แชร์

bab 6 Batas yang mulai runtuh

ผู้เขียน: Ria_rkive
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-06 10:51:22

Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Hujan yang sejak sore mengguyur kota akhirnya berhenti, meninggalkan aroma tanah basah yang menyusup hingga ke dalam rumah utama keluarga Wiratama. Namun,, ketenangan itu tidak mampu menenangkan hati Nara.

Wanita itu berdiri di balkon kamarnya dengan kedua tangan memeluk tubuh sendiri. Tatapannya kosong menembus gelap malam. Sudah beberapa hari sejak dokter mengatakan bahwa kondisi kesehatannya menurun akibat stres yang berkepanjangan.

Ia tidak terkejut, justru ia heran bagaimana tubuhnya bisa bertahan selama ini. Tiga tahun hidup dalam pernikahan yang dingin, tiga tahun berpura-pura bahagia, tiga tahun menahan pertanyaan yang sama dari keluarga besar Wiratama.

"Kapan punya anak?"

Kalimat sederhana yang terdengar biasa bagi orang lain, tetapi selalu terasa seperti pisau yang perlahan mengiris harga dirinya. Nara mengembuskan napas panjang, di belakangnya, kamar yang luas dan mewah terasa kosong. Begitu juga hidupnya.

Pintu kamar terbuka, Nara menoleh. Reyhan masuk, pria itu baru pulang dari kantor. Setelan jas mahal masih melekat di tubuhnya, tetapi wajahnya terlihat jauh lebih lelah dibanding biasanya.

Mereka saling memandang beberapa detik, tidak ada senyum, tidak ada sapaan hangat. Seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.

"Aku dengar kamu tidak makan siang."

Suara Reyhan memecah keheningan, Nara sedikit terkejut.

"Kamu memperhatikannya?"

"Aku mendapat laporan dari pelayan."

Tentu saja, bukan karena peduli, karena laporan. Jawaban itu membuat Nara tersenyum pahit.

"Aku tidak lapar."

"Kamu harus makan."

"Aku baik-baik saja."

"Kamu tidak baik-baik saja."

Untuk pertama kalinya nada suara Reyhan terdengar lebih tegas. Nara mengangkat kepala, mata mereka bertemu. Ada sesuatu yang berbeda malam ini zesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Namun, sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Reyhan sudah berbalik menuju ruang kerja kecil di dalam kamar dan ercakapan kembali berakhir seperti biasa, dan sekali lagi Nara merasa sendirian.

***

Di sisi lain rumah, Arga baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia sedang memeriksa mobil yang akan digunakan Reyhan untuk perjalanan bisnis keesokan hari. Namun, pikirannya sama sekali tidak fokus. Sudah beberapa hari ini ia berusaha menghindari Nara, menghindari percakapan, menghindari tatapan, menghindari semua hal yang bisa membuat perasaannya semakin rumit.

Akan tetapi semakin ia menjauh, semakin sulit mengendalikan pikirannya, karena yang terus muncul bukan hanya wajah Nara. Melainkan kesedihan wanita itu, kesepian yang selalu ia sembunyikan di balik senyuman.

"Arga."

Suara seseorang membuatnya tersadar dan ia menoleh. Ternyata itu Bu Rina, salah satu pelayan senior di rumah megah itu.

"Ya, Bu?"

"Nyonya belum makan malam."

Arga mengernyit.

"Lalu?"

"Saya dan pelayan lain sudah membujuk beliau."

"Tetapi beliau tetap menolak."

Arga terdiam seharusnya itu bukan urusannya. Namun, entah kenapa dadanya terasa tidak nyaman.

"Kalau begitu laporkan saja ke Tuan Reyhan."

"Sudah."

"Lalu?"

Bu Rina menghela napas.

"Tuan sedang sibuk."

Arga menunduk.

Sial.

Ia tidak suka mendengar kabar itu, tidak suka membayangkan Nara kembali mengurung diri dan mengabaikan kesehatannya, tetapi ia juga sadar dirinya tidak memiliki hak untuk ikut campur. Sama sekali tidak punya hak.

Sekitar satu jam kemudian, Arga sedang berjalan melewati taman belakang ketika langkahnya terhenti. Seseorang sedang duduk sendirian di gazebo, Nara. dia tampak duduk sambil memeluk lututnya dan terlihat menatap kolam yang memantulkan cahaya lampu taman. Entah sejak kapan ia berada di sana, Arga ragu. Ia seharusnya pergi, tetapi kakinya justru melangkah mendekat.

