Share

PUTRI YANG TERTUKAR
PUTRI YANG TERTUKAR
Penulis: Piemar

Bab 1

Penulis: Piemar
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-20 11:25:35

“Jangan menatapnya terlalu lama. Kau bisa lupa siapa dirimu.”

Ana mengangkat wajahnya dari cermin kecil di ruang rias. Suara itu datang dari pelayan tua di belakangnya—yang hari ini ditugaskan mendandani Putri Clarissa.

Ana hanya menunduk dalam. Tangannya gemetar saat menyentuh bros emas yang tersemat di dada gaunnya. Gaun itu bukan miliknya. Nama ini pun bukan miliknya. Namun malam ini, ia akan melangkah ke tengah aula sebagai Putri Clarissa—dalam acara pertunangan politik yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Semuanya demi sang Ratu. Ia merasa terjebak di sana. Padahal ia hanyalah seorang koki yang ditugasi untuk membuat kue tart ulang tahun untuk sang putri. Tak dinyana, tiba-tiba ia diseret masuk ke dalam ruang rias sang putri.

Sebuah veil tipis menutupi wajahnya, menyamarkan identitas yang ia pinjam. Beberapa kali ia menghela nafas sesak. Ia tidak bisa melarikan diri seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya. Takdir sedang mempermainkannya.

“Yang Mulia menunggu di aula. Ingat, Ana Merwin, kau bukan siapa-siapa.” Wanita bersanggul Valmere Knot itu berkata dengan nada sinis. 

Ana mengangguk perlahan lalu menegakkan punggungnya. Jantungnya berdentum keras di balik tulang rusuknya. Setiap langkah terasa berat seperti sedang berkelana di hutan belantara. Sungguh, ia tidak tahu apakah ia bisa pulang atau justru malah tersesat.

Aula megah disulap begitu indah. Mata Ana menyipit tatkala disambut oleh cahaya berasal dari chandelier lilin yang berkilauan. Beberapa detik ia merasa seperti seorang putri yang sesungguhnya. Semua netra langsung terpacak padanya. Bisik-bisik para tamu undangan pun mulai menggema ke udara.

“Putri Clarissa menjadi tumbal sang Ratu,” ujar salah satu duchess di balik kipas bermotif heraldik yang menutupi setengah wajahnya.

“Ratu Seraphina sangat mencintai Putri Clarissa sampai pernikahannya pun diatur,” jawab yang lain dengan nada satir.

“Kalian tahu, pangeran dari keluarga Ravensel itu monster. Tak ada satu wanita pun yang tertarik padanya. Dia hanya pangeran yang terbuang, keji dan pembunuh berdarah dingin,” imbuh yang lain ikut memprovokasi. Seketika gosip itu langsung memanas di telinga Ana.

Pantas, Putri Clarissa tidak bersedia dijodohkan dengan pria semacam itu. Sepengetahuan dirinya, gadis itu menyukai pria yang tampan.

“Aku dengar, dia bahkan membunuh ibu kandungnya sendiri,” kata yang lain sembari saling lirik penuh arti saat Ana melewati mereka.

Perasaan Ana makin tak karuan setelah mendengar gunjingan mereka. Ia merasa seperti sedang berada di tiang gantung. Seburuk itu kah calon suami Putri Clarissa?

“Kau tau, dia memakai topeng phantom karena wajahnya terluka saat perang. Ia cacat dan buruk rupa. Lengkap sudah, siapa juga yang mau menikah dengannya kalau karena bukan kepentingan politik,” lanjut wanita lain yang ikut bergabung bersama mereka.

Sebelum Ana sempat mundur, gadis bangsawan lain sudah menarik tangannya. Ia adalah sepupu Putri Clarissa dari sang raja, Lady Amber yang terkenal dengan kecerdasannya dalam ilmu hitung.

“Selamat ya! Aku harap kau bisa bersenang-senang dengan pangeran itu. Tak apalah dia berwajah jelek, tapi kau bisa mendapatkan kompensasi, kan? Kekuasaan, kekayaan… yah, apa pun yang diimpikan gadis-gadis istana.”

