Share

Bab 195

Author: Piemar
last update Last Updated: 2025-10-18 18:03:26

Suara roda berderak melindas jalan terdengar jelas. Iring-iringan konvoi kerajaan Ravensel sudah mulai merayap sejak sore.

Pasukan pertama terdiri dari pengawal depan sepuluh orang penunggang kuda. Rombongan ke dua kereta pembuka.

Rombongan ke tiga, kereta utama, Ratu Elia, Ana Clarissa dan para bangsawan wanita. Rombongan ke empat pengawal belakang dua belas orang, biasanya terdiri dari rombongan tambahan penyedia logistik dan para pelayan yang ikut.

Langit tampak berwarna keemasan, pertanda sebentar lagi petang akan mengambil alih. Udara dingin mulai turun, membuat gigi geligi gemeletuk. Dalam sekejap kabut turun menghalangi pandangan.

“Yang Mulia, ini syalnya! Sepertinya udara sangat dingin di luar.” di dalam kereta mewah, Lady Emma, dayang setia Elia mengangsurkan sebuah syal rajut tebal untuknya.

Elia menatap syal itu sejenak lalu memakainya. Ia juga mengganti sarung tangannya dengan sarun tangan yang lebih tebal dari sebelumnya. Semua benar-benar sudah dipersiapkan.

Hal yan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Dimas rengga permana Firmansyah
keren ana. calon permaisuri ravensel harus cerdas. jgn sampai ikut menyamakan dgn orng orang yg manipulatif. Leon ana kalian harus bersatu kalian harussaling percaya dan saling menjaga Krn bnyk yg ingin menyingkirkan kalian
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 466

    Saat mereka tiba di halamannya yang sempit, Evander tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Inez terdiam. “Ada apa?” tanyanya gelisah. “Tunggu di sini,” katanya pelan pada Inez. “Aku harus mengecek ke dalam dulu.”Inez mengangguk tanpa protes. Tenaganya hampir habis, dan satu-satunya keinginannya saat ini hanyalah merebahkan tubuh di mana saja yang beratap.Evander mendorong pintu kayu itu perlahan dan melangkah masuk ke dalam pondok. Ruangannya sempit, hanya satu kamar kecil dan sebuah dapur sederhana di sudut. Tak ada sekat mewah, tak ada perabot berlebih. Sebuah dipan kayu, meja kasar, dan tungku sederhana menjadi saksi bahwa pondok itu pernah ditinggali, meski sudah lama ditinggalkan.Namun setidaknya tempat itu bersih dan aman dari binatang luar. Dan yang terpenting, cukup untuk berlindung malam ini.Inez melangkah masuk. Pandangannya langsung terpaku pada ranjang kayu di hadapannya. Ia menghela napas pelan, lalu duduk di tepinya, tubuhnya masih tegang. Dari sudut matanya, ia m

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 465

    Evander dan Inez diantar menuju lumbung untuk dibersihkan. Lumbung itu tampak kosong, tua dan berdebu. Evander sampai beberapa kali bersin. Ia meringis melihat pemandangan tersebut. Dulu, Evander tidak pernah menyentuh hal-hal semacam itu. Ia tidak mengenal beres-beres. Dan, Evander hanya ongkang-ongkang kaki, menikmati segalanya dengan mudah. Inez menoleh ke arah Evander sesaat. Senyum yang nyaris tak sampai ke mata terulas di wajahnya tatkala melihat sosok pangeran tampan Ravensel akan melakukan pekerjaan seorang pelayan. Jujur, ia merasa meragukan kemampuannya.“Tuan,” imbuh Inez mendekat. Jalannya masih tertatih, tapi dia selalu berusaha kuat di hadapan orang. Evander menggulung lengan bajunya hingga ke siku tanpa mengatakan apapun. Namun dia menoleh ke arah Inez dan berkata padanya. “Kau duduk saja,”Ines mengerjap dua kali. Ia mengangkat wajahnya dengan tatapan serius. “Aku bisa membantu, Tuan,”Evander menoleh cepat. Wajahnya seketika berubah serius hanya dalam hitungan deti

