مشاركة

BAB 27

مؤلف: IRSADE
last update تاريخ النشر: 2026-07-26 13:07:42

STELLA - "AKU YANG TERSAKITI”

Jam 11 malam. Ruko kosong di pinggir rel. Aku menyusuri jalan tempat yang aku tahu ada para pemuda yang bisa dibayar untuk melakukan sesuatu. Dan aku harus melakukannya. Ini tak bisa dibiarkan.

Bau apek. Lampu satu.

Di depan aku ada 3 orang. Tato semua. Mata kosong. Aku menatap mereka. Wajah brandal sedang menghempas kartu. Tampak meja kecil dan wajah yang serius menakutkan.

Aku taruh tas. Keluarin amplop. Tebel. Mereka berhenti sejenak. Saling pandang dengan
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 49

    PRIOK & SINGAPURA. Udara Priok jam 4 pagi masih bau solar dan ikan. Lengang. Lampu jalan kuning. Di ujung jalan Blok D-12, 6 mobil tanpa plat berhenti. Pintu kebuka pelan. "Siap?" bisik Komandan. Rompi bertuliskan POLDA METRO. "Siap, Pak." _DUAR._ Pintu besi gudang didobrak pakai alat. Engsel copot. Debu beterbangan. "POLISI! SEMUA ANGKAT TANGAN! DIAM DI TEMPAT!" Di dalam, lampu neon putih menyala. Bau apek. 7 orang duduk di lantai. Tangan diikat ke belakang. Mulut disumpal lakban. Mata mereka kosong. Ada yang perempuan, bajunya kebesaran. Ada yang laki, kurus, tulang pipi nongol. Salah satu perempuan nangis begitu liat seragam. "TOLONG... TOLONG LEPASIN..." Petugas langsung gunting tali. "Tenang, Mbak. Udah aman." Adrian yang ikut dalam rombongan penggerebekan melangkah dengan tangan di borgol. Adrian menunduk dan diam. Petugas membuat parameter garis line setelah membongkar isi dalam dan mengamankan tujuh orang yang di sekap. Adrian mengangkat kepala dan berbicara sa

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 48

    WAKTU SAAT INIJam 07:10. Rolling door naik. Suaranya _kreeet_. Karatan. Udara masih dingin. Jalanan sepi. Cuma ada tukang sayur lewat.Franz datang jam 07:30. Bawa 2 kopi plastik. Esnya sudah cair. "Mas." Aku lagi nyapu. "Hmm." "Semalam aku mimpi, Mas. Kita diusir warga. Ruko di lempari telor busuk." Aku berhenti nyapu. Nengok ke dia. "Terus?" "Terus aku bangun. Takut beneran." Aku tuang kopi ke gelas aqua. "Selama kita masih buka pintu tiap pagi, berarti mimpi itu belum kejadian, Franz" Kami duduk di lantai. Lantai semen. Dingin. "Mas yakin mau lanjut?" tanya Franz pelan. Aku ngeliat rak sparepart. Udah aku susun. Baut, oli, busi. Rapi. *Kalau sekarang aku berhenti karena takut omongan orang... berarti aku belum berubah. Aku cuma pindah tempat lari." Franz diem. Lalu manggut. "Siap, Mas."Jam 08:40. Pelanggan pertama. Pak Ojek. "Mas, ganti oli ya. Yang mesran." "Iya, Pak. 15 menit." Sambil tuang oli aku tanya. "Anak bapak sekolah di mana, Pak?" "SMK 3, Mas. Jurusan

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 47

    HP di lantai bergetar tiga kali. Nama di layar: BAGAS. Setelah sekian lama tidak menelpon sudah tiga bulan lamanya. Lalu sekarang baru nelpon. Pasti ada sesuatu yang penting sehingga baru kali ini dia nelpon aku. Aku tidak langsung angkat. Tanganku masih memegang foto aku dan Siska. Tangan satunya menggenggam teh yang sudah dingin. Di luar, gerimis masih mengetuk seng.Angkat.“Halo.”Suara di seberang tertawa dulu. Panjang. Puas. Seperti orang yang baru menang judi. Aku mendengarkan sampai kekeh yang terakhir. Begitu renyah dan penuh kemenangan. “Pak Bos,” katanya. “Kamu sudah tamat.”Aku diam.“Maksudmu?”“Usahamu semua sudah ku jual. PT, rekening Singapura, proyek IKN, pub di SCBD. Semua sudah di TF ke rekeningmu. Sisanya 3 miliar. Cukup buat beli kuburan, Pak.”Jantungku tidak berdetak. Hanya suara darah di telinga.“Kenapa kamu ambil keputusan tanpa sepengetahuan ku?”“Sekarang aku yang berkuasa,” lanjut Bagas. “Bella juga sama aku. Dia bilang capek jadi sekretaris bapak yang k

