LOGINZuhra meletakkan secangkir kopi panas di hadapan pria tua yang bergaya
"Ra, udahan dong," rengek Dirgam.Zuhra melotot garang. "Nggak ada! Itu hukuman Mas karena suka ganjen!" ucapnya ketus."Aduuh, Ra. Dia itu sekretaris Papa. Masa sekretaris Papa juga Mas yang pilihin?"
Dirgam merangkul bahu Zuhra dengan sayang. Dia tak membiarkan sedikit pun wanita itu jauh dari jangkauan, membuat semua keluarga yang berkumpul menggelengkan kepala melihat sikap protectivenya.H
Dirgam duduk termenung di taman rumah sakit tempat ibunya dirawat. Sudah satu jam berlalu, dan dia masih enggan untuk beranjak. Ia merenung atas apa yang sudah dialaminya selama ini. Fakta yang baru saja diketahui, dia tak ingin percaya. Tapi, logikanya selalu membenarkan. Jika begitu, bukankah Dirgam sudah berbuat kejam terhadap ayahnya selama ini? Ah, tentu tidak. Ini juga termasuk salah ayahnya yang tak membawanya serta pergi. Kenapa meninggalkan anak pada istri yang tukang selingkuh?Ia menghela napas, terus saja mencari alasan kebenaran atas sikapnya selama ini. Dia juga korban di sini. Lamunan pria itu terhenti karena tarikan kasar seseorang. "Berengsek! Di sini lo ternyata! Bajingan yang udah hamilin adik gue!!" Randy berteria
“Ra ....”Dirgam lantas menoleh karena sapaan lembut Reno pada Zuhra yang berdiri tak jauh dari mereka, dengan perut membuncit serta mata berkaca-kaca.“Maaf ... tapi yang harus selalu kamu tahu, aku tulus sayang sama kamu, Ra,” bisik Reno.
Zuhra menatap sendu pada Dirgam yang memeluk lembut wanita paruh baya yang sedang terbaring di ranjang. Sangat tampak begitu besar kesedihan yang coba pria itu sembunyikan di setiap harinya. Kali ini Zuhra bisa melihat sendiri, betapa rapuhnya seorang Dirgam Arhab.
Katanya cuma teman, tapi di balik layar sayang-sayangan. Kalau ketahuan, alasannya kehilafan.- Perfect Husband“Sewaktu Mas dijemput Papa dan Mama, Kely juga mendapat keluarga baru
Zuhra meletakkan kembali segelas cokelat panas di atas meja. Hatinya bimbang ingin memberikannya pada Dirgam atau tidak. Di luar sana sedang turun hujan, jadi sangat wajar jika cuaca saat ini begitu dingin. Namun bukan itu masalahnya, sikap dan perilaku Dirgam-lah yang membuat Zuhra ragu-ragu.Sepula
Zuhra menarik Dirgam duduk, meski terlihat ogah-ogahan, tapi pria itu tidak menolak. Setelahnya Zuhra berlalu menuju dapur dan kembali dengan segelas air putih dan kotak P3K.“Diminum, biar nggak emosi.”Dirgam menerima gelas dari Zuhra dan langsung menghabiskan isinya hingga tandas. Memang sedari tad
Zuhra duduk sendirian di kursi taman. Pikirannya yang berserabut butuh udara segar supaya kembali fokus dan tenang.Dua minggu berlalu sejak kejadian itu, Dirgam jadi lebih pendiam. Bahkan kini pria itu jarang berada di rumah. Pulang kantor selalu larut malam dan sudah pergi lagi pagi-pagi sekali. Pa
Zuhra melirik sebal Dirgam yang sudah duduk tegak dengan santainya, seolah baru saja tidak terjadi hal apa pun. Yah, meskipun memang tak terjadi hal apa-apa. Tapi kan ....“Kenapa wajahmu cemberut begitu?” tanya pria itu heran.Zuhra menoleh, menatap garang wajah Dirgam. “Nggak apa-apa,” ucapnya ketus







