LOGIN"aku bersumpah, kalian tidak akan pernah bahagia setelah ini " gumamnya lirih. Aksa bahkan bingun kenapa nasib nya bisa seburuk ini.
. . . "aku benar-benar bingun dan tak habis pikir, siapa yang mengajari Aurell bergaya seperti orang kaya begini? " bu Marissa bersuara dengan tatapan tajam, kaka perempuan pertama dari ibunya Aurell. perempuan dengan tubuh besar itu melipat tangan di depan dada, matanya menelusuri dekorasi mewah di gedung pernikahan. "jangan bilang sewa gedung dari hasil ngutang, orang tuanya kan masih punya cicilan motor dan uang di koperasi" timpal bu asmita kaka perempuan keduanya ibu Aurell, dengan senyum mengejek. bu alisa, kaka ipar ibu Aurell. mendekati dengan suara tenang tapi menusuk ia berkata"ya, katanya perkerjaan yang di lakukan Aurell juga belum tetap, masih karyawan kontrak, tapi sok banget pake bikin acara kaya artis segala, bikin malu nama keluarga aja" Aurell yang berdiri tak jauh dari mereka, menggunakan gaun pengantin berwarna putih yang indah. wajah riasan nya begitu sempurna, tetapi telinganya jelas mendengar apa yang di katakan mereka. matanya terpejam sejenak, mencoba menahan gelombang emosi yang menguar di dadanya. di belakan dirinya, sang ibu sibuk menangis terharu. mereka belum tahu badai seperti apa yang akan datang sebentar lagi. bu citra, kaka ketiganya dari ibu Aurell, berdecak kesal sambil menyilangkan kaki. "padahal kalau di pikir-pikir zaki itu seorang dokter loh, ganteng pula, punya massa depan. tapi kok bisa yah mau sama si Aurell? Aurell tuh beruntung banget, minimal tahu diri Dikit sih". " oohh aku tau, Jangan-jangan? uang yang di pakai untuk acara ini hasil dari morotin calon suaminya? pantes sih". "cukup bibi, kalian kalau tidak tau apa-apa lebih baik diam" pekik Aurell sembari menghampiri ibunya, memeluk sang ibu berusaha menenangkan nya. "sudah yah bu, ngak apa-apa tidak usah di ambil hati. jika Aurell sudah menikah, Aurell janji akan tetap berusaha mengangkat darjat Ibu dan bapak. agar tidak di injak-injak lagi. mereka berdecak kesal dan masih mencibir Aurell. " halah, apa kau bilang mengangkat darjat apaan, yang ada nanti makin nyungsep aja. yuklah ke depan, acaranya keliatan akan di mulai. " mereka meninggal ruangan yang menyisakan ibu Aurell_kamala, yang sedang menangis tersedu-sedu di pelukan Aurell. "maafkan Aurell yah ma, seharusnya Aurell tidak buru-buru mengambil keputusan untuk menerima pernikahan ini. tapi ibu harus percaya Aurell akan selalu membantu ekonomi keluarga setelah menikah nanti" ucap Aurell, tanpa membicarakan rencana yang sudah ia susun. "tidak apa-apa nak, justru ibu tuh ingin melihat kamu bahagia bersama suamimu. mungkin itu bisa menutup mulut mereka". " doakan yang terbaik yah bu" musik pengiring berubah seketika, tanda bahwa prisesi ijab qabul segera di mulai. semua hadirin menata tempat duduk, wajah-wajah yang antusias menunggu momen sakral itu. zaki, calon suami Aurell. melangkah dengan gagah menuju meja yang telah di sediakan untuk ijab qabul, mengenakan jas abu-abu elegan. para tamu yang hadir mulai menunduk menunggu momen ikrar itu. pak penghulu sudah duduk dan para saksi sudah siap. "Bismillahirrahmanirrahim... saya nikahkan engkau zaki.... " "HENTIKAN" suara permpuan menggema di dalam gedung itu, memecah keheningan di dalam ruangan seperti kilat di langit yang cerah. semua mata menoleh, seorang perempuan bergaun biru muda dengan riasan wajah yang berantakan berjalan cepat masuk ke dalam