LOGINHari berlalu begitu cepat. Seminggu libur pasca tur Amerika Motion13 kini telah berada di penghujung hari. Besok pagi, tepat pukul 06.00 WIB, mobil jemputan dari agensi akan menjemput suaminya untuk langsung ke Bandara Soekarno-Hatta. Tur Asia yang merupakan rute selanjutnya dari world tour Motion13 sudah menanti di depan mata. Sore itu, koper-koper besar milik Samudera sudah kembali berjejer di walk in closet mereka. Sebagian pakaian hangat untuk musim gugur sudah disediakan oleh Seraphine. Seperti biasa, wanita itu tidak ingin melewatkan satu pun kebutuhan suaminya. Seraphine berdiri di dekat jendela besar kamar tidur mereka, menatap ke arah hakaman belakang sambil menyesap teh chamomile yang dibuatkan oleh suaminya. Ia sudah mandi dan mengenakan gaun tidur satin tipis berwarna hitam. Pintu kamar terbuka, Samudera masuk ke dalam kamar setelah membereskan sisa makan mereka di dapur tadi. Pria itu lantas mendekat tanpa suara, melingkarkan kedua lengannya dari belakang tubuh Seraphi
Ketika sesi sarapan mereka selesai, Samudera dengan cekatan membereskan piring-piring kotor di atas kitchen island. Pria itu menolak mentah-mentah saat Seraphine berniat membantunya membilas mangkuk.“Kamu langsung naik ke atas aja, Sayang. Mandi air hangat dulu biar badan kamu segeran,” titah Samudera sembari menyalakan keran wastafel. “Nanti aku bisa mandi di kamar mandi bawah setelah semua piring ini beres.”Seraphine tidak membantah. Dengan langkah santai, ia kembali ke kamar utama untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian dalamnya. Setelah memanjakan tubuhnya di bawah pancuran air hangat selama hampir dua puluh menit, ia memilih mengenakan salah satu kaos oblong milik Samudera yang berukuran jauh lebih besar dari tubuhnya—sebuah kaos hitam polos oversized merchandise Motion13 yang menutupi hingga setengah pahanya—dipadukan dengan celana pendek santai. Rambut panjangnya ia biarkan terurai bebas, masih sedikit lembap namun menguapkan aroma esensial yang menenangkan.Ketika Sera
Seraphine bangun saat matahari sudah mulai merangkak naik. Ia mengerjap beberapa kali, kemudian melirik ke samping kanannya yang sudah kosong—pertanda kalau Samudera sudah bangun lebih dulu. “Sam…?” panggil Seraphine lirih sambil mendudukkan badannya di atas kasur. Tidak ada sahutan. Bahkan dari kamar mandi sekalipun. Kamar itu sudah kosong. Seraphine melirik kompres elektrik yang semalam melilit perutnya kini sudah tertata rapi di atas nakas dalam keadaan rapi. Membuat Seraphine tersenyum tipis, menyadari itu adalah perlakuan Samudera yang memastikan dirinya nyaman tertidur sebelum dirinya pergi entah kemana. Seraphine menghela napas sebelum menyibakkan selimut dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan mengikat rambut panjangnya menjadi cepolan asal. Ia berjalan keluar kamar, menyusuri koridor lantai dua yang sepi. Sebuah kebiasaan Samudera setiap kali baru menyelesaikan world tour adalah selalu meminta seluruh asisten rumah tangga, termasuk Bi Inah dan Pak Nanang, u
Seraphine masih nyaman di dada bidang suaminya. Perlahan jemari besar Samudera mulai mengusap punggung polos Seraphine yang terekspos karena bagian atas gaun tidurnya yang terlepas. “Capek banget, hm?” bisik Samudera dengan suaranya yang serak dan dalam. Pria itu menundukkan kepala, memberikan kecupan-kecupan menenangkan pada puncak kepala istrinya. Seraphine mendengus menatap wajah suaminya. "Menurut kamu? Kamu itu... bener-bener kayak orang kesetanan, Sam. Dada aku... ngilu banget, sumpah. Kayaknya besok bakal lebam-lebam gara-gara kamu remas sama kamu gigit terus." Samudera terkekeh rendah. Ia kembali mencondongkan tubuhnya untuk memberikan kecupan-kecupan ringan di kening, hidung, dan berakhir di bibir bengkak Seraphine. "Maaf ya, Sayang. Habisnya aku gak bisa nahan diri. Salah kamu sendiri kenapa rasanya selalu secandu ini," gumam Samudera, sama sekali tidak merasa bersalah. “Tapi seenggaknya aku pinter, kan? Gak melanggar peraturan bendera merah kamu,” goda Samudera memberik
