Share

40. Diawasi

Author: Lystania
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-07 13:50:38
“Sudah jam delapan,” gumam Niken terbangun sendiri. Netranya menatap lurus ke arah jam dinding yang berada tepat di depannya. Tak ada yang membangunnya, padahal sudah siang. Perlahan ia menyibak selimut yang menutupinya– duduk sebentar di tepi kasur, kemudian bangkit berdiri. Ia mencoba untuk memutar pinggangnya ke kanan dan ke kiri. Sudah mulai terasa enak. Ia coba berjalan, hasilnya juga sama– sudah lumayan enak.

Senyum mengambang di bibirnya. Teringat kejadian kemarin saat Dante mengoleskan
Lystania

Mau jalan tuh, ada yang mau ikut gak 😄😄😄

| 5
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
Nindry Ayangcrut
ke KUA kah pak dante hahahha
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
yuhuuu yang udah mulai mencair sedikit es batunya pak dokter... buruan pak, sebelum ditikung teman 8) makasih updatenya kakak syng <3 boleh la tambah 1 chapter lagi. hihihi
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    71. Setuju Yang Terpaksa

    Matanya tak berkedip menatap Dante. Ia mencoba mengingat apa yang barusan pria itu katakan. Takut salah mendengar. “Bapak gak salah ngomong? Di kontrak saya kan cuma jadi ibu susu buat Evan dua tahun. Kenapa tiba-tiba saya harus nikah sama Bapak?” Niken mencoba protes. “Bukannya kamu tahu … kamu dilarang membantah,” tegas Dante duduk semakin dekat dengan Niken. Tatapan matanya yang tadinya tajam perlahan berubah menjadi sendu. Pria itu hendak meraih tangan Niken tapi cepat ia jauhkan. “Saya hanya ingin menjaga Evan agar tetap aman disini, tanpa ada yang bisa ganggu dia. Karena saya tahu, gak ada orang lain yang tulus sayang sama Evan selain kamu,” kata Dante yang membuat Niken merasa ada yang aneh dalam perutnya– seperti ada yang terbang di dalamnya. Ia menatap Dante– bingung harus menjawab apa. Hal seperti ini sama sekali tidak pernah dibayangkan olehnya. Beberapa detik kemudian, Niken menggeleng. “Jadi kamu gak mau nikah sama saya? Kamu menolak saya?” Niken menelan salivanya,

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    70. Ajakan Apa Ini

    Duduk di sofa panjang ruang tengah, kejadian yang Agatha lihat kemarin saat di restoran kembali terulang di dalam pikirannya. Adegan demi adegan yang Dante lakukan pada Niken, entah kenapa membuatnya panas– tak terima. Anita yang baru pulang dan melihat ekspresi tegang anaknya, segera mendekat. “Kenapa kamu?” tanya Anita meletakkan tas kulitnya di atas meja. “Gak terima aja,” kata Agatha marah. Kening Anita berkerut mendengar jawaban itu. Belum sempat bertanya lebih jauh, Agatha langsung menceritakan apa yang ia lihat kemarin di restoran. Begitu menggebu-gebu hingga Anita bisa tahu kalau anaknya menyimpan rasa kesal. Namun ia tahu semua ini terjadi juga karena kesalahan Agatha. “Terus kamu mau apa? Kamu sama Dante sudah resmi cerai. Hak asuh juga sama Dante, terus kamu mau apa?” Agatha mendengus kesal. Berkali-kali ia mengatakan tidak terima dengan perlakuan Dante ke perempuan lain. “Tapi dia itu siapa sih, Ma? Kok pengasuh anak kayak gitu pakaiannya. Duduk berdua di depan. Pakai

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    69. Sikap Yang berbeda

    Masih berada di atas tempat tidur, Niken menoleh ke arah jaket yang tersampir di sofa. Teringat saat kejadian di mobil kemarin. Bisa-bisanya tidak ada tisu, hingga ia harus menggunakan jaket Dante untuk menutup bajunya yang basah. Reflek tangannya meraba bagian yang kemarin sempat Dante pijat– dengan lancang. “Apa maunya sih?” gumam Niken pusing. Semakin hari sikap Dante semakin tak jelas dan membuatnya pusing. Mengira hanya akan merawat dan mengurusi Evan, nyatanya ia juga harus meladeni sikap ayah anak yang sedang ia rawat. Ia sengaja membiarkan Evan tidur lebih lama pagi ini, agar bisa tetap berada di dalam kamar. Mengira Dante sudah pergi, dengan langkah santai Riana keluar dari dalam kamar. Siap pergi ke klinik. “Duduk,” kata Dante membuat Riana kaget. Ia menoleh ke arah sumber suara. Rupanya Dante telah duduk di sofa atas sejak tadi. Riana tak bisa berkutik. Sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, ia duduk di ujung sofa. Tanpa basa basi Dante langsung bertanya apa hub

