LOGINRuang kerja Valerius Moretti selalu terasa lebih dingin dari ruangan lain di rumah itu.
Bukan karena udara. Karena cara pria tua itu mengatur ruang. Segalanya teratur. Terukur. Tanpa sesuatu yang tidak memiliki fungsi. Rak buku berdiri rapi di sepanjang dinding. Meja kayu besar berada di tengah ruangan seperti pusat gravitasi yang tidak boleh diganggu. Tirai tebal menutup sebagian cahaya sore yang mencoba masuk dari jendela tinggi. Di balik meja itu, Valerius duduk tanpa ekspresi. Ketika Adriano masuk, pria tua itu bahkan tidak langsung menatapnya. Ia sedang membaca sesuatu. Sebuah laporan. Kertas itu dilipat rapi di tangannya. Adriano menutup pintu di belakangnya. Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik. Hanya suara kertas yang dibalik. Akhirnya Valerius meletakkan laporan itu di meja. Baru kemudian ia menatap anaknya. Tatapan itu tenang. Terlalu tenang. “Kau membawa seorang perempuan ke rumah ini.” Bukan pertanyaan. Pernyataan. Adriano tidak menjawab. Valerius menyandarkan punggungnya sedikit di kursi. “Aku sudah hidup cukup lama untuk mengenali pola keputusanmu.” Sunyi kembali memenuhi ruangan. “Selama ini,” lanjut Valerius pelan, “kau tidak pernah membawa sesuatu yang tidak kau perlukan.” Matanya menelusuri wajah Adriano. Seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi. “Jadi aku penasaran.” Ia berhenti sejenak. “Kebutuhan macam apa yang berbentuk perempuan?” Adriano tetap berdiri. Wajahnya datar. Tapi rahangnya menegang sedikit. Valerius memperhatikannya. Perubahan kecil seperti itu tidak pernah luput dari perhatiannya. “Perasaan,” kata Valerius perlahan, “membuat pola keputusan berubah.” Jari-jarinya mengetuk ringan permukaan meja. Sekali. Dua kali. “Dan pola yang berubah,” lanjutnya, “bisa dipelajari.” Ancaman itu tidak diucapkan dengan nada tinggi. Justru sebaliknya. Tenang. Rasional. Seperti seseorang yang sedang membahas angka dalam laporan bisnis. Adriano akhirnya bicara. “Dia bukan urusan keluarga.” Valerius mengangkat alis tipis. “Segala sesuatu yang kau bawa ke rumah ini adalah urusan keluarga.” Tidak ada emosi dalam kalimat itu. Hanya fakta. Pria tua itu menatap Adriano beberapa detik lebih lama. Kemudian ia berkata, “Jika dia titik lemahmu, Adriano…” Ia berhenti. Seolah memberi waktu bagi kata-kata itu untuk mengendap. “Berapa harga kepalamu nanti?” Ruangan itu kembali sunyi. Adriano tidak menjawab. Tidak ada jawaban yang tidak terdengar seperti pengakuan. Valerius menyilangkan jari-jarinya di atas meja. “Kau mengatakan di ruang tamu tadi bahwa dia calon istrimu.” Nada suaranya ringan. Seolah itu hanya bagian kecil dari percakapan. “Kalau begitu,” lanjutnya, “aku tertarik melihat bagaimana dia bertahan di rumah ini.” Adriano tidak menyukai arah pembicaraan itu. Ia sudah bisa menebak. Valerius tidak pernah mengajukan sesuatu tanpa tujuan. “Biarkan dia melayani makan malam keluarga malam ini.” Adriano tidak bergerak. Valerius menatapnya lurus. “Tanpa instruksi.” Sunyi. Kalimat berikutnya diucapkan hampir seperti kesimpulan. “Kita lihat… apakah dia memiliki insting Moretti.” Sebuah jeda kecil. “Atau hanya perempuan jalanan yang kebetulan kau bawa masuk.” Adriano menatap ayahnya beberapa detik. Tatapan yang dingin. Tapi ia tidak membantah. Tidak menolak. Di rumah ini, menolak perintah Valerius berarti mengakui sesuatu yang lebih berbahaya. Bahwa Elena memang penting. Dan itu bukan kelemahan yang boleh diperlihatkan. Valerius mengambil kembali laporan di meja seolah percakapan mereka sudah selesai. “Kau boleh pergi.” Adriano berbalik tanpa berkata apa pun. Pintu ruang kerja itu tertutup kembali dengan pelan di belakangnya. Koridor mansion terasa panjang dan