Share

BAB 9

Author: IRSADE
last update publish date: 2026-07-16 03:03:37

Sirine masih meraung-raung. Kerumunan begitu mengganggu.

Tapi di kepala ku lebih berisik.

Dengung.

Kayak ada lebah di dalam batok kepala. Muter kayak tawaf dengan berbagai macam celotehan yang entah apa isinya. Berisik.

Kotak hitam itu sudah bukan di tangan ku lagi.

Tapi telapak tangan ku masih ngerasain beratnya.

Dingin.

Lengket.

Kayak habis memegang mayat. Ada ketakutan dan waspada.

Jari ku gemetar.

Gak berhenti. Bahkan menjalar sampai ke jiwaku.

Aku gigit bibir bawah sampai terasa asin. Darah. Menetes pelan. Tapi aku tak peduli.

" BORGOL! "

Tangan ku di sentak ke belakang.

Sendi bahu bunyi. Krek.

Dingin besi nempel di kulit.

Klang. Jiwaku meronta. Jepretan blitz saling susul menyusul. Silau.

Tanganku ingin berontak. Tetapi…

Ketat.

Terlalu ketat.

Menggigit ke tulang.

" Nama! " Teriak petugas. Ludahnya kena pipi ku.

Aku gak mengelap. Gak berani gerak.

" Macho. " Suara ku serak. Pecah.

" Umur! "

" 20. "

20.

Angka itu mental di kepala.

20 tahun.

Harusnya masih kuliah. Harusnya sambil ngelamar kerja.

Ini malah di foto sama 20 kamera.

Petugas ngelirik. Alisnya naik. " Bocah. "

Terus dia buang muka. Jijik.

_Puihhh_

Di sebelah. Bianca.

Dia diseret. Kakinya nyeret di lantai.

Dress merah marunnya robek.

Sampai kelihatan paha.

Riasannya luntur. Hitam di bawah mata. Kayak mayat.

Tapi bibirnya masih nyengir.

Nyengir ke kamera. Nyengir ke neraka. Nyengir tanpa malu karena sudah terbiasa.

" Lepasin! Aku di paksa! "

Suaranya melengking. Palsu.

Tangan dia nyakar udara. Kuku patah.

Teddy di sebelahku.

Bau pesing.

Dia ngompol. Celananya basah. Netes ke lantai.

Bahunya naik turun. Nangis. Sesekali berusaha mengucek mata dengan nyenderin kepala ke lengan baju yang diangkat.

" Saya korban Pak. Saya punya anak. "

Bohong. Anaknya aja gak pernah dia sebut nama.

Deni.

Dia duduk di lantai.

Gigit ujung kukunya.

_Krek_

Ujung kuku jari telunjuknya putus.

Darahnya menetes. Karena daging ikut sobek. Pelan.

_Tit_ _Tit_ Di lantai marmer.

Dia gak kerasa sakit.

Ivan.

Dia ketawa. Kelihatan mulai stress dan tak peduli.

Pelan.

" Ha... ha... "

Matanya kosong. Udah nyerah.

Kami di giring.

Tangga darurat.

Setiap injakan.

_Ngek_

Besi berkarat di tangan ku ikut getar. Keringat dingin turun dari pelipis.

Masuk ke mata. Perih.

Tapi aku gak bisa ngelap. Tangan di borgol.

Di luar.

Blitz.

Cahaya putih menusuk mata.

" INI DIA! "

" GIGOLO 20 TAHUN! "

" TARIFNYA BERAPA! "

Mikrofon di colok ke muka.

Bau napas wartawan. Bau rokok.

Aku nunduk.

Dagu menempel ke dada.

Tapi tetep.

Wajahku ke rekam.

Muka anak 20 tahun yang sudah busuk. Bahkan lebih busuk dari sampah membusuk.

Terus aku lihat.

Di pojok pagar.

Citra.

Jaket hitamnya basah kuyup.

Nempel di badan.

Rambutnya lepek. Nutupin setengah muka.

Dia gak maju.

Dia gak teriak.

Dia cuma berdiri.

Diam.

