LOGINSarah ditugaskan ke sebuah desa untuk menjadi dokter di sana. Berharap menemukan ketenangan dan menjauhi stigma negatif, nyatanya dia bertemu dengan Adam. Cowok slengean yang bikin hidup Sarah tak tenang. Akan tetapi pertemuan itu menyingkap jati diri Adam, juga kasus yang menyeret nama pria itu. Akankah mereka mampu menyelesaikan masalah, yang ternyata saling berkaitan dengan masa lalu Sarah? Bisakah mereka bertahan untuk mereguk kebahagiaan? Atau menyerah, untuk kembali terpuruk? Cover by : El
View MoreAria's POV
I’ve made some mistakes. I don’t mean your everyday run-of-the-mill demeanors.
I’ll openly admit, I still forget some of my friends birthday, I call people by the wrong names and even have a mild pringles addiction. But no, not that.
I’m talking about life mistakes.
The kind that don’t just embarrass you for a moment, but stay with you. The kind that shift something inside you- quietly, permanently before you even realize what’s happening.
My life was so perfect… or so I thought.
I was very happy with Ethan. We were but busy with work but would always find time for each other. Every Friday night , we’d go for different activities such as bowling, karaoke and even skating. That way, we get to have fun together after the week’s stress.
Those nights were my favorite. They felt… safe. Predictable in the best way. Like no matter how stressful life got, there was always something waiting for me at the end of the week. Something certain.
Life was good. I thought I had found the love of my life. I didn’t know I was just delusional.
Ethan had been distant lately. Not in an obvious way. No big fights, no shouting, no clear reason to point at and say this is where everything went wrong.
Just… small things. Late replies. Missed calls. Canceled plans. The kind of changes that make you question yourself before you question them.
“You’re overthinking” I whispered to myself. I said it like a reminder. Like if I repeated it enough times, it would become true.
What was that? Sophia asked. Nothing, I said. She asked again. I told her I was just wondering how boring my life has been getting. Her response was “why won’t it be when you’re dating a boring person”?
Ethan is not boring, I defended. He’s just been busy lately. Even as I said it, I could hear how defensive I sounded. How quick I was to justify him.
For the past 2 months, we haven’t gone on our usual Friday outings. Whenever I asked him what was going on, he’d say he was busy with work.
Work.
It had become his favorite excuse. And my least favorite answer.
Sophia decided to go out with me this day just so I could stop thinking and being sad over “Ethan’s work schedule”. I didn’t want to go but Sophia would not let me.
“Relax, Aria!” Sophia shouted over the music, raising her glass like she was celebrating something monumental instead of just surviving another Friday night. “You look like someone dragged you here against your will.”
“They did,” I muttered, adjusting the strap of my dress for the third time in five minutes.
Everything felt off. The music, the crowd, even my own skin. Like I didn’t belong there.
She rolled her eyes. “Oh please. You need this. You work too much, you think too much, and” she paused dramatically, “—you date a man who is painfully boring.”
I gave her a look. “Ethan is not boring.”
Sophia raised a brow. “Then where is he?”
I opened my mouth.
Then closed it.
Because… that was actually a very good question.
The music was loud. But not too loud to stop me from seeing clearly.
That’s Ethan, I said.
At first, it didn’t register but I recognize my man anywhere, any day, even in the dark.
My eyes fixed on him like they were refusing to look away.
His hands was wrapped over some woman’s waist.
Everything inside me went still.
Ethan leaned closer to her, his head dipping slightly like he was saying something only she was meant to hear.
And he smiled.
That same smile. The one he used on me.
My God.
My heart paused. Not slowed. Not skipped. It paused.Like everything inside me just… stopped.
I couldn’t think. I couldn’t speak. I couldn’t even breathe properly.
I just stood there—staring.
My chest tightened so suddenly it felt like something was sitting on it. Heavy. Crushing.
My fingers curled slightly at my sides, like I needed to hold on to something, anything, just to stay standing.
This wasn’t real.
It couldn’t be.
Because the way he was looking at her…
It didn’t feel real. It couldn’t be real.
Sophia grabbed me and took me to a seat. “Hey, don’t make a scene”. She said. Ethan didn’t see me. Not at first.