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 464

    “Kau sudah kembali dari dermaga,” kata Ana cepat tatkala menyambut kedatangan suaminya. “Bagaimana Evander?”Leon menutup pintu di belakangnya, suara kayu berat itu terdengar lebih keras dari biasanya. “Belum ada kepastian.”Ana berjalan mendekat, napasnya sedikit terengah. “Belum ada berarti ada kemungkinan?”Leon menghela napas panjang. Melihat raut wajah letihnya, Ana baru sadar, seharusnya ia tidak langsung menyambut suaminya dengan pertanyaan tadi. Ana mendekat saat Leon membuka jubah kebesarannya. Ana dengan sigap membantunya, melepas jubah itu lalu mengaitkannya pada gantungan yang berada tak jauh dari sisinya. Leon duduk dan menghela napas panjang. Ana menaruh satu cawan air berisi air putih di atas meja. “Minumlah dulu! Maafkan aku yang terlalu terburu-buru,” imbuh Ana tersenyum tipis. Leon mengambil air minum lalu meneguknya perlahan. “Di mana anak-anak?” Leon mengedarkan pandangannya mencari ke dua anaknya yang menggemaskan. Ana duduk di sampingnya. “Julian dan Juliana

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 463

    Evander terkesiap. “Kenapa Anda tidak bisa membantuku? Aku bisa bayar mahal untuk perjalanan ini,”Seketika wajah nelayan itu berubah pahit. “Badai besar terjadi perairan menuju Ravensel. Kami para nelayan tidak berani berlayar ke sana sekarang,” jawab nelayan itu merasa bimbang. Raut wajah Evander berubah muram seketika. Baiklah, ia tidak memaksa nelayan itu membantunya. “Kalau begitu aku ingin kau memberitahuku bagaimana caranya agar aku bisa ke Ravensel lewat jalur darat.” Evander berkata sembari sedikit memelas. Nelayan tua itu membungkuk lalu mengambil sesuatu dari dalam kantongnya. “Ini ada peta menuju kota. Kau bisa ambil jalur ini agar terhindar dari binatang buas,” lanjut pria tua itu sembari menyerahkan gulungan peta pada Evander. “Maafkan aku, Anak Muda. Saat ini aku hanya bisa membantumu memberikan alamat.” Pria itu mengakhiri percakapan singkat itu. Evander pun memutuskan kembali ke tenda. Di sana Inez menunggunya, berdiri tegak menahan sakit di kakinya. Rambut gelapn

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 462

    “Sial. Mereka datang!” pekik Clara, suaranya melengking sebelum sempat ia redam.Dua pria suku Thornak tengah berpatroli di sisi barak. Begitu melihat jeruji kayu yang mengurung tawanan sudah terbuka dan seorang alkemis berdiri bebas di depannya, tatapan salah satu dari mereka langsung mengeras. Ia memuntahkan kata-kata kasar dalam bahasa daerahnya.“Hei!” Tatapan mereka langsung tertumbuk pada sosok Clara dan Hector.Clara tak menunggu terjemahan. Bersegigas, ia langsung menarik tangan Hector. Keduanya berlari secepat mungkin, kaki mereka menghantam tanah keras seperti dikejar setan yang mengerikan.“Hector, cepat!” teriak Clara sambil menoleh sekilas.“Aku cepat!” balas Hector terengah, meski tubuh besarnya jelas tak sepakat dengan pernyataannya. “Ini lari cepat versiku!”Teriakan para Thornak menggema di belakang. Langkah kaki mereka terdengar semakin dekat. Clara membelok tajam ke celah sempit di antara tumpukan gelondongan kayu dan kain kering, nyaris menyeret Hector masuk.“Hect

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 461

    “Semua salahmu,” beo Hector menatap Clara dari sudut matanya. Clara diam dengan wajah yang santai seperti tidak terjadi apa-apa. Meskipun Hector mengomel panjang pendek, ia tidak peduli. “Kau mendengarku?” desis Hector lama kelamaan merasa jengkel karena tidak direspon oleh wanita muda yang juga duduk di sampingnya. “Kalau kau tadi tidak melawan kita tidak akan berakhir seperti hewan buruan,”Kini ke dua orang yang malang itu malah menjadi tawanan salah satu suku pedalaman asing bernama suku Thornak—yang terkenal sebagai suku yang keras dan tidak mengenal dunia luar. Clara baru mengenali mereka setelah melihat tato yang tergurat di kulit mereka. Sekilat mirip tato seekor kucing kudisan tetapi setelah diamati dengan seksama itu adalah tato bergambar singa yang tampak berusaha buas.Cara berpakaian dan berbicara pun semua terdengar asing. Oleh karena itu baik Clara maupun Hector hanya bisa membaca isyarat wajah dan gesture mereka saat berbicara. Ke dua tangan mereka diikat dengan tal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status