Share

Bab 448

Author: Piemar
last update Last Updated: 2026-01-05 01:47:03

Inez terjatuh dan menimpa tubuh Evander yang telentang. Wajah mereka tak berjarak. Nafas Inez tersengal, ujung hidungnya menyentuh ujung hidung Evander. Satu gerakan saja bibir mereka bersentuhan. Jantung ke duanya berdebar kencang.

Namun tangan Evander refleks menahan pinggangnya kuat, tapi tidak bergerak lebih jauh. Seolah ia takut bernapas terlalu dalam.

“Aku—” Inez tersadar lebih dulu. “Maaf. Aku—”

Namun Evander tidak segera melepasnya. “Kau pusing,” katanya rendah, perhatian. “Jangan bergerak dulu.”

Inez menelan salivanya. Ia bisa merasakan detak jantung Evander yang sama cepatnya di bawah telapak tangannya. Begitu dekat hingga sulit diabaikan.

“Aku baik-baik saja,” katanya pelan, meski suaranya bergetar. Wajahnya memerah. Entah saja kapan ia seperti itu. Berdekatan dengannya lebih berbahaya ketimbang perang dan darah.

Evander mengangkat satu tangan, menyentuh pelipisnya. “Kau bohong,” katanya lirih.

Tatapan mereka bertemu. Inez tiba-tiba menyadari satu hal yang membuat dadanya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 468

    “Maksudku, ini ayahku. Ya, ayahku,” Clara meralat ucapannya. Ia menarik napas dalam. Ucapan tadi hanya spontanitas saja. Pria pemilik kedai diam sesaat. Suara panggilan mengusiknya. “Sayang, apa Robert masih libur? Kita sangat sibuk. Kita tidak bisa menangani kedai berdua. Apalagi pembeli sedang ramai. Bagaimana ini?”Wanita gendut menghampirinya—istri dari si pemilik kedai. Tatapan pria itu beralih dari istrinya lalu beralih pada Hector. Lalu beralih pada istrinya. “Honey, sepertinya ada yang bisa gantikan Robert beberapa hari ke depan,” tukasnya dengan tersenyum samar. Bukankah ia bisa memperkerjakan ke dua pria dan wanita berbeda usia itu di depannya.Wanita itu menaruh satu keranjang berisi buah-buahan kering di atas meja. Lalu ia menoleh ke arah suaminya dengan tatapan penasaran. “Kau sudah menemukan orang yang akan menggantikan Robert sementara?”Pria itu manggut-manggut. “Sudah, Honey. Tenang saja kau tidak usah khawatir. Kau juga tidak akan cape.”Wanita itu tersenyum menden

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 467

    “Yang Mulia, Putra Mahkota ingin bertemu,” lapor seorang pengawal sembari membungkuk hormat di depan Edric. Edric menoleh ketika mendengar laporan tersebut. Ia mengangkat tangan, mengisyaratkan pada anggota dewan bahwa rapat berakhir. Ia memang sedang melakukan rapat tertutup dengan para anggota dewan elit.Ke lima anggota dewan undur diri dari ruang rapat setelah membungkuk hormat pada sang raja. Tak lama kemudian, Leonhart datang dengan langkah yang mantap. Wajahnya terlihat bersemangat ketika bertemu dengan sang ayah. “Ayahanda,” seru Leon saat pintu itu terbuka dan langsung disambut oleh sang ayah. Edric menoleh dengan tatapan yang rumit. Kedatangan Leonhart pasti akan membawa kabar tentang putra bungsunya. Hanya saja, ia tidak tahu kalau kabar yang dibawa itu apakah kabar baik atau buruk.Mereka duduk berhadapan dengan tenang. Edric menaruh ke dua tangannya pada pinggiran kursi kebesarannya. Sementara itu Leon duduk dengan tegak dan tatapan yang serius. Leon menarik napas da