gedung. itu Azalea_sepupu dari Aurell. "lea? ada apa nak,apa yang kamu lakukan? " tanya bu siti dengan raut wajah panik "bukankah kamu katakan tidak bisa pulang nak" Azalea berdiri di tengah aula dengan napas memburu, matanya memerah, denga air mata yang mengalir deras. "mas tolong henti kan pernikahan ini. aku hamil mas, hamil anak kamu mas zaki" ruangan aula hening sejenak, sebelu. suara riuh meledak dari berbagai arah. "astaghfirullah" teriak ibunda Aurell. pak penghulu pun berdiri, suara seru kaget dari para tamu pun terdengar. Aurell yang mendengar itu membeku seketika, matanya membelalak, pandangan nya beralih dari Azalea dan juga zaki yang berdiri terpaku. tanpa banta kan sekata pun yang keluar dari mulutnya. "apa-apaan ini? kamu ingin merusak hari bahagia adikmu lea"bentak pak Gustian ayahnya Aurell. " Hai jangan pakai membentak dia juga keponakan mu"Sentakan keras bu Marissa kepada pak Gustian. "tapi dia sedang menghancurkan pernikahan anakku, tentu saja aku tidak Terima hal ini terjadi" kali ini suara dari bu Kamala turut serta membelah sang suami. "mas zaki.. bilang kalau ini cuma bohongan"suara yang keluar dari mulut Aurell pelan tapi penuh tekanan. " bilang kalau apa yang di ucapankannya semua tidak benar" zaki hanya diam, tidak membantah, tidak menjawab dan tidak mengatakan apapun. "sebentar mungkin ini hanya salah paham" ayah zaki meminta sang anak untuk menjelaskan sesuatu tetapi zaki hanya diam di tempat. "mas zaki" Aurell mengguncang guncang lengannya, matanya mulai membara"ayo bilang mas kalau itu bukan anakmu" masih tetap sama diam yang di berikan zaki padanya, dunia Aurell runtuh seketika. dengan sisa tenaga iya menoleh pada keluarga nya, berharap seseorang dari mereka membelanya. tapi yang di dapatkan malah sebaliknya. "sudah lah, Aurell. ikhlas kan saja" ujar bu citra dingin "Azalea jauh lebih baik dan cocok untuk zaki, dia PNS. sedangkan kamu hanya karyawan kontrak yang belum jelas massa depan nya. terlihat jauh banget kelasnya" "benar apa yang di katakan bibimu, sepertinya nak zaki memang seoadan dengan putriku. nak zaki, lebih baik batalkan saja pernikahan mu dengan Aurell. seterah nikahin lea. kamu harus bertanggung jawab" sahut bu alisa untuk membuju zaki "ini bukan soal pantas atau tidak" Aurell meraung kencang "ini soal perselingkuhan, ini tentang aku yang di khianati! seharusnya kalian menyalahkan lea,mengapa dia hamil anak calon suami ku. apa kamu merayunya, benarkan kamu menggodanya kan". " apa yang kamu katakan?mas zaki sendiri yang datang padaku. katanya kamu itu membosankan dan nggak asik. harusnya kamu tuh introspeksi diri bukan nyalahin aku"marah balik Azalea tidak mau kalah. "aku ngerti perasaan kamu pasti sakit, tapi lea juga keluarga kita" timpal bu Marissa "sekarang kamu ikhlaskan, dan relakan zaki. itu lebih baik daripada bikin malu keluarga besar kita" air mata Aurell sudah menggenang, ia berusaha menahanya dengan mengigit bibir dalamnya, menahan agar air matanya tidak jatuh di depan mereka, satu hal yang harus ia pertahankan saat ini adalah martabat nya sendiri. tanpa banyak kata, ia melepas sepatunya, berjalan cepat ke arah luar gedung. tanganya memegang ujung gaung pengantin yang menjuntai, langkahnya gontai tapi penuh keberanian.Aurell mendengus kesal, kemudian tertawa pelan namu terdengar menyakitkan. "kalau kami nggak mau melakukan semua itu, apa yang akan kalian lakukan? " semua mata kini tertuju padanya. "kenapa tidak kalian saja yang