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 46

    MASA SEKARANG Dengan pelan mobil mengitari setiap gang sempit. Aku turun untuk memastikan alamat Macho. Sesampainya di alamat yang dituju. Mereka juga nggak tau dimana keberadaan Macho. “Maaf, Pak nggak kenal.”“Disini banyak sih yang ngekos tapi jarang tau siapa nama.”“Kayak kenal tapi lupa.”Berbagai macam jawaban mereka. Dan satu pun nggak ada yang kenal. Sampailah di suatu gang padat warga dan bedengan pinggir kali. Orang tua itu memastikan bahwa dia kenal tapi tak tahu nama. “Iya Pak saya tanda anak ini. Ganteng sih tapi jarang nyapa warga. Dulu dia kost di kamar nomor dua. Sekitar dua tahun lalu. Abis itu kabarnya pindah kemana gitu.”Aku frustasi. Karena sudah malam dan aku belum mandi, aku perintahkan ke Yanto kerumah lama. Di Tambun, Bekasi. "Ke Tambun, Pak?""Ke rumah dulu. Rumah yang di Tambun."Sepanjang tol aku diem. Jakarta lewat. Macet. Klakson. Sama kayak 22 tahun lalu. Bedanya dulu aku bawa koper 500 ribu hasil judi. Sekarang aku bawa sisa uang miliaran yang masi

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 45

    “Menurut ayah, apa sebaiknya kulakukan?. Apa aku harus diam tak mencari anakku atau kuanggap aja anakku tak ada dan nikah lagi?. Aku pernah gagal jadi suami. Tapi sekarang aku tak ingin gagal jadi ayah walau telat hampir 22 tahun.”Ayah termenung. Dia sulit untuk menjawab pertanyaanku. Karena baginya hidup ini sederhana. Sebagai ayah, dia sudah melakukan hal yang mampu dilakukan mencukupi kebutuhan keluarga. Walau dia menyadari dia bukan ayah yang baik dan berkecukupan. Sebagai suami, Zubaidah, istrinya tak pernah mengeluh walau hidup mereka serba berkekurangan. Karena dia yakin bahwa tidak sukses hidupnya mungkin sukses di anaknya. “Ayah cuma bisa bilang, jangan sampai kau gagal untuk menjadi ayah. Semua orang punya salah. Punya masa lalu yang kelam. Tapi yang tetap punya niat dan menebus kesalahan itu menunjukkan kamu sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab. Cari anakmu walau sampai ke ujung dunia sekalipun.”“Makasih ayah. Itulah yang ingin aku lakukan. Empat hari lalu, secara

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 44

    Akhirnya, setelah menyelesaikan semua kemelut dalam keluargaku. Hari ini aku sampai. Sudah tiga bulan pengelanaan dari Jakarta, Bali, Medan dan berakhir di sini. Kota kecil Tanjung Balai. Kampung halamanku sendiri. Secara tak sengaja, karena mantan mertua pindah tapi ternyata sudah meninggal. Akhirnya aku kembali ke ayah dan emak. Mengurus mana yang bisa ku-urus, termasuk pengobatan Manja, adik kesayangan. Aku sampai ke rumah lama. Aku turun sebentar, Manja juga. Sopir sudah mau menurunkan koper. “Tunggu dulu, Bang. Aku mau ngecek dulu.”Sopir tak jadi turun. Manja juga. Dia masih ingat bahwa ini memang rumah mereka, tapi kok abangnya malah melarang turun?. Keningnya berkerut, tapi tetap diam tak berani turun. “Assalamu'alaikum”“Waalaikum salam”Turun seorang lelaki yang agak muda dari usia ku. Aku melirik. Apa ini Hamzah?, adik iparku suami Aisyah?, tanyaku dalam hati. “Ya, Bang. Cari siapa?”“Apa Aisyah sudah atau Bu Zubaidah dah pindah?”“Oh, iya Bang. Kami baru beli dua mingg

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status