Amber tertawa pelan, manja, tanpa menyadari kekakuan Ana. Ia benar-benar tidak menyadari siapa gadis yang diajak bicara olehnya. 

“Ayahku bilang kau sangat beruntung dijodohkan dengannya. Katanya, hanya karena dia cacat dan temperamental, kau bisa mendapatkan hak veto dalam istana kelak! Bukankah itu menguntungkan?” Amber terkikik. Ia memang gadis yang ekspresif. 

Ana hanya menghela nafas pelan mendengar celotehan gadis berambut pirang itu.

Amber berjalan mendekatinya, berbisik pelan. “Asal kau kuat menahan baunya saja. Mulutnya bau seperti telur busuk dan bawang putih mentah. Dia jarang mandi dan lebih sering bermandikan darah,”

Ana semakin bergidik ngeri mendengar ucapan Lady Amber meskipun dengan nada setengah bercanda. Bukan tanpa alasan, para putri bangsawan lain juga mengatakan hal yang sama tentang pangeran itu. 

Tubuh Ana membatu, bukan hanya karena rasa takut, tapi karena perasaan getir dan amarah yang menyesakkan dada. Ia hanyalah pelayan istana yang dipaksa mematuhi perintah sang ratu. Ia tidak bisa memilih.

“Lady Amber...” Ana akhirnya membuka suara, datar. “Apa kau selalu mengukur cinta dan pernikahan dengan fisik dan jabatan?”

Tunggu, Lady Amber merasa asing mendengar suara Putri Clarissa yang terdengar lain. Namun sebelum ia menjawab pertanyaan Ana, ia langsung ditarik oleh ibunya, Lady Leoni. 

“Aku pinjam dulu, Amber, Clarissa,” kata Lady Leoni tersenyum canggung pada Ana. Lalu ia menarik pergelangan tangan putrinya. “Kau harus berkenalan dengan putra bangsawan dari timur. Ayo!”

Ana hanya mendesah pelan tatkala melihat kepergian mereka. Ia hampir terpancing dan membongkar identitasnya sebagai Putri Clarissa yang palsu. 

Semua orang membungkuk menghormatinya. Mereka menatap Ana dengan tatapan yang rumit. Di balik Veil, Ana justru menatap mereka dengan tatapan tajam. Ia menekuri setiap orang yang berada di sana. Dalam hati, ia bertanya, apakah di antara mereka adakah yang masih berhubungan darah dengannya? 

Tak berselang lama, para tamu undangan yang berasal dari para bangsawan tinggi itu menoleh dengan keheranan ke arah yang lain, saat Pangeran Leonhart Ravensel muncul dari balik lengkungan gerbang istana yang menjulang pongah dan diselimuti aura kelam yang membuat bulu kuduk meremang.

Para putri bangsawan yang hadir menahan nafas saat pria itu melangkah melewati mereka. Seakan pangeran yang dijuluki the Black Phantom itu adalah jelmaan dewa iblis yang bisa menghabisi siapapun yang tidak disukainya.

Topeng besi menutupi separuh wajahnya. Terlihat misterius. Sorot matanya tajam, tak bisa dibaca. Semua orang membisu—bukan karena terpana, tapi takut.

Menurut rumor yang beranak pinak, wajahnya cacat karena luka perang sehingga mengenakan topeng phantom. Ia juga pernah menghabisi seorang penjaga hanya karena melihat wajahnya tanpa izin. Ia bukan pangeran yang di elu-elukan oleh para wanita. Ia adalah pangeran yang terbuang.

Ana menunduk dalam-dalam saat pangeran itu mendekat. Sial, justru langkah pria bertubuh tinggi besar itu berhenti… tepat di hadapannya. 

Tubuh Ana bergetar hebat. Bagaimana kalau ia ketahuan bukan Putri Clarissa?