"Nyonya."

Nara menoleh, ia sdikit terkejut.

"Ohh... Arga."

"Udara malam cukup dingin, nyonya bisa demam," ucap Arga.

Nara tersenyum tipis.

"Aku hanya ingin mencari ketenangan."

Arga mengangguk, lalu berdiri diam. Tidak tahu harus berkata apa.

"Apa aku terlihat menyedihkan?"

Pertanyaan itu membuat Arga mengernyit.

"Tidak."

"Bohong."

Nara tertawa kecil.

"Terkadang aku merasa hidupku sangat lucu. Aku punya semua yang diinginkan banyak orang, rumah besar, harta, status sosial yang tinggi, tetapi aku bahkan tidak tahu bagaimana rasanya dicintai oleh suamiku sendiri," ucapnya sambil menatap dalam kolam.

Kalimat itu terdengar begitu pelan, tetapi cukup membuat hati Arga terasa nyeri karena ia tahu itu bukan keluhan sesaat. Melainkan luka yang sudah dipendam bertahun-tahun.

"Nyonya..."

"Kamu tahu sesuatu yang lucu?"

Nara memotong.

"Aku bahkan mulai lupa kapan terakhir kali kami berbicara sebagai pasangan."

Arga menggenggam tangannya sendiri, ia tidak seharusnya berada di sini. Tidak seharusnya mendengarkan semua ini, karena semakin ia mengenal Nara, semakin sulit menjaga batas yang sudah ditetapkan.

"Kamu orang yang baik, Arga."

Ucapan itu membuatnya terdiam, Nara menoleh kepadanya. Arga tersenyum tipis.

"Saya tidak sebaik itu, Nyonya."

"Menurutku iya."

Mata mereka bertemu dan untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Tidak ada suara, tidak ada orang lain, hanya mereka berdua. Sampai akhirnya Arga memalingkan wajah lebih dulu, karena ia takut. Takut jika terlalu lama menatap wanita itu, takut jika sesuatu yang selama ini berusaha ia tekan akhirnya terlihat jelas.

Dari jendela ruang kerja di lantai dua, Reyhan eseorang memperhatikan mereka. Wajahnya tetap datar, tetapi kedua tangannya mengepal kuat. Ia tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, tetapi ia bisa melihat cara Nara tersenyum kepada Arga. Senyuman yang sudah lama tidak pernah ia lihat, dan anehnya pemandangan itu membuat dadanya terasa sesak.

Reyhan membenci perasaan itu, karena sejak awal semua ini adalah rencananya. Ia sendiri yang melibatkan Arga, ia sendiri yang membuka jalan. Namun, sekarang ketika melihat kedekatan yang mulai terbentuk di antara mereka, sesuatu di dalam dirinya memberontak. Sesuatu yang tidak pernah ia akui selama ini. Rasa memiliki ttau mungkin cinta.

Keesokan harinya. Reyhan harus menghadiri rapat penting di luar kota, biasanya perjalanan seperti ini tidak berarti apa-apa. Namun, kali ini berbeda, karena sepanjang perjalanan pikirannya terus kembali kepada Nara dan Arga.

Ia membenci kenyataan itu, membenci dirinya sendiri. Tiga tahun ia menjaga jarak dari Nara tiga tahun ia meyakinkan diri bahwa semua itu demi kebaikan wanita tersebut.

Namun, kini ia mulai bertanya-tanya. Apakah benar begitu? Atau sebenarnya ia hanya pengecut Seseorang yang terlalu takut menghadapi kenyataan, terlalu takut mengakui kelemahannya, terlalu takut kehilangan wanita yang diam-diam dicintainya.

Sementara itu, di rumah utama. Nara menerima telepon dari sahabat lamanya, Maya, sydah lama mereka tidak bertemu. Maya adalah satu-satunya orang yang mengetahui sebagian kecil kesedihan Nara.

"Aku akan datang sore ini."

"Benarkah?"

"Tentu."

Maya tertawa.

"Aku tidak akan membiarkanmu mengurung diri terus."

Untuk pertama kalinya hari itu, Nara tersenyum tulus.

Sore menjelang, Maya datang dan menghabiskan waktu bersama Nara di taman belakang. Mereka berbincang lama, banyak yang mereka bicarakan terutama tentang kehidupan mereka saat ini. Sampai akhirnya Maya menghela napas.

"Nara."

"Hm?"

