnya dengan santai, seolah sengaja membiarkanku menunggu.Aku mengernyit."Kalau cuma mau bikin aku penasaran, nggak usah bicara."Hans terkekeh."Aku serius.""Lalu?""Bagaimana kalau kamu kuliah lagi?"Tanganku yang semula hendak merapikan beberapa daun bunga di hadapan kami mendadak berhenti.Aku menatap Hans seolah baru saja salah mendengar."Kuliah?"Hans mengangguk."Dulu kamu belum menyelesaikan kuliahmu, kan?"Aku terdiam.Pertanyaan sederhana itu tiba-tiba membawa ingatanku kembali pada masa lalu.Dulu aku memang pernah kuliah tapi semua harus berhenti di tengah jalan karena pernikahan dan kehamilanku yang saat itu tak mudah."Apa nggak mau menjadi sarjana sejarah?"Hans terdengar sangat ringan saat bertanya."Saat di Kairo lalu minat kamu kulihat begitu besar pada sejarah. Sayang sekali kalau kamu tak melanjutkan kuliahmu."Hans k

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    127. Sebuah Penawaran

    "So will you marry me May?" Kali ini Hans terlihat begitu serius. Aku menjadi kehilangan minat untuk melanjutkan kegiatanku. Aku berhenti sejenak untuk memusatkan perhatian ke arahnya. "Jawabannya masih sama seperti sebelumnya Hans, aku masih belum bisa membuka hati." Hans menarik nafas dalam. "Jadi itu artinya kamu belum bisa memaafkan aku." Hans menjatuhkan kedua pundaknya. Gesturnya terlihat luruh. "Hans ...," ucapku lirih. Hati ini menjadi berdenyut gelisah kala melihatnya seperti orang yang putus asa. Kala aku memandangnya lekat pada sosoknya yang sedang berjongkok di dekatku, hanya sekian detik senyuman Hans kemudian malah terunggah. Aku mengernyit bingung mendapati perubahan sikapnya. "Kurasa usahaku untuk hari ini cukup," cetus Hans ringan seraya berdiri dari jongkoknya. Mataku mengikuti gerakannya hingga kepalaku agak terdongak. Aku menjadi ikut bangkit. "Usaha apa?" "Usaha untuk menaklukkan hatimu." Sontak aku mendengkus kesal. "Kamu semakin

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    126. "Will You Marry Me, Maya?"

    "Maya, tolong terimalah lamaranku."Aku terdiam.Tatapan Hans masih tertuju kepadaku. Ada kesungguhan yang begitu nyata di sana, membuat dadaku kembali terasa sesak.Namun kali ini bukan karena ketakutan.Melainkan karena aku tidak tahu harus memberikan jawaban apa.Di satu sisi, aku ingin percaya bahwa perasaan Hans benar-benar tulus. Aku ingin percaya bahwa lelaki yang berdiri di hadapanku sekarang bukan lagi orang yang sama seperti dulu.Namun di sisi lain, masa lalu terus menarikku kembali.Aku menundukkan kepala."Hans...""Ya?""Maaf aku belum bisa."Senyum di wajahnya perlahan menghilang."Aku tahu kamu pasti menjawab seperti ini."Dia mengedikkan kedua pundaknya."Dan aku tahu apa alasannya."Aku langsung mengerutkan kening memandang ke arahnya yang kembali fokus menyetir."Alasannya pasti karena dokter itu, kan?"Hans menjawab dengan sekenanya.Aku bisa melihat rahangnya mengeras, seolah berusaha menahan sesuatu yang terasa berat di dalam hatinya."Tapi kamu nggak usah khawat

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    125. Lamaran Yang Ke Sekian Kalinya

    “Sejak kapan Maya menjadi calon istrimu?”Pertanyaan Salman membuat tubuhku seketika menegang.Aku menatap Hans.Pria itu masih berdiri beberapa meter di hadapanku dengan sorot mata yang sulit kubaca. Namun satu hal yang bisa kurasakan dengan jelas adalah kemarahannya.Kemarahannya bukan hanya karena aku diculik.Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari itu.“Sejak kapan itu bukan urusanmu?” balas Hans dingin.Salman terkekeh.“Jangan mengalihkan pembicaraan, Hans.”“Aku tidak datang untuk berbicara denganmu.”Tatapan Hans beralih kepadaku.“Maya, kemari.”Aku refleks ingin melangkah.Namun Salman bergerak lebih cepat.Dalam sekejap, lengannya meraih tubuhku lalu menarikku ke dalam pelukannya.“Tidak.”Aku membeku.“Lepaskan aku!”Aku berusaha melepaskan diri, tetapi pelukannya justru semakin erat.“Salman!”Hans langsung melangkah maju.“Lepaskan Maya.”Nada suaranya terdengar begitu tenang.Justru ketenangan itulah yang membuatku semakin takut.“Aku tidak mau.”Salman menjawab tanpa s

