ANMELDEN"brengsek! jadi selama ini aku di bohongin, memberi uang padanya bersenang-senang dengan lelaki lain? sialan memang, aku janji tidak akan membiarkan hidupmu bahagia, dasar biadap! " Aksa berbicara dengan dada bergemuruh menahan amarah yang siap meledak.
di pelantara gedung, seorang pria sedang duduk dengan pandangan penuh beban.tubuhnya tinggi, putih dan rapi. tapi hanya mengenakan kaos putih polos, celana jeans gelap, dan handuk kecil di lehernya nyaris sama dengan seorang perkerja buru pabrik. ia menatap kosong ke sebrang jalan, seperti tenggelam dalam pikiran nya. Aurell terhenti, matanya terlihat sembab, napasnya tidak teratur. dalam pikiran nya yang kacau balau, terlintas sebuah ide gila. ia berjalan ke arah pria itu dengan langkah pelan, gemetar, dan dada berdegup kencang. "mas... " pria itu menoleh, wajahnya tersentak melihat seorang wanita menggunakan gaun pengantin berdiri di depannya. "mas boleh tanya " ucap Aurell, pria itu pun mengangguk "menurut mu.. aku ini cantik nggak? " alis pria itu terangkat, matanya menatap pengantin di depannya dari ujung kaki hingga kepala. "cantik.. " jawabnya pelan dan ragu. "apakah mas udah nikah" pria itu menggeleng pelan, masih merasa bingung, kenapa wanita itu tiba-tiba menanyakan hal berbaur privasi padanya. "be_belum" "siapa namamu mas" Aurell kembali memberi kan pertanyaan dengan suara lirih. astaga apa yang terjadi dengan wanita ini? kenapa dia bisa ada di sini? ia bergumam dalam hati ".. aksa"jawaban seolah-olah sedang terhipnotis. hening, Aksa bingun kenapa dia menjawab begitu saja pertanyaan sang wanita itu dengan jujur. Aurell menarik napas dalam-dalam " apakah mas mau menikah denganku" Aksa terkejut "APA" pekikan itu lolos dari mulut nya begitu saja tanpa bisa di tahan. raut wajah Aurell berubah senduh dan sedih. ia merasa kecewa, dan putus asah bercampur menjadi satu. "mas ngak mau yah" Aurell menundukkan kepala "yah sudahlah ngak apa-apa, mungkin memang nasibku begini cuma untuk di permalukan.. " saat Aurell hendak beranjak, Aksa berdiri cepat. "tunggu aku kan belum memberi jawaban, memangnya aku bilang ngak mau? tapi bisa kamu jelasakan, bukanya kamu harusnya sedang menikah di dalam" air matanya akhirnya luruh juga tanpa bisa di tahan "calon suami ku menghamili sepupuku. sekarang mereka akan menikah. tapi aku ngak mau uang yang aku kumpulkan bertahun-tahun untuk acara ini di pakai buat mereka nikah" Aksa menatap mata Aurell dalam-dalam iya merasa kasian dengan wanita ini. sepertinya dia wanitah jujur dan tanpa kata dia mengangguk menyetujui pernikahan dadakan ini. "ayo, kita menikah, aku siap menjadi pengganti calon suami mu" ketika memasuki ruangan aula, langkah Aurell terhenti di ambang pintu, pandangannya tertuju pada Azalea dan zaki, calon pengantin palsu. mereka duduk bersebelahan di depan meja akad yang seharusnya menjadi miliknya. "mas zaki, akhirnya yah... kita akan menikah juga" lea memeluk lengan zaki, wajahnya terlihat begitu bangga "harusnya dari kemarin-kemarin kamu berani mengambil keputusan untuk menikahi ku. aku tahu di hatimu hanya mencintai ku kan. kalau kamu menikah sama Aurell, kamu pasti akan susah, harus menanggung biaya orang tuanya. nggak mungkin kamu akan bahagia". Aurell mengerang pelan, dia bukan sakit fisik saja, tetapi sakit karena amarah yang mendidih di seluruh aliran darahnya. napasnya mulai memburu, tangannya mengepal siap untuk menghantam siapa saja yang lewat di hadapannya. "ooh, jadi seperti itu? kamu merasa selama ini aku menjadi bebanmu? memangnya kapan aku menjadi bebanmu. apa kamu lupa yang ku lakukan selama ini? apa yang ku korbankan itu tidak cukup? " tanya Aurell dengan suara memekik. wajah zaki pucat seketika, ia berdiri dengan wajah gugup, lalu terlihat memelas. "maaf Aurell. aku ngak niat nyakitin kamu. memang selama ini kita bersama, tapi.... lea datang dan memberikan yang selama ini tidak ku dapat kan dari