"Kamu masih mencintai Reyhan?"

Pertanyaan itu membuat Nara terdiam sejenak.

"Aku tidak tahu."

Jawaban itu keluar pelan.

"Aku pernah mencintainya, sangat mencintainya, tetapi sekarang... aku lelah."

Maya menatap sahabatnya dengan prihatin.

"Kalau begitu kenapa bertahan?"

Nara tertawa kecil, terdengar getir.

"Karena terkadang pergi tidak semudah yang dibayangkan."

Maya kembali menghela nafas, tetapi dia tidak mau terlalu ikut campur dalam kehidupan asmara sahabatanya itu.

Malam tiba, dan tanpa disadari siapa pun, garis yang memisahkan ketiga orang itu mulai semakin tipis. Nara yang perlahan kehilangan harapan terhadap pernikahannya, Arga yang berusaha melawan perasaan yang tumbuh tanpa izin dan Reyhan yang mulai menyadari bahwa ia mungkin sedang kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Sesuatu yang selama ini selalu ada di sisinya. Akan tetapi tidak pernah benar-benar ia jaga.

Mereka belum tahu, bahwa badai yang sesungguhnya belum dimulai, karena sebuah rahasia besar yang selama ini disembunyikan Reyhan perlahan mulai mendekati saat untuk terungkap dan ketika rahasia itu terbuka, tidak ada satu pun dari mereka yang akan bisa kembali menjadi orang yang sama.

******

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 15 Gudang di pelabuhan

    Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Arga masih memandangi alamat yang tertera di layar ponselnya. Pesan misterius itu belum juga keluar dari pikirannya. Kalau ingin tahu siapa dalang semuanya, datanglah sendirian.Ia tahu itu bisa saja jebakan. Namun, jika benar ada seseorang yang mengetahui penyebab semua teror yang menimpa keluarga Wiratama, kesempatan itu terlalu berharga untuk diabaikan. Setelah berpikir beberapa menit, Arga akhirnya mengambil keputusan.Ia tidak akan datang tanpa persiapan. Diam-diam ia mengirimkan lokasi gudang itu kepada sahabat lamanya, Bimo, seorang polisi yang pernah tumbuh bersamanya di kampung. Pesan yang dikirimnya singkat."Kalau dalam satu jam aku tidak menghubungimu, tolong datangi lokasi ini."Beberapa detik kemudian, balasan masuk."Hati-hati. Jangan gegabah."Arga menghela napas lega, setidaknya kini ada seseorang yang mengetahui ke mana ia pergi. Gudang tua di kawasan pelabuhan tampak gelap dan sepi. Lampu-lampu di sekitar pelabuhan hanya

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 14 Luka yang disembunyikan

    Pagi itu, suasana di rumah keluarga Wiratama jauh dari kata tenang. Sejak insiden pengejaran semalam, jumlah petugas keamanan ditambah. Beberapa mobil patroli tampak berjaga di sekitar gerbang utama, sementara setiap orang yang keluar masuk rumah diperiksa dengan ketat.Namun, semua pengamanan itu tidak mampu menghilangkan kegelisahan di hati Reyhan. Ia berdiri di depan jendela ruang kerjanya, memandang halaman rumah yang mulai diterpa cahaya matahari. Di atas meja tergeletak foto Damar, mantan kepala keamanan ayahnya. Nama yang selama belasan tahun menghilang tanpa jejak, kini kembali muncul bersamaan dengan rentetan ancaman terhadap keluarganya. Ketukan pelan terdengar. "Masuk." Arga memasuki ruangan. "Tuan, hasil penyelidikan sementara sudah keluar." Reyhan berbalik. "Ceritakan." "Tim keamanan berhasil menemukan tempat mobil yang mengejar kami semalam." "Lalu?" "Mobil itu ternyata kendaraan curian." Reyhan tidak terkejut, ia memang sudah menduga lawannya bekerja dengan s

