ホーム / Romansa / PEREMPUAN DI BALIK LENTERA / BAB 12 - Bayangan yang Tidak Pergi

共有

BAB 12 - Bayangan yang Tidak Pergi

作者: Y. Rs
last update 最終更新日: 2025-12-28 20:48:49

Pagi turun perlahan di halaman belakang rumah besar itu. Embun masih menggantung di ujung daun pandan, dan udara membawa aroma tanah basah yang samar. Ia berdiri dengan baskom di tangannya, menunggu air menetes penuh sebelum mengangkatnya. Gerakannya terukur—tidak terburu-buru, tidak pula lamban—seolah ia telah lama belajar menempatkan diri di sela-sela ritme yang bukan miliknya.

Ada hari-hari yang terasa sama. Dan ada hari-hari yang, meski tampak serupa, menyimpan getaran kecil di baliknya. Pagi ini termasuk yang kedua.

Ia memindahkan baskom ke bangku kayu, lalu mengelap tangannya dengan kain tipis. Pandangannya sempat tertahan pada lentera yang tergantung di sudut beranda—padam sejak fajar. Lentera itu tidak pernah dipindahkan. Sejak awal, ia tahu, benda-benda di rumah ini jarang berpindah tempat. Yang berpindah hanya orang-orangnya. Datang, lalu pergi, meninggalkan jejak yang cepat pudar.

Langkah kaki terdengar dari arah dalam. Ia menegakkan bahu, menggeser satu langkah ke samping—
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 41 - Hal-hal Kecil yang Tak Direncanakan

    Hari itu dimulai dengan perubahan kecil yang nyaris tak layak disebut peristiwa—perubahan yang tidak akan dicatat siapa pun, namun entah bagaimana terasa berbeda sejak awal. Ia diminta membantu persiapan ruang kerja sementara di sayap timur rumah besar. Bukan ruang utama, bukan pula ruang penting yang biasa digunakan untuk jamuan atau pertemuan besar. Ruang itu jarang dipakai, hampir seperti ruang yang sengaja dilupakan, dan pagi itu harus dirapikan untuk sebuah pertemuan singkat. Tidak ada nama yang disebutkan. Tidak ada alasan panjang. Hanya instruksi sederhana, dan ia menerimanya seperti biasa—tanpa bertanya, tanpa menunjukkan apa pun di wajahnya. Sayap timur terasa berbeda dari bagian rumah lainnya. Jendela-jendelanya tinggi dan terbuka lebar, membiarkan cahaya pagi masuk tanpa terhalang tirai berat. Cahaya itu jatuh lurus ke lantai kayu, memperlihatkan garis-garis halus yang mulai pudar dimakan usia. Debu terlihat jelas di udara, bergerak perlahan, seolah menari tanpa ir

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 40 - Hal-hal yang Tidak Pernah Diucapkan

    Pagi datang tanpa perbedaan yang mencolok. Ia bangun seperti biasa, menata dirinya dengan gerakan yang telah menjadi hafalan tubuh. Tidak ada pikiran yang melompat-lompat, tidak pula perasaan yang meledak. Yang ada hanya satu kesadaran baru yang menetap dengan tenang: ia kini bekerja dari pinggir, dan itu harus diterima tanpa suara. Ia berjalan melewati lorong-lorong yang kini terasa lebih panjang. Beberapa wajah yang dulu akrab kini hanya memberinya anggukan singkat. Tidak bermusuhan. Tidak ramah. Sekadar cukup. Di ruang kerja barunya, ia menerima tugas harian yang tertulis rapi. Semuanya jelas, sistematis, dan efisien. Tidak ada ruang untuk salah paham—dan justru itulah yang membuatnya terasa dingin. Ia membaca ulang instruksi itu lebih lama dari yang diperlukan. Bukan karena tidak paham, melainkan karena ingin memastikan bahwa ia tidak keliru menafsirkan posisinya sendiri. Tugas itu menempatkannya jauh dari pusat kegiatan. Jauh dari jalur yang biasa dilalui tuan muda. Jauh da

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 39 - Ruang yang Tidak Diberi Nama

