ホーム / Romansa / PESONA SUPIR PRIBADIKU / bab 5 Jangan Jatuh Cinta

共有

bab 5 Jangan Jatuh Cinta

作者: Ria_rkive
last update 公開日: 2026-07-15 23:26:20

"Jangan pernah jatuh cinta pada istriku."

Kalimat itu terus terngiang di kepala Arga bahkan setelah Reyhan pergi meninggalkannya di halaman belakang rumah, hujan masih turun, tetapi Arga tetap berdiri di tempatnya. Seolah kata-kata itu baru saja menghantam tepat ke bagian terdalam dirinya, karena yang paling membuatnya takut bukan peringatan Reyhan. Melainkan kenyataan bahwa ia tidak bisa menjamin dirinya mampu mematuhinya.

Malam itu Arga tidak bisa tidur, ia berbaring di ranjang sempit kamarnya sambil menatap langit-langit. Pikirannya berputar-putar tanpa henti, kontrak sudah ditandatangani, uang sudah diterima dan operasi ibunya sudah dijadwalkan.

Secara logika, semua masalahnya selesai. Akan tetapi justru sekarang hidupnya terasa semakin rumit, karena setiap kali mengingat Nara, dadanya terasa berbeda dan itu membuatnya takut.

"Jangan bodoh, Arga."

Ia duduk sambil mengusap wajahnya.

"Nara itu istri majikanmu."

Kalimat itu diulangnya berkali-kali, seolah sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun, semakin ia mencoba, semakin jelas bayangan wanita itu muncul. Senyumnya, tatapan matanya dan rasa kesepiannya.

"Sial, kenapa aku terus memikirkannya," gumam Arga, lalu dia menghela nafas keras dan memejamkan matanya serta membuang pikiran tentang Nara sang majikan.

***

Keesokan paginya, Arga mengantar Nara ke sebuah acara amal yang diadakan salah satu yayasan sosial ternama. Seperti biasa, wanita itu tampil anggun dalam balutan gaun sederhana berwarna biru muda, tidak mencolok, tetapi elegan dan tetap membuat siapa pun menoleh. Terrmasuk Arga, untungnya ia segera mengalihkan pandangan.

"Nanti jemput saya jam tiga sore ya," ucap Nara dengan nadanya yang lembut hingga membuat sipendengar meleleh.

"Baik, Nyonya," jawab Arga sedikit menundukkan wajahnya.

Nara tersenyum, lalu ia melangkah masuk ke dalam gedung. Arga terlihat menghela napas panjang, ia harus menjaga jarak mulai sekarang.

Akan tetapi menjaga jarak ternyata tidak semudah yang dibayangkannya. Sore harinya, setelah acara selesai, Nara keluar dari gedung dengan wajah pucat, Arga langsung menyadarinya.

"Nyonya?" sapa Arga yang terlihat khawatir.

Wanita itu mencoba tersenyum.

"Aku tidak apa-apa."

Tetapi langkahnya terlihat tidak stabil.

"Nyonya terlihat sakit," ucap Arga.

"Hanya sedikit pusing," jawab Nara.

Arga mengernyit sambil menatap sang nyonya, lalu Arga membiarkan Nara berjalan menuju mobil yang udah terparkir dan dia mengikuti Nara dari samping, ketika mereka sampai di mobil, Nara bahkan harus memegangi pintu karena kehilangan keseimbangan dan refleks Arga langsung menopang tubuhnya.

"Nyonya!"

Tubuh Nara terasa dingin, wajahnya pucat.

"Kita ke rumah sakit ya," ucap Arga.

"Tidak perlu, kita langsung pulang saja," jawab Nara.

"Tapi, nyonya," ucap Arga yang menunjukkan wajah khawatirnya dan nada suara Arga terdengar lebih tegas dari biasanya.

"Biar saya antar ke rumah sakit," ucapnya lagi.

Nara menatapnya beberapa detik, lalu mengalah.

"Baiklah."

Dan mereka pun pergi ke rumah sakit, di rumah sakit, dokter melakukan pemeriksaan singkat. Sedangkan Arga tampak menunggu di luar ruang konsultasi. Beberapa menit kemudian dokter keluar.

