Share

90. Bertemu Mantan

Author: Lystania
last update publish date: 2026-09-23 16:28:39
“Turun … makan,” ucap Dante lebih dulu keluar dari dalam mobil.

Cepat Niken juga keluar menyusul suaminya itu, sebelum ia dikunci di dalam.

Suasana tempat makan makan mereka datangi siang ini cukup ramai, sebenarnya membuat Niken kurang nyaman tapi ia tidak berani untuk protes. Duduk berhadapan dengan Dante, saat pelayan datang menanyakan pesanan, ia memilih untuk menyamakan saja pesanannya.

Meski pelayan terlihat sibuk mondar mandir, mereka tidak perlu menunggu lama hingga pesanan mereka ter
Lystania

Aduh.... kira kira, sampai puas sampai malam itu gimana ya guys. jadi malu dehh

| 5
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Lystania
sudah waktunya belum nih yaa
goodnovel comment avatar
Lystania
hihii semoga ya kakk
goodnovel comment avatar
JUANITA 88
mlm pertama saja klian berdua
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    90. Bertemu Mantan

    “Turun … makan,” ucap Dante lebih dulu keluar dari dalam mobil. Cepat Niken juga keluar menyusul suaminya itu, sebelum ia dikunci di dalam. Suasana tempat makan makan mereka datangi siang ini cukup ramai, sebenarnya membuat Niken kurang nyaman tapi ia tidak berani untuk protes. Duduk berhadapan dengan Dante, saat pelayan datang menanyakan pesanan, ia memilih untuk menyamakan saja pesanannya. Meski pelayan terlihat sibuk mondar mandir, mereka tidak perlu menunggu lama hingga pesanan mereka tersaji di meja. Tak ada perbincangan yang berarti sepanjang mereka makan. Niken sendiri tampak menikmati makanannya. Tidak salah Dante membawanya ke sini, karena makanannya memang enak. Ia baru sana merapikan sendok dan garpu di piringnya, saat seorang pelayan berjalan di depannya membawa minuman dingin yang tampak menggugah selera. Minuman hijau dengan kuah berwarna putih serta tambahan gula aren. "Kamu mau?" tanya Dante menoleh- melihat Niken yang netranya tak lepas menatap ke arah pelayan tadi

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    89. Sudah Satu Tahun

    Merasa susah mengambil nafas– sesak, Niken reflek batuk-batuk hingga terbangun. Perlahan membuka mata, wanita itu menundukkan kepala menatap ke arah lehernya. Sebuah lengan begitu kokoh melingkari lehernya. Tidak perlu diragukan lagi kalau itu ada Dante. Pria itu berada sangat dekat dengannya. Pertama Niken berhasil memindah lengan pria itu, tapi baru beberapa detik tangan pria itu kembali melingkari lehernya. “Aduh … Mas,” lirih Niken pelan kembali menjauhkan tangan pria itu. Ia menggeser sedikit posisi Evan agak ke pinggir, agar ia bisa menjauh dari dokter itu. Mengira sudah bebas, nyatanya pria itu malah menarik tubuh berisi istrinya itu. “Mas … kamu tidur atau engga sih?” Niken menatap wajah tegas Dante yang berada tepat di depannya. Matanya enggan berkedip memindai setiap inci wajah Dante yang terpahat begitu indah. Rambut halus yang tumbuh di sekitar pipinya, alis hitam yang begitu rapi. “Kamu maunya apa? Mau saya tidur atau engga?” Dante malah bertanya balik. Netra pria i

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    88. Jangan Dibahas

    “Pak Dante.” Ucapan Niken langsung membuat ekspresi wajah pria itu berubah dingin. Sudah nyaman dipanggil dengan sebutan mas, rasanya aneh di telinga Dante saat Niken mengucapkan kata pak. Itu sengaja ia lakukan agar Dante bisa sedikit sadar. “Habisin ini dulu,” ucap Dante sembari menyendok dessert coklat itu lagi. Bergantian– menyuap Niken dan dirinya sendiri. Jujur dessert ini memang enak, tapi kalau kebanyakan jadinya bikin perut kurang nyaman. “Saya sudah, Pak,” ucap Niken sembari mengelus perutnya yang mulai tidak nyaman. Refleks Dante ikut mengelus perut Niken. “Apa sih, Mas?” Niken memukul pelan punggung tangan Dante sembari melotot. Tanpa mereka sadari, pintu ruangan terbuka dengan Riana, Evan, dan Bima berdiri di depannya. Untuk beberapa saat mereka diam memperhatikan Niken dan Dante, berharap mereka sadar tapi nyatanya tidak. “Pantas ya, Mas,” celetuk Riana masuk membuat Niken dan Dante terperanjat. Sedikit mendorong Dante, Niken berdiri– sedikit jauh dari kursi Dante.