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    124. Calon Istri

    Maya POVLangkahku terasa jauh lebih ringan pagi itu.Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, aku berjalan keluar dari kawasan perumahan tanpa ditemani siapa pun. Udara pagi yang sejuk menyapa wajahku, membuatku mengembuskan napas panjang.Rasanya menyenangkan.Bebas.Aku terus berjalan hingga tiba di jalan raya, lalu mengangkat tangan memanggil sebuah taksi."Ke Jalan Melati, Pak.""Baik, Bu."Mobil melaju membelah jalanan kota.Sepanjang perjalanan, pikiranku melayang ke kontrakan kecil yang pernah kutinggali.Masih ada beberapa pakaian.Album foto Dita.Beberapa buku.Dan sebuah kotak kecil berisi kenangan yang belum sempat kubawa.Aku hanya ingin mengambil semuanya, lalu kembali sebelum Hans mengetahui aku keluar rumah.Mungkin...Dia bahkan tidak akan sadar.Sekitar tiga puluh menit kemudian...Taksi berhenti tepat di depan gang menuju kontrakanku."Terima kasih, Pak."Aku membayar ongkos lalu turun.Baru beberapa langkah aku berjalan...Sebuah mobil hitam berhenti mendadak tepa

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    123. Sangkar Emas

    Maya POVAku masih menatap Hans dengan bingung."Memangnya apa yang lebih seru?"Sudut bibirnya terangkat tipis."Kamu akan tahu sendiri."Tanpa menjelaskan apa pun, Hans kembali berjalan menuju mobil. Aku menghela napas pelan sebelum akhirnya mengikuti langkahnya.Sekitar tiga puluh menit kemudian mobil berhenti di sebuah taman bermain yang cukup ramai.Aku menoleh heran."Kita ke sini?"Hans mengangguk santai."Iya.""Aku bukan anak kecil.""Memangnya yang boleh main di sini cuma anak kecil?"Aku terdiam.Hans sudah lebih dulu berjalan menuju loket pembelian tiket.Beberapa menit kemudian ia kembali sambil menyerahkan satu gelang masuk kepadaku."Pakai."Aku menerima gelang itu dengan ragu."Serius?""Kalau nggak serius, buat apa aku bayar mahal?"Aku hanya mendengus pelan.Entah sejak kapan pria itu selalu punya cara membuatku kehabisan kata-kata.Begitu memasuki area taman bermain, suara tawa para pengunjung memenuhi udara.Anak-anak berlarian.Musik ceria terdengar dari berbagai

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    4. Dalam Kuasa Pria Dominan

    ["Siapa ini?"] tanyaku lugas saat kudengar suara wanita asing ketika aku menghubungi ponsel suamiku.Tapi sebelum aku mendengar penjelasan apapun dari perempuan itu segera kudengar suara Mas Angga dari seberang sana.["Kamu kenapa nelpon aku? Apa Om Hans nggak sama kamu?"]Saat mendengar nada bicar

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    3. Harga Diri Yang Tergadai

    Malam ini kehancuranku terasa terlalu nyata. Saat pria yang bukan suamiku menjelajah dengan sangat liar di atad tubuhku. Segalanya terpampang terlalu lugas. Sementara aku terlalu tak berdaya untuk bisa menghentikan kegilaan itu. Air mataku mengalir deras. Aku tersedu sepanjang malam ditengah aluna

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    2. Jebakan Suamiku

    "Rumah siapa ini Mas?""Untuk apa kita ke sini?" tanyaku dipenuhi rasa penasaran, ada gelisah yang semakin tak bisa kutulis kala memasuki daerah asing ini.Entah mengapa perasaanku seperti memendam sesuatu yang buruk sekarang.Tapi nyatanya saat kulihat Mas Angga mengukir segaris senyuman serta men

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    1. Keinginan Gelap Suamiku

    “Dita sakit, Mas,” ucapku tertahan seraya mendekap erat putriku yang malam ini suhu tubuhnya naik lagi.Lelaki yang sudah menikahiku enam tahun silam itu hanya melirikku, malas, sebelum perhatiannya kembali fokus pada layar ponsel di tangannya.Aku merangsek mendekat kian mengunggah kecemasan yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status