LOGINTerima kasih sudah membaca dan memberi feedbacks! Nantikan kelanjutan kisah ˗ˏˋ ♡ ˎˊ˗Rajendra dan Karuna˗ˏˋ ♡ ˎˊ˗ ya! Pernikahan Dadakan dengan Mantan; to be continued۫ ꣑ৎ!
Mereka memasuki sebuah steakhouse. Aroma daging panggang dan sausnya menyugar indra pembau, memenuhi rongga dengan kehangatan yang menggugah selera. Rajendra menuntun langkah Karuna, tungkainya bergerak pelan di samping raganya, sampai di salah satu meja di dekat jendela–menghadap ke arah langit yang sudah mulai terik karena mentari yang naik.Beberapa saat setelahnya, Karuna tak kuasa menghela napas begitu satu-per satu menu itu datang.“Ini tuh cocoknya buat dinner nggak, sih?” tanyanya.Meja mereka tampak penuh.Mulai dari tomahawk steak andalan restoran, creamed spinach yang katanya menu pendamping paling populer, truffle mac & cheese yang menarik perasa Karuna, serta dua gelas jus apel dingin dan menu perintilan lainnya.Rajendra melirik, kemudian mulai memotong daging besar itu menjadi beberapa bagian. “Kamu tidak suka?” tanyanya. “Kita bisa pindah jika iya.”Betapa pandai pria itu bicara sekarang.“Bukan nggak suka.” Karuna masih memegang garpu dan pisau di udara, sementara piri
Rajendra menatap punggung itu dari belakang. Netranya memperhatikan bagaimana empunya tampak sibuk dengan telunjuk yang menyentuh setiap sampul buku. Rambutnya yang digerai membuatnya tampak ayu, begitu sederhana dalam celana jeans biru cerah dan kemeja putih pendek.Rajendra bersekedap dada. “Ketemu?”“Sebentar.” Nada gadisnya memang belum sepenuhnya ramah, namun Rajendra tahu–suntuknya sudah mulai tergantikan.Buku memang bukan favorit Karuna. Akan tetapi, bisa menjadi penyembuhnya saat gadis itu sedang tidak tahu ingin kemana. Karuna bukan si kutu buku yang senang membaca–Rajendra yang lebih cocok disebut begitu. Namun, Karuna-nya tetap menyukai harumnya.“Novel? Tumben sekali.” Untuk gadis yang sedang beku hatinya, tentu itu bukan genre pilihan yang berkeliaran di kepala Rajendra. Karuna mendengus, kala menyadari bahwa Rajendra sudah berdiri di sampingnya.“Terserah aku. Kamu bilang kamu bakal ikutin apa aja mauku, ‘kan? Masa pilihan buku punyaku aja masih kamu komentarin.”“Ya. B
Karuna mendengus pelan manakala akhirnya ia mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Raganya melemah, seolah seluruh tenaga yang sedari tadi ia paksa untuk tetap utuh luruh begitu saja bersama embusan napas yang keluar dari belah bibirnya. Maniknya kosong, menatap layar televisi yang baru saja Rajendra nyalakan.Pikirannya riuh.“Karuna.”“Karuna.”Satu panggilan itu berhasil membuat bahu Karuna sedikit berjengit. Jemarinya yang berada di atas pangkuan meremas ujung pakaian; ia berusaha menahan reaksi itu, menelan apapun yang tiba-tiba menggumpal di pangkal rungunya, lalu hanya membalas dengan deham pelan. Karuna menarik bantalan sofa, memeluknya erat benda mati itu. Tungkainya naik ke atas sofa–bersila. Dagunya ia letakkan di ujung bantal, sementara netranya menghindari sosok Rajendra yang berada tidak jauh darinya. “Karuna,” panggil Rajendra sekali lagi ketika sudah di sisi dahayunya–meski dengan jarak yang ketara.Karuna yang kini pun hanya berdeham membuat Rajendra menghela napas. “Saya
“Ah!”Satu pekik kecil meluncur dari ranum Karuna.Gelas keramik yang berada di atas pantry nyaris bergeser kala jemarinya refleks menarik diri. Dari arah belakang, terdengar langkah tergesa yang menyambangi rungunya. Belum sempat Karuna benar-benar memahami apa yang terjadi, pergelangan kecilnya sudah lebih dahulu diraih. Daksanya tertarik mundur setengah langkah, membuat Karuna menurut tanpa banyak daya. “Ya Tuhan, Karuna,” suara serak khas sosok yang baru bangun tidur itu menyita inderanya. Rajendra.Pria itu menariknya ke arah wastafel, membuka keran dengan gerakan cepat, kemudian menahan telunjuk Karuna di bawah air mengalir. Punggungnya hampir menyentuh dada Rajendra. Lengan pria itu mengurung dari sisi tubuhnya, satu tangan menahan jemari Karuna agar tetap berada di bawah air, sementara tangan lainnya bertumpu di tepi wastafel. Alis Rajendra sudah menekuk tajam, “Ceroboh,” ucapnya. Karuna menunduk, menatap telunjuknya yang mulai memerah. Perihnya sedikit reda karena air din