sunyi. Langkah Adriano bergema pelan di lantai marmer. Lampu-lampu dinding menyala redup, menciptakan bayangan panjang di sepanjang lorong. Ia berjalan melewati beberapa pintu tertutup. Sampai akhirnya langkahnya melambat. Di depan sebuah pintu. Kamar yang baru saja ditempati Elena. Adriano berhenti. Tangannya berada di gagang pintu. Diam. Ia tahu persis arti membuka pintu itu sekarang. Membukanya berarti menjalankan permainan ayahnya. Tidak membukanya berarti mengakui bahwa perempuan di dalam ruangan itu… berarti sesuatu. Beberapa detik berlalu. Lalu Adriano memutar gagang pintu. Pintu itu terbuka. Dan ia melangkah masuk. Bukan sebagai pelindung. Tapi sebagai seseorang yang membawa hukuman. Karena malam ini, Elena harus menghadapi meja makan keluarga Moretti."Tidak." Satu kata itu berdiri di antara mereka. Adriano masih menggenggam tangan Elena. Valerius menggerakkan kursi rodanya sedikit maju. "Lepaskan dia." Adriano tidak bergeser. "Aku sudah kehilangan dia sekali." Mata Valerius turun pada jemari yang saling menggenggam. "Elena…" Perempuan itu menatapnya. Adriano tidak menoleh. "Tetap di sini." Jemari Elena bergerak kecil di dalam genggamannya. Valerius mengangkat wajah. Tatapannya melewati Adriano dan berhenti pada Elias yang masih terbaring di halaman. Darah membasahi sisi jas pria itu. Elias mengangkat mata. Mereka bertemu pandang. "Terkadang pengkhianat tidak datang dari luar," kata Valerius. Elias diam. "Mereka tumbuh di dalam rumah sendiri." Angin menyentuh ujung tirai pintu. Valerius menatapnya. "Jika malam itu kau menjalankan perintahku…" Pandangan lelaki tua itu bergeser kepada Elena. "…semua ini tidak akan terjadi." Elias menutup mata sesaat. "Saya tahu." Valerius merogo
“Aku tetap tidak akan membiarkannya menginjakkan kaki di rumah ini lagi.” Suara Valerius jatuh di ambang pintu. Adriano masih menggenggam tangan Elena. Jemari mereka belum terlepas sejak keluar dari halaman belakang. “Kenapa?” Valerius mengangkat dagu sedikit. “Karena dia adikmu.” Tatapan Adriano mengeras. “Dia?” “Silvia sudah meracuni pikiranmu, Adriano.” “Apa yang dia racuni?” Valerius diam. Adriano maju satu langkah. “Dia tidak pernah mengajariku untuk melawanmu.” “Karena kau masih terlalu muda untuk melihatnya.” “Dia yang membesarkanku.” “Dan itulah yang selama ini kutakutkan.” Adriano menatap lelaki tua di kursi roda itu.
“Kenapa kau meninggalkanku di panti asuhan?” Jemari Elena masih mencengkeram lengan Julian. Elias terbaring di tanah. Satu tangannya menekan luka di sisi tubuh. Darah merembes di sela jemarinya dan jatuh ke batu yang basah. Tatapannya berhenti pada wajah Elena. Ia tidak segera menjawab. Adriano menurunkan pistol beberapa senti. “Jawab.” Elias menarik napas pendek. “Karena aku punya seorang anak perempuan.” Tatapan Adriano berubah. “Anak?” Elias mengangguk. “Usianya tidak jauh darimu malam itu.” Elena mengerutkan kening. “Kau tidak pernah menceritakannya.” “Aku memang tidak pernah.” Elias menatap tangannya sendiri yang mulai berlumur darah. “Aku menyembunyikannya dari semua orang.” “Kenapa?” “Pekerjaanku.” Hanya itu. Elena menunggu. Elias mengangkat wajah. “Dunia tempatku bekerja selalu mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk menjatuhkan seseorang.” Tatapannya kembali kepada Elena. “Aku tidak akan memberikan mereka anakku.” Angin malam