dirimu" "apa? kau yakin itu cinta? " tawa sumbang Aurell terdengar menyakitkan, matanya menyipit memandang pria yang nyaris menjadi suaminya. "memangnya cinta seperti apa yang tidak ada pada diriiku? pengorbanan atau seperti apa?, coba sebutkan apa yang tidak perna ku berikan atau jangan-jangan karena akau tidak mau tidur bersama mu" Aurell mencecah zaki tanpa ampun. "hahaha... jadi kamu cinta sama wanita yang mudah di tiduri? yang mau tidur dengan laki-laki yang bukan muhrimnya" tambahnya lagi. "apa maksud mu? kau mengataiku murahan" pekik Azalea tidak Terima di katakan seprti itu. "yah... pikir saja? sebutan apa yang bagus untuk wanita yang mudah memberikan dan membuka selangkanga nya di depan pria yang bukan muhrimnya? " Aurell membalas, tak ingin kalah dari pelakor seperti sepupu nya. "sialan! tidak perlu mengurusi hidupku, lihat saja dirimu. memangnya kamu pikir aku tidak tahu seperti apa kamu, kamu ituh lebih buruk dari apa yang kamu ucapkan pada ku" kening Aurell mengerut, ia tidak paham apa yang di katakan oleh Azalea. suasana di dalam ruangan itu tiba-tiba mendadak tegang, semua mata mulai memandang ke arah Aurell sembari bergumam. seakan-akan dia lah penyebab gagalnya pernikahan ini "percuma bicara dengan orang yang suka memfitnah seperti kalian. emangnya kamu pikir aku akan bertahan dengan pria seperti nya" Aurell berucap suaranya bergetar namun jelas. "aku berusaha kumpulin modal sendirian untuk acara pernikahan ini!, dan kamu_kamu bahkan mengatakan tak bisa bantu karena orang tuamu masih melunasi biaya pinjaman sekolah kedokteran mu. tapi apa yang kau katakan aku hanyalah beban" lanjutnya mantap, tajam, zaki yang berdiri pun mematung. "APA " sentak ibu zaki sembari berdirih, wajahnya merah padam. "apa kamu bilang, kamu menuduh kami memiliki hutang? kami ini orang kaya. dasar permpuan tidak tau diri. untung saja anakku batal menikah denganmu." ayah zaki pun turut bersuara "pak penghulu! nikah kan saja anak saya dengan lea, kami tidak sudih anak kami menikah dengan perempuan yang suka mengarang cerita. " pak gustian_ ayahnya Aurell. berdirih di belakan tubuh putrinya. memegang lembut baju sang putri. "Aurell... nak" bisiknya dengan pelan, berusaha menenangkan sang buah hati. "Aurell baik-baik saja pak, tidak apa-apa tak perlu khawatir" ucapnya pelan, berusaha menenangkan sang ayah "kalau kalian mau menikahkan mereka, jangan di sini dan kalian tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun. semua ini pakai uang hasil kerja ku. aku tidak akan rela kalian menikah di sini dan.... " namun belum sempat Aurell menyelesaikan ucapan nya. bu asila, kaka ipar ibunya Aurell. enyelah dengan suara tajam. "sudahlah, dari pada semua ini tidak terpakai. apa salahnya sih kalau sepupuku yang menikah menggantikan mu? toh nanti kamu mendapat pahala." Aurell tersenyum sinis. ia menyeringai di bibirnya "pahala bibi bilang? "gumamnyaBu kamala menangis, menunduk sembari menggenggam tangan nya sendiri di atas pangkuannya. yah Allah berikanlah kebahagiaan untuk putri ku, siapa pun pria ini, tapi aku selalu memohon, jadikanlah dia imam dan sandaran yang baik untuk putri ku. yah Allah jadi kanlah laki-laki yang saat ini telah menjadi suami putri ku menjadi laki-laki yang bisa menghapus luka yang ada dalam hatinya. doa yang selalu di berikan bu kamala kepada sang putri. "bagaimana para saksi? Sah" *sah"saksi berkata tegas "alhamdulillah.. " beberapa tamu mulai berbisik bisik kecil penuh keharuan. ada yang tak percaya, ada yang ikut terharu. ada pula yang mulai mengakui bahwa Aurell bukan wanita lemah seperti perkiraan dan penglihatan mereka selama ini. pak Gustian menatap Aksa dengan pandangan penuh pertanyaan dan juga harapan . . . suasana masih terlihat ramai di luar ruangan gedung tempat terjadinya pernikahan Aurell dan Aksa. namun dari sisi lain ruangan, keluarga besar bu kamala mulai berkemas