I felt it rising. The tears. The sting behind my eyes. The burning in my throat.I wasn’t going to cry there. No, I wouldn’t give him that satisfaction.
I’m going to the restroom, I said.
My voice sounded distant, like it didn’t belong to me.
Went for a few minutes to cry and came back out.
I stared at my reflection before leaving. My eyes were slightly red, but not enough for anyone to notice. Good.
I wasn’t raised to be weak. I know who I am and I didn’t deserve to be lied to.
Ethan finally saw me. I smiled. Not a soft smile. A dangerous one. The kind that meant something was about to happen.
He approached me.
“Aria, please,” Ethan said, lowering his voice, stepping closer like this was something private. “Let’s talk about this somewhere else.”
Like this was something he could control. Like this was something small.
I tilted my head. “No”. I said.
“Aria please, let’s go talk,” Ethan said again. His voice was too close.I didn’t want to hear it. Not now. Not after what I just saw. Something in me just… shifted.
I didn’t think about what I was doing. I didn’t even give myself time to think.I just moved. I stepped away from him. I didn’t even know where I was going until I stopped.
Right in front of him. The stranger. He was already looking at me. I could feel my heart beating so fast, like it was about to jump out of my chest. My hands felt cold, but my body felt hot at the same time.This was crazy. I shouldn’t be here. I should go back. I should leave. I should—
But I didn’t. I just stood there for a second, looking at him. His face was calm, like none of this affected him. Unlike me. Everything inside me felt messy. Loud. Confused. And before I could stop myself… I leaned in. And I kissed him. It wasn’t planned, it wasn’t even perfect. But it happened. And for a moment… I didn’t think about Ethan. I didn’t think about anything. Just that one second.Sarah memandang mobil di depannya, kemudian pada sosok Adam yang pucat. Dia menggeleng. "Gak, aku aja yang bawa mobilnya.""Loh? Janganlah, aku kan yang ngajak Dok--""Sarah. Panggil aku, Sarah." Wanita itu menatap Adam dengan wajah serius, sementara Adam cuma bisa diam sembari mengangguk paham. Sarah melanjutkan omongannya, "Kamu gak memungkikan banget buat bawa mobil. Aku gak mau kita kecelakaan.""Bisa-bisanya kamu meragukan aku," gerutu Adam."Kata Ardi kamu menggalau beberapa hari ini. Pasti karena aku tolak waktu itukan?""Jujur banget ngomongnya.""Karena kondisi kamu yang gak memungkinkan itu, aku gak bakalan izinin kamu buat nyetir. Mending aku aja," jelas Sarah panjang lebar.Sebal, Adam pun menurut saja. Dia duduk di samping kemudi, mengamati Sarah yang sedang memasang belt. Adam tak percaya, kalau wanita yang beberapa waktu lalu menolaknya malah kini menerima tawaran untuk pergi jalan-jalan bersama. Adam bingung, sumpah!"Kenapa kamu mau terima ajakan aku?""Sebagai permin
Sarah tidak tahu kalau Adam akan jujur dengan perasaannya. Ketika pria itu mengatakan kenyataan tersebut, Sarah cuma tercengang dengan mulut menganga. Telunjuknya menunjuk diri sendiri, tak menyangka."Gak salah kamu, Dam? Jangan bilang kamu memberitahu Leila soal ini? Bisa mampus kita!" kata Sarah cemas.Adam terkekeh. "Meskipun dia bawa para preman itu, aku gak bakalan biarin mereka melukai Dokter Sarah. Aku harus menepati janji'kan?" ujarnya sambil menaik-naikkan kedua alisnya yang tebal.Sebelah tangan Sarah mengusap keningnya. Dia melipat kaki di atas kursi, mendesah sebal dengan keputusan Adam yang terlalu berisiko itu. "Bagaimana kalau kamu yang terluka? Siapa yang repot?""Dokter. Tugas kamu'kan mengobati orang yang terluka?" sahut Adam enteng sekali. "Kamu lihat? Aku juga terluka!" kata Sarah menunjuk sudut bibirnya yang luka, lalu ke keningnya yang benjol. "Aku yang obatin Dokter. Kita saling mengobati," ujar Adam langsung mendapat sahutan berupa suara muntah dari Ardi. Lel