Air hujan netes dari dagunya.

Ke tanah.

Mata kami ketemu.

1 detik.

Di mata dia.

Gak ada marah.

Gak ada benci.

Kosong.

Kosongnya kuburan.

Bibirnya gerak.

Pelan.

" Pulanglah. "

Pulang.

Aku gak punya rumah.

Apartemen yang kutinggali juga pasti disegel.

_BRAK_

Pintu mobil di banting.

Gelap.

Sesak.

Bau besi. Bau takut.

---

24 JAM KEMUDIAN. RUANG INTEROGASI.

Lampu neon.

Tik. Tik. Tik.

Setiap kedipan kayak di tusuk di pelipis.

18 jam.

Mulut ku kering.

Lidah menempel ke langit-langit.

Perut ku kempes. Tapi mual. Wajahku berantakan bahkan penampilan sudah seperti gembel yang mau minta makan.

Kursi besi.

Dinginnya masuk ke tulang ekor.

Naik ke punggung. Aku merasa tersiksa dan tak berdaya.

Borgol masih di tangan.

Pergelangan udah lecet.

Merah. Ada darah kering.

Di seberang. Pak Hendra.

Dia ngeluarin rokok.

Tangannya stabil.

Beda sama tangan ku yang gemetar.

_Klik_

Api kecil nyala.

Dia hisap.

Matanya tak lepas dari aku.

Seperti menggorok jiwaku.

" Haus? "

Aku angguk. Sekali.

Gak berani ngomong. Takut suara ku pecah.

Dia dorong gelas.

Tapi jarinya masih nahan.

" Jawab dulu. "

" Enak ya? "

" Di pegang? Di puji? Di bayar? "

Setiap kata dia tusuk.

Pelan. Tapi bagai sembilu berbisa. Nancep ke ulu hati.

Aku menunduk.

Lihat meja. Cuma kelihatan semut yang lagi push-up dan kotornya debu seperti debu dosa yang menelanjangiku.

Lihat pantulan diri ku.

Rambut acak-acakan. Kayak orang gila.

Mata merah. Kapilernya pecah.

Kemeja putih. Ada noda kuning di kerah.

Entah noda apa. Aku gak mau tau.

Tenggorokan ku naik turun.

Menelan ludah. Pahit. Sepahit yang kualami sekarang. Itu masih permulaan. Entah apa selanjutnya. Menunggu.

" Saya dipaksa, Pak. "

Suara ku keluar. Sember.

Pak Hendra ketawa.

" Hah. "

Pendek. Kering.

" Dipaksa. "

Dia lepas gelasnya.

Air tumpah.

Basahin meja.

" Yang maksa siapa? "

" Tuhan? "

" Atau burungmu yang gatel liat duit? "

Kata itu.

Nampol ke muka.

Bahu ku naik. Refleks.

Aku mau marah.

Tapi marah ke siapa?

Ke dia?

Atau ke diri ku sendiri?

Lalu kembali menunduk.

Aku mengepal.

Borgol beradu. Klang.

Sakit. Tapi aku butuh sakit itu.

Biar aku ingat. Aku masih hidup.

" Saya miskin, Pak. "

" Kost nunggak 4 bulan. "

" 3 hari gak makan. "

" Terus 10 juta masuk. "

Pak Hendra nyender. Kursinya bunyi.

" Terus kenapa lanjut? "

" Kenapa nagih lagi? "

Kenapa.

Karena waktu notifikasi itu bunyi.

Tit.

Aku ngerasa berharga.

Untuk pertama kali dalam 20 tahun.

Ada orang yang mau bayar mahal buat aku.

Karena waktu tangan itu menyentuh pundakku.

Aku gak ngerasa sendirian.

Karena aku sampah.

Dan sampah di butuhin juga.

" Saya khilaf. " Bisikku.

Air mata menetes.

Jatuh ke meja.

" Khilaf???. " Pak Hendra matiin rokok.

_Sssss_

Baunya kebakar.

" Detail. Yang pertama. "

" Mawar. "

" Dia siapa? "

" Gak tau. "

" Bohong!!!. "

Aku gigit pipi bagian dalam.