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    68. Acara Akbar

    Mobil yang Dante kendarai mulai melambat saat masuk di salah satu komplek perumahan. Terlihat beberapa mobil berbaris rapi di pinggir jalan. Malam ini Akbar mengadakan acara syukuran menempati rumah barunya. Karena mereka datang sedikit terlambat, alhasil mereka parkir cukup jauh dari rumah Akbar. Turun dari kendaraan beroda empat itu, Dante menekan tombol– mengunci mobilnya. “Saya gak apa-apa ikut ke acara Pak Dante?” tanya Niken takut-takut. Melihat banyaknya mobil yang berjejer, sudah pasti tamu yang datang bukan orang sembarangan. Dokter dan sejenisnya. Ia merasa rendah diri dan takut membuat Dante malu. Dante tak menjawab malah menarik tangan wanita itu agar berjalan lebih cepat. Sebelum masuk ke dalam rumah, ia meminta Niken untuk tidak memanggilnya dengan sebutan bapak saat berada di sana nanti. Niken hanya diam, tidak mengiyakan dan juga tidak menolak. Dalam hatinya berkata sebisa mungkin ia tidak akan bicara apapun dan akan selalu berada dekat dengan Dante. “Ayo masuk,” s

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    67. Dibawa Pergi

    Menuruni tangga lalu ke ruang makan, Riana segera duduk di samping Dante yang telah lebih dulu berada disana.“Mas … kemarin aku lihat Mbak Agatha,” kata Riana menggebu-gebu. Dante menoleh malas. “Oh. Di mana?”Dengan semangat ia menceritakan dimana dan kapan ia melihat Agatha, hingga tak sadar menyebutkan nama seseorang yang membuat Dante mengerutkan kening.Riana cepat menutup mulutnya.“Bima? Siapa?” ulang Dante membuat Riana semakin erat menutup mulutnya. Ia merutuki dirinya kenapa bisa sampai menyebutkan nama Bima saat bicara dengan Dante. Walau sebenarnya tidak masalah, tapi malas saja kalau nanti Dante malah bertanya yang macam-macam.Dante masih menatapnya, menunggu penjelasan.“Dokter Bima … yang di rumah sakit Mas Dante. Kemarin gak sengaja ketemu,” terang Riana hati-hati.“Iya, Mas. Gak sengaja ketemu,” ujar Riana meyakinkan lantas mengalihkan pembicaraan agar Dante berhenti bertanya soal Bima.Percakapan mereka terhenti saat Niken dan Evan tiba di ruang makan.“Evan gak m

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    66. Mobil Putih

    “Sudah semua?” tanya Dante sebelum perawat keluar dari ruangan prakteknya.Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam saat itu.“Sudah, Dok,” sahut perawat itu.Menguap lebar sambil memijat leher belakangnya, pria itu mematikan laptop lalu merapikan mejanya.Keluar dari dalam ruangan, ia berpapasan dengan Wira. Sebenarnya Dante tidak ingin terlibat percakapan dengannya, tapi Wira menyapa duluan dan mengiringi langkahnya.“Baru selesai?”Dante tersenyum tipis.“Oh iya. Aku beberapa kali ketemu sama Riana, dia jalan sama Evan dan siapa … pengasuh Evan ya, Niken,” kata Wira membuat telinga Dante tiba-tiba meninggi.“Memangnya kenapa?” Dante menghentikan langkahnya menatap Wira– rahangnya mengeras.“Aku mau kenalan sama dia … sama Niken,” kata Wira membuat wajah Dante tegang.“Dia sudah ada yang punya. Dan dia gak ada waktu buat kenalan sama orang lain, karena fokus sama hal yang lebih penting,” ucap Dante kemudian pergi meninggalkan Wira. Entah apa yang dikatakannya barusan, ia se

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    7. Ditinggal Pergi

    Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    6. Ponsel Baru

    Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    5. CCTV Baru

    Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    4. Melihat Isi Baju

    “Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status