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    87. Berdua Di Ruangan Pribadi

    “Sebentar Mima keluar dulu ya, Sayang,” pamit Niken yang telah rapi, mencium Evan yang masih nyenyak tidur. Ia keluar kamar dengan sangat pelan lantas menyusul Dante yang pasti sudah berada di ruang makan. Duduk di salah satu kursi, Dante tampak serius menatap ponselnya. Sementara di depannya sudah tersaji beberapa menu makanan yang belum disentuh sama sekali olehnya. “Mas, mau makan apa?” tanya Niken berdiri di samping Dante siap melayani suaminya itu. “Memangnya kamu gak mau makan sama-sama disini sama saya?” Niken menggigit bibir bawahnya. “Evan masih tidurkan?” tanyanya lagi memastikan. Wanita itu mengangguk pelan seraya menarik kursi tepat di samping Dante. Saat Dante membalik piring yang ada di depannya, Niken reflek berdiri hendak mengambilkan makanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari piring mereka. Masih bisa dijangkau dalam posisi duduk. “Duduk aja. Kamu gak usah tegang kayak gitu.” Mendengar itu Niken kembali duduk, tapi dengan kepala yang menunduk– malu sendir

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    86. Siapin Pakaian

    “Hati-hati di jalan, Mbok. Titip salam buat keluarga,” kata Dante ikut mengantar sampai ke depan rumah. Ia sudah berpesan pada Azka untuk memberikan sejumlah uang pada Mbok Narti untuk membantu biaya pengobatan orang tua Mbok Narti di kampung. “Cepat sembuh ya buat orang tuanya, Mbok. Mbok Narti cepat balik,” ucap Niken tersenyum tulus sambil mengelus punggung wanita paruh baya itu. Mbok Narti mengangguk seraya berpamitan. Berdiri tak jauh darinya, Niken melihat kesedihan di wajah Mbok Tini. Bagaimanapun juga mereka berdua selalu sama-sama, pasti ada rasa kehilangan kalau salah satu pergi. Walau sebenarnya cuma untuk beberapa hari saja. — Menyimpan peralatan makan Evan ke dapur, Niken menghampiri Mbok Tini yang tengah menyiapkan makan malam. Tak tega melihat wanita itu kewalahan, reflek ia membantu memindahkan makanan ke mangkuk dan piring. “Aduh biar Mbok aja, Mbak,” kata Mbok Tini tidak enak. “Gapapa, Mbok,” sahut Niken membawa mangkuk dan piring makanan ke meja makan, kemudian

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    85. Ngigau

    Pasrah. Dante hanya pasrah sepanjang malam tidak bisa tidur dengan nyenyak. Sesekali pria itu terbangun karena merasa kram pada lengannya. Sebenarnya ia bisa saja menarik lengan– bahkan menjauh dari Niken, tapi hal itu tidak ia lakukan karena jujur saja ia merasa nyaman dengan posisi itu. Rasa yang tidak pernah ia dapatkan di pernikahannya dulu. Merasa ada sesuatu yang menempel di dahinya– berkali-kali, Niken lantas memaksa matanya untuk terbuka. Sudah jelas kalau itu adalah bibir Dante yang mengecup dahinya. “Pak … eh, Mas,” ucap Niken tersadar. Ia memperhatikan Dante lalu memperhatikan dirinya sendiri. Posisi mereka memang sangat dekat, hingga apa saja bisa terjadi di antara mereka berdua. “Aduh maaf, Mas. Saya gak sengaja ini,” kata Niken tidak enak berusaha menjauh. “Gapapa.” Dante tak mengizinkan Niken menjauh. “Saya beneran gak sengaja, Mas,” ucapnya lagi mengubah sedikit posisinya– mencoba memberi jarak. Namun semakin Niken mencoba untuk menjauh, Dante malah melakukan ha

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    1. Periksa

    “Permisi, Bu,” suara seorang wanita muda terdengar saat pintu terbuka. Ia berjalan masuk menuju tempat duduk yang telah disediakan.Tepat di depannya tersenyum seorang wanita berseragam biru langit.“Selamat siang. Saya Bidan Riana,” ucap Riana memperkenalkan diri lantas membaca sekilas catatan yan

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    4. Melihat Isi Baju

    “Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    3. Harus Bersih

    Niken menjerit dan reflek menutup pintu kamar mandi.“Auw!” jerit Dante keras karena tangannya terjepit di pintu. Mendengar suara itu, Niken buru-buru sedikit membuka pintu agar tangan Dante bisa lepas.“Astaga,” kata Niken bersandar di balik pintu. Cepat ia membersihkan badannya dan berganti pakai

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    2. Sudah Tak Haus Lagi

    Ditanya serius oleh Riana, Niken tak langsung menjawab. Tawaran yang datang padanya begitu aneh dan tiba-tiba.“Jadi kamu mau atau enggak?” tanya Riana lagi membuat Niken tersentak.Niken masih diam.“Kamu bisa ikut aku sebentar?”Niken tak bersuara tapi ia mengikuti kemana Riana melangkah. Setiban

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status