Share

82. Ruangan Rahasia

Penulis: Lystania
last update Tanggal publikasi: 2026-09-08 11:26:17
Terbangun begitu saja, Niken reflek menatap ke arah jam dinding yang telah menunjukan pukul tujuh pagi. Ia menoleh ke samping dan tidak menemukan Dante maupun Evan.

“Astaga. Kok bisa kesiangan begini sih,” gumam Niken saat menyadari kalau ia sendirian di dalam kamar.

Baru saja akan keluar dari kamar, langkahnya terhenti di depan pintu saat suara Dante terdengar jelas. Pria itu berada di ruang tengah bersama Riana dan Evan, memintanya untuk mandi dan berganti pakaian.

Niken kembali menutup pin
Lystania

kira kira itu suara siapa yaa

| 8
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
ayo pak su,,,yakin gak mau coba malam pertama Ama istri baru? wkwkwkwk
goodnovel comment avatar
carsun18106
suara suami doong xixixi
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    93. Wira Tahu

    Tangannya bergerak– meraba kedua sisinya. Tak ada siapa-siapa. Niken terbangun hanya sendirian di atas kasur. Netranya yang masih berat, ia paksa untuk terbuka.“Kemana?”Ia menyusuri setiap sudut kamar, tapi tidak menemukan Dante. Turun dari tempat tidur, Niken berjalan ke arah jendela kaca dan membuka sedikit gordennya. Terlihat pohon dan dedaunan diluar basah, sepertinya tadi malam hujan. Ia menghela nafas berkali-kali. Kegusuran tadi malam masih saja menghantuinya. Ada sedikit rasa bersalah tapi–“M-mas.” Wanita itu tercekat saat Dante tahu-tahu sudah memeluknya dari belakang. Dengan perasaan takut ia menoleh– mendongak menatap suaminya.Pria itu tersenyum. Untuk beberapa detik mereka saling menatap, hingga Niken lebih dulu mengalihkan pandangannya.“Saya siapin pakaian buat Mas Dante ya,” kata Niken mendorong pelan dada suaminya yang masih basah.Dari depan pintu terdengar Riana. “Aku tutup lagi, tenang aja!” seru Riana menutup pintu tak ingin mengganggu. Niatnya ingin mengantar

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    92. Berdua Saja

    Memastikan dirinya sudah terlihat rapi di depan kaca, Niken memutar kunci pintu lantas keluar. Baru satu langkah keluar dari kamar mandi, detak jantung berpacu cepat saat netranya menangkap bayangan seorang pria yang tidak mengenakan baju. Keningnya berkerut menatap pria itu dari belakang. “Mas, kenapa gak pakai baju?” tanya Niken polos saat Dante berbalik. Ia baru saja mencolok kabel untuk mengisi daya ponselnya. Niken jadi bingung sendiri harus ngapain. Baru kali ini mereka hanya berdua di kamar, tanpa kehadiran Evan. “Panas,” sahut Dante naik ke salah satu sisi kasur. “Tapi kan ac nya nyala, Mas. Saya juga sudah siapin baju,” kata Niken mengambil baju yang masih teronggok di atas kasur kemudian menyimpannya di dalam lemari. Berjalan ke sisi tempat tidur yang lain, Niken ragu untuk naik. “Saya ambil Evan aja ya, Mas. Kasihan Evan kalau nanti kebangun karena haus,” ucap Niken coba-coba berharap Dante luluh. “Riana juga pasti sudah siapin susu buat Evan. Kan asi perah kamu masih

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    91. Kulineran

    Memarkir mobilnya agak jauh karena kawasan yang padat, mereka lalu berjalan menyusuri jalan sambil melihat-lihat makanan yang menarik perhatian. “Tapi ini kebanyakan goreng-gorengan, Mas. Emangnya gapapa?” tanya Niken memastikan. Secara Dante adalah seorang dokter yang pasti menjaga kesehatannya. "Gorengan kan juga makanan ... enak lagi. Walau gak sehat kalau dimakan setiap hari," sahut Dante, "ambil aja yang itu, saya juga mau," lanjut Dante menunjuk penjual gorengan yang berada di sebelah kiri Niken. Tak tinggal diam, Niken mendekat lantas menunjuk beberapa gorengan dengan isian daging serta mayones. Tak lupa ia meminta cabe rawit dalam jumlah yang banyak. Dante cepat mendekat ketika pesanan Niken sudah siap dibungkus. "Makasih, Pak," kata Dante menerima kembalian. Jalanan yang cukup padat dengan pejalan kaki, membuat Niken beberapa kali hampir terjatuh karena terdorong orang di belakang. Sigap, Dante menggenggam jemari tangan istrinya lantas membawanya melipir ke salah sat

