Teilen

BAB 54

last update Veröffentlichungsdatum: 15.08.2026 22:06:01

Macho tidak membalas. Ia screenshot. Ia memasukkan ke folder. Namanya: BUKTI RANI.

Hari Rabu Rani datang lagi. Kali ini tidak sendiri.

Di sampingnya ada laki-laki. Umur empat puluhan. Kepala botak. Leher ada tato ular. Jaket kulit.

"Ini teman saya," kata Rani. "Dia bisa bantu negosiasi."

Macho berdiri di depan pintu. Tidak membuka. "Negosiasi apa?"

"Negosiasi biar kalian mau bagi," kata laki-laki itu. Suaranya berat, seperti keluar dari dada. "Lima puluh persen. Kecil kok."

Macho menatap mata
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 68

    Jam 05.20 mereka keluar dari kontrakan Depok. Gerbang besi di geser pelan. Bunyinya ngiiik. Franz duduk di balik setir. Ia memutar kunci. Mesin Avanza brebet dua kali. "Gimana," tanya Macho."Bismillah," jawab Franz.Mobil keluar. Jalanan masih sepi. Hanya ada tukang sayur dorong gerobak.Macho memegang kertas di pangkuan. Jalan Sunggal Nomor 30. Ia lipat, buka, lipat lagi."Deg-degan," kata Macho."Normal," kata Franz. "Saya juga."Jam 05.40 masuk Tol Jagorawi. Kosong. Enak. Franz nyalakan radio. Suara azan subuh dari masjid pinggir tol.Jam 06.15 masuk JORR. Langsung rem. Di depan, lampu merah semua. Spanduk digital tulisannya: KECELAKAAN KM 18. LAJUR KANAN DITUTUP."Mundur apa maju," tanya Franz."Maju," kata Macho. "Kalau mundur kita muter jauh."Mobil merayap. 20 km/jam. Bau knalpot masuk. Macho buka kaca sedikit. Di sebelah ada motor. Bapak-bapak bonceng anak. Anaknya tidur, kepalanya goyang-goyang."Kasian," kata Macho."Iya," jawab Franz.Jam 06.45. Baru sampai Cikunir

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 67

    Arman baru masuk ke dalam mobil. Pintu ditutup. Mesin dinyalakan."Pak Arman," Rani berlari kecil.Tapi mobil sudah melaju. Belok di pertigaan. Hilang.Rani berhenti di tengah jalan. Napasnya memburu. "Sialan."Di tempat lain. Di Depok. Rumah kontrakan petak ukuran tiga kali empat meter.Di dalam truk Franz bersandar ke jok. "Enam bulan itu lama ya Cho.""Lama," jawab Macho. "Tapi ternyata satu bukti bisa menghapus semua kepercayaan."Truk berhenti di depan rumah kontrakan. Bukan rumah petak. Rumah kontrakan 2 kamar di Depok. Catnya masih bagus. Ada carport kecil.Mereka tidak turun dari truk. Macho buka HP. Transfer ke rekening tukang truk. "Makasih Pak."Franz buka pintu. "Angkut sendiri atau panggil orang?""Panggil orang," kata Macho. "Kita bayar."Sepuluh menit kemudian dua orang kuli datang. Membawa kasur, lemari kecil, kipas angin, dan 2 kardus pakaian. Semua barang masih bagus. Tidak ada yang dibuang.Mereka bukan orang susah. Rekening masih ada. Mobil Avanza hitam mereka par

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 66

    Hujan turun sejak subuh. Bukan hujan yang membersihkan jalanan. Hujan yang membuat tanah menjadi lumpur dan membuat orang malas keluar rumah.Macho membuka rolling door bengkel pukul tujuh pagi. Suara besinya berderit panjang. Sudah enam bulan sejak mereka mengambil alih lagi bengkel ini dari orang yang mereka upahkan dulu.Enam bulan lalu bengkel ini hampir mereka tutup. Bukan karena sepi. Justru karena laris. Awal buka dulu memang ada demo kecil. Warga tahu masa lalu mereka. Tahu bahwa Macho dan Franz pernah jadi gigolo. Beberapa ibu sempat protes ke Pak RT. Tapi Macho dan Franz datang ke kantor polisi. Mereka membawa surat keterangan. Surat dari kepolisian yang menyatakan bahwa mereka tidak terlibat tindak kriminal. Bahkan kepolisian menjadikan mereka mitra dalam program pembinaan mantan pekerja. Surat itu ditempel di dinding bengkel. Perlahan warga percaya. Pelanggan datang. Langganan servis motor mulai banyak. Pak RT bahkan pernah mampir untuk ganti oli. Sampai Tante Lisa mun

