Share

BAB 8

Author: IRSADE
last update publish date: 2026-07-16 02:59:39

Suasana sepi mencekam.

Bukan sepi biasa. Sepi yang bikin telinga berdenging. Sepi yang bikin kamu mendengar detak jantung sendiri.

Kotak hitam itu masih di tengah meja.

Persegi. Polos. Gak ada merek. Gak ada gembok.

Tapi rasanya kayak bom waktu. Satu sentuhan bisa meledak dan mengubur kami semua.

AC nyembur dingin sampai ke tulang. Tapi keringat di pelipis kami berempat ngalir terus. Menetes ke kerah kemeja.

Basah.

Arman duduk paling ujung. Nyender. Jasnya dibuka satu kancing. Di tangannya gelas whiskey. Es batunya sudah cair semua. Dia puter gelas itu pelan. Bunyi

_kletek kletek_

Bunyi kecil yang di ruangan ini seperti kedengaran kayak palu godam.

Bianca di sebelahnya. Dress merah marunnya udah kusut. Lipstiknya luntur di sudut bibir. Jarinya mainin ujung kain sampai buku jarinya putih. Dia gak nangis. Belum.

Teddy nunduk. Dahi hampir menyentuh meja. Napasnya pendek.

Deni duduk di sebelahku. Ngunyah kukunya. Ujung jari telunjuknya udah berdarah.

Ivan paling jauh. Matanya gak lepas dari pintu. Kayak nunggu malaikat pencabut nyawa dateng ngetok.

Semua tegang. Menanti. Apa yang akan diperbuat Arman.

Dan aku.

HP di saku celanaku ngebakar paha. Getar. Sekali. Dua kali.

Aku gak berani ngeluarin. Tapi aku tau isinya.

BNN. Kami awasi. Jangan gerak.

Satu kalimat. Tiga kata. Cukup buat bikin lututku lemes.

FLASHBACK DUA MINGGU LALU

Aku baru nyambung sekarang. Baru ngerti.

Malam pertama aku disuruh antar kotak ke Dragon Club. Riko yang nerima. Dia buka dikit. Cuma ngintip. Terus nutup lagi cepet. Wajahnya berubah.

Dia menarik aku ke pojok. Bisik. "Hati-hati. Bos lagi dipanasin."

Waktu itu aku ngangguk. Mikirnya, oh rival bisnis. Oh saingan proyek.

Bego.

Ternyata yang "mempanasin" itu negara.

BNN sudah 3 bulan mengendus Arman. Mereka tau dari mana? Dari transfer fiktif 50M ke rekening yayasan. Dari "titipan" tas Hermes ke istri pejabat. Dari tiba-tiba ada tiga istri direktur BUMN yang menang tender proyek 200M dalam waktu bersamaan.

Pola nya ketahuan. Kotor. Rapi. Kejam.

Mereka butuh orang dalam.

Butuh tikus yang tiap hari keluar masuk sarang.

Butuh tikus yang dikasih HP khusus dan disuruh lapor.

Butuh tikus yang diundang duduk satu meja di "ruang keluarga" dan disodorin whiskey.

Tikusnya aku.

Aku inget tangan Riko gemetar waktu balikin kotak itu ke aku. "Anter balik. Jangan dibuka."

Dia takut. Dan sekarang aku tau kenapa.

FLASHBACK CITRA

Apartemen gelap. Pengap. Cuma lampu kulkas yang nyala. Cahaya kuning temaram mantul di lantai keramik.

Aku kasih dia kunci duplikat dua minggu lalu. "Kalau kangen, datang aja. Aku lagi ngejar duit buat kita."

Sekarang dia duduk di lantai. Punggung nempel pintu kulkas yang dingin. Di pangkuannya HP.

Layar nyala. Chat terakhir dariku.

Lagi kerja. Nanti aku kabarin.

Centang dua. 36 jam. Gak dibaca.

Dia nelpon. Nada tunggu. Terus mati.

Dia ke kostku. Pintu kekunci. Ngintip dari jendela. Baju-bajuku masih di kursi. Laptop masih di meja. Tapi aku gak ada.

Dia ke kampus. Nemu dosen wali.

Macho. Sudah dua minggu tidak masuk. Ada masalah keluarga kah.

Citra ketawa. Suaranya pendek. Pahit. Pecah di ujung.

Uang kuliahnya aja udah lunas bulan lalu. Katanya buat kita. Katanya bentar lagi enak. Katanya sabar ya. Kemana kamu Macho.

Dia buka laci meja. Keluarin map coklat. Isinya print rekening. Saldo terakhir 2 juta. Itu semua yang aku sisain buat dia.

Dia pegang pigura kecil. Foto kami. Liburan ke Anyer. Aku pake kaos oblong. Dia pake dress putih. Aku lagi ketawa. Dia nyender di bahuku.