    Hari itu berlalu dengan senyap. Ia menjalankan tugasnya di bagian yang jarang dilalui, ruang-ruang yang bersih, teratur, dan hampir selalu kosong. Lorong-lorongnya lebar, dindingnya tinggi, dan suara langkah kaki terdengar lebih jelas dari biasanya—seolah tempat itu sengaja dibuat untuk mengingatkan siapa pun bahwa ia sedang sendirian. Tidak ada tekanan langsung. Tidak ada bentakan. Tidak ada teguran. Namun keheningan itu terasa terlalu luas, terlalu rapi, dan terlalu disengaja. Ia mulai menyadari sesuatu yang mengganggu: ia tidak lagi merasa ditunggu. Bukan karena orang-orang bersikap kasar. Justru sebaliknya—semuanya berjalan terlalu lancar tanpa kehadirannya. Instruksi datang lewat catatan, bukan percakapan. Koreksi disampaikan lewat perantara. Ia tidak dipanggil, hanya diberi tahu. Hal-hal kecil itu menyatu menjadi satu pola yang sulit diabaikan. Ia tetap bekerja dengan teliti. Tidak ada kesalahan. Tidak ada keterlambatan. Namun sesekali, ia berhenti sepersekian detik leb

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 38 - Hal-hal yang Tidak Dibesar-besarkan

    Ia bangun lebih pagi dari biasanya.Bukan karena gelisah, melainkan karena tubuhnya terbiasa berjaga sebelum perintah datang. Ada jeda singkat setelah ia membuka mata—sepersekian detik ketika ia lupa di mana dirinya berada. Jeda itu cepat berlalu, namun cukup untuk meninggalkan rasa dingin di dada.Ia duduk, merapikan pakaian, lalu berhenti.Tangannya sempat gemetar saat mengikatkan pita kecil di pergelangan. Bukan gemetar yang mencolok. Bahkan jika ada orang lain di ruangan itu, mungkin tidak akan diperhatikan. Ia sendiri hampir mengabaikannya, seandainya tidak terlalu mengenal tubuhnya.Ia menarik napas lebih dalam.Tidak ada kenangan buruk yang muncul. Tidak ada bayangan masa lalu yang jelas. Hanya sensasi samar—seperti ber

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 37 - Retakan yang Tak Disuarakan

    Tekanan tidak selalu datang dalam bentuk larangan. Sering kali ia hadir sebagai penataan ulang—lebih halus, lebih sulit dibantah.Pagi itu, ia menerima daftar tugas yang sama seperti kemarin, namun dengan satu perbedaan kecil: namanya diletakkan di baris paling akhir, ditulis ulang dengan tinta yang lebih muda. Tidak salah. Tidak keliru. Hanya dipindahkan.Ia memperhatikan itu tanpa mengernyit.Di lorong-lorong, orang-orang tetap menyapanya seperti biasa—nada sopan, senyum singkat, tidak berlebihan. Namun, ia merasakan sesuatu yang lebih terukur. Seolah setiap interaksi telah melalui pertimbangan: cukup dekat untuk terlihat wajar, cukup jauh untuk aman.Ia bekerja tanpa menoleh.

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 36 - Yang Tetap dan Yang Mulai Bergeser

    Hari-hari berikutnya berjalan tanpa kejutan yang mencolok. Justru karena itulah ia mulai waspada. Tidak ada perubahan jadwal yang ekstrem, tidak pula pemanggilan mendadak yang mengundang tanya. Ia kembali pada tugas-tugas yang tampak biasa—membersihkan lorong samping, mengantar dokumen ringan ke ruang penyimpanan, membantu persiapan jamuan kecil yang tidak melibatkan bangsawan utama. Semua tampak seperti rutinitas yang ia kenal. Namun ia tahu, sesuatu yang telah bergerak tidak pernah benar-benar kembali diam. Ia merasakannya dari cara beberapa pelayan kini lebih berhati-hati saat berada di dekatnya. Mereka tidak menjauh secara terang-terangan, tidak pula mencoba mendekat. Hanya menjaga jarak yang terlalu terukur—jarak orang-orang yang ingin aman dari salah sangka. Langkah mereka sedikit melambat saat berpapasan dengannya. Percakapan terhenti sepersekian detik lebih lama dari biasanya. Hal-hal kecil, nyaris tak berarti bila berdiri sendiri. Namun,

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status