LOGINReyhan masih menatap foto yang diberikan Ratna. Gambar itu memperlihatkan seorang perempuan muda berdiri di samping seorang anak kecil. Wajah anak tersebut tidak terlihat jelas karena sebagian foto rusak, sementara wajah perempuan itu tampak buram. Di balik foto tertulis sebuah kalimat yang terus mengganggu pikirannya. Jika kau ingin menemukan anak kedua itu, mulailah dari orang yang selama ini paling ingin kau lepaskan. “Menurutmu, siapa perempuan ini?” tanya Reyhan. Arga yang duduk di sampingnya memperhatikan foto tersebut. “Sulit dipastikan. Kualitas fotonya sudah terlalu buruk.” Bimo mengambil foto itu setelah Reyhan menyerahkannya. “Kita jangan langsung menghubungkan tulisan ini dengan Nara,” ujar Bimo. “Ratna sendiri belum menjelaskan maksudnya. Bisa jadi perempuan dalam foto ini seseorang yang pernah dekat dengan Nara, bukan Nara secara langsung.” Reyhan mengembuskan napas panjang. “Aku tahu. Tapi kenapa nama Nara pernah disebut dalam dokumen yang berkaitan dengan Adri
Pagi itu, Reyhan sudah bersiap meninggalkan hotel. Pertemuan dengan Ratna Pradipta menjadi hal paling penting baginya saat ini. Setelah puluhan tahun menyimpan rahasia, perempuan itu akhirnya bersedia memberikan penjelasan. Namun, ada satu hal yang membuat Reyhan gelisah. Nara juga menerima foto yang sama dengan dirinya. Ia tidak tahu siapa yang mengirimkan foto tersebut, apalagi alasan orang itu mulai menyeret Nara ke dalam persoalan keluarga Wiratama. “Mobil sudah siap, Tuan,” ujar Arga setelah masuk ke kamar. Reyhan memasukkan dokumen ke dalam tas. “Bimo sudah dihubungi?” “Sudah. Beliau akan menyusul dan mengawasi dari jarak tertentu. Sesuai permintaan Ratna, kita tidak membawa terlalu banyak orang.” Reyhan mengangguk. “Bagus. Aku tidak ingin pertemuan ini terganggu.” Sebelum berangkat, ia sempat membuka ponselnya. Tidak ada pesan dari Nara. Ia sebenarnya ingin menanyakan foto yang diterima perempuan itu, tetapi mengurungkan niatnya. Nara sudah meminta agar
Reyhan masih berada di Bandung ketika malam semakin larut. Setelah percakapannya dengan Victor, pikirannya justru semakin dipenuhi pertanyaan. Lestari Pradipta pernah menerima sebuah kotak dari Adrian, tetapi benda itu sudah berpindah tangan sebelum Daniel sempat mengetahui isinya. Siapa orang yang mengambil kotak tersebut? Dan mengapa identitas anak kedua begitu penting hingga harus disembunyikan selama puluhan tahun? “Pak Reyhan, sebaiknya kita kembali ke hotel terlebih dahulu,” ujar Arga. “Besok kita bisa menemui Daniel untuk memeriksa catatan yang dia simpan.” Reyhan mengangguk. “Hubungi Bimo. Minta dia mencari identitas orang yang pernah mengambil kotak dari Daniel.” “Baik, Tuan.” Mereka kemudian meninggalkan kawasan permukiman itu. Namun, sebelum masuk ke mobil, Reyhan sempat menoleh ke arah rumah tua tempat Lestari pernah tinggal. Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seolah-olah ia semakin dekat dengan sesuatu yang selama ini sengaja disembunyikan darinya. Keesokan
Pagi itu, Reyhan sudah berada di ruang kerjanya sejak pukul tujuh. Di atas meja terdapat beberapa dokumen yang berkaitan dengan Lestari Pradipta. Nama perempuan itu terus muncul dalam catatan lama keluarga Wiratama, tetapi tidak ada informasi jelas mengenai keberadaannya sekarang. Reyhan membaca kembali pesan anonim yang diterimanya semalam. Jangan mencari Ratna sebelum mengetahui siapa Lestari Pradipta. Perempuan itu menyimpan rahasia yang bahkan Victor tidak berani ungkapkan. “Arga!” Tidak lama kemudian, Arga masuk ke ruangan. “Ya, Tuan?” “Bagaimana hasil pencarianmu?” “Saya sudah menghubungi Pak Bimo. Beliau menemukan sebuah alamat lama milik Lestari di Bandung. Namun, alamat tersebut sudah beberapa kali berganti penghuni.” “Apakah ada informasi tentang keluarganya?” “Ada seorang kerabat yang pernah tinggal di sana. Namanya tidak tercatat lengkap, tetapi kemungkinan masih memiliki hubungan dengan Ratna Pradipta.” Reyhan menutup dokumen. “Kita berangkat ke Band
Reyhan masih memikirkan pertemuannya dengan Victor Mahendra. Pria itu telah memberikan banyak petunjuk, tetapi belum satu pun yang benar-benar menjawab pertanyaan tentang anak kedua keluarga Wiratama. Di ruang kerjanya, Reyhan kembali membuka surat peninggalan Adrian. Ia membaca setiap kalimat dengan teliti, berharap menemukan petunjuk yang sebelumnya terlewatkan. Namun, matanya kembali berhenti pada satu bagian. Jangan biarkan anak kedua itu kehilangan haknya untuk mengetahui asal-usulnya. Jika suatu hari kebenaran terbuka, pastikan dia memiliki kesempatan menentukan hidupnya sendiri. Reyhan mengembuskan napas panjang. “Kenapa Paman tidak pernah menceritakan semuanya?” gumamnya. Pintu ruang kerja terbuka. Arga masuk membawa sebuah map yang baru saja diterimanya dari Bimo. “Tuan, Pak Bimo mengirimkan dokumen tambahan.” Reyhan menerima map tersebut. “Apa isinya?” “Salinan catatan lama yang berkaitan dengan Victor Mahendra dan Adrian.” Reyhan segera membuka map. Di
Reyhan masih memandangi layar ponselnya setelah sambungan telepon terputus. Kalimat Victor Mahendra terus terngiang di kepalanya. Anak kedua yang kamu cari ternyata tidak pernah benar-benar hilang dari keluarga Wiratama. Apa maksud pria itu? Reyhan menurunkan ponselnya, kemudian menatap Arga yang duduk di seberang meja. Sopir sekaligus orang yang kini membantunya mengungkap rahasia keluarganya itu sejak tadi memperhatikan perubahan ekspresi sang majikan. “Siapa yang menelepon, Tuan?” “Victor Mahendra.” Arga langsung menegakkan punggung. “Orang yang membayar biaya pengobatan Adrian?” Reyhan mengangguk. “Dia mengaku tahu keberadaan anak kedua yang selama ini kita cari.” “Apakah dia menyebutkan siapa anak itu?” “Tidak. Dia justru melarangku mencari Ratna sebelum bertemu dengannya.” Arga terdiam sejenak. “Menurut saya, kita jangan langsung mempercayainya.” “Aku juga berpikir begitu.” Reyhan kembali membuka amplop berisi surat peninggalan Adrian. Ia membaca ulang be