Sampai sakit.

Aku tau.

Istri anggota dewan.

Aku lihat dia di TV.

Lagi salaman sama suaminya.

Tersenyum.

" Di hotel mana? "

" Lupa. "

" LUPA. " Pak Hendra gebrak meja.

_Brak_

Jangan main-main sama saya!!!, kamu masih muda dan amnesia?!!.”

Aku kejut.

Badan ku mundur.

Kursi hampir jatuh.

" Kamu tau gak? "

Dia maju. Wajahnya 20cm dari wajah ku.

Bau rokok. Bau kopi.

" Korban itu gemetar karena takut. "

" Pelaku itu gemetar karena malu ketahuan. "

" Kamu gemetar yang mana, anak 20 tahun? "

Aku gak jawab.

Perut ku bergejolak.

Asam lambung naik ke kerongkongan.

Pahit. Panas.

" Keluarin. " Pak Hendra dorong tong sampah.

Aku muntah.

Muntah kering.

Cuma air liur dan angin.

Karena udah gak ada isinya.

Yang keluar cuma rasa jijik.

Setelah selesai.

Aku sandar.

Dindingnya dingin.

Nempel di pipi ku.

Ngeredain panas.

" Suka gak? "

Suara Pak Hendra pelan.

Berbahaya.

" Waktu itu. "

" Pas dia nyentuh kamu. "

" Pas uang itu di masukin ke saku lu. "

" Enak gak? "

10 detik.

Jantungku bunyi.

_Duk_

_Duk_

_Duk_

" Saya??... "

" Saya benci. "

" Saya benci diri saya. "

" Saya benci tiap detiknya. "

Aku marah pada diri sendiri dan begitu terguncang dengan pengakuan ini. Suaraku mengimbangi gaya Pak Hendra yang suaranya besar dan menggelegar saat bertanya padaku.

Air mata jatuh lagi.

Tapi kali ini gak ada suara.

Hening.

Pintu kebuka.

_Sreeeettt_

Bianca.

Rompi orange.

Tapi dia masih pake lipstik.

Merah. Tebal.

Kayak darah. Dan malu sudah sirna dibalik senyum palsunya.

Dia duduk.

Dekat.

Aku bisa ngerasain panas dari tubuhnya. Tapi beda dengan awal jumpa. Saat bergelora, kini hampa. Jauh beda.

" Hai. " Bisiknya.

Nafas bau permen mint.

Aku menoleh.

Gak mau.

Tapi mataku ke sana juga.

Ada rasa kasihan.

Entah pada dirinya atau pada diriku sendiri.

Entahlah, aku bingung.

" Kita bilang pacaran. "

" Bilang kamu cinta aku. "

" Hakim kasihan. Hukumannya ringan. "

Jarinya nyentuh meja. Dekat jari ku.

Aku tarik tangan ku.

Jauh.

" Tutup mulut!!." Bentak Pak Hendra.

Bianca di seret.

Sebelum keluar dia nengok.

Matanya berkaca-kaca.

Bibirnya bilang.

" Tolong aku, Mach. "

Pintu ketutup.

HP bergetar.

Di meja.

Mata Hendra langsung menusuk tajam menatap wajahku.

NOMOR TIDAK DIKENAL.

" Angkat. "

Tangan ku gemetar ambil.

Jempol ku licin keringat.

Hampir jatuh.

" Halo? "

" Ini wartawan. "

" Umur 20 tahun. Yatim piatu. Gigolo. "

" Mau klarifikasi? "

_Tit_

Aku matiin.

Langsung.

Tangan ku lemas.

HP jatuh ke meja.

Mata Pak Hendra tak luput memandang sedetikpun apa yang kuperbuat tadi.

20 tahun.

Yatim piatu.

Gigolo.

Tiga kata itu.

Di tempel di jidat ku.

Pakai paku.

_Jederrr_

Pak Hendra berdiri.

Merapikan map. Menunduk serius. Selesai dan melangkah pergi menuju pintu.