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 466

    Saat mereka tiba di halamannya yang sempit, Evander tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Inez terdiam. “Ada apa?” tanyanya gelisah. “Tunggu di sini,” katanya pelan pada Inez. “Aku harus mengecek ke dalam dulu.”Inez mengangguk tanpa protes. Tenaganya hampir habis, dan satu-satunya keinginannya saat ini hanyalah merebahkan tubuh di mana saja yang beratap.Evander mendorong pintu kayu itu perlahan dan melangkah masuk ke dalam pondok. Ruangannya sempit, hanya satu kamar kecil dan sebuah dapur sederhana di sudut. Tak ada sekat mewah, tak ada perabot berlebih. Sebuah dipan kayu, meja kasar, dan tungku sederhana menjadi saksi bahwa pondok itu pernah ditinggali, meski sudah lama ditinggalkan.Namun setidaknya tempat itu bersih dan aman dari binatang luar. Dan yang terpenting, cukup untuk berlindung malam ini.Inez melangkah masuk. Pandangannya langsung terpaku pada ranjang kayu di hadapannya. Ia menghela napas pelan, lalu duduk di tepinya, tubuhnya masih tegang. Dari sudut matanya, ia m

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 465

    Evander dan Inez diantar menuju lumbung untuk dibersihkan. Lumbung itu tampak kosong, tua dan berdebu. Evander sampai beberapa kali bersin. Ia meringis melihat pemandangan tersebut. Dulu, Evander tidak pernah menyentuh hal-hal semacam itu. Ia tidak mengenal beres-beres. Dan, Evander hanya ongkang-ongkang kaki, menikmati segalanya dengan mudah. Inez menoleh ke arah Evander sesaat. Senyum yang nyaris tak sampai ke mata terulas di wajahnya tatkala melihat sosok pangeran tampan Ravensel akan melakukan pekerjaan seorang pelayan. Jujur, ia merasa meragukan kemampuannya.“Tuan,” imbuh Inez mendekat. Jalannya masih tertatih, tapi dia selalu berusaha kuat di hadapan orang. Evander menggulung lengan bajunya hingga ke siku tanpa mengatakan apapun. Namun dia menoleh ke arah Inez dan berkata padanya. “Kau duduk saja,”Ines mengerjap dua kali. Ia mengangkat wajahnya dengan tatapan serius. “Aku bisa membantu, Tuan,”Evander menoleh cepat. Wajahnya seketika berubah serius hanya dalam hitungan deti

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 464

    “Kau sudah kembali dari dermaga,” kata Ana cepat tatkala menyambut kedatangan suaminya. “Bagaimana Evander?”Leon menutup pintu di belakangnya, suara kayu berat itu terdengar lebih keras dari biasanya. “Belum ada kepastian.”Ana berjalan mendekat, napasnya sedikit terengah. “Belum ada berarti ada kemungkinan?”Leon menghela napas panjang. Melihat raut wajah letihnya, Ana baru sadar, seharusnya ia tidak langsung menyambut suaminya dengan pertanyaan tadi. Ana mendekat saat Leon membuka jubah kebesarannya. Ana dengan sigap membantunya, melepas jubah itu lalu mengaitkannya pada gantungan yang berada tak jauh dari sisinya. Leon duduk dan menghela napas panjang. Ana menaruh satu cawan air berisi air putih di atas meja. “Minumlah dulu! Maafkan aku yang terlalu terburu-buru,” imbuh Ana tersenyum tipis. Leon mengambil air minum lalu meneguknya perlahan. “Di mana anak-anak?” Leon mengedarkan pandangannya mencari ke dua anaknya yang menggemaskan. Ana duduk di sampingnya. “Julian dan Juliana

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 463

    Evander terkesiap. “Kenapa Anda tidak bisa membantuku? Aku bisa bayar mahal untuk perjalanan ini,”Seketika wajah nelayan itu berubah pahit. “Badai besar terjadi perairan menuju Ravensel. Kami para nelayan tidak berani berlayar ke sana sekarang,” jawab nelayan itu merasa bimbang. Raut wajah Evander berubah muram seketika. Baiklah, ia tidak memaksa nelayan itu membantunya. “Kalau begitu aku ingin kau memberitahuku bagaimana caranya agar aku bisa ke Ravensel lewat jalur darat.” Evander berkata sembari sedikit memelas. Nelayan tua itu membungkuk lalu mengambil sesuatu dari dalam kantongnya. “Ini ada peta menuju kota. Kau bisa ambil jalur ini agar terhindar dari binatang buas,” lanjut pria tua itu sembari menyerahkan gulungan peta pada Evander. “Maafkan aku, Anak Muda. Saat ini aku hanya bisa membantumu memberikan alamat.” Pria itu mengakhiri percakapan singkat itu. Evander pun memutuskan kembali ke tenda. Di sana Inez menunggunya, berdiri tegak menahan sakit di kakinya. Rambut gelapn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status