“Sekarang katakan padaku siapa sebenarnya Elena.” Pistol Adriano tetap terangkat. Elias duduk di tanah, satu tangan menekan sisi tubuhnya. Darah merembes di sela jarinya. Tidak ada penjaga yang bergerak. Julian masih memeluk Elena dari samping. Jemari perempuan itu mencengkeram kain kemejanya. Elias menatap Adriano. Tidak menjawab. “Jawab.” Suara Adriano tidak keras. Itu membuat laras pistol di tangannya terasa lebih berat. Elias menarik napas. “Perempuan itu…” Ia berhenti. “Adalah anak yang kau temukan di tempat asalnya.” Adriano menyipitkan mata. “Tempat asalnya.” Elias diam. “Jawabanmu selalu berlandaskan perintah.” Adriano melangkah turun dari anak tangga. “Dua puluh delapan tahun lalu kau bilang sudah membereskan Alessandra.” Tatapan Elias turun. “Kau bilang mayat Silvia dibuang ke laut.” Satu langkah lagi. “Kau juga bilang anak itu sudah dibereskan.” Adriano mengangkat pistol sedikit. “Bagaimana?” Elias tidak menjawab. “Menembaknya?” Hanya suara angin
Halaman belakang mansion membentang jauh di bawah cahaya lampu taman. Julian berjalan di depan. Tangannya tidak lepas dari tangan Elena. Mereka menerobos semak yang tumbuh di sepanjang dinding belakang. Ujung mantel Elena tersangkut ranting. Julian menariknya bebas tanpa berhenti. Kaki Elena menyentuh tanah tanpa sepatu. Setiap pijakan membuat luka di betisnya berdenyut. Ia menoleh. Dari arah mansion, gonggongan anjing masih terdengar dari balik kandang. Keras. Tidak putus. Julian mempererat genggamannya. “Jangan menoleh ke belakang.” Elena memandang punggungnya. “Kau yakin kita bisa keluar dari sini?” “Mobilku tidak jauh.” Ia menunjuk ke arah pepohonan di depan. “Sedikit lagi.” Elena memaksakan langkah. Tanah basah bergeser di bawah telapak kakinya. Sebuah akar mencuat dari permukaan. Ujung kakinya mengenainya. Bruk. Tubuh Elena jatuh ke samping. Julian langsung berbalik. “Elena.” Ia berjongkok. “Kau tidak
“Siapa di luar?” Jemari pria itu meninggalkan gagang pintu. Satu langkah mundur. Pintu di sebelahnya tidak terkunci. Ia menyelinap masuk. Gelap. Daun pintu ditarik kembali hingga menyisakan celah tipis. Ia bergerak ke sisi lemari, merapatkan tubuh ke dinding yang berdekatan dengan jendela. Gagang pintu kamar Elena berputar. Klik. Pintu terbuka. Cahaya dari kamar tumpah ke koridor. Adriano keluar. Tatapannya langsung menyapu sepanjang lorong. Kosong. Matanya turun ke lantai. Naik lagi. Di ujung koridor, sebuah sosok melintas. Jas hitam. Sisi rambut yang memutih. Elias. Adriano menyipitkan mata. Sosok itu sudah menghilang di balik tikungan. Tatapannya masih tertahan di sana. Beberapa hari terakhir, terlalu banyak hal yang tidak dikatakan Elias. Dari dalam kamar terdengar suara Elena. “Ada apa?” Adriano menoleh. Ia masuk kembali. “Tidak ada.” Elena sudah mengangkat tubuh sedikit dari bantal. Tatapannya berpindah ke pintu. “Kau
Canapé reception kembali penuh suara saat Elena belum juga muncul di sisi Adriano. Percakapan bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain tanpa benar-benar putus. Nama kolektor disebut pendek. Jalur restorasi dibahas sambil lalu. Gelas-gelas tipis beradu pelan di bawah cahaya gantung yang mema
Pintu kamar mandi masih tertutup. Air mengalir tipis di baliknya—stabil, teratur. Elena berdiri di sisi ranjang, tidak duduk, tidak bergerak sepenuhnya. Ponsel di tangannya. Layar menyala. Singkat. Satu baris muncul—lalu hilang sebelum sempat dibaca utuh. Jarinya naik. Berhenti di atas kaca.
Adriano sudah berjalan di depan. Ia tidak menunggu. Langkahnya panjang dan terukur, seolah rumah itu telah menghafal ritmenya. Sepatu kulitnya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer, namun setiap tapak terasa seperti penanda wilayah. Elena ragu sepersekian detik. Lalu ia menyusul.
Interior mansion Moretti tidak menyambut. Ia menelan. Langit-langit tinggi membuat langkah kaki Elena terdengar terlalu kecil. Lantai marmer dingin memantulkan bayangan mereka seperti air yang tak mau terusik. Tidak ada lukisan keluarga. Tidak ada foto. Tidak ada bunga. Hanya ruang luas, suny