" 1 jam. "

" Besok klien kedua. "

" Pejabat. "

" Pilih. "

" Saksi. Atau busuk. "

Pintu ketutup.

_Tik_

_Tik_

_Tik_

Aku liat ke atas.

Ke lampu.

Sampai mata ku perih.

" Tuhan. "

" Aku 20 tahun. "

" Aku udah jual badan ku. "

" Aku udah jual nama ku. "

" Kalau Engkau masih mau pungut sampah... "

" Aku di sini. "

Tapi aku tau.

Tuhan juga jijik sama sampah.

Apalagi sampah yang memilih jadi sampah.

Dan itu.

Itu yang paling gelap dari semua.

---

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 90

    UJIAN DARI CALON MERTUAIbu Rohman menutup mulut.Devi melanjutkan, air matanya jatuh ke bambu."Pak, dari kecil Bapak ajari Devi, jangan lihat orang dari masa lalunya, lihat dari sekarangnya dia sholat atau tidak. Macho sekarang sholat, Pak. Di warung ini, dia yang bangun paling pagi, ambil wudhu pakai air dingin, sholat subuh di pojok warung itu. Devi lihat sendiri.""Devi, kamu dibutakan cinta," potong Pak Rohman."Bukan, Pak. Devi yang dulu dibutakan malu. Devi malu punya pacar montir. Tapi waktu bengkel Macho dilempar uang 30 juta sama Vania, waktu warga usir dia, dia tidak lari. Dia berdiri di depan warga dan bilang, iya saya gigolo. Itu jujur, Pak. Laki-laki mana di Cianjur yang berani jujur aibnya di depan umum?"Warung itu bergetar.Franz yang duduk di pojok, memeluk Kirana yang juga menangis. Karena Kirana tahu, setelah ini giliran dia dan Franz.Arman akhirnya bicara. Pelan."Pak Rohman, saya Arman. Saya bukan ustadz. Saya mantan pejabat PUPR yang dipecat tidak hormat. Saya

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 89

    LAMARAN YANG DITOLAK WARGAPagi setelah makan nasi liwet itu, warung Ine tidak buka.Pintu bambu ditutup setengah. Di papan tulis kecil yang biasanya bertuliskan Ayam Goreng 12rb, Kopi Hitam 5rb, Ine menulis dengan kapur:TUTUP. ADA LAMARAN.Warga Cianjur yang lewat, berhenti. Membaca. Lalu berbisik."Lamaran siapa?""Si Macho itu katanya mau ngelamar si Devi.""Devi anaknya Pak Ustadz Rohman? Yang jilbabnya panjang itu?""Ya Allah. Jangan."Jam delapan pagi, sebuah angkot berhenti di depan warung. Turun tiga orang.Pak Rohman. Ibu Rohman. Dan Devi.Pak Rohman tidak memakai baju koko. Ia memakai kemeja batik yang rapi. Tapi wajahnya keras. Ibu Rohman menggandeng Devi erat, seperti takut Devi lari.Di dalam warung, semua sudah siap. Bukan siap pesta. Siap sidang.Arman duduk di bale tengah, memakai kemeja putih bersih yang baru dibeli Ine semalam di pasar. Tato naga di lehernya ia tutup dengan plester. Di sebelahnya, Macho. Macho memakai baju batik pinjaman Franz, kebesaran di bahu. Ra

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 88

    BENGKEL YANG DIBAKAR OLEH AIBMalam setelah Porsche putih Vania penyok itu pergi, warung Ine tidak langsung tenang.Justru malam itulah Arman tidak bisa tidur.Ia duduk di bale bambu sendirian, memegang foto lama yang diberikan Vania. Foto Mirna, adik angkarnya, yang meninggal tahun lalu. Di foto itu Mirna masih muda, masih memakai seragam pegawai negeri sipil Kementerian PUPR. Di samping Mirna, Arman yang masih gagah dengan kemeja putih dan dasi, belum ada tato naga di lehernya.Itu foto ahun sebelum semuanya hancur.Arman ingat betul tahun itu. Tahun di mana ia masih menjadi staf penting di Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR. Di siang hari ia rapat proyek jalan tol. Di malam hari ia menjadi Godfather Arman, yang menguasai lendir dan narkoba di Blok M, Senopati, dan jaringan pub kelas atas Jakarta.Dua kehidupan yang ia jalani dengan rapi. Sampai Bianca, germo kepercayaan Arman, melakukan kesalahan besar.Bianca adalah induk semang Macho dan Franz.Macho bukan anak pung

