Beranda / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Terminal 4B Muncul Lagi

Share

Terminal 4B Muncul Lagi

Penulis: Pilar Waisakha
last update Tanggal publikasi: 2026-05-28 23:26:36

Pagi di kamar Adriano masih redup waktu Elena membuka mata.

Tirai tinggi belum terbuka penuh. Cahaya abu tipis jatuh di lantai marmer dekat sofa dan berhenti di kaki ranjang.

Suara kain bergesek terdengar dari sisi ruangan.

Adriano sudah berpakaian.

Kemeja hitamnya rapi. Jam tangan logam tergeletak di meja kecil dekat tablet yang masih menyala penuh data transit. Satu cangkir kopi berada di sampingnya.

Tidak disentuh.

Elena mengangkat tubuh sedikit sambil menahan selimut di dada.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Tak Bisa Dibatalkan

    Pagi telah memenuhi kamar.Cahaya matahari menembus celah tirai, membentuk garis-garis terang di atas lantai marmer.Tak ada bunyi alarm.Tak ada ketukan pelayan.Elena membuka mata.Tatapannya menetap di langit-langit.Ingatan semalam datang tanpa perlu dipanggil.Ballroom.Cincin.Bibir Adriano.Gaun hitam yang jatuh di lantai.Napas hangat menyentuh tengkuknya.Lengan Adriano masih melingkar di pinggangnya.Berat.Mantap.Elena menyentuh pergelangan tangan pria itu.Berusaha mengangkatnya perlahan.Belum sempat terlepas, pelukan itu justru mengencang.Tubuh Adriano bergeser mendekat tanpa membuka mata."Aku ingin ke kamar mandi."Hening sesaat.Lengan itu akhirnya mengendur.Elena turun dari ranjang.Baru ketika kedua telapak kakinya menyentuh lantai, ia menyadari tak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya.Jemarinya bergerak pelan, menyapu kehangatan yang masih tertinggal di lipatan paha.​Ujung jarinya basah—cairan licin sisa gairah semalam menggumpal di sana.Tatapannya ber

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jarak Itu Akhirnya Hilang

    Koridor mansion membentang sunyi.Lampu-lampu dinding memantulkan cahaya keemasan di atas marmer. Dari ballroom yang kini tertinggal jauh, gesekan biola masih terdengar tipis, seperti datang dari dunia lain.Elena berjalan lebih dulu.Langkahnya tak lagi setegas saat memasuki Palazzo San Giorgio. Hak sepatunya sesekali bergeser tipis sebelum kembali menemukan keseimbangan.Adriano mengikuti beberapa langkah di belakang.Tatapannya singgah pada punggung perempuan itu."Kau tidak terbiasa minum."Elena tidak menoleh."Aku terbiasa menuangkannya."Mereka terus berjalan."Dulu aku menghafal botol dari warna labelnya."Senyum tipis singgah di bibir Elena. Terlalu hambar untuk disebut senyum."Orang yang benar-benar kaya jarang menghabiskan gelas mereka."Tak ada jawaban.Di depan sebuah pintu, Elena berhenti.Adriano lebih dulu memutar gagang.Daun pintu terbuka.Elena masuk.Ruangan itu kembali menyambut mereka dengan keheningan yang sudah akrab.Ia duduk di ujung ranjang.Sepatu hak pert

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tidak Ada yang Kembali Sama

    Musik kembali memenuhi ballroom. Gesekan biola mengalir di antara denting gelas dan percakapan yang kembali menemukan iramanya. Para pelayan bergerak membawa baki perak dari satu kelompok tamu ke kelompok lain, sementara lampu kristal memantulkan cahaya hangat ke permukaan lantai marmer. Adriano melangkah lebih dulu. Elena mengikutinya. Tak satu pun tamu menyinggung kepergiannya beberapa menit lalu. Sapaan kembali terdengar seperti biasa, seolah tak pernah ada jeda di tengah pesta. Seorang pelayan lewat. Adriano mengambil dua gelas anggur. Satu tetap berada di tangannya. Satu lagi diulurkan kepada Elena. Perempuan itu tidak segera menyambutnya. Tatapannya singgah pada jemari Adriano yang menggenggam tangkai gelas. Naik ke wajah pria itu.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Pilihan yang Tidak Pernah Bebas