"Anda keluarga pasien?"

Arga langsung berdiri.

"Saya sopirnya," jawab Arga.

Dokter mengangguk.

"Tidak ada masalah serius," ujar si dokter

Dan itu membuat Arga menghela napas lega.

"Itu karena nyonya Nara kelelahan," ucap so dokter

"Bisa jadi, Dok," jawab Arga.

Dokter tersenyum.

"Dan beliau juga terlihat stres."

Entah kenapa jawaban itu tidak mengejutkan, Arga sudah lama melihat bagaimana Nara menjalani hidupnya. Rumah mewah, mobil mewah, semua kemewahan yang diimpikan banyak orang. Akan tetapi tidak ada kebahagiaan di sana.

***

Saat perjalanan pulang, mobil dipenuhi keheningan. Nara duduk di kursi belakang sambil menatap keluar jendela, sedangkan Arga fokus menyetir. Sampai akhirnya suara wanita itu terdengar.

"Arga," ucapnya.

"Iya, Nyonya," jawab Arga sambil melirik kearah kaca yang ada di depannya hingga dia bisa melihat wajah pucat sang nyonya.

"Kamu pernah merasa terjebak?"

Pertanyaan itu membuat Arga terdiam.

"Terjebak bagaimana, Nyonya?" tanya Arga.

"Dalam hidupmu sendiri."

Arga menggenggam kemudi lebih erat, karena pertanyaan itu terasa terlalu dekat dengan kondisinya saat ini.

"Pernah," jawabnya pelan.

Nara tersenyum pahit.

"Aku juga."

Lalu Arga melihat wanita itu melalui kaca spion, tatapannya kosong, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.

"Aku selalu berpikir uang bisa membuat seseorang bahagia. Ternyata tidak," ucapnya dengan senyum tipis.

Mobil kembali sunyi, tetapi kali ini keheningan itu terasa berat, karena Arga bisa merasakan kesedihan yang disembunyikan Nara dan semakin ia memahami wanita itu, semakin sulit ia untuk menjaga jarak.

***

Malam hari, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Reyhan pulang lebih awal. Nara yang sedang membaca buku di ruang keluarga terlihat terkejut.

"Kamu pulang cepat?" tanya Nara.

"Ehm."

Jawaban singkat seperti biasa, tetapi malam ini ada sesuatu yang berbeda. Reyhan tidak langsung pergi ke ruang kerjanya, ia duduk di sofa yang berhadapan dengan Nara. Membuat wanita itu sedikit bingung. Ada jeda beberapa detik, lalu Reyhan berbicara.

"Kamu ke rumah sakit tadi?"

Nara mengangguk.

"Hanya pusing biasa."

"Kamu harus menjaga kesehatanmu."

Nara menatap suaminya itu dan untuk sesaat ia mengira dirinya salah dengar, karena sudah lama sekali Reyhan tidak menunjukkan perhatian sekecil apa pun padanya.

"Aku baik-baik saja."

"Bagus."

Lalu keheningan kembali datang dan seperti biasa Reyhan tidak tahu bagaimana melanjutkan percakapan. Nara menunduk pelan, ada rasa kecewa yang kembali muncul. Beberapa detik perhatian itu ternyata tidak cukup untuk memperbaiki tiga tahun kesepian.

***

Dari lantai dua, Arga yang baru selesai mengantar dokumen melihat pemandangan itu. Reyhan dan Nara duduk bersama layaknya sepasang suami istri yang terlihat normal. Namun, entah kenapa ada sesuatu yang terasa menyakitkan di dadanya. Ia segera memalingkan wajah.

Ini salah, apapun yang mulai tumbuh dalam hatinya adalah kesalahan. Ia harus menghentikannya sebelum terlambat.

Malam semakin larut, di ruang kerjanya, Reyhan sedang menatap layar laptop ketika ponselnya berdering. Panggilan dari dokter pribadinya.

"Halo," ucap Reyhan.

Sejenak tak terdengar suara dari si dokter, lalu dia berbicara dan suara itu terdengar ragu.

"Ada sesuatu yang perlu Anda ketahui, Tuan Reyhan."

"Apa?" tanya Reyhan.

"Hasil pemeriksaan terbaru Nyonya Nara sudah keluar."

Reyhan mengernyitkan dahinya.

"Kondisinya bagaimana?" tanya Reyhan.

Dokter terdiam beberapa detik, lalu mengucapkan kalimat yang membuat Reyhan langsung berdiri dari kursinya.

"Sepertinya Nyonya mengalami gangguan kesehatan yang cukup serius akibat stres berkepanjangan."

Wajah Reyhan langsung berubah, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia terlihat panik dan tanpa disadarinya, rasa bersalah mulai muncul di dalam hati yang selama ini selalu ia tutup rapat.

*****

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 16 Rekaman

    Ruangan itu mendadak sunyi. Reyhan masih menatap layar laptop yang telah berubah gelap. Rekaman yang baru saja mereka lihat hanya berlangsung beberapa menit, tetapi cukup untuk mengguncang keyakinannya terhadap keluarganya.Arga berdiri beberapa langkah di belakangnya."Tuan..."Reyhan tidak menjawab, tangannya masih bertumpu di atas meja. Selama bertahun-tahun, ia percaya bahwa ayahnya adalah sosok yang keras, tetapi tetap menjunjung kehormatan keluarga. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa semua keputusan yang diambil ayahnya bertujuan melindungi perusahaan. Namun, rekaman itu memperlihatkan sisi yang berbeda. Ada sesuatu yang disembunyikan dan mungkin jauh lebih besar daripada dugaan mereka."Putar lagi."Arga menekan tombol dan rekaman vidio itu kembali berjalan. Wajah ayah Reyhan muncul di layar bersama beberapa orang. Suaranya terdengar samar, tetapi kalimat terakhir masih sangat jelas."Kalau Damar mulai bicara, pastikan dia tidak pernah kembali ke perusahaan."Rekaman berhenti, Re

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 15 Gudang di pelabuhan

    Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Arga masih memandangi alamat yang tertera di layar ponselnya. Pesan misterius itu belum juga keluar dari pikirannya. Kalau ingin tahu siapa dalang semuanya, datanglah sendirian.Ia tahu itu bisa saja jebakan. Namun, jika benar ada seseorang yang mengetahui penyebab semua teror yang menimpa keluarga Wiratama, kesempatan itu terlalu berharga untuk diabaikan. Setelah berpikir beberapa menit, Arga akhirnya mengambil keputusan.Ia tidak akan datang tanpa persiapan. Diam-diam ia mengirimkan lokasi gudang itu kepada sahabat lamanya, Bimo, seorang polisi yang pernah tumbuh bersamanya di kampung. Pesan yang dikirimnya singkat."Kalau dalam satu jam aku tidak menghubungimu, tolong datangi lokasi ini."Beberapa detik kemudian, balasan masuk."Hati-hati. Jangan gegabah."Arga menghela napas lega, setidaknya kini ada seseorang yang mengetahui ke mana ia pergi. Gudang tua di kawasan pelabuhan tampak gelap dan sepi. Lampu-lampu di sekitar pelabuhan hanya

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 14 Luka yang disembunyikan

    Pagi itu, suasana di rumah keluarga Wiratama jauh dari kata tenang. Sejak insiden pengejaran semalam, jumlah petugas keamanan ditambah. Beberapa mobil patroli tampak berjaga di sekitar gerbang utama, sementara setiap orang yang keluar masuk rumah diperiksa dengan ketat.Namun, semua pengamanan itu tidak mampu menghilangkan kegelisahan di hati Reyhan. Ia berdiri di depan jendela ruang kerjanya, memandang halaman rumah yang mulai diterpa cahaya matahari. Di atas meja tergeletak foto Damar, mantan kepala keamanan ayahnya. Nama yang selama belasan tahun menghilang tanpa jejak, kini kembali muncul bersamaan dengan rentetan ancaman terhadap keluarganya. Ketukan pelan terdengar. "Masuk." Arga memasuki ruangan. "Tuan, hasil penyelidikan sementara sudah keluar." Reyhan berbalik. "Ceritakan." "Tim keamanan berhasil menemukan tempat mobil yang mengejar kami semalam." "Lalu?" "Mobil itu ternyata kendaraan curian." Reyhan tidak terkejut, ia memang sudah menduga lawannya bekerja dengan s