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 87

    Vania berdiri, masih senyum. Dia buka tas Hermes-nya, keluarkan tiga gepok uang, 100 ribuan masih diikat karet bank, lempar ke bale bambu. Uang itu jatuh, berhamburan."Ini 30 juta cash. Buat kamu. Ambil. Temenin aku siang ini aja."Semua diam melihat uang itu.Arman berdiri, kaki diplesternya sakit, tapi dia jalan ke depan. Dia pungut uang itu satu per satu, dengan tangan gemetar, lalu kembalikan ke tas Vania."Maaf, Mbak," kata Arman, sama seperti kemarin, jadi bapak yang mau menyatukan keluarga. "Anak saya tidak dijual."Vania kaget melihat Arman. "Bapak siapa?""Bapaknya," kata Arman.Vania mendengus, ambil tasnya, keluar. Tapi sebelum masuk Porsche, dia teriak dari depan."Kalian pikir cuma aku? Grup Rani isinya 80 orang! Semua sudah lihat foto kalian! Mereka semua OTW Cianjur hari ini! Kita lihat warung kampung ini tahan berapa lama!"Porsche putih itu pergi dengan suara knalpot keras.Belum lima menit, datang lagi. Kali ini Alphard putih lain. Turun dua perempuan, lebih muda, p

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 86

    Sore itu Cianjur seperti ditahan napasnya.Alphard hitam Rani sudah hilang di tikungan, tapi debu halusnya masih menggantung di depan warung Ine. Bau parfum mahal Rani masih tertinggal, bercampur bau gorengan dan kopi.Tidak ada yang bicara.Devi masih memegang tangan Macho. Kuku-kukunya menancap. Bukan manja. Menahan. Takut kalau dilepas, Macho akan ditarik kembali ke Jakarta yang dulu.Kirana masih memegang lengan Franz. Erat sekali sampai buku-buku jarinya putih. Wajahnya merah bukan karena malu lagi, tapi karena marah yang tidak tahu harus dilempar kemana.Ine yang di teras, napasnya pendek-pendek. Tangannya masih di dada. Arman berdiri di sampingnya, kaki diplester itu gemetar karena terlalu lama menahan berat badan, tapi tangannya menggenggam tangan Ine kuat.Yang pertama bersuara adalah Ine."Tutup warung setengah hari," katanya pelan.Arman mengangguk. "Tutup."Macho langsung mengerti. Dia balik badan, menurunkan setengah rolling door yang berderit keras. Bunyi itu memecah sep

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 85

    Jam dua siang. Xenia putih baru masih bau dealer parkir di depan warung Ine yang ramai. Warung makanan masih buka setengah, warung serba ada juga buka, pembeli keluar masuk beli rokok dan galon.Empat orang baru pulang dari Puncak. Macho nyetir, kepala masih diperban, tapi matanya lega habis liburan. Devi di sebelahnya, rambutnya masih agak berantakan kena angin Puncak, pipinya merah dingin, tangannya masih gandeng tangan Macho di bawah dashboard, tidak lepas sejak warung kopi tadi. Di belakang Kirana dan Franz, Kirana sandaran kepalanya ngantuk di bahu Franz, Franz diam, tidak bergerak, biarin Kirana tidur di bahunya, padahal bahunya pegal.Ine dan Arman di teras lihat Xenia putih datang, senyum ceria, bahagia. Cita-citanya menyatukan keluarga mulai terkabul, anak-anak pulang liburan bareng, dua pasang yang lagi kasmaran."Bagaimana liburan?" tanya Ine waktu mereka turun."Seru, Ma," kata Kirana, masih ngantuk, langsung peluk Ine. "Puncaknya dingin."Arman lihat Macho gandeng tangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status