Share

Bab 15

Author: bucinyarukher
last update publish date: 2026-07-23 01:02:52

Tepat pukul 16.00 WIB, Mutia kemudikan mobilnya menuju lokasi syuting Alan. Sepanjang perjalanan perasaannya jadi tak menentu. Dia rasa keputusannya menyempatkan waktu untuk bertemu berdua dengan Kevin tadi siang hanya untuk makan siang di rumah mendiang orangtuanya adalah sebuah kesalahan. Entah mengapa dirinya saat ini jadi terus menerus memikirkan Kevin.

Mutia mengeleng - gelengkan kepalanya, berusaha mengusir bayangan lelaki berkulit sawo matang itu. Kemudian tangan kirinya be
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PUDAR   Bab 25

    Viela masih ingat, hari Minggu keempat setelah pesta pernikahannya bersama Restu diselenggarakan. Hari itu sebuah telepon dari petugas kepolisian yang menyuruhnya untuk segera datang ke rumah sakit Insan Medica membuat dirinya harus menunda kepindahannya ke Malaysia. Tanpa berpikir panjang, ia putuskan keluar dari dalam mobil Restu yang masih terjebak macet. Dirinya benar-benar sudah kehilangan akal. Di tengah hujan yang deras itu, ia berlari sekencang - kencangnya. Suara teriakan Restu yang berulangkali memanggilnya untuk kembali masuk mobil pun sudah tidak ia hiraukan sama sekali. Dirinya ingin secepatnya sampai ke tempat yang ia tuju. Begitu sampai di rumah sakit Insan Medica, isak tangis Viela menguar tiada henti. Dia penggangi tubuh Pandu sudah terbujur kaku membiru. Kakak lelaki satu - satunya yang ia miliki itu benar-benar telah berpulang. Setelah jasad Pandu dibawa ke kamar mayat, Viela hanya terduduk lemas di lantai hingga seorang perawat membopongnya untuk

  • PUDAR   Bab 24

    Restu dan Viela yang baru saja tiba di Indonesia langsung datang mengunjungi Mutia di rumah sakit. Tentunya mereka membawa maternity pillow sebagai kado untuk kehamilan pertama Mutia. "Ini sangat berguna banget selama masa kehamilanku, Tante. Terima kasih banyak ya" ujar Mutia sembari tangannya menelusuri permukaan lembut maternity pillow pemberian Viela yang dia terima barusan. "Tante sebenarnya bingung mau kasih barang apa dulu yang bermanfaat buat ibu hamil awal semester sepertimu, lihat manfaatnya akhirnya mutusin buat beli itu kemarin. Syukurlah kamu suka, Tante jadi lega." jawab Viela. Dia beranjak duduk di kursi yang ada disebelah kanan ranjang Mutia. "Vares dan Julius mana? Mereka nggak ikut?" Mutia melonggok ke belakang Restu yang memunggungi pintu kamar ruang inapnya, namun dua keponakan lelaki yang dia punya itu tidak terlihat. "Mereka sudah bukan lagi bocah yang bisa kami atur, jadi

  • PUDAR   Bab 23

    Hampir satu jam Kevin menemani Alan menjaga Mutia di ruang inap mereka. Beberapa kali obrolan Alan mengarah soal dimana Karen dimakamkan, dan tentu Kevin masih berpegang pada prinsipnya, yaitu tidak akan pernah memberitahu Alan tentang hal itu. Bukan hanya karena janjinya pada Dito Pramono dan Mutia yang melarang Kevin memberitahu Alan demi memulihkan kesehatan mental Alan, namun Kevin pribadi juga sudah tidak ingin Alan mengusik ketenangan peristirahatan terakhir mending Karen. Walau Karen sudah meninggal, tapi Kevin tidak mau sampai melihat Alan berkeliaran disekitar makam Karen atau mungkin memilih tidur disana hanya karena gagal move on. Tidak ingin memberi harapan terlalu jauh perihal informasi makam Karen pada Alan yang terus menjadikan kondisi Mutia sebagai alasan agar dirinya iba, Kevin memutuskan untuk pulang begitu waktu telah menunjuk pukul sepuluh malam. Alan jelas nampak kecewa dengan keputusan Kevin, tapi dia tidak bisa berbuat apapun. Hatinya cukup sen

