Share

83. Rekening Gendut

Author: Lystania
last update publish date: 2026-09-09 13:34:02
“Kamu ngapain?” ulang Dante berjalan masuk dan menutup pintu kamuflase itu.

Niken menegang sembari mengangkat tubuhnya– berdiri lantas berjalan menjauh dari ranjang. Langkahnya gemetar, menatap pintu yang tertutup itu.

Cepat Dante meraih tangan Niken, menahan laju langkah istrinya itu.

“Itu … anu … itu, Pak,” ucap Niken terbata-bata, “tadi saya mau lihat-lihat aja. Eh tahu-tahu malah masuk ke sini,” lanjut Niken takut-takut.

“Penasaran?” Dante menarik Niken sedikit lebih dekat dengannya.

Te
Lystania

ayo siapin nomor rekening, mau di transfer sama dokter Dante nih xixixi

| 6
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    84. Pelukan Tanpa Sadar

    Pagi ini Agatha bangun lebih pagi. Ia sudah rapi saat keluar dari kamar, lengkap dengan tas yang disampirkan di bahunya. Anita yang baru saja selesai sarapan, heran melihat anaknya sudah rapi sepagi ini. Tidak seperti biasanya.“Kamu mau ikut Mama ke kantor? Pagi-pagi begini sudah rapi,” celetuk Anita merapikan beberapa map yang ada di meja.“Enggak lah. Ngapain aku ke kantor? Aku mau lihat Dante, Ma,” ucap Agatha membuat Anita berpaling menatap anaknya.Wanita paruh baya itu heran. Sudah berkali-kali ia mengingatkan Agatha agar menjauh dari Dante, tapi anaknya itu tetap saja melanggar.“Apa sih yang kamu cari, Agatha? Kamu itu sudah bercerai dari dia! Tolong jangan bikin situasi kita makin sulit!”Agatha terdiam sejenak kemudian mengatakan kalau ia ingin menemui anaknya. Terang saja Anita menggeleng cepat. Ia yakin itu bukan alasan utama Agatha.“Kamu sendiri yang bilang kalau kamu gak mau repot soal anak. Lalu kenapa sekarang mau ketemu sama dia? Kamu jangan cari alasan ya,” ucap An

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    83. Rekening Gendut

    “Kamu ngapain?” ulang Dante berjalan masuk dan menutup pintu kamuflase itu. Niken menegang sembari mengangkat tubuhnya– berdiri lantas berjalan menjauh dari ranjang. Langkahnya gemetar, menatap pintu yang tertutup itu. Cepat Dante meraih tangan Niken, menahan laju langkah istrinya itu. “Itu … anu … itu, Pak,” ucap Niken terbata-bata, “tadi saya mau lihat-lihat aja. Eh tahu-tahu malah masuk ke sini,” lanjut Niken takut-takut. “Penasaran?” Dante menarik Niken sedikit lebih dekat dengannya. Tentunya hal itu membuat Niken jadi ketar ketir. Apalagi saat ia bisa merasakan kokohnya dada dokter itu. “Gak, Pak,” sahut Niken menggelengkan kepala. Jantung hampir lepas karena detaknya yang begitu kencang. Belum lagi kakinya mulai lemas. “Kita sebaiknya keluar aja, Pak,” pinta Niken tak mau lama-lama berduaan di ruangan ini. Ia tak tahan dengan tatapan dan sikap Dante belakang ini. Semenjak menikah ada-ada saja sikap pria itu yang membuat jantung berolahraga. “Kamu bisa gak sih stop panggi

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    82. Ruangan Rahasia

    Terbangun begitu saja, Niken reflek menatap ke arah jam dinding yang telah menunjukan pukul tujuh pagi. Ia menoleh ke samping dan tidak menemukan Dante maupun Evan. “Astaga. Kok bisa kesiangan begini sih,” gumam Niken saat menyadari kalau ia sendirian di dalam kamar. Baru saja akan keluar dari kamar, langkahnya terhenti di depan pintu saat suara Dante terdengar jelas. Pria itu berada di ruang tengah bersama Riana dan Evan, memintanya untuk mandi dan berganti pakaian. Niken kembali menutup pintu. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju lemari dan mengambil handuknya– bersiap mandi. Jujur saja, ada sedikit rasa takut di hatinya karena Dante tidak jelas mau mengajaknya kemana. Lima belas menit kemudian Niken telah siap. Ia memandang dirinya beberapa detik di depan cermin, sebelum memutuskan untuk keluar kamar. “Memangnya Pak Dante gak ke rumah sakit apa?” tanya Niken dalam hati berjalan menghampiri mereka di ruang tengah. Evan terlihat kegirangan saat Niken mendekat dan duduk di sa

