LOGINSamudera menatap Seraphine yang terbaring dibawahnya. Napas istrinya sudah tidak beraturan, rambut hitamnya tersebar liar membingkai wajah cantiknya yang memerah sempurna karena gairah. Mata Seraphine tampak sayu, bibirnya bengkak karena ciuman-ciuman brutal sebelumnya dan dadanya naik turun dengan cepat, menuntut kehadiran suaminya.Samudera mengusap peluh di dahi Seraphine dengan ibu jarinya. “Satu bulan, Sayang. Satu bulan gue cuma bisa ngebayangin momen ini di kamar hotel yang dingin di Eropa. Lo tahu nggak seberapa tersiksanya gue?”Seraphine tidak menjawab, ia hanya mendongak, memperlihatkan leher jenjangnya yang dipenuhi tanda kemerahan hasil perbuatan Samudera tadi. Napasnya pendek-pendek, payudaranya naik turun dengan ritme yang tidak beraturan."Siap, Sayang? Lo udah kelamaan kosong, jangan kaget kalau ini bakal kerasa sesak," bisik Samudera dengan suara serak yang sangat maskulin.Samudera memposisikan dirinya di antara paha Seraphine. Ia tidak langsung menghujam; ia memberi
Samudera merebahkan tubuh Seraphine di tengah ranjang king size mereka. Di bawah kungkungan tubuh besarnya, Seraphine tampak begitu bersinar. Kulit putih porselennya begitu kontras dengan sprei sutra berwarna navy gelap. Rambut hitamnya masih sedikit lembab berserakan di atas bantal, membingkai wajah cantiknya yang merah padam.Samudera menatap istrinya dengan tatapan intens dan penuh pemujaan. Ia mengunci kedua pergelangan tangan istrinya di atas kepala wanita itu hanya dengan satu tangan kokohnya."Jangan minta ampun malam ini ya, Sayang," bisik Samudera dengan suara yang begitu rendah dan serak, tepat di depan bibir Seraphine. “Karena gue nggak akan dengerin meskipun lo nangis minta ampun.”Samudera membelai lembut bibir merah muda milik istrinya. “Jangan minta berhenti setelah sebulan lebih gue cuma bisa bayangin ada di posisi ini.”"Gue nggak akan minta berhenti," tantang Seraphine dengan suara yang parau. “Gue nggak akan pernah minta ampun buat sesuatu yang gue nikmati, Sam,” bal
Gerbang otomatis rumah besar kediaman Samudera dan Seraphine terbuka perlahan, menyambut kepulangan SUV hitam yang dikendarai oleh Samudera pada dini hari itu. Hujan di Jakarta sudah mulai reda, hanya menyisakan hawa sejuk dan aroma tanah yang basah. Samudera mematikan mesin mobil di carport yang luas. Samudera turun terlebih dahulu, melangkah memutari kap mobil dengan langkah lebar yang dominan. Ia membuka pintu penumpang, menatap Seraphine yang masih terbungkus jaket besarnya. Tanpa sepatah kata pun, Samudera meraih tangan istrinya, namun alih-alih menuntunnya berjalan, ia justru sedikit membungkuk. "Sam?" "Naik, Sayang," perintah Samudera singkat, suaranya kini dalam dan serak, nada otoritas yang biasanya ia gunakan di depan ribuan fans kini ditujukan khusus untuk Seraphine. Seraphine tersenyum kecil, ia berdiri dan langsung melingkarkan kakinya di pinggang kokoh Samudera. Samudera menggendongnya ala koala style, kedua tangannya menopang bokong Seraphine dengan mantap, semen
Di bawah guyuran hujan yang masih turun, kedua manusia iu masih berdiri mematung. Seraphine akhirnya berhenti meronta. Ia menyandarkan kepalanya di dada Samudera, mendengar detak jantung pria itu yang berpacu sama liarnya dengan detaknya sendiri.Samudera membenamkan wajahnya di ceruk leher Seraphine, menghirup dalam-dalam aroma parfum bercampur aroma hujan yang menempel di sana—aroma istrinya yang sangat ia rindukan."Maaf. Maafin gue, Sayang," bisik Samudera sekali lagi, suaranya parau dan bergetar. "Gue beneran minta maaf."Seraphine tidak menjawab. Tangannya yang dingin perlahan terangkat, meremas lengan jaket Samudera yang melingkari pinggangnya."Sam..." suara Seraphine serak. "Lo mau dengerin penjelasan gue sekarang? Atau lo masih mau pake ego lo dan nuduh gue yang macem-macem?”Samudera melepaskan dekapannya perlahan, ia memutar tubuh istrinya, menatap wajah pucat Seraphine dengan tatapan yang kini penuh dengan penyesalan. Ia mengusap pipi Seraphine yang basah dengan ibu jarin