Jari dia ngusap pipiku di foto itu.

Jangan jadi bajingan Macho. Bisiknya. Aku satu-satunya yang kamu punya. Dan aku udah taruh semua hidupku di kamu.

Dia anak yatim. Aku juga.

Kita janji gak akan ninggalin satu sama lain. Itu sumpah kita pas saat aku serius dengannya. Saat yang lain tidak begitu peduli padaku. Saat dia mau menerima cintaku.

HP nya getar di lantai. Nomor tak dikenal.

Citra angkat. Gak ngomong.

Suara di seberang berat. Laki-laki.

Kalau mau tau pacar kamu masih hidup atau enggak. Ke Ruko Agency. Lantai 2. Sekarang.

Tut.

Citra diam 5 detik. Seakan berpikir, ini telepon dari siapa?. Terus dia berdiri. Ambil kunci motor. Ambil jaket hitam.

Tangannya gak gemetar. Malah terlalu tenang.

Tenang nya orang yang sudah gak punya apa-apa lagi buat kehilangan.

KEMBALI RUANG AGENCY

_Tok. Tok_

Arman ngetuk meja dua kali pake jari telunjuk. Suaranya pelan tapi bikin kami semua refleks angkat kepala.

Matanya mengedar memandang kami satu persatu. Menelanjangi kami.

Kami malah nunduk. Sibuk sama pikiran sendiri. Sibuk sama rasa takut sendiri.

Lalu Arman berdiri. Kursinya mundur. Bunyi berdecit panjang.

Gusar.

Dia jalan muterin meja. Sepatu pantofelnya bunyi di lantai marmer.

Gak ada yang ngaku. Katanya. Suaranya datar.

_Gledakkk_

Meja dipukul kuat. Aku terkejut. Begitu juga lainnya. Jantungku mau copot mendengarnya. Bagai bom yang jatuh tiba-tiba. Lalu dia kembali melirik.

Baik.

Dia berhenti di belakang kursiku. Napas whiskey nya nyampe ke tengkukku.

Kalau gitu kita tayangin aja. Satu satu.

HP nya diangkat. Layar sebesar telapak tangan itu nyala.

Thumbnail pertama. Mukaku.

Di sofa. Kemeja kebuka. Di sebelah Bianca yang setengah telanjang.

Waktu berhenti.

Nafasku berhenti. Darah naik ke kepala. Panas. Dingin. Panas lagi.

Ini memalukan. Ini kotor. Ini bukti.

Dan dilihat oleh semua orang di meja ini. Termasuk mereka yang punya rahasia lebih busuk.

Aku coba tenang. Napas. Buang.

Aku liat ke Teddy. Wajahnya pucat.

Aku liat ke Deni. Bibirnya bergetar.

Aku liat ke Ivan. Dia merem.

Rahasia mereka juga bakal kebuka. Semua bakal dipermalukan.

_BRAK_

Pintu belakang jebol.

“POLISI. BNN. JANGAN GERAK!.”

Lima orang masuk. Serentak. Pistol mengedar di tangan mereka sambil sedikit membungkuk.Kedua belah tangan jemarinya mengatup ke pistol, siap menyalak jika diinginkan. Rompi hitam. Tulisan kuning BNN di dada. Senjata laras pendek setengah diangkat.

Dua bodyguard Arman reflek. Tangan masuk ke balik jas.

“Turunkan!.”

Teriak salah satu petugas.

Satu bodyguard angkat tangan pelan.

Yang satu lagi lari ke jendela. Belum sampai. Ditendang dari luar. Dia jatuh. Meringis.

Arman.

Dia cuma minum sisa whiskey di gelasnya. Teguk terakhir. Es batunya krek di mulutnya.

Wajahnya tenang. Terlalu tenang.

Profesional.

Akhirnya. Katanya, “Lama amat.”

Petugas maju. Borgol di tangan.

Arman Wibowo. “Anda ditahan atas dugaan penyalahgunaan narkotika. Pencucian uang. Dan pemerasan.”

Arman diem. Dia ulurkan tangannya. Pas borgol mengunci, dia nengok ke arahku.

Senyum. Tipis.

Tatapannya ngomong. Cuma aku yang ngerti.

“Kotaknya. Jangan sampai ke mereka.”

Terus dia digiring keluar. Punggung tegak.

Bianca langsung ambruk dari kursi. Jatuh ke lantai.

“Aku dipaksa. Aku punya bukti. Di HP ku. Di laptop. Tolong.”

Teddy langsung angkat dua tangan.

“Saya korban Pak. Saya dipaksa. Saya ada keluarga.’

Deni nangis. Beneran nangis.

