LOGINwait ya guys, pasutri ini baru ketemu after sam tour, jadi bakalan banyak hot moment sam sera okay?
Selama tiga jam berikutnya di pusat perbelanjaan Sakae, Seraphine benar-benar melampiaskan seluruh gejolak emosi di kepalanya melalui aksi shopping spree yang fantastis.Ia melangkah masuk dari satu boutique mewah ke boutique mewah lainnya—mulai dari Hermès, Chanel, Cartier, hingga toko perhiasan berlian ternama di Nagoya. Setiap kali memilih barang, Seraphine tidak pernah menanyakan harga. Ia hanya menunjuk dua set gaun malam haute couture, tiga tas kulit exotic, dan satu set kalung berlian berpotongan emerald yang bernilai miliaran rupiah.Dan setiap kali membayar di kasir, Seraphine selalu menyerahkan Centurion Black Card atas nama Samudera Adikara Wicaksana.Bip!Transaction Approved: ¥ 4,500,000 (Hermès Sakae)Bip!Transaction Approved: ¥ 12,000,000 (Cartier Nagoya)Bip!Transaction Approved: ¥ 8,200,000 (Chanel Boutique)Di area backstage Vantelin Dome Nagoya, suasana di ruang ganti Motion13 sedang sibuk-sibuknya jelang persiapan rehearsal panggung terakhir untuk Konser Day 2.S
Pukul satu siang tepat, pintu Presidential Suite bernomor 4001 diketuk pelan dari luar. Seraphine yang sedang merapikan tas tangannya berjalan mendekati pintu dan membukanya. Di luar, lima sahabatnya—Anya, Valerie, Karin, Gisela, dan Bianca—sudah berdiri anggun dengan gaya busana streetwear-luxury masing-masing, siap untuk menguasai pusat perbelanjaan Nagoya. "Siang, Queen!" sapa Valerie ceria, melangkah masuk pertama kali sambil mengibaskan rambut cokelatnya. "Gimana tidur semalem? Nyenyak di atas penderitaan suami?" Karin terkekeh sinis, menyusul masuk sambil melipat tangan di dada. "Gue liat dari muka lo yang udah segeran gini, kelihatannya drama semalem berakhir dengan kemenangan mutlak di tangan Kirana Group." "Masuk dulu," sahut Seraphine tenang, memberikan ruang bagi para sahabatnya untuk melangkah ke ruang tamu yang luas. Gisela mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, lalu matanya terhenti pada kasur tambahan (extra bed) berukuran single yang masih sedikit kusut d
Pukul sembilan pagi tepat, bel pintu suite kembali berbunyi. Seraphine berdiri dari duduknya untuk membukakan pintu.Di luar, berdiri Dokter Hendra—dokter pribadi tim medis agensi yang mendampingi Motion13 selama tur Asia—bersama Yosua dan Mahesa."Pagi, Kak Sera," sapa Mahesa berbisik pelan dengan senyum canggung, memegang tas medis milik Dokter Hendra. "Kita boleh masuk?""Masuk," sahut Seraphine dingin, melangkah mundur memberikan jalan.Yosua masuk terlebih dahulu, matanya langsung tertuju pada Samudera yang sedang duduk di sofa ruang tengah, menghabiskan gelas jus apelnya. Begitu melihat piring-piring di atas meja makan yang sudah bersih dan rapi, helaan napas lega yang teramat sangat keluar dari bibir sang vice-leader."Demi Tuhan... piringnya bersih," gumam Yosua menepuk dadanya sendiri, menatap Mahesa dengan mata berbinar. "Gue gak halu kan, Hes? Leader kita beneran makan nasi sama sup?""Gak halu, Bang!" bisik Mahesa kegirangan. "Pawangnya ada di sini, ya jelas dimakanlah!"S
Pukul tujuh pagi, Seraphine sudah terbangun. Ia sudah mandi dan berganti pakaian—mengenakan sweater oversized berbahan cashmere berwarna gading dan celana kulot sutra hitam. Rambut panjangnya dijepit seadanya di belakang kepala, menampilkan leher jenjangnya yang mulus. Seraphine berdiri di dekat jendela besar, di samping extra bed tempat Samudera masih terlelap. Ia memegang cangkir berisi espresso yang masih hangat, menyesapnya perlahan sambil menatap ke luar jendela, ke arah jalanan kota Nagoya yang mulai disibukkan oleh lalu lintas pagi hari. Di belakangnya, suara pergerakan selimut dari atas extra bed memecah kesunyian. Samudera terbangun. Pria itu mengucek matanya yang masih agak bengkak, lalu mengedarkan pandangan di dalam kamar yang temaram. Begitu matanya menemukan punggung semampai Seraphine yang berdiri membelakanginya di dekat jendela, senyum lega langsung terukir di wajah tirusnya. Pria itu menyingkap selimut putih tebal, berdiri dari tempat tidur tambahan yang sempit it