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 65

    Setelah ketegangan mereda. Aku menarik nafas panjang. Rencana spontan telah dibuat tentang keberangkatan ke Macau. Sampai aku lupa mengenalkan Chintya kepada semuanya. Saat melihat Chintya, Ine langsung mengerti. Dia tidak bertanya. Dia langsung memeluk. "Kamu Chintya ya?" Chintya mengangguk di pelukan. "Ibu." Kirana dan Gerhana berdiri di belakang. Kirana bertanya, "Ini adik kita?" "Iya," kataku. "Adik kalian." Gerhana maju. "Chintya. Suka gambar ya? Aku juga." Malam. Di meja makan. Enam orang. Aku. Ine. Kirana. Gerhana. Devan. Chintya. Sunyi beberapa saat. Lalu Chintya berkata. "Bapak. Aku boleh tidur sama Kak Kirana?" "Boleh, Nak." Setelah semua tidur. Aku dan Ine di teras. "Bagaimana?" tanya Ine. "Elsa sudah menikah. Dengan pedagang beras. Namanya Leo. Dia benci aku. Dan dia benci Chintya karena Chintya mirip aku." Ine diam. "Kasihan anak itu." "Iya. Makanya aku bawa." "Keputusan benar, Man." Ine menyandarkan kepala. "Sekarang kita lengkap. Lima

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 64

    Aku berangkat sendiri ke stasiun. Menuju Surabaya, tempat terakhir yang kudapat informasi keberadaan Elsa. Jam 3 pagi. Stasiun Bandung. Hujan rintik.Ine berdiri di peron. Memelukku erat. "Arman," bisiknya. "Kamu yakin sendiri?" "Aku harus sendiri, Sayang. Kalau ramai, Triad tahu." "Kalau kamu tidak pulang?" "Maka kamu yang jadi kepala keluarga. Jaga Kirana. Jaga Gerhana. Jaga Devan." Ine menggigit bibir. "Aku benci janji seperti itu." "Aku juga benci mengucapkannya."Kirana maju. "Pak. Hati-hati." "Aku janji, Nak." Gerhana menarik ujung bajuku. "Ayah jangan lama-lama." "Ayah janji, Ger."Devan paling akhir. Dia menatapku. Lama. "Bapak. Kalau di sana bahaya, telepon aku. Aku bisa bantu." "Aku tahu kamu bisa, Nak. Tapi sekarang tugas kamu jaga rumah." Devan mengangguk. Pelan. "Siap, Pak."Kereta jalan. Aku tidak menoleh lagi. Karena kalau menoleh, aku tidak akan jadi berangkat.Sepanjang perjalanan aku memikirkan cara bagaimana mendapatkan keberadaan Elsa. Tiga

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 63

    Sabtu. Pagi. Tenda biru di depan rumah Ine.RT. Tetangga. Ustadz. Kirana pake kebaya. Gerhana pake koko. Aku pake beskap. Ine pake kebaya putih. 35 tahun. Cantik. Tapi tegang."Saya terima nikahnya Ine binti Rohman dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang 50 juta tunai," kataku. "Sah!" teriak warga.Pesta sederhana. Nasi, ayam, es teh. Tetangga bisik. "Akhirnya Bu Ine nikah juga." "Katanya duda kaya dari Jakarta." "Anaknya 1, tapi bapaknya cakep."Malamnya. Kamar pengantin. Lampu redup. Ine duduk di pinggir ranjang. "Man..." "Iya, Sayang." "Aku bahagia. Tapi takut." "Takut apa?" "Takut kamu ninggalin lagi."Aku pegang tangannya. "Duduk. Aku harus jujur. Sekarang. Sebelum kita lanjut.""Jujur apa?" Aku menarik napas. "Aku punya masa lalu kotor, Ine. Sebelum kamu, sebelum Kirana." Ine diem. "Aku pernah punya istri. Namanya Laura. Cerai. Punya anak namanya Macho. Sebelum kesini, aku sudah cari ke segala tempat, hasilnya nihil. Aku belum jumpa. Ine angguk. "T

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status