  • PUDAR   Bab 22

    Berita penusukan Alan di lokasi syuting sinetron 'Aku Lelakimu' tepat di hari ulang tahunnya jelas sampai ke telinga Kevin. Di televisi, di media sosial, hingga beberapa papan reklame di jalanan membahas mengenai skandal - skandal yang belakangan ini menyeret Alan. Berbagai teori konspirasi tak masuk akal dari berbagai pihak bermunculan sampai membuat Kevin terpaksa menahan diri untuk tidak tertawa. Di kerubungi para fans Alan yang menuntut penjelasan mengenai kondisi Alan saat Kevin tengah asyik memainkan keahliannya di dapur Cafe Oliver, maka dari itu ia memilih diam bagai patung hingga membuat satu per satu fans Alan putus asa dan memutuskan meninggalkannya dengan amarah. Dengan wajah ramah serta tutur halus yang singkat, padat dan jelas, Kevin juga sukses menolak dengan mudah wawancara para wartawan dan wartawati. Mereka tidak mau ambil resiko dengan tuntutan hukum sebab Kevin yang merupakan kakak tiri Alan dari hasil hubungan gelap Dito Pramono ta

  • PUDAR   Bab 21

    "Sebenarnya aku sudah tau keberadaan Kevin dan Karen sejak kita resmi menikah. Aku selama ini memilih diam karena aku sangat mencintaimu. Sekarang aku harap kamu jawab jujur, siapa ayah dari mereka? Siapa yang tega hamili kamu saat itu? Jangan ada rahasia lagi diantara kita supaya aku bisa menentukan apa yang harus aku lakukan pada Kevin. Jelas setelah kehilangan Karen, kamu tidak mau kan kehilangan Kevin juga?!" Ancaman Dito membuat Tary gusar. Jujur ia sangat tidak ingin mengungkit kenangan buruk itu. Mulut Tary seketika kaku, dia bingung harus mulai dari mana untuk menceritakan ini semua kepada Dito. Namun apa boleh buat, bagaimana pun ia harus menyelamatkan Kevin, jadi mulailah ia berusaha membuka kotak pandora yang ada dalam ingatannya.Di hari kelulusan SMA, Tary yang mendapat nilai terbaik memutuskan untuk segera pulang ke rumah memamerkan piagam yang dia peroleh kepada kedua orangtuanya. Namun sesampainya di rumah, terlihat Mamanya menangis dengan

  • PUDAR   Bab 20

    Mata Kevin mengerjap untuk memfokuskan pandangan dimana kini dirinya berada. Ruangan bercat warna putih, dengan lantai marmer. Tidak ada barang apapun di dalamnya, hanya ada dirinya yang berada di tengah ruangan dengan keadaan terikat erat di sebuah kursi. Ketika pandangan mengarah ke sudut sebelah kanan, terlihat seorang lelaki bertubuh kekar memakai baju serba hitam tengah duduk di sebuah kursi di bibir pintu sembari memainkan ponselnya. Ketika lelaki itu menoleh pada Kevin yang telah sadar, lelaki itu segera menelepon seseorang hanya untuk mengatakan, "Dia sudah sadar, bos." Sorot mata lelaki itu menatap Kevin dengan garang, tapi Kevin malah mengalihkan tatapannya, nampak tidak peduli. Tidak lama berselang, terlihat beberapa lelaki berbaju hitam datang dan kembali memukuli Kevin secara bertubi - tubi. Tidak akan ada yang datang menolongnya, Kevin tau itu. Maka dari itu dia memilih diam, dia tidak ingin melawan karena semua akan percu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status