Share

Bab 624

Author: Piemar
last update Last Updated: 2026-02-20 14:48:36

“Makanlah,” Inez menaruh nampan berisi makan malam di atas meja. Tanpa sepatah katapun, ia duduk di seberangnya.

Setelah kepergian Ana, makannya tidak berselera. Padahal ia seharusnya ia bahagia akan kedatangannya.

Evander duduk, wajahnya masih terlihat dingin. Ia mengambil piring lalu mengisinya dengan potongan daging panggang. Ia mengerat daging itu, menusuknya, lalu memasukannya ke dalam mulutnya. Ia mengunyahnya perlahan.

Namun ketika beberapa kali ia menelan potongan daging itu, ia mena
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 671

    Keesokan harinya, Thorian dikejutkan oleh kedatangan kekasih hati, Clara. Ia merasa senang bukan kepalang. Saat menerima kabar itu, ia sedang berada di istal kuda. Seorang pelayan lelaki mengabarinya.Namun, ia tiba-tiba teringat Lysandra. Gadis itu berada di rumahnya. Sial, semoga saja tidak terjadi perang. “Kenapa kau tidak mengabariku dari tadi?” omel Thorian pada pelayannya. “Maafkan hamba Yang Mulia, hamba juga tidak sengaja berpapasan dengan Nona tadi. Beliau langsung masuk melewati gerbang. Katanya, beliau mau memberi kejutan pada Anda,”Ketika penjelasan pelayan belum selesai, Thorian sudah keburu panik. Ia tidak mau terjadi kesalahpahaman di antara Clara dan Lysandra. Ia harus segera melakukan sesuatu. …Sementara itu, Clara baru saja turun dari kuda dan hendak mengetuk pintu kayu di depannya. Sengaja, ia berangkat malam agar bisa tiba di sana pagi. Namun, naasnya, ia tidak tahu siapa yang akan menyambutnya hari itu. Pintu terbuka dari dalam. Clara membeku. Seorang wanita

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 670

    Beberapa menit setelah Lysandra keluar dari rumah itu, Thorian akhirnya menghela napas panjang. Ia menutup pintu kamarnya, berniat mengakhiri malam yang melelahkan itu secepat mungkin.Namun baru saja ia menuangkan air ke dalam gelas, suara pintu depan kembali terbuka. Thorian membeku.Langkah kaki terdengar lagi di ruang utama.Ia berjalan keluar dari kamarnya dengan alis berkerut dan benar saja. Lysandra berdiri lagi di sana. Sial, ia lupa jika gadis itu adalah gadis paling keras kepala yang pernah ia kenal di antara para wanita simpanannya. Masih dengan gaun yang sama. Rambut yang sama. Bahkan ekspresi yang jauh lebih lugu daripada sebelumnya. Hem, dia menunjukan mimik muka yang ingin dikasihani. Tahu betul jika Thorian memiliki sikap lembut pada seorang wanita. Berbeda sikapnya saat berhadapan dengan pria. “Kau belum pergi?” tanya Thorian datar. “Pulang,” ralatnya disertai dengan helaan napas panjang. Wanita itu mengedip pelan. “Aku pergi.” Ia menundukan kepalanya, memainkan ja

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 669

    Malam turun perlahan di rumah perbatasan itu. Lampu minyak sudah dinyalakan di ruang tamu ketika Thorian baru saja kembali dari kandang kuda. Ia membuka sarung tangannya, meletakkannya di meja kayu dengan gerakan lelah.Hari itu terasa begitu panjang. Pikirannya masih dipenuhi percakapan dengan Clara. Tentang masa depan mereka di sana. Sungguh, ia belum merasa tenang saat ini karena belum mendapat jawaban yang pasti. Clara masih belum mengiriminya surat. Sesekali ia menghembuskan napas panjang, membuang beban yang menumpuk dalam dadanya. “Thorian.”Suara perempuan yang familiar membuatnya berhenti bernapas. Ia menoleh dengan rahang yang jatuh. Seorang wanita berdiri di dekat pintu ruang tamu. Gaunnya merah tua, potongannya pas di tubuh, rambutnya jatuh panjang di bahu. Senyum yang dikenalnya terlalu baik terlukis di bibir wanita itu. Senyum penuh godaan. Thorian mengerutkan kening. “Lysandra?”Wanita itu melangkah masuk dengan santai, seolah rumah itu masih bagian dari kehidupannya