membereskan kekacauan ini?" ucap Aurell menantang mereka. "bukannya perut yang perlu di isi itu kalian semua, kan? lalu kenapa kita yang harus repot-repot mengurusnya. apa kalian pikir kami ini pelayan di sini? " "beraninya kamu....! " bu Citra melangkah maju, tapi belum sempat ia mengeluarkan amarahnya, bu Alissa segera menarik lengan adiknya. "sudah-sudah jangan di perpanjangan, nanti mereka tambah melawan kita" bisiknya pelan, kemudian ia menatap Aurell dengan wajah yang di buat sebijak mungkin. "oke oke, baiklah. kalian boleh istrahat hari ini,kami akan memberikan waktu untuk kalian beristirahat. tapi..... dengar kan baik-baik besok kalian tetap harus membantu kami untuk memasak. dan untukmu Aurell jangan dulu kembali ke kota pada hari senin besok... kam
"hah, kelamaan basa-basi dengan kalian lebih baik kita temui ibu saja" ujar bu Marissa, ia segera melangkah meninggalkan tempat itu di susul yang lainnya. "bu, bagaimana ini, mereka benar-benar ingin menemui nenek. bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan nenek. apalagi kondisinya sekarang ini sedang tidak baik-baik saja" Aurell terlihat begitu cemas. di dalam hati bu kamala sejujurnya juga khawatir. tetapi ia berusaha tetap terlihat tenang. "tak perlu khawatir. tidak akan terjadi sesuatu pada nenek, dia akan baik-baik saja"Aksa menunjukkan kunci ruangan nenek yang telah ia amankan. Bu Kamala dan Aurell menghela napas dengan lega. bu Kamala pun menyusul saudara-saudaranya tapi dengan langkah yang pelan.dia hanya ingin memastikan kalau mereka tidak bisa memasuki ruangan bu debbira. "kurang ajar, siapa yang telah mengunci ruangan tempat ibu. kembalikan kuncinya padaku sekarang juga" bu Marissa menoleh ke belakang dengan wajah marah. namun, belum sempat dari mereka ada yan
bu Marissa mundur setengah langkah, ia merasa sedikit takut dengan tatapan yang di berikan oleh Bu Kamala. ia merasa wanita di depannya ini sedikit berbeda, tapi egonya mengalahkan semuanya. ia berusaha tetap keliatan kuat di depan bu Kamala. "dengar dan ingat, aku baka aduin kamu ke ibu. kamu udah nggak mau urus rumah ini lagi" Bu Kamala maju satu langkah. "silahkan! kamu pikir aku takut dengan ancaman mu itu" katanya dengan suara berat yang penuh emosi. tanganya bergerak meraih baju bu Marissa dan menarik nya untuk mendekat. "selama ini aku diam karena aku menghormati keinginan ibu. tapi kalian semua sudah keterlaluan!. selalu pakai ibu buat bikin aku nurut dengan perintah kalian. kalian itu taunya cuma bisa teriak teriak, nggak pernah tahu rasanya kerja di rumah besar ini dari pagi sampai malam kan". Aksa menyipitkan mata nya, senyum kecil terukir di sudut bibirnya. akhirnya mertuanya yang pendiam dan penurut itu mulai menunjukkan taringnya juga. "Kamala, lepasin tang
suasana kamar yang kecil dan mungil itu terasa sunyi. terdengar suara derit pelan dari kipas angin tua di sudut langit-langit. sedangkan di luar sana, suara jangkrik bersahut-sahutan. seolah-olah tahu kalau malam ini adalah malam pertama bagi dia orang yang baru saja resmi menjadi suami istri. Aurell duduk di pinggir ranjang, menunduk. sementara Aksa sudah berbaring menyandarkan diri ke dinding, sesekali ia melirik sang istri dengan senyuman yang di tahan tahan. "tempat tidur ini sempit yah. mas" ucap Aurell pelan. tanpa menoleh ke arah Aksa "pasti mas Aksa nggak merasa nyaman tidur di sini"Aksa menoleh pelan. nada suara nya ia buat senyaman mungkin. "justru itu bagus, kalau sempit begini kan nggak ada jarak di antara kita lagi, dan kita malah bisa berpelukan loh. "Aurell spontan merenggut, wajahnya memerah karna malu. "tadi mas Aksa katakan kita ini baru pacaran. mana bisa ada orang pacaran langsung tidur bersama.? "Aksa tertawa pelan mendengar ucapan sang istri yang terlihat