Bab 62Malam semakin larut, Mahesa mondar-mandir di ruang tengah dorm. Ia mengabaikan Dion yang sudah mendengkur halus di depan televisi. Setelah panggilan ditutup oleh Seraphine, perasaan tidak enak menghantam dada pemuda bertubuh jangkung itu. Sebagai salah satu member yang paling dekat dengan Samudera, ia tahu betul siapa sang leader.Di balik sosoknya yang kuat dan protektif, Samudera memiliki sisi emosional yang sangat rapuh jika menyangkut orang-orang yang ia cintai. Apalagi jika itu menyangkut Seraphine dan harga dirinya sebagai seorang pria, emosinya bisa menjadai badai yang tidak terduga.“Nggak mungkin gue diem aja,” gumam Mahesa sambil menggigit kuku ibu jari tangannya.Ia beralih ke nomor Samduera, menekan tombol hijau tanpa pikir panjang.Dialing….“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan…”Mahesa menggeram frustrasi. "Ayo, Bang Sam... angkat, Bang. Jangan bikin gila," gumam Mahesa sembari menatap layar ponselnya yang terus menampilkan status
Sore itu, Jakarta diguyur hujan tipis yang menyisakan aroma aspal basah. Langit sudah mulai gelap, Seraphine menghela napas lega saat mobil yang membawanya akhirnya memasuki gerbang perumahan elit tempat ia dan Samudera tinggal. Tubuhnya terasa remuk. Tiga hari di Bandung dengan tekanan dari Papa Handoko, perdebatan dengan vendor Singapura, dan kurang tidur karena merindukan suaminya, membuat Seraphine hanya ingin satu hal: merebahkan diri di dada Samudera. Begitu mobil berhenti di depan teras, Seraphine melihat mobil Samudera sudah terparkir rapi di garasi. Jantungnya berdebar riang. Seraphine menoleh pada Adrian yang hari ini mengantarnya. “Makasih ya, Mas,” ujarnya dengan tulus, senyum riangnya tidak bisa disembunyikan. Adrian mengangguk kecil, dia terkekeh melihat raut wajah adiknya. “Sama-sama, Ra. Keliatan udah gak sabar banget muka lo mau ketemu sama suami.” Seraphine mendengus, berusaha untuk menyembunyikan rona merah di pipinya tapi tentu saja gagal. Seraphine berdehem pe
Uap hangat sisa air panas masih mengepul tipis saat Seraphine membuka pintu kamar mandi. Ia telah menghabiskan waktu hampir empat puluh menit di dalam sana—jauh lebih lama dari ritual mandi biasanya. Karena Seraphine harus membersihkan diri dari makeup berat ataupun hair do yang sangat nempel. Sela
Pagi itu, Jakarta seolah menahan napas. Pernikahan power couple antara leader Motion13 dan CEO Seraphine Aesthetics yang sudah diumumkan sejak bulan lalu, hari ini adalah puncaknya.Pemberkatan.Ballroom Hotel The Langham pagi itu telah disulap menjadi altar suci yang memadukan kemewahan dan elegan
Samudera keluar dari kamar, setelah perdebatan di atas ranjang tadi dan akhirnya Seraphine bergantian masuk ke kamar mandi. Dia berjalan menuju ruang tengah, rambutnya masih basah dan hanya mengenakan celana pendek hitam serta baju putih. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Seraphine turun ke lanta
Seraphie masih mematung, menatap daun pintu kayu itu dengan kekesalan yang melupa. Di samping kakinya, piyama sutra berwarna navy itu tergeletak disana. “Lima menit?” gumam Seraphine, suaranya parau. “Lo bener-bener gila, Samudera.”Seraphine mencoba bergerak. Tetapi denyutan ngilu masih terasa di