Motor trail Adam meraung di depan rumah Leila yang terbilang mewah. Semua orang di desa itu dan tempat Adam tinggal, tahu kalau Leila bukan anak gadis dari orang sembarangan. Ayah Leila merupakan seorang tuan tanah yang punya banyak anak buah turunan dari preman pasar. Mereka juga tahu, kalau ayah Leila bukanlah pria baik. Ardi pernah bertemu dengan pria paruh baya tersebut, dan menyatakan kalau dia tak menyukai cara kerjanya. Dan sekarang Adam menemukan alasan Ardi tak menyukai ayah Leila itu. "Makanya, hutang itu dibayar dong! Berani-berani ngambil utang, tapi gak sanggup bayar. Lucu juga!" katanya sambil memelintir kumisnya yang tebal. Adam turun dari motor. Menghampiri teras beton yang tampak licin. Sejenak amarah pria itu reda, tatapannya menghunus pada Adam. Hanya dengan endikkan kepala, beberapa preman pasar yang tadi ditemui keluar dari pos mereka. Menyeringai pada Adam, seolah merasa menang. "Akhirnya datang juga. Kamu nerima tawaran kami ya?" tanya pria itu. "Gak. Aku
Sarah menatap Adam yang berjalan membelah kerumunan para preman tersebut. Menimbang rasio kemungkinan Adam menang dari delapan preman yang sedang menjagalnya. Meski agak tipis, Sarah yakin Adam bisa melawan orang-orang berotot besar itu."Menjauh dari Dokter Sarah," perintah Adam dengan nada menusuk tajam.Pimpinan preman yang berada di depan Sarah akhirnya berbalik badan, menghadap Adam yang sedang menyingsing lengan baju lusuhnya. Seulas senyum tipis terukir, dia melangkah maju ke depan Adam. Mendorong pundak pria itu dengan kencang. "Jadi ini yang bikin neng Leila sakit hati? Cowok dekil ini rupanya?"Tak terima disebut dekil, Adam balas mendorong dada si preman. Namun hasilnya nihil. Tak ada pergerakan apapun, selain Adam yang ditertawakan seluruh kawanan preman tersebut."Kenapa? Heran karena gak bisa ngedorong aku? Jelaslah, orang macam kamu... aku tonjok sekali juga pasti jiun!" ujarnya sombong.Adam mengepalkan tangannya. Mencoba membuktikan ucapan si preman dan hasilnya... me
"Gak, Dam! Obat ini bikin kamu ketergantungan. Aku gak bisa biarin kamu konsumsi ini terus!" kata Ardi memeluk kuat paket itu, kemudian membawanya pergi. Meninggalkan Adam yang mendecih sebal. Dia mengacak rambutnya, frustasi. Sudah cukup lama dia tidak meminum obat antidepresan karena dokter yang
"Ngapain sih kamu ngikutin aku?" gerutu Sarah berusaha menghindari Adam, tapi pria itu malah menyusul dan kini tengah mencoba membujuk agar Sarah mau ikut dengannya. Adam menarik tas di tangan Sarah. Berharap wanita itu berhenti bersikap keras kepala. Namun Sarah kembali merebut tas jinjingnya dari
Sarah terkesiap saat mendengar suara benda jatuh di dekatnya. Dia mengerjap ketika melihat seseorang berjalan mengendap-endap, menuju lemari sambil membawa beberapa tas. Sarah mengucek matanya dan melotot tajam. "Adam?" "Eh? Dokter udah bangun ya?" ucap Adam sambil membuka lemari di bawah wastafel
"Suara apaan tuh, Pak?" tanya seorang wanita sembari melongokkan kepala keluar jendela mobil pick up yang membawanya. Sang supir menghentikan mobil, ikut mencari asal suara. "Kayak orang nabrak sesuatu gak sih, Bu?" "Kok nanya balik sih, Pak? Saya juga gak tahu," sahutnya sewot. Baru beberapa det












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.