LOGINSabar ya pemirsa xixixi harap tenang
Berada di dalam selimut putih yang tebal itu, netra Niken terusik karena cahaya matahari yang masuk dari tirai gorden yang Dante buka. Kelopak matanya masih terasa berat untuk terbuka, hingga ia memilih untuk berbalik membelakangi jendela. Dante yang merasakan ada pergerakan dari atas kasur, reflek berbalik. Niatnya yang ingin ke kamar mandi, ia tunda. Pria itu lebih memilih untuk menyapa istrinya terlebih dahulu. “Selamat pagi, Sayang,” sapa Dante ikut masuk ke dalam selimut lantas menarik istrinya lebih dekat. Niken mengulas senyum sembari berbalik– menghadap suaminya dan membalas sapaan Dante barusan. “Apa sih, Mas? Lihatnya kok kaya gitu?” tanya Niken dengan nada menyelidik. Pasalnya tatapan Ayahnya Evan membuat bulu kuduknya merinding. Dante menyeringai, menambah rasa takut Niken. “Cukup ya, Mas,” kata Niken penuh penekanan. Raut wajahnya serius dengan tangan yang menyilang di depan dada. Bagaimana tidak, Niken baru benar-benar tertidur nyenyak menjelang pukul tiga pagi. Seka
Menempelkan kartu itu di dekat gagang pintu, perlahan Dante memutar dan mendorong pintu itu hingga terbuka. Niken dibuat takjub saat melihat isi kamar tempat mereka akan menginap. Kamar yang luas dengan tempat peraduan berukuran sangat besar. Tanpa sadar kaki Niken melangkah maju lebih dulu– masuk ke dalam memperhatikan setiap furniture yang ada di dalam. Langkahnya semakin dalam hingga ia sampai di depan gorden besar berwarna gold. “Keren banget sih,” gumam Niken saat menyingkap gorden di depannya dan melihat langsung pemandangan ibukota dari ketinggian. Dari arah belakang, Dante perlahan berjalan mendekat dan melingkari pinggang istrinya. “M–mas,” ucap Niken terbata-bata. Dante hanya berdehem sambil meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya. Rasa bahagia menyelimuti hati pria itu saat ini. Kebahagiaan yang sempat hilang karena pengkhianatan Agatha. Meski begitu ia masih beruntung bisa dengan cepat menemukan kebahagiaan lain bersama Niken. "Makasih ya, Sayang," gumam Dante me
Mobil yang Dante kemudikan memasuki halaman parkir salah satu hotel berbintang yang ada di ibukota. Dari tempatnya duduk, Netra Niken melirik ke kiri kanan– memperhatikan sekitar. Banyak mobil mewah yang terparkir rapi di sana. Ia jadi takut sendiri dengan omongan Dante tadi. “Kalau gak pulang, lalu mau ngapain disini,” pikirannya berkecamuk. Setelah memarkirkan mobilnya, Dante mengajak Niken keluar dari parkiran. Mereka berjalan kaki ke salah satu mall yang berada sangat dekat dengan hotel tempat mereka parkir tadi. “Kenapa gak parkir di mallnya langsung sih, Mas?” tanya Niken menggandeng lengan Dante karena jalanan saat itu cukup padat. Pria itu hanya tertawa kecil– tak menjawab. Setibanya di mall, mereka berjalan menyusuri sederetan gerai dengan brand ternama. Naik ke lantai dua, langkah Dante berbelok ke salah satu gerai pakaian. Otomatis Niken mengikuti kemana suaminya melangkah. “Pilih …” kata Dante dengan dagu yang menunjukkan ke arah pakaian yang terdisplay. “Baj
“Mbak, saya tinggal ke pasar dulu ya,” pamit Mbok Narti yang sudah siap dengan catatan belanja di tangannya. “Iya, Mbok,” sahut Niken yang baru saja sampai di dapur, hendak mencuci peralatan makan milik Evan. Ia meninggalkan Evan bersama Riana di ruang tengah. Pagi ini cuaca cukup dingin karena hujan sudah turun sejak subuh. Meski begitu Evan tetap bangun pagi dan sarapan di jamnya. Selesai mencuci piring, ia meraih tisu untuk mengeringkan tangannya saat Dante membuatnya terkejut. Suaminya itu memeluk— bergelayut manja padanya. “Kamu kenapa sudah bangun sih? Padahal di luar hujan,” ucap Dante masih memeluk istrinya. “Evan sudah bangun, Mas. Dia jam segini pasti lapar … mau makan. Kasian nanti dia,” sahut Niken berjalan pelan dengan Dante yang menempel di belakangnya. “Kamu gak kasian sama saya? Saya juga lapar … mau makan … Kamu,” bisik Dante membuat Niken geli seraya mendaratkan ciuman di leher istrinya. Niken bergidik berusaha menghindari ciuman dari suaminya. Ia benar-benar ge
Mobil hitam yang Azka kemudikan berjalan melambat saat memasuki halaman klinik. Siang ini Riana mengajak kakak ipar dan keponakannya itu jalan– sekedar makan siang di luar. “Saya jalan dulu ya, Bu Bos,” kata Azka pamit sembari membuka kaca jendela mobil. “Iya, Mas,” sahut Niken berjalan masuk ke dalam klinik. Perawat yang sedang berjaga di meja admin, menyapa dan mempersilahkan Niken untuk menunggu di ruang tamu. Ia memberitahu kalau Riana sedang ada satu pasien yang sedang cek kandungan. [Dante Calling] Benda pipih dalam tasnya berbunyi, membuat Niken reflek merogoh– mencari sumber suara. “Iya, Mas,” sahut Niken menempelkan ponsel di telinga kirinya. “Kamu dimana?” “Di kliniknya, Mbak Riana. Tadi perasaan saya sudah kirim pesan dan Mas juga sudah baca pesan itu,” kata Niken dengan netra yang fokus memperhatikan Evan bermain di playground kecil di sudut ruangan. “Maksud saya kamu sudah dimana? Sudah sampai atau belum?” Pria di seberang telepon itu tak kehabisan kata untuk ber
“Aduh,” gumam Niken dalam hati terbangun duluan– masih berada di hangat pelukan Dante. Netranya reflek tertutup saat suaminya sedikit bergerak bersamaan dengan suara ocehan Evan yang berada dalam box. Begitu hati-hati Dante menarik tangannya kemudian menyelimuti Niken. Pria itu beralih mengecek anaknya di dalam box. “Selamat pagi anak Papa,” sapa Dante menggendong Evan lantas menciuminya. “Mima … Mima….” Evan bergumam menatap Niken yang masih terlelap di atas tempat tidur. Dante kemudian meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sembari memanyunkannya sedikit hingga menimbulkan bunyi. “Biarin Mima tidur dulu ya,” ucap Dante pada Evan. Meraih ponselnya di atas meja, Dante lantas menghubungi admin rumah sakit yang mengatur jadwal kunjungan pasien. Ia ingin memastikan keadaan pasien kemarin. “Pasien kemarin stabil, Dok. Sejauh ini tidak ada keluhan,” sahut orang di seberang sana. “Oke. Saya agak siang ke rumah sakit. Tapi kalau adanya yang urgent, saya stand by,” terang Dante berus
Niken menjerit dan reflek menutup pintu kamar mandi.“Auw!” jerit Dante keras karena tangannya terjepit di pintu. Mendengar suara itu, Niken buru-buru sedikit membuka pintu agar tangan Dante bisa lepas.“Astaga,” kata Niken bersandar di balik pintu. Cepat ia membersihkan badannya dan berganti pakai
Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”
Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma
“Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal