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 13 Kejaran di tengah hujan

    Suara mesin mobil terdengar semakin keras, Arga menggenggam kemudi erat. Matanya terus bergantian memperhatikan jalan di depan dan kaca spion di atas kepalanya. Mobil hitam itu masih membuntuti, jaraknya tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak pernah tertinggal."Nyonya, tetap tenang," ucap Arga.Nara mengangguk pelan, meski jantungnya berdetak sangat cepat."Menurutmu mereka siapa?" tanya Nara dalam kecemasannya."Saya juga belum tahu, Nyonya. Siapa mereka," jawab Arga."Berhati-hatilah," pinta Nara."Baik, Nyonya," jawab Arga. Arga tetqp fokus pada laju mobilnya, dan ia juga tidak ingin berspekulasi siapa yang sedang membuntuti mereka. Saat ini yang terpenting adalah memastikan Nara tetap selamat.Hujan turun semakin deras, jalanan mulai dipenuhi kendaraan yang melambat karena jarak pandang berkurang. Arga memanfaatkan keadaan itu, ia membelok ke jalan alternatif yang lebih sempit. Mobil hitam di belakang ikut berbelok."Mereka masih mengikuti kita." Suara Nara terdengar pelan.Arga

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 12 Musuh dibalik bayangan

    Hujan turun sejak dini hari. Tetesannya menghantam kaca ruang kerja Reyhan, menciptakan irama yang terdengar menyesakkan. Semalaman ia tidak memejamkan mata. Berkas-berkas yang menumpuk di atas meja tidak satu pun berhasil menarik perhatiannya. Pikirannya hanya dipenuhi dua hal, Nara dan ancaman yang kini mengintai keluarga Wiratama. Ponselnya berdering. "Halo," ucap Reyhan. "Tuan, kami sudah melacak pengirim amplop ke media." "Bagaimana hasilnya?" "Pelaku menggunakan kurir lepas. Semua jejak pembayaran dilakukan melalui rekening palsu." Reyhan memejamkan mata sejenak. "Lanjutkan penyelidikan, cari siapa pun yang pernah memiliki akses ke dokumen kontrak." "Baik, Tuan." Panggilan berakhir, belum sempat ia menarik napas, pintu ruang kerja diketuk. Arga masuk dengan wajah serius. "Tuan." "Ada perkembangan?" tanya Reyhan Arga menganggukkan kepalanya. "Saya sudah memeriksa rekaman CCTV di sekitar kantor pengacara." "Lalu?" "Motor yang melempar amplop ternyata menggunakan p

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 11 Permainan dimulai

    Angin pagi berembus pelan ketika Nara masih memandangi foto yang ada di tangannya. Jemarinya bergetar hebat, sementara tulisan merah di balik foto itu seolah berubah menjadi ancaman yang terus menghantui pikirannya."Rahasia kalian tidak akan tersimpan lama."Arga berdiri di sampingnya dengan wajah tegang. Pandangannya menyapu jalanan di sekitar kantor pengacara, berharap dapat menemukan pengendara motor yang tadi melemparkan amplop itu. Namun, jalan sudah kembali ramai. Pelaku menghilang tanpa jejak."Nyonya, sebaiknya kita masuk dulu," ucap Arga pelan.Nara mengangguk lemah. Tanpa berkata apa-apa, ia menyerahkan foto itu kepada Arga."Jangan sampai hilang. Ini mungkin bisa menjadi bukti," ucap Nara.Arga menerima foto tersebut dengan hati-hati. Ia menyimpannya di dalam map dokumen, lalu berjalan mengikuti Nara memasuki gedung kantor pengacara.Di ruang kerja pengacara, suasana berlangsung serius. Pria paruh baya bernama Dimas itu membaca berkas gugatan cerai sambil sesekali memperha

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status