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 668

    Beberapa hari berlalu sejak percakapan itu. Clara kembali menjalani rutinitasnya di infirmeri istana. Ramuan direbus, luka dijahit, laporan medis ditumpuk di meja kerjanya seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Setidaknya di permukaan.Namun pikirannya terus kembali pada satu hal. Percakapan dengan Leon. Dan rumah di perbatasan itu.Sore itu, ketika ia baru saja selesai mencatat kondisi seorang pasien, seorang pengawal istana muncul di ambang pintu. “Tabib Clara.”Clara mengangkat wajahnya. “Ya?”Sang pengawal menjawab singkat. “Yang Mulia meminta Anda datang.”Clara terdiam sejenak. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. “Sekarang?”Pengawal itu mengangguk. Clara menutup buku catatannya perlahan. “Baik.”Leon berdiri di dekat meja besar di tengah ruangan. Ia tidak langsung duduk ketika Clara masuk.“Hamba menghadap Yang Mulia,” kata Clara hati-hati.Leon mengangguk singkat. “Tutup pintunya.”Clara menuruti. Beberapa detik mereka hanya saling menatap.Clara akhirnya membuka suara. “

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 667

    Clara menegakkan tubuhnya. “Aku mendengarkan.”Leon membuka matanya perlahan, lalu menatapnya lurus. Sorot matanya tenang, tetapi tajam seperti biasa. “Buktikan padaku,” katanya datar.Buktikan?Clara mengernyit lalu mendesah pelan. Sesuai dugaannya, tidak akan mudah meminta restu Ravensel. Ia pun memberanikan diri berbicara. “Maaf, apa yang Yang Mulia maksud?”Tatapan Leon mengeras. “Buktikan bahwa Thorian bukan musuh bagi Ravensel.”Wajah Clara menegang seketika. Dadanya berdebar kencang. Tiba-tiba ia teringat Inez. Mungkin gadis itu merasakan perasaan yang jauh lebih berat dari apa yang ia rasakan saat ini. Beberapa detik ruangan itu menjadi sangat sunyi. Hanya suara hembusan angin yang menyentuh lembut tirai di jendela.“Aku tidak mengerti,” kata Clara pelan dan hati-hati.“Kau mengerti,” potong Leon tanpa menaikkan suara. “Kau meminta restuku untuk menerima perasaan seorang pria dari kerajaan yang selama ini berdiri berseberangan dengan kita.” Ia memperjelas posisi Thorian tanpa

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 666

    “Kenapa kau pulang terlambat?” Nathan langsung mencegat langkah sang kakak yang pulang menjelang dini hari. Gadis itu turun dengan kuda dengan penuh kehati-hatian, kemudian menyerahkan kuda itu pada salah satu pengawal yang siaga berjaga di depan paviliun.Sebetulnya, Thorian melarangnya agar tidak pulang malam itu. Sebaiknya, ia pulang keesokan akhirnya. Namun, Clara—dengan sikap keras kepalanya sama sekali tidak mendengar nasehat pria itu. “Jangan banyak tanya. Aku lelah.” Clara melewati adiknya begitu saja, masuk ke dalam kamar.Tanpa membuang tempo, karena ia sudah sangat kelelahan, ia hanya mengganti pakaiannya dengan gaun tidur berbahan linen yang tipis. Lalu detik berikutnya, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang yang empuk.Dan, keesokan harinya, Clara menemui Leonhart yang sedang berada di dalam ruangan pribadinya. Setelah melakukan kontemplasi, akhirnya ia sudah mengambil sebuah keputusan untuk diri dan masa depannya.Ruang pribadi di sayap timur istana Ravensel pagi itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status