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    90. Bertemu Mantan

    “Turun … makan,” ucap Dante lebih dulu keluar dari dalam mobil. Cepat Niken juga keluar menyusul suaminya itu, sebelum ia dikunci di dalam. Suasana tempat makan makan mereka datangi siang ini cukup ramai, sebenarnya membuat Niken kurang nyaman tapi ia tidak berani untuk protes. Duduk berhadapan dengan Dante, saat pelayan datang menanyakan pesanan, ia memilih untuk menyamakan saja pesanannya. Meski pelayan terlihat sibuk mondar mandir, mereka tidak perlu menunggu lama hingga pesanan mereka tersaji di meja. Tak ada perbincangan yang berarti sepanjang mereka makan. Niken sendiri tampak menikmati makanannya. Tidak salah Dante membawanya ke sini, karena makanannya memang enak. Ia baru sana merapikan sendok dan garpu di piringnya, saat seorang pelayan berjalan di depannya membawa minuman dingin yang tampak menggugah selera. Minuman hijau dengan kuah berwarna putih serta tambahan gula aren. "Kamu mau?" tanya Dante menoleh- melihat Niken yang netranya tak lepas menatap ke arah pelayan tadi

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    89. Sudah Satu Tahun

    Merasa susah mengambil nafas– sesak, Niken reflek batuk-batuk hingga terbangun. Perlahan membuka mata, wanita itu menundukkan kepala menatap ke arah lehernya. Sebuah lengan begitu kokoh melingkari lehernya. Tidak perlu diragukan lagi kalau itu ada Dante. Pria itu berada sangat dekat dengannya. Pertama Niken berhasil memindah lengan pria itu, tapi baru beberapa detik tangan pria itu kembali melingkari lehernya. “Aduh … Mas,” lirih Niken pelan kembali menjauhkan tangan pria itu. Ia menggeser sedikit posisi Evan agak ke pinggir, agar ia bisa menjauh dari dokter itu. Mengira sudah bebas, nyatanya pria itu malah menarik tubuh berisi istrinya itu. “Mas … kamu tidur atau engga sih?” Niken menatap wajah tegas Dante yang berada tepat di depannya. Matanya enggan berkedip memindai setiap inci wajah Dante yang terpahat begitu indah. Rambut halus yang tumbuh di sekitar pipinya, alis hitam yang begitu rapi. “Kamu maunya apa? Mau saya tidur atau engga?” Dante malah bertanya balik. Netra pria i

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    88. Jangan Dibahas

    “Pak Dante.” Ucapan Niken langsung membuat ekspresi wajah pria itu berubah dingin. Sudah nyaman dipanggil dengan sebutan mas, rasanya aneh di telinga Dante saat Niken mengucapkan kata pak. Itu sengaja ia lakukan agar Dante bisa sedikit sadar. “Habisin ini dulu,” ucap Dante sembari menyendok dessert coklat itu lagi. Bergantian– menyuap Niken dan dirinya sendiri. Jujur dessert ini memang enak, tapi kalau kebanyakan jadinya bikin perut kurang nyaman. “Saya sudah, Pak,” ucap Niken sembari mengelus perutnya yang mulai tidak nyaman. Refleks Dante ikut mengelus perut Niken. “Apa sih, Mas?” Niken memukul pelan punggung tangan Dante sembari melotot. Tanpa mereka sadari, pintu ruangan terbuka dengan Riana, Evan, dan Bima berdiri di depannya. Untuk beberapa saat mereka diam memperhatikan Niken dan Dante, berharap mereka sadar tapi nyatanya tidak. “Pantas ya, Mas,” celetuk Riana masuk membuat Niken dan Dante terperanjat. Sedikit mendorong Dante, Niken berdiri– sedikit jauh dari kursi Dante.

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    7. Ditinggal Pergi

    Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    3. Harus Bersih

    Niken menjerit dan reflek menutup pintu kamar mandi.“Auw!” jerit Dante keras karena tangannya terjepit di pintu. Mendengar suara itu, Niken buru-buru sedikit membuka pintu agar tangan Dante bisa lepas.“Astaga,” kata Niken bersandar di balik pintu. Cepat ia membersihkan badannya dan berganti pakai

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    2. Sudah Tak Haus Lagi

    Ditanya serius oleh Riana, Niken tak langsung menjawab. Tawaran yang datang padanya begitu aneh dan tiba-tiba.“Jadi kamu mau atau enggak?” tanya Riana lagi membuat Niken tersentak.Niken masih diam.“Kamu bisa ikut aku sebentar?”Niken tak bersuara tapi ia mengikuti kemana Riana melangkah. Setiban

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    1. Periksa

    “Permisi, Bu,” suara seorang wanita muda terdengar saat pintu terbuka. Ia berjalan masuk menuju tempat duduk yang telah disediakan.Tepat di depannya tersenyum seorang wanita berseragam biru langit.“Selamat siang. Saya Bidan Riana,” ucap Riana memperkenalkan diri lantas membaca sekilas catatan yan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status