Aurell menelan ludah dengan kasar. 'bagaimana bisa mas Aksa begitu cepat berubah karakter nya dalam waktu sekejap? 'gumam Aurell di dalam hati. melihat sang istri yang terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah dingin. Aksa mengulurkan tangannya, dan mengusap kepala Aurell dengan kasih sayang. mengisyaratkan bahwa semuanya baik-baik saja. "total semuanya. 4.980.000rupia kak. "jawab sang kaisar dengan ramah. " saya bayar pakai kartu ini. "Lagi-lagi Aurell di buat tertegun, namun sedikit kemudian ia langsung panik. " Astaga mas! kita kurangin aja barangnya... ini mungkin tabungan mas kan? pasti sudah di kumpulin selama bertahun-tahun kan. aku tidak ingin mas menghabiskan tabungan mas hanya untukku dan keluarga ku. " Aksa hanya tersenyum dan menyodorkan kartu debit miliknya ke kasir. "tenang saja. tabungan ku masih aman kok. ini belum seberapa di banding kan apa yang pernah aku kasih ke orang yang salah selama ini. " Aurell tak bisa membalas ucapan Aksa. ia hanya t
"astaga.kok hari ini aku bisa jadi pelupa ya, sudah seperti nenek-nenek aja yang cepat pikun, masa iya kita keluar malam nggak bawa jaket" "nggak apa-apa kok. malahan lebih enakan begini, kita bisa peluk-peluk tanpa takut akan dosa " "iiih... mas Aksa ini " . . . Aurell tidak menyangka, ternyata Aksa membelokkan motornya ke sebuah toko swalayan yang cukup besar di kabupaten yang masih buka malam itu, Aurell sempat merasa bingung. "mas, ini kita mau ke mana" tanyanya curiga "kita jalan-jalan aja kan? apa kamu mau bertemu dengan seseorang? eeh atau.... kamu kerja di sini? maaf, aku jadi mengganggu pekerjaan mu" Aksa hanya tersenyum santai, lalu dengan tenang menuntun Aurell masuk kedalam swalayan itu. "masa lagi pengantin baru mau kerja sih? temani mas yah untuk belanja. kamu kan tahu, aku nggak bawa baju ganti! tadi aku lihat, sendalmu itu juga udah hampir putus" "mas, nggak apa-apa kalau mas mau beli untuk keperluan pribadi mas, tapi untuk aku nggak usah yah
Aurell menunduk, lalu berkata dengan lirih. "maaf yah.. tadi aku nangis karena... aku tersentuh saat mendengar bacaan sholat dari mas Aksa.. begitu merdu banget,dan begitu terasa tenang. aku malu karena aku pikir aku yang selama ini berpendidikan malah belum tentu bisa sebaik itu mas" Aksa men
"Aurell, jangan perna ngomong seperti begitu yah, aku tidak ingin kamu berbicara seperti itu" Ia menatap Aurell dengan tatapan tajam, bukan karena ia marah, tapi karena ia kecewa"pernikahan bukan sebuah permainan, aku tahu pernikahan ini mendadak. bahkan nyaris absurd, tapi itu bukan sebuah alasa
Azalea pun menyipitkan matanya, tak Terima dengan ucapan Aurell. "tentu saja mas Zaki akan memilih ku!, kamu itu hanya bekas, bekas dari mainan banyak lelaki. mas Zaki pun tau semua rahasia tentang mu. kamu itu barang bergilir kan Aurell" Aurell yang mendengar ucapan itu pun akhirnya terperang
Rumah kecil itu berada di dalam rumah panjang itu, dengan ruangan yang sempit. tapi penuh dengan banyak kenangan, tumpukan pengorbanan, air mata, dan perjuangan mereka yang tidak perna di lihat oleh siapa pun. Aksa mengekor di belakang mereka, membawa sebuah tas kecil yang entah apa isinya. ia t