Samudera membeku. "Maksud kamu... apa, Sayang?"Seraphine berjalan menuju area sudut kamar tidur utama. Di sana, di samping tempat tidur king size mewah berseprai putih, sudah berdiri sebuah extra bed (kasur tambahan) berukuran single yang telah dirapi-rapikan oleh staf hotel lengkap dengan selimut dan bantal tebal.Seraphine menunjuk kasur single itu dengan dagunya."Itu tempat tidur kamu malam ini," tegas Seraphine tanpa keraguan.Samudera membelalakkan matanya, merasa seolah baru saja disiram air es di tengah musim dingin. "S-Sayang?! Kamu bercanda kan?! Itu kasur tambahan!""Aku gak pernah bercanda soal batas kepemilikan aku," sahut Seraphine dingin. "Kamu udah jujur, aku udah dengar penjelasan kamu, dan aku udah kasih kamu makan. Tapi bukan berarti aku udah maafin kamu seratus persen. Dosa kamu belum bersih, Samudera."Samudera membelalakkan matanya, rasa terkejut dan ketakutan seketika menyambar dadanya. "S-Sayang?... Di extra bed? Kenapa gak di kasur utama sama kamu?""Karena a
Seraphine melipat kedua tangannya kembali, menatap suaminya dengan kilat amarah yang kini terarah pada hal lain."Dan soal nyiksa diri kamu selama lima hari ini? Kamu gila atau gimana, Samudera Adikara?" tegur Seraphine tajam, suaranya naik satu oktav. "Gak mau makan, cuma minum suplemen dari aku, buang makanan dari chef, pingsan di panggung Osaka, dan bikin seluruh member Motion13 kayak mau mati serangan jantung... Kamu pikir itu cara yang jantan buat minta maaf?!"Seraphine melangkah mendekati Samudera, memukul dada tegap suaminya dengan kepalan tangannya sendiri.Buk! Buk!"Kamu bodoh, Samudera Adikara!" omel Seraphine, suaranya gemetar hebat. "Kamu pikir aku marah cuma gara-gara masa lalu kamu?! Iya, aku jijik! Aku benci setengah mati ngebayangin kamu pernah sama cewek lain! Tapi yang bikin aku tambah gila itu tingkah kamu lima hari belakangan ini!"Samudera membiarkan Seraphine memukul dadanya. Ia tidak sedikit pun mencoba menghindar atau menangkis pukulan-pukulan itu."Kamu gak
Paris, pukul 22.15 malam. Udara di luar Accor Arena menusuk hingga ke tulang, mencapai titik di bawah 5°C. Di dalam gedung, energi ribuan orang baru saja meledak dan menyisakan keheningan yang mendengung di telinga para member Motion13. Samudera baru saja menyelesaikan lagu penutup, encore yang pe
Malam itu, London tidak lagi terasa dingin bagi Samudera. O2 Arena bergetar. Ribuan lightstick berwarna biru safir—warna resmi Motion13—menciptakan samudra cahaya yang bergerak seirama dengan dentuman bass yang menghentak lantai stadion. Samudera berdiri di tengah panggung utama, peluh membasahi hel
Pagi di Singapura disambut dengan aroma kopi premium dan udara tropis yang segar dari balkon suite hotel tempat mereka menginap. Seraphine sudah bangun sejak pukul tujuh pagi, kebiasaan sebagai CEO tidak membiarkannya tidur terlalu lama meskipun ia sedang berada di masa "liburan paksa". Ia baru saj
Begitu bus berhenti di depan sebuah hotel mewah di kawasan Mayfair, Samudera tidak lantas bisa bersantai. Sebagai leader, tanggung jawabnya berlipat ganda. Saat member lain mulai berebut mengambil koper dan kunci kamar, Samudera langsung ditarik oleh Manajer Lee dan tim produksi lokal."Sam, ada pe