"Sam... udah, ahh... aku bisa gila kalau kamu terus-terusan kayak gini," rintih Seraphine dengan suara yang terputus-putus.Samudera terkekeh rendah, suara baritone-nya bergetar di dalam dadanya yang bidang. "Gila? Bagus kalau gitu, Sayang. Biar kita gila bareng-bareng malam ini. Aku gak mau gila sendirian di Amerika kemarin gara-gara mikirin kamu."Laki-laki itu kembali menunduk. Kali ini, ia tidak langsung mengulum, melainkan menggunakan ujung hidung dan bibir tebalnya untuk menggesek, mengendus, dan mengecup area di sekitar belahan dada Seraphine yang sintal."Nghhh... Samudera, hnghh... kamu mau ngapain lagi? Ahhh!" Seraphine melenguh keras saat Samudera tiba-tiba menggigit kecil bagian bawah payudara kanannya, tepat di atas jalur otot rusuknya."Mau hapus tatonya sampai bener-bener bersih, Sayang. Kan tadi baru huruf pertama," bisik Samudera dengan nada serak yang teramat seksi.Pria itu memutar posisi kepalanya, kembali mengarahkan fokusnya pada tulisan kursif Que Sera Sera. Lid
Pintu kamar tidur utama di lantai atas ditutup dengan dorongan tumit kaki Samudera yang bertenaga. Aroma sandalwood dari lilin aroma terapi yang dinyalakan oleh Seraphine menguar memenuhi ruangan. Samudera tidak langsung menurunkan Seraphine ke atas ranjang. Laki-laki itu berdiri diam di sisi tempat tidur, masih mendekap tubuh istrinya erat-erat dalam posisi bridal style.“Sam… turunin,” ujar Seraphine pelan, tangannya meremas erat bahu kekar Samudera.“Aku turunin tapi gak ada kata lepas buat malam ini ya, Sayang,” bisik Samudera dengan suaranya yang berat.Samudera merendahkan tubuhnya perlahan, meletakkan Seraphine ke atas ranjang berukuran king size mereka dengan gerakan yang teramat hati-hati. Begitu punggung Seraphine menyentuh kelembutan seprai sutra berwarna champagne, Samudera tidak lantas menjauhkan tubuhnya. Ia ikut naik ke atas ranjang, memposisikan tubuh besarnya merangkak di atas tubuh Seraphine."Kamu beneran mau nyiksa aku ya malam ini..." gumam Seraphine.Samudera men
Pagi itu, di kasur asramanya yang dingin. Samudera menatap kartu nama Seraphine. Setelah perdebatan panjang dengan Papanya dan interogasi dengan para member, Samudera memutuskan untuk mengambil inisiatif.Papanya memang menyuruh Samudera untuk menghubungi Seraphine, mengatur janji untuk makan malam
Samudera masuk ke apartemen mewah Motion13 yang letaknya tidak jauh dari gedung agensi. Disana, kedua belas membernya sudah menunggu dan duduk melingkar di atas karpet mahal di ruang tengah.“Wah, akhirnya leader kita balik juga,” Harsa berseru heboh, mengangkat slice pizza di tangannya. “Gimana, B
Seraphine mendengus, ia meletakkan garpu dengan denting halus yang mengisi keheningan galeri. “Kita ketemu cuma sekali karena kerjasama produk parfum gue, Samudera. Pertemuan formal itu nggak membuat kita jadi teman lama yang bisa sharing rahasia masing-masing dalam satu atap. Secara teknis, kita c
Akhir tahun merupakan momen yang ditunggu banyak seniman ataupun idol dalam negeri. Banyak acara penghargaan yang digelar tahun ini. Salah satunya adalah pagelaran di panggung megah Jakarta, memberikan penghargaan Artist of the Year kepada grup idol yang sedang naik daun, Motion13.Sebagai seorang