Piemar

Disclaimer: Putri Yang Tertukar adalah karya fiksi asli yang author buat. Setting cerita terinspirasi dari suasana Eropa pada masa medieval (pertengahan akhir) dengan sentuhan imajinasi bebas. Segala nama, tempat dan kerajaan yang muncul; Kerajaan Ravensel dan Kerajaan Velmont sepenuhnya fiktif.

| 99+
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (6)
goodnovel comment avatar
Piemar
Halo Kaka, makasih sudah singgah, ini novel ori author ya
goodnovel comment avatar
Izzan yusuf
wwaah partnya sampe 500an, ini terjemahan dari buku luar pastinya
goodnovel comment avatar
Aritha
awal yg seru
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 662

    Clara berjalan bolak-balik di depan kamar yang ia tempati. Ia tidak bisa tidur nyenyak. Di tangannya sebuah surat digenggam erat. Surat yang dikirim oleh Thorian untuknya—yang memintanya bertemu. “Pergi? Enggak? Pergi? Enggak?” monolognya dengan hati yang gelisah. “Kau mau melamar jadi pengawal istana?” Nathan menghampiri kakaknya. Ia berjalan ke arahnya sembari mengucek matanya yang terasa berat. Malam sudah larut, tetapi suara-suara kecil yang dibuat sang kakak, membuatnya terbangun dari mimpi indahnya. Padahal ia tengah bermimpi menjadi seorang putra mahkota di negeri antah berantah. Ketika mendengar suara adiknya, Clara menoleh dengan tatapan tajam. “Aku seorang tabib. Aku tidak tertarik mengawal orang.” Nathan mendesah pelan. “Jadi apa yang kaulakukan malam begini? Apa jangan-jangan kau berniat kabur dari istana?”Clara memutar ke dua bola matanya jengah. Adiknya itu memang sosok yang paling senang menggodanya. “Nathan, ini bukan urusanmu,” bentak Clara akan tetapi sama seka

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 661

    Meggie melangkah pelan mendekat, menundukkan sedikit tubuhnya sebelum berbisik di samping Inez. “Mereka sering bertanya… kapan semua orang akan berkumpul lagi seperti dulu.”Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat senyum Inez meredup. Di seberangnya, Evander yang semula berdiri tegak mendadak terdiam, napasnya terasa berat.“Seperti dulu?” ulang Inez lirih.Meggie mengangguk. “Ya. Sebelum wabah. Sebelum banyak hal berubah.”Inez memalingkan wajahnya ke arah Juliana yang tengah berdiri di atas kursi kecil, kedua tangannya terentang, berusaha menyeimbangkan diri seolah sedang menaklukkan panggung besar.“Banyak hal memang berubah,” gumam Inez, suaranya nyaris tenggelam oleh tawa anak itu.Evander menangkap nada sendu yang tak sempat disembunyikan. Ia melangkah mendekat, berdiri di sisi Inez tanpa menyentuh, tapi cukup dekat untuk menunjukkan bahwa ia ada di sana. “Tapi tidak semua berubah menjadi buruk,” ujarnya tenang.Inez menoleh, alisnya terangkat tipis. “Tidak?”Evander men

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 660

    “Sepertinya aku akan pulang,” ujar Inez mengakhiri percakapan dengan Clara. Ia menatap Ethan yang sedang menyusu lalu tertidur. “Bayiku sudah tidur lagi. Aku jadi mengantuk juga,” katanya sembari menguap pelan. Bawaan hormon menyusui membuatnya mudah sekali mengantuk. Clara menatap baby Ethan lama. “Sebaiknya kau menginap di sini. Kau belum bertemu dengan si kembar kan,” tebaknya. Inez mengerjap. “Aku nyaris melupakan mereka. Aku tidak melihat mereka di manapun semenjak tiba di sini.”Clara menarik napas dalam sebelum melanjutkan ceritanya. “Semenjak wabah merebak, mereka diasingkan ke paviliun. Mungkin sebentar lagi akan kembali tinggal di istana sayap timur.”Inez tersenyum simpul. “Pangeran Leon pasti sangat protektif pada mereka.”Clara mengangguk pelan. “Jangankan pada anak dan keluarganya. Dia juga …” ada jeda tipis sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya. Teringat akan perhatian Leon saat pergi langsung menjemputnya ke perbatasan dengan pengawalan yang ketat. “Kau tidak tertar