“Saya cuma butuh uang. Buat bayar utang.”

Ivan diem. Wajahnya udah pasrah. Kayak orang yang tau dia bakal mati besok.

Petugas nengok ke kami berempat.

“Kalian!.”

“Ikut kami. Untuk keterangan.”

Aku gak gerak.

Kotak itu masih di tengah meja.

HP ku getar lagi di saku.

Kotak itu barang bukti negara. Jangan sampai jatuh ke tangan lain. BNN

Di luar sirine meraung. Merah biru mantulin dinding.

Di dalam Bianca meratap.

Di meja, kotak itu kayak berdenyut. Punya jantung sendiri.

Teddy ngelirik aku. Bibirnya komat kamit. Pelan.

“Jangan tolol!.”

Deni nunduk. Bisik ke meja.

“Ambil. Kabur. Kita bagi. 15M cukup buat kita semua.”

Ivan cuma geleng. Keringat jatuh dari dagunya ke lantai.

_Tik_

Tanganku sudah di atas kotak.

Dingin. Berat. Kayak megang nyawa 20 orang. Lalu kuambil secepatnya saat semua lengah. Hanya insting, tak tahu apa isinya. Tapi aku merasa kotak ini penting.

Dan di luar jendela. Di kerumunan orang yang ditahan polisi.

Ada Citra.

Aku lihat dia sekilas. Jaket hitam. Rambut dikuncir.

Dia nengok ke atas. Ke lantai 2.

Matanya ketemu mataku.

Tak percaya. Kecewa. Hancur.

Aku seketika menunduk. Malu.

Karena tatapan itu bertanya satu hal.

“Mengapa”

Sekali lagi dia nengok. Aku menoleh.

Dia gak teriak. Dia gak nangis.

Dia cuma ngangkat dagu. Dikit.

Seolah bilang.

Pilih.

Pilih aku. Atau pilih kotak itu.

Pilih jadi manusia. Atau jadi tikus selamanya.

---

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 90

    UJIAN DARI CALON MERTUAIbu Rohman menutup mulut.Devi melanjutkan, air matanya jatuh ke bambu."Pak, dari kecil Bapak ajari Devi, jangan lihat orang dari masa lalunya, lihat dari sekarangnya dia sholat atau tidak. Macho sekarang sholat, Pak. Di warung ini, dia yang bangun paling pagi, ambil wudhu pakai air dingin, sholat subuh di pojok warung itu. Devi lihat sendiri.""Devi, kamu dibutakan cinta," potong Pak Rohman."Bukan, Pak. Devi yang dulu dibutakan malu. Devi malu punya pacar montir. Tapi waktu bengkel Macho dilempar uang 30 juta sama Vania, waktu warga usir dia, dia tidak lari. Dia berdiri di depan warga dan bilang, iya saya gigolo. Itu jujur, Pak. Laki-laki mana di Cianjur yang berani jujur aibnya di depan umum?"Warung itu bergetar.Franz yang duduk di pojok, memeluk Kirana yang juga menangis. Karena Kirana tahu, setelah ini giliran dia dan Franz.Arman akhirnya bicara. Pelan."Pak Rohman, saya Arman. Saya bukan ustadz. Saya mantan pejabat PUPR yang dipecat tidak hormat. Saya

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 89

    LAMARAN YANG DITOLAK WARGAPagi setelah makan nasi liwet itu, warung Ine tidak buka.Pintu bambu ditutup setengah. Di papan tulis kecil yang biasanya bertuliskan Ayam Goreng 12rb, Kopi Hitam 5rb, Ine menulis dengan kapur:TUTUP. ADA LAMARAN.Warga Cianjur yang lewat, berhenti. Membaca. Lalu berbisik."Lamaran siapa?""Si Macho itu katanya mau ngelamar si Devi.""Devi anaknya Pak Ustadz Rohman? Yang jilbabnya panjang itu?""Ya Allah. Jangan."Jam delapan pagi, sebuah angkot berhenti di depan warung. Turun tiga orang.Pak Rohman. Ibu Rohman. Dan Devi.Pak Rohman tidak memakai baju koko. Ia memakai kemeja batik yang rapi. Tapi wajahnya keras. Ibu Rohman menggandeng Devi erat, seperti takut Devi lari.Di dalam warung, semua sudah siap. Bukan siap pesta. Siap sidang.Arman duduk di bale tengah, memakai kemeja putih bersih yang baru dibeli Ine semalam di pasar. Tato naga di lehernya ia tutup dengan plester. Di sebelahnya, Macho. Macho memakai baju batik pinjaman Franz, kebesaran di bahu. Ra