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    81. Bantal Tangan

    “Gimana ibu kamu? Tangannya masih sakit?” tanya Riana pada Bima. Sepulang dari klinik mereka ketemuan di salah satu kedai kopi, sebelum Bima praktek sore di rumah sakit. Bima menatap Riana sembari mengerutkan keningnya, seingatnya ia tidak ada cerita mengenai ibunya. Seperti tahu apa yang Bima pikirkan, Riana kemudian mengatakan kalau Dante yang cerita saat makan malam beberapa hari lalu. “Sudah enakan. Kemarin sudah dikasih obat sama Dokter Dante,” ucap Bima yang kemudian menceritakan penyebab tangan ibunya sampai bisa menggunakan pen. “Cepat sembuh ya buat ibu kamu,” ucap Riana menatap Bima iba. Mengingat jam praktek Bima yang sudah dekat, mereka lantas berpisah di parkiran. Begitu mobil Bima menjauh, Riana masuk ke dalam mobil dan pulang. Setibanya di rumah, ia cukup kaget saat melihat mobil Dante sudah terparkir di halaman, padahal ini masih pukul sore. “Masih jam empat, tapi kok sudah di rumah,” gumam Riana melirik ke jam tangan yang ia pakai di tangan kanan. Memasuki ruan

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    80. Piyama

    Obrolan mereka terputus karena rengekan Evan. Bayi itu mengucek-ngucek matanya, jelas ia sudah ngantuk. Mereka menyudahi obrolan lantas pergi ke kamar masing-masing. Membawa masuk Evan ke kamar, Niken langsung naik ke atas tempat tidur. Membaringkan diri di samping Evan lantas menyusulnya. Senyum selalu terukir di wajahnya saat berada sangat dekat dengan anak laki-laki itu. Satu tangannya mengelus pipi Evan. “Kok kayak ada orang?” gumamnya saat mendengar suara decit pintu kamar mandi. Ia menoleh sedikit ke arah belakang dan melihat Dante tengah berpakaian. “Pak Dante kapan masuk?” tanyanya masih dalam posisi menyusui Evan. “Sudah dari tadi– kalian asyik ngobrol,” sahut Dante. Niken menoleh kembali hendak memastikan posisi Dante. Jangan sampai pria itu mendekat saat ia sedang melakukan tugasnya. “Pak Dante gak mau makan dulu?” tanya Niken berharap pria itu menjawab iya dan pergi keluar. Nyatanya Dante malah menggeleng– berjalan ke arah kasur. Untung Evan sudah tidur hingga ia bisa

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    79. Lemari Pakaian

    Dante mematikan alarm yang diaturnya di pukul setengah delapan pagi. Rasanya malas beranjak dari kasur setelah beberapa hari santai di rumah, jauh dari hiruk pikuk rumah sakit. Pria itu masih berada di balik selimut, saat kedua tangannya terbentang– meraba sisi-sisinya yang kosong. Helaan nafasnya terasa sangat panjang. Matanya kembali terpejam teringat saat ia mengucap janji pernikahan beberapa hari lalu.“Haha.” Pria itu tertawa kecil, menertawakan isi pikirannya yang berkelana sendirian.Kakinya menyibak lalu melemparkan selimut biru itu ke lantai. Bergegas ia masuk kamar mandi dan mandi. Air dingin yang mengguyur seluruh badannya, cepat membuat pikirannya kembali ke mode normal.Keluar dari kamar mandi, pria itu membuka lemari pakaian.“Ck … baju aku kan di kamar sebelah,” gumamnya tersadar kalau ini bukan kamar utama.Mau tak mau ia harus ke kamar utama untuk mengambil pakaiannya. Kamar utama dalam keadaan kosong saat ia masuk, sepertinya Evan dan Niken sedang sarapan atau mungkin

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    2. Sudah Tak Haus Lagi

    Ditanya serius oleh Riana, Niken tak langsung menjawab. Tawaran yang datang padanya begitu aneh dan tiba-tiba.“Jadi kamu mau atau enggak?” tanya Riana lagi membuat Niken tersentak.Niken masih diam.“Kamu bisa ikut aku sebentar?”Niken tak bersuara tapi ia mengikuti kemana Riana melangkah. Setiban

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    1. Periksa

    “Permisi, Bu,” suara seorang wanita muda terdengar saat pintu terbuka. Ia berjalan masuk menuju tempat duduk yang telah disediakan.Tepat di depannya tersenyum seorang wanita berseragam biru langit.“Selamat siang. Saya Bidan Riana,” ucap Riana memperkenalkan diri lantas membaca sekilas catatan yan

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    7. Ditinggal Pergi

    Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    6. Ponsel Baru

    Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status