"ternyata Tuhan itu baik. dia kasih lihat aku siapa kalian sebenarnya, sebelum aku hancur begitu dalam. tapi Terima kasih atas tawarannya.. aku akan tetap menikah, jadi tidak ada yang mubazir". semua terdiam seketika. " kamu... emangnya mau nikah sama siapa"tanya bu alisa mencibir "emangnya ada yang mau sama kamu" salah satu saudara nya ibu Aurell bertanya dengan nada mengejek. "paling cuma orang miskin yang berani nekat... atau orang tidak waras" sambung bu asmita. mereka semua tertawa terbahak-bahak meremehkan nasib Aurell. namun,tawa mereka itu langsung terhenti saat Aurell menarik tangan seorang pria yang sejak tadi berdiri di belakangnya. ia menyaksikan drama yang mereka berikan dengan wajah santai. Aurell menarik Aksa agar berdiri di samping nya. "pak penghulu " suaranya lantang "nikah kan aku dengan pria ini. namanya Aksa" ucapnya penuh keyakinan. "tolong restui kami pak, bu" sambung nya menatap sang ayah dan ibu. "a_apa" pak Gustian terkejut mendengar penutur
"brengsek! jadi selama ini aku di bohongin, memberi uang padanya bersenang-senang dengan lelaki lain? sialan memang, aku janji tidak akan membiarkan hidupmu bahagia, dasar biadap! " Aksa berbicara dengan dada bergemuruh menahan amarah yang siap meledak. di pelantara gedung, seorang pria sedang duduk dengan pandangan penuh beban.tubuhnya tinggi, putih dan rapi. tapi hanya mengenakan kaos putih polos, celana jeans gelap, dan handuk kecil di lehernya nyaris sama dengan seorang perkerja buru pabrik. ia menatap kosong ke sebrang jalan, seperti tenggelam dalam pikiran nya. Aurell terhenti, matanya terlihat sembab, napasnya tidak teratur. dalam pikiran nya yang kacau balau, terlintas sebuah ide gila. ia berjalan ke arah pria itu dengan langkah pelan, gemetar, dan dada berdegup kencang. "mas... " pria itu menoleh, wajahnya tersentak melihat seorang wanita menggunakan gaun pengantin berdiri di depannya. "mas boleh tanya " ucap Aurell, pria itu pun mengangguk "menurut mu..
"aku bersumpah, kalian tidak akan pernah bahagia setelah ini " gumamnya lirih. Aksa bahkan bingun kenapa nasib nya bisa seburuk ini. . . . "aku benar-benar bingun dan tak habis pikir, siapa yang mengajari Aurell bergaya seperti orang kaya begini? " bu Marissa bersuara dengan tatapan tajam, kaka perempuan pertama dari ibunya Aurell. perempuan dengan tubuh besar itu melipat tangan di depan dada, matanya menelusuri dekorasi mewah di gedung pernikahan. "jangan bilang sewa gedung dari hasil ngutang, orang tuanya kan masih punya cicilan motor dan uang di koperasi" timpal bu asmita kaka perempuan keduanya ibu Aurell, dengan senyum mengejek. bu alisa, kaka ipar ibu Aurell. mendekati dengan suara tenang tapi menusuk ia berkata"ya, katanya perkerjaan yang di lakukan Aurell juga belum tetap, masih karyawan kontrak, tapi sok banget pake bikin acara kaya artis segala, bikin malu nama keluarga aja" Aurell yang berdiri tak jauh dari mereka, menggunakan gaun pengantin berwarna putih yang
"alin, kamu selalu membuat ku kecanduan di pagi ini... kamu itu selalu terasa nikmat.. aaahh" desahan suara berat seorang pria terdengar di balik pintu yang tidak tertutup rapat dengan sempurna. terdengar suara desahan pelan yang terdengar begitu dalam. Aksa yang baru saja ingin mengetuk pintu rumah, langsung terpaku di tempat. jantung nya berdegup kencang tak karuan. suara-suara itu menganggu pikiran nya,suara yang memuji sang kekasih. wanita yang ia perjuangkan, wanita yang ingin di lamarnya hari ini. "apa yang sedang mereka lakukan" gumamnya. pikiran nya berlari liar di otak nya. mencoba menepis kemungkinan buruk di dalam pikiran nya. apa mungkin mereka sedang bercanda? atau mungkin itu bukan alin? namun nama itu.. "sayang... pelan-pelan yah...! "kali ini suara alinea yang terdengar, suaranya parau. seperti menahan sesuatu, suara napas yang tersengal dalam irama yang tak pantas. tubuh Aksa pung menegang, tangannya pung gemetar. ia ingin menepis suara itu dari indra