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 88

    BENGKEL YANG DIBAKAR OLEH AIBMalam setelah Porsche putih Vania penyok itu pergi, warung Ine tidak langsung tenang.Justru malam itulah Arman tidak bisa tidur.Ia duduk di bale bambu sendirian, memegang foto lama yang diberikan Vania. Foto Mirna, adik angkarnya, yang meninggal tahun lalu. Di foto itu Mirna masih muda, masih memakai seragam pegawai negeri sipil Kementerian PUPR. Di samping Mirna, Arman yang masih gagah dengan kemeja putih dan dasi, belum ada tato naga di lehernya.Itu foto ahun sebelum semuanya hancur.Arman ingat betul tahun itu. Tahun di mana ia masih menjadi staf penting di Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR. Di siang hari ia rapat proyek jalan tol. Di malam hari ia menjadi Godfather Arman, yang menguasai lendir dan narkoba di Blok M, Senopati, dan jaringan pub kelas atas Jakarta.Dua kehidupan yang ia jalani dengan rapi. Sampai Bianca, germo kepercayaan Arman, melakukan kesalahan besar.Bianca adalah induk semang Macho dan Franz.Macho bukan anak pung

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 87

    Vania berdiri, masih senyum. Dia buka tas Hermes-nya, keluarkan tiga gepok uang, 100 ribuan masih diikat karet bank, lempar ke bale bambu. Uang itu jatuh, berhamburan."Ini 30 juta cash. Buat kamu. Ambil. Temenin aku siang ini aja."Semua diam melihat uang itu.Arman berdiri, kaki diplesternya sakit, tapi dia jalan ke depan. Dia pungut uang itu satu per satu, dengan tangan gemetar, lalu kembalikan ke tas Vania."Maaf, Mbak," kata Arman, sama seperti kemarin, jadi bapak yang mau menyatukan keluarga. "Anak saya tidak dijual."Vania kaget melihat Arman. "Bapak siapa?""Bapaknya," kata Arman.Vania mendengus, ambil tasnya, keluar. Tapi sebelum masuk Porsche, dia teriak dari depan."Kalian pikir cuma aku? Grup Rani isinya 80 orang! Semua sudah lihat foto kalian! Mereka semua OTW Cianjur hari ini! Kita lihat warung kampung ini tahan berapa lama!"Porsche putih itu pergi dengan suara knalpot keras.Belum lima menit, datang lagi. Kali ini Alphard putih lain. Turun dua perempuan, lebih muda, p

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 86

    Sore itu Cianjur seperti ditahan napasnya.Alphard hitam Rani sudah hilang di tikungan, tapi debu halusnya masih menggantung di depan warung Ine. Bau parfum mahal Rani masih tertinggal, bercampur bau gorengan dan kopi.Tidak ada yang bicara.Devi masih memegang tangan Macho. Kuku-kukunya menancap. Bukan manja. Menahan. Takut kalau dilepas, Macho akan ditarik kembali ke Jakarta yang dulu.Kirana masih memegang lengan Franz. Erat sekali sampai buku-buku jarinya putih. Wajahnya merah bukan karena malu lagi, tapi karena marah yang tidak tahu harus dilempar kemana.Ine yang di teras, napasnya pendek-pendek. Tangannya masih di dada. Arman berdiri di sampingnya, kaki diplester itu gemetar karena terlalu lama menahan berat badan, tapi tangannya menggenggam tangan Ine kuat.Yang pertama bersuara adalah Ine."Tutup warung setengah hari," katanya pelan.Arman mengangguk. "Tutup."Macho langsung mengerti. Dia balik badan, menurunkan setengah rolling door yang berderit keras. Bunyi itu memecah sep

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 85

    Jam dua siang. Xenia putih baru masih bau dealer parkir di depan warung Ine yang ramai. Warung makanan masih buka setengah, warung serba ada juga buka, pembeli keluar masuk beli rokok dan galon.Empat orang baru pulang dari Puncak. Macho nyetir, kepala masih diperban, tapi matanya lega habis liburan. Devi di sebelahnya, rambutnya masih agak berantakan kena angin Puncak, pipinya merah dingin, tangannya masih gandeng tangan Macho di bawah dashboard, tidak lepas sejak warung kopi tadi. Di belakang Kirana dan Franz, Kirana sandaran kepalanya ngantuk di bahu Franz, Franz diam, tidak bergerak, biarin Kirana tidur di bahunya, padahal bahunya pegal.Ine dan Arman di teras lihat Xenia putih datang, senyum ceria, bahagia. Cita-citanya menyatukan keluarga mulai terkabul, anak-anak pulang liburan bareng, dua pasang yang lagi kasmaran."Bagaimana liburan?" tanya Ine waktu mereka turun."Seru, Ma," kata Kirana, masih ngantuk, langsung peluk Ine. "Puncaknya dingin."Arman lihat Macho gandeng tangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status