    Musik kembali memenuhi ballroom. Gesekan biola mengalir di antara denting gelas dan percakapan yang mulai hidup lagi. Para pelayan bergerak membawa baki minuman. Tamu-tamu kembali berbaur, seolah perempuan yang beberapa menit lalu meninggalkan panggung hanyalah jeda singkat dalam rangkaian acara yang tetap harus berjalan. Adriano turun dari sisi panggung. Beberapa orang menganggukkan kepala ketika berpapasan dengannya. Ia membalas seperlunya. Langkahnya tak melambat hingga mencapai pintu samping ballroom. Daun pintu terbuka. Suara musik meredup di belakang punggungnya. Koridor menyambut dengan kesunyian yang nyaris utuh. Bunyi sepatunya memantul di lantai marmer. Tok. Tok. Tok. Di ujung lorong, dua daun pintu berdiri saling berhadapan. Ladies. Gentlemen.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Mereka Tak Punya Banyak Waktu

    Daun pintu ruang rias tetap tertutup. Dengung pendingin ruangan mengisi ruang yang terlalu sunyi untuk disebut tenang. Elena masih berdiri di depan cermin. Jemari kirinya terangkat. Cincin itu masih berada di sana. Tak bergeser. Suara langkah terdengar di koridor. Satu pintu terbuka. Sunyi. Pintu lain. Kembali tertutup. Langkah itu mendekat. Berhenti tepat di depan ruang rias. Gagang pintu bergerak. Daun pintu terbuka. Julian berdiri di ambang. Napasnya belum sepenuhnya teratur, seolah seluruh koridor baru saja dilaluinya tanpa sempat berhenti. Tatapannya langsung menemukan Elena. "Elena." Elena menoleh. Sorot matanya membeku sesaat. "Julian." Tak ada yang bergerak. Pandangan Julian turun pada gaun hitam yang dikenakannya. Naik ke wajah Elena. Berakhir pada cincin yang memantulkan cahaya di jari manisnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Suara Elena nyaris lebih pelan daripada dengung pendingin ruangan. "Kau seharusnya tidak datan

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Seseorang Mengikutinya

    Daun pintu menutup di belakang Elena.Suara tepuk tangan berubah menjadi gema yang tertahan di balik dinding tebal ballroom.Koridor memanjang di bawah deretan lampu dinding. Cahaya keemasan jatuh membentuk garis-garis panjang di atas lantai marmer.Hak sepatunya memecah kesunyian.Tok.Tok.Tok.Tak ada langkah lain.Musik kuartet masih terdengar samar dari balik pintu-pintu kayu yang tertutup rapat.Elena berhenti di depan ruang rias.Tangannya mendorong gagang.Ruangan itu kosong.Pintu kembali menutup.Suara dari luar menghilang.Yang tersisa hanya dengung pendingin ruangan.Ia berdiri di depan wastafel.Pantulan perempuan di cermin ikut memandanginya.Gaun hitam itu tetap jatuh sempurna.Tak ada lipatan yang berubah sejak ia naik ke atas panggung.Rambut yang ditata rapi masih berada di tempatnya.Sebentuk berlian melingkari jari manis tangan kirinya.Tak ada yang bergerak.Kedua telapak tangannya bertumpu di bibir wastafel.Dingin marmer merambat ke ujung jemarinya.Suara itu ke

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jika Dia Titik Lemahmu

    Ruang kerja Valerius Moretti selalu terasa lebih dingin dari ruangan lain di rumah itu. Bukan karena udara. Karena cara pria tua itu mengatur ruang. Segalanya teratur. Terukur. Tanpa sesuatu yang tidak memiliki fungsi. Rak buku berdiri rapi di sepanjang dinding. Meja kayu besar berada d

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ia Tidak Lagi Sekadar Dipamerkan

    Pintu kaca terbuka.Udara di dalam lebih dingin—rata, cahaya jatuh merata di permukaan—lukisan, kaca, logam—tidak ada yang menonjol, tidak ada yang tertinggal.Percakapan sudah ada.Tidak berhenti ketika Adriano masuk.Hanya bergeser.Elena berjalan di sisinya.Sejajar.Tidak menyentuh.Tidak terti

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Tidak Seharusnya Ada

    Pintu kamar mandi masih tertutup. Air mengalir tipis di baliknya—stabil, teratur. Elena berdiri di sisi ranjang, tidak duduk, tidak bergerak sepenuhnya. Ponsel di tangannya. Layar menyala. Singkat. Satu baris muncul—lalu hilang sebelum sempat dibaca utuh. Jarinya naik. Berhenti di atas kaca.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sarapan yang Tidak Pernah Aman

    Ruang makan sudah siap sebelum siapa pun masuk. Cahaya pagi jatuh lurus dari jendela tinggi, membelah meja panjang menjadi dua sisi yang terlalu rapi untuk disentuh. Piring porselen tersusun presisi. Sendok dan garpu sejajar seperti garis komando. Cangkir kopi mengepul tipis—hangat, tapi tidak m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status