Serena menegakkan raganya di hadapan debur ombak yang merajai kedua netranya.Pantai kota Jakarta–pantai buatan manusia, dengan lautan yang tidak sepenuhnya lahir dari kebebasan alam, yang sanggup menyajikan deru sekaligus gelisah pada batin manusia. Angin malam berhembus sejuk, mampu membuat helaian rambut Serena terbang, menari tak beraturan di sisi wajah campurannya.Lengannya bertumpu di atas pagar pembatas. Jemarinya saling mengunci lemah, sementara netranya memandang jauh pada garis air yang terus bergerak. Di atas sana, bulan sudah menggantung. Benderang menumpahkan kilau pucat pada permukaan laut yang beriak pelan.“Long time no see, Serena.”Suara seorang pria menyambangi rungunya dari arah belakang.Serena tidak terlonjak. Hanya saja, tubuhnya sempat menegang, sementara jemari yang bertumpu pada pagar diam-diam meremat lebih kencang. Suara milik seseorang yang beberapa kali hadir dalam masa lalu, berdiri di sudut-sudut yang tidak pernah benar-benar Serena perhatikan.Serena b
Karuna menegakkan tungkainya di dalam kamar lama yang sudah berbulan-bulan tak lagi ia tempati sebagai tempat pulang. Netra ayunya menatap gelap kamar yang menyambut tanpa banyak suara. Hanya ada dingin yang perlahan merambat dari lantai menuju sela tulang.Padahal, Karuna yang meminta.Karuna yang memulainya.Karuna yang dengan suara kecil bertanya apakah malam ini ia boleh tidur di kamar lamanya.Namun, setelah Rajendra mengangguk, setelah pria itu tidak menahan dan tidak ada satupun kalimat larangan yang keluar dari ranum tegasnya, ada sesuatu di dalam dada Karuna yang justru merosot tanpa aba-aba. “Gue kenapa, sih…”Aneh.Sangat aneh.Karuna tidak pernah membayangkan bahwa diberi ruang bisa terasa semenyedihkan ini.Bunyi klik yang kecil itu seperti ketetapan. Yang padahal, jika Karuna cukup tidak punya malu, ia hanya perlu membuka pintu lagi, menapaki lorong, kemudian kembali ke kamar utama dan berkata ingin bermalam saja dengan sang pria. Dan sukmanya–sialan–masih penuh oleh Ra
“Terima kasih, Pak,” ucap Karuna akhirnya.Darman mengangguk dari kursi kemudi. Lewat kaca spion, pria paruh baya itu memberi senyum singkat; kecil, sopan, tetapi tidak cukup untuk menyembunyikan sisa cemas di matanya.“Hati-hati, Non.”Karuna membalas dengan anggukan kecil, lalu turun dari mobil. U
Malam itu, Rajendra membawa Karuna ke sebuah danau. Karuna sendiri tidak yakin danau itu masih berada di dalam Jakarta atau sudah sedikit keluar dari batas kota. Yang ia tahu, tempat itu terlalu asri dan memang belum pernah mereka datangi. Di setiap sisi danau, ada taman rindang dengan pepohonan bes
Karuna yang lebih dulu mengurai pelukan itu.Kepala pria itu masih menunduk, napasnya belum sepenuhnya teratur, dan bahunya–bahu yang biasanya selalu tampak mampu memikul apa pun–masih menyisakan getar halus yang membuat dada Karuna ikut terasa merana.Maka Karuna mengangkat tangannya. Jemarinya men
Mereka sampai di rumah ketika hujan turun deras. Mobil Rajendra langsung masuk ke garasi, membuat keduanya tidak perlu lagi berlari menembus hujan seperti saat keluar dari restoran tadi. Namun tetap saja, sisa dinginnya masih tertinggal. Pada ujung rambut Karuna yang sedikit lembab, pada beberapa ba







