LOGINElena menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang bergetar karena beban kebenaran yang diungkapkannya. “Setiap perempuan yang memiliki ikatan emosional yang kuat dengan sang wadah cinta, kebencian, kepatuhan, kepemilikan, mereka semua adalah sumber energi. Semakin dalam ikatan itu, semakin besar tenaga yang bisa disedot. Mereka tidak hanya menjadi korban, Erevan. Mereka adalah baterai yang menjaga api itu tetap menyala.”
Darah seakan berhenti mengalir di pembuluhHUKUMAN ARGALaki-laki yang berdiri di hadapan mereka memang masih tampak seperti Arga yang selama ini mereka kenal, tetapi ada sesuatu yang berbeda dari dirinya, sesuatu yang sulit dijelaskan hanya dengan melihat perubahan pada wajah atau sikapnya. Tatapannya terlihat jauh lebih dingin, ekspresinya terasa asing, dan yang paling membuat Rosela merasa tidak nyaman adalah senyum yang perlahan muncul di bibirnya. Senyum itu sama sekali bukan senyum Arga yang dulu. Ada sesuatu yang mengerikan di baliknya, sesuatu yang membuat tubuh Rosela seketika menegang dan tanpa sadar membuatnya menahan napas.Arga menatap mereka berdua secara bergantian tanpa mengatakan apa pun selama beberapa saat, seolah sedang menikmati keterkejutan yang terlihat jelas di wajah mereka. Kemudian, senyum di bibirnya perlahan melebar, berubah menjadi senyum yang begitu aneh dan terasa seperti senyum seseorang yang sudah tidak lagi memiliki keraguan ataupun rasa bersalah dalam d
ArgaElena menatapnya dengan ragu.“Bagaimana caranya kau akan mencegah hal itu terjadi jika kau bahkan tidak bisa menghapus darahmu sendiri?”“Aku akan menghancurkan parfumnya dulu,” jawab Erevan mantap.“Kalau hanya parfumnya yang dihancurkan, belum tentu cukup karena kekuatannya sudah terbagi ke dalam banyak hal,” koreksi Elena dengan lembut, namun jujur.“Kalau begitu, aku akan menghancurkan sumber kekuatannya, apa pun yang terjadi,” ucapnya dengan api yang kembali menyala di matanya.“Elena tahu itu tidak akan mudah dan harganya mungkin sangat mahal,” peringatnya dengan cemas.“Tidak ada yang mudah sejak aku dilahirkan ke dalam keluarga ini,” balas Erevan tegas sambil berjalan menuju meja di sudut ruangan dan mengambil buku tua yang sebelumnya menjadi pusat perhatian mereka berdua.Ia membukanya perlahan dengan hati-hati, menelusuri halaman-halaman tua yang dipenuhi tulisan tangan kuno yang sebagian besar
Kutukan yang Tidak Bisa DihapusElena berjalan perlahan mendekati Erevan yang masih berdiri kaku di depan pintu. Tangannya menyentuh permukaan kayu yang baru saja dihantam dengan amarah yang meledak-ledak itu sebelum ia menghela napas panjang yang terasa begitu berat dan penuh kepahitan.“Tidak semudah itu, anakku. Jalan yang sedang kita hadapi ini jauh lebih rumit daripada yang kau bayangkan.”Erevan menatapnya dengan tekad yang tak tergoyahkan.“Aku tidak peduli apakah mudah atau tidak. Aku hanya ingin tahu kebenaran yang selama ini kau sembunyikan dariku.”“Aku tahu itu,” ucap Elena pelan, namun sedih.“Kalau begitu, katakan kepadaku apa yang sebenarnya ada di dalam darahku,” desak Erevan.Pertanyaan itu seketika mengubah ekspresi wajah Elena karena selama bertahun-tahun ia berusaha sekuat tenaga melindungi Erevan dari kenyataan yang mengerikan tersebut. Namun, kini Pria Tua itu sendiri sudah datang untuk mengingatka
Cucu Iblis“Sepertinya dia datang sendiri,” bisiknya pelan sambil melangkah menuju pintu itu dengan hati berdebar, tetapi tekad yang tak tergoyahkan. “Elena, tetap di belakangku dan jangan ke mana-mana.”“Erevan, jangan!” seru Elena cemas, mencoba menahannya.Namun, tangan Erevan sudah berada di gagang pintu yang terasa dingin dalam genggamannya. Di sisi lain pintu, suara pria tua itu kembali terdengar begitu jelas dan dekat, seakan-akan berdiri tepat di hadapan mereka.“Kau boleh melawanku sebanyak yang kau inginkan, cucuku yang terkasih,” ucapnya pelan, tetapi menohok hati. “Tetapi kau tidak bisa melawan darahmu sendiri.”Kalimat itu membuat Erevan terdiam seketika. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mungkin saja kedatangan pria tua itu bukan hanya untuk Arga seperti yang selama ini mereka duga. Mungkin sejak awal, target sebenarnya yang paling berharga bagi Pria Tua itu adalah dirinya sendiri.Beberapa detik berlalu da
“Erevan,” suara Elena terdengar kembali memecah keheningan yang mulai menyelimuti ruangan itu, membuat Erevan segera mengangkat wajahnya dan menatap ibunya dengan penuh pertanyaan yang tak terucap.“Jangan terlalu memikirkan gadis itu,” ucapnya lembut, tetapi tegas, seakan ingin menegaskan sesuatu yang penting di tengah segala kegelisahan yang mereka rasakan.“Aku tidak memikirkannya,” jawab Erevan cepat, meskipun ia sendiri tahu bahwa itu bukanlah sepenuhnya kebenaran.Elena hanya menatapnya dalam diam tanpa berkata-kata. Tatapan yang begitu memahami itu akhirnya membuat Erevan mengalihkan wajahnya karena ia tidak mampu menyembunyikan apa pun dari ibunya.“Baiklah,” katanya pelan sambil menghela napas panjang yang terasa berat di dadanya.Elena tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak bertahan lama karena seketika lenyap, digantikan oleh kekhawatiran yang kembali menyelimuti wajahnya.“Ibu hanya tidak ingin melihatmu mengalami a
Rosela tidak menjawab seketika dan hanya menatap ke arah lorong yang kosong di belakangnya, di mana tidak ada siapa-siapa di sana. Namun, entah mengapa, ia merasa seakan pria misterius itu masih berdiri di sana dan memperhatikannya dari kejauhan yang tak terlihat.“Tidak apa-apa,” jawabnya akhirnya sambil menoleh kembali ke depan dengan hati yang masih berdebar kencang di dadanya. “Ayo pergi.”Mereka kembali berlari menuju pintu keluar tanpa menyadari bahwa sejak pertemuan singkat yang tak terduga itu, sebuah ikatan baru mungkin saja telah terbentuk di antara mereka. Jika Elena benar tentang sifat-sifat pengikat, maka perasaan yang baru saja muncul di hati Rosela mungkin bukan sekadar cinta pada pandangan pertama seperti yang ia kira, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam, jauh lebih kuat, dan jauh lebih berbahaya daripada apa pun yang pernah ia bayangkan sebelumnya.Sementara itu, di dalam ruangan yang baru saja ditinggalkan oleh Rosela dan Nadia, Elena