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 13 Kejaran di tengah hujan

    Suara mesin mobil terdengar semakin keras, Arga menggenggam kemudi erat. Matanya terus bergantian memperhatikan jalan di depan dan kaca spion di atas kepalanya. Mobil hitam itu masih membuntuti, jaraknya tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak pernah tertinggal."Nyonya, tetap tenang," ucap Arga.Nara mengangguk pelan, meski jantungnya berdetak sangat cepat."Menurutmu mereka siapa?" tanya Nara dalam kecemasannya."Saya juga belum tahu, Nyonya. Siapa mereka," jawab Arga."Berhati-hatilah," pinta Nara."Baik, Nyonya," jawab Arga. Arga tetqp fokus pada laju mobilnya, dan ia juga tidak ingin berspekulasi siapa yang sedang membuntuti mereka. Saat ini yang terpenting adalah memastikan Nara tetap selamat.Hujan turun semakin deras, jalanan mulai dipenuhi kendaraan yang melambat karena jarak pandang berkurang. Arga memanfaatkan keadaan itu, ia membelok ke jalan alternatif yang lebih sempit. Mobil hitam di belakang ikut berbelok."Mereka masih mengikuti kita." Suara Nara terdengar pelan.Arga

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 12 Musuh dibalik bayangan

    Hujan turun sejak dini hari. Tetesannya menghantam kaca ruang kerja Reyhan, menciptakan irama yang terdengar menyesakkan. Semalaman ia tidak memejamkan mata. Berkas-berkas yang menumpuk di atas meja tidak satu pun berhasil menarik perhatiannya. Pikirannya hanya dipenuhi dua hal, Nara dan ancaman yang kini mengintai keluarga Wiratama. Ponselnya berdering. "Halo," ucap Reyhan. "Tuan, kami sudah melacak pengirim amplop ke media." "Bagaimana hasilnya?" "Pelaku menggunakan kurir lepas. Semua jejak pembayaran dilakukan melalui rekening palsu." Reyhan memejamkan mata sejenak. "Lanjutkan penyelidikan, cari siapa pun yang pernah memiliki akses ke dokumen kontrak." "Baik, Tuan." Panggilan berakhir, belum sempat ia menarik napas, pintu ruang kerja diketuk. Arga masuk dengan wajah serius. "Tuan." "Ada perkembangan?" tanya Reyhan Arga menganggukkan kepalanya. "Saya sudah memeriksa rekaman CCTV di sekitar kantor pengacara." "Lalu?" "Motor yang melempar amplop ternyata menggunakan p

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 11 Permainan dimulai

    Angin pagi berembus pelan ketika Nara masih memandangi foto yang ada di tangannya. Jemarinya bergetar hebat, sementara tulisan merah di balik foto itu seolah berubah menjadi ancaman yang terus menghantui pikirannya."Rahasia kalian tidak akan tersimpan lama."Arga berdiri di sampingnya dengan wajah tegang. Pandangannya menyapu jalanan di sekitar kantor pengacara, berharap dapat menemukan pengendara motor yang tadi melemparkan amplop itu. Namun, jalan sudah kembali ramai. Pelaku menghilang tanpa jejak."Nyonya, sebaiknya kita masuk dulu," ucap Arga pelan.Nara mengangguk lemah. Tanpa berkata apa-apa, ia menyerahkan foto itu kepada Arga."Jangan sampai hilang. Ini mungkin bisa menjadi bukti," ucap Nara.Arga menerima foto tersebut dengan hati-hati. Ia menyimpannya di dalam map dokumen, lalu berjalan mengikuti Nara memasuki gedung kantor pengacara.Di ruang kerja pengacara, suasana berlangsung serius. Pria paruh baya bernama Dimas itu membaca berkas gugatan cerai sambil sesekali memperha

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 10 Rahasia yang bocor

    Ponsel di tangan Arga masih menampilkan nomor tak dikenal yang baru saja menghubunginya, kalimat singkat itu terus terngiang di kepalanya. "Seseorang yang tahu rahasia besarmu."Arga mencoba menelepon kembali, tetapi nomor tersebut sudah tidak aktif. "Siapa dia sebenarnya?" gumamnya pelan.Perasaannya semakin tidak tenang. Sejak kontrak itu terbongkar dan Nara meminta cerai, ia berharap semua akan berakhir. Nyatanya, masalah justru semakin besar. Ia memutuskan keluar dari mobil dan memasuki rumah utama. Malam sudah larut. Rumah megah itu sunyi, tetapi suasana di dalamnya terasa begitu menyesakkan.Di ruang kerja, Reyhan masih duduk seorang diri. Di hadapannya tergeletak map hitam yang menjadi awal dari semua kekacauan, untuk pertama kalinya sejak mengambil alih Wiratama Group, ia merasa kehilangan kendali. Biasanya semua rencananya berjalan sempurna, tetapi kali ini tidak.Ia tidak pernah membayangkan Nara akan menemukan dokumen itu lebih cepat, ia juga tidak pernah membayangkan wan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status