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 659

    Sebelum pulang, Inez menyempatkan diri menemui seseorang. Seseorang yang cukup dekat dengannya selama ini.Ketika ia berjalan menuju air mancur di taman, tampak Clara duduk di bangku batu, membuka catatan kecilnya.“Izin duduk?” Inez berkata singkat. Clara menoleh. Inez berdiri beberapa langkah darinya, menggendong Ethan yang terlelap di dadanya.Clara tersenyum hangat. “Untukmu? Selalu.” Tak lama kemudian, tatapannya turun pada bayi Inez.Inez duduk di sampingnya, menghela napas panjang. “Aku baru dari ruang ibunda ratu.”Clara mengangkat alis tipis. “Dan kau masih terlihat utuh. Itu kabar baik.”Inez terkekeh kecil. “Entah bagaimana… Ethan berhasil melakukan hal yang tak pernah bisa kulakukan.”“Membenturkan tembok?” tebak Clara.“Menghancurkan tembok, lebih tepatnya,” jawab Inez pelan. Mereka paham betul apa yang dimaksud ‘tembok’ adalah hati wanita itu. Mereka terdiam sejenak, memandangi wajah bayi yang damai.“Dia tumbuh cepat,” ujar Clara lembut. Sial, tiba-tiba ia membayangka

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 658

    Evander menatap wajah ayahnya lebih lama, seolah mencari sesuatu. Semacam gerakan kecil, tarikan napas berbeda, kedipan yang tak ada. Yang tak lain bahwa pertanda ayah mereka akan bangun dari tidur panjangnya. Nyatanya, jauh panggang dari api. Semua itu tidak terjadi seperti yang ia harapkan. Gerakan kecil pada jemarinya itu tidak ada. Itu hanya … sekedar harapannya. Tiba-tiba baby Ethan menangis lirih. Sontak semua mata menoleh padanya. Inez gegas menimbang bayi itu dengan gerakan yang lembut.“Sttsss, kenapa Sayang?” gumam Inez padanya. Ia pun memutuskan untuk mundur beberapa langkah menjauh, agar putranya tidak membuat kegaduhan di sana. Leon berbicara di depan ayah mereka. “Aku akan menjaga Ravensel,” ucapnya akhirnya, lebih tegas. “Tapi aku masih membutuhkanmu.”Tetap saja, tidak ada tanda-tanda kesadaran sang raja. Semua mata tertuju pada ranjang. Evander menegakkan tubuh. “Kak Leon—”Tangisan bayi perlahan mereda dalam pelukan Inez. Dan kamar kembali tenggelam dalam kehenin

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 657

    Nathan membuka lembar laporan terakhir. “Masih ada sisa kasus. Tapi sudah tidak menyebar. Karantina bekerja.”Clara terdiam sejenak. Perbatasan. Ia menahan pikirannya agar tidak melayang lebih jauh. Ya, pasti, ia memikirkan seseorang yang berada nun jauh di sana. Seorang anggota dewan berkata pelan, “Ravensel berutang pada kalian berdua.”Nathan terkekeh ringan. “Kami hanya melakukan tugas.”“Tidak,” sang anggota menggeleng. “Kalian membuat sistemnya bekerja.”Sunyi sesaat. Di luar jendela, lonceng kota berdentang, sebuah pengumuman pasar kembali dibuka. Tidak lagi ada dentang lonceng kematian. Perlahan semua kembali normal. Clara menutup botol kecil berisi ramuan bening. “Wabah ini mengajarkan satu hal,” katanya pelan. Wajahnya tampak serius. Nathan menoleh. “Apa itu?”“Bahwa kerajaan yang kuat bukan yang memiliki senjata paling banyak,” jawabnya, “melainkan yang paling cepat melindungi rakyatnya.”Beberapa anggota dewan saling pandang. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi penuh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status