ANMELDENMalam turun perlahan di rumah perbatasan itu. Lampu minyak sudah dinyalakan di ruang tamu ketika Thorian baru saja kembali dari kandang kuda. Ia membuka sarung tangannya, meletakkannya di meja kayu dengan gerakan lelah.Hari itu terasa begitu panjang. Pikirannya masih dipenuhi percakapan dengan Clara. Tentang masa depan mereka di sana. Sungguh, ia belum merasa tenang saat ini karena belum mendapat jawaban yang pasti. Clara masih belum mengiriminya surat. Sesekali ia menghembuskan napas panjang, membuang beban yang menumpuk dalam dadanya. “Thorian.”Suara perempuan yang familiar membuatnya berhenti bernapas. Ia menoleh dengan rahang yang jatuh. Seorang wanita berdiri di dekat pintu ruang tamu. Gaunnya merah tua, potongannya pas di tubuh, rambutnya jatuh panjang di bahu. Senyum yang dikenalnya terlalu baik terlukis di bibir wanita itu. Senyum penuh godaan. Thorian mengerutkan kening. “Lysandra?”Wanita itu melangkah masuk dengan santai, seolah rumah itu masih bagian dari kehidupannya
Beberapa hari berlalu sejak percakapan itu. Clara kembali menjalani rutinitasnya di infirmeri istana. Ramuan direbus, luka dijahit, laporan medis ditumpuk di meja kerjanya seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Setidaknya di permukaan.Namun pikirannya terus kembali pada satu hal. Percakapan dengan Leon. Dan rumah di perbatasan itu.Sore itu, ketika ia baru saja selesai mencatat kondisi seorang pasien, seorang pengawal istana muncul di ambang pintu. “Tabib Clara.”Clara mengangkat wajahnya. “Ya?”Sang pengawal menjawab singkat. “Yang Mulia meminta Anda datang.”Clara terdiam sejenak. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. “Sekarang?”Pengawal itu mengangguk. Clara menutup buku catatannya perlahan. “Baik.”Leon berdiri di dekat meja besar di tengah ruangan. Ia tidak langsung duduk ketika Clara masuk.“Hamba menghadap Yang Mulia,” kata Clara hati-hati.Leon mengangguk singkat. “Tutup pintunya.”Clara menuruti. Beberapa detik mereka hanya saling menatap.Clara akhirnya membuka suara. “
Clara menegakkan tubuhnya. “Aku mendengarkan.”Leon membuka matanya perlahan, lalu menatapnya lurus. Sorot matanya tenang, tetapi tajam seperti biasa. “Buktikan padaku,” katanya datar.Buktikan?Clara mengernyit lalu mendesah pelan. Sesuai dugaannya, tidak akan mudah meminta restu Ravensel. Ia pun memberanikan diri berbicara. “Maaf, apa yang Yang Mulia maksud?”Tatapan Leon mengeras. “Buktikan bahwa Thorian bukan musuh bagi Ravensel.”Wajah Clara menegang seketika. Dadanya berdebar kencang. Tiba-tiba ia teringat Inez. Mungkin gadis itu merasakan perasaan yang jauh lebih berat dari apa yang ia rasakan saat ini. Beberapa detik ruangan itu menjadi sangat sunyi. Hanya suara hembusan angin yang menyentuh lembut tirai di jendela.“Aku tidak mengerti,” kata Clara pelan dan hati-hati.“Kau mengerti,” potong Leon tanpa menaikkan suara. “Kau meminta restuku untuk menerima perasaan seorang pria dari kerajaan yang selama ini berdiri berseberangan dengan kita.” Ia memperjelas posisi Thorian tanpa
“Kenapa kau pulang terlambat?” Nathan langsung mencegat langkah sang kakak yang pulang menjelang dini hari. Gadis itu turun dengan kuda dengan penuh kehati-hatian, kemudian menyerahkan kuda itu pada salah satu pengawal yang siaga berjaga di depan paviliun.Sebetulnya, Thorian melarangnya agar tidak pulang malam itu. Sebaiknya, ia pulang keesokan akhirnya. Namun, Clara—dengan sikap keras kepalanya sama sekali tidak mendengar nasehat pria itu. “Jangan banyak tanya. Aku lelah.” Clara melewati adiknya begitu saja, masuk ke dalam kamar.Tanpa membuang tempo, karena ia sudah sangat kelelahan, ia hanya mengganti pakaiannya dengan gaun tidur berbahan linen yang tipis. Lalu detik berikutnya, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang yang empuk.Dan, keesokan harinya, Clara menemui Leonhart yang sedang berada di dalam ruangan pribadinya. Setelah melakukan kontemplasi, akhirnya ia sudah mengambil sebuah keputusan untuk diri dan masa depannya.Ruang pribadi di sayap timur istana Ravensel pagi itu
Keheningan sempat turun ketika Thorian berbicara tentang sesuatu hal yang serius. Clara tidak pernah menyangka jika pria itu sudah berpikir terlampau jauh bahkan sebelum ia sendiri memberikan kepastian. Rupanya, sosok pangeran itu visioner. Kendati hidupnya sudah tidak berada di dalam istana hingga kehilangan hak suksesinya, ia masih memiliki rumah besar dengan halaman yang luas serta usaha yang terlihat nyata. Tak jauh dari rumah besar itu ada istal kuda dan lahan sawit, eh, lahan gandum—yang katanya sudah dibeli olehnya. Thorian berbeda dengan Evander yang emosional dan hanya berpikir sesaat. Mungkin karena perbedaan usia yang matang. Thorian tampak seperti seseorang yang telah menyiapkan hidupnya dengan matang—bahkan untuk kemungkinan terburuk sekalipun.Andaikata, Clara menerima cintanya kemudian menikah dan memutuskan hidup bersamanya, maka hidupnya akan terjamin, tidak akan kekurangan sesuatu apapun. Namun menerimanya tak semudah itu. Sial, ia terkadang lupa, bahwa dirinya mil
Clara mengernyitkan keningnya mendengar ajakan Thorian. “Kalau ini ternyata rapat politik terselubung, aku akan turun di tengah jalan.”“Tidak ada dewan. Tidak ada utusan. Hanya aku.” Ia menuntunnya melewati jalan setapak menuju kuda hitam besar yang terikat di bawah pohon. Sesekali pria itu tersenyum melihat sikap Clara yang memang unik menurutnya. Clara menyipitkan mata. “Kau selalu membawa kuda sebesar ini?”Thorian menganguk kecil. “Aku perlu sesuatu yang cukup kuat membawa dua orang.”Clara belum sempat mencerna kalimat itu ketika Thorian sudah mengangkat tubuhnya dengan mudah, menempatkannya di pelana depan.“Tuan Thorian!” Clara berjengit kaget mendapat perlakuan seperti itu. “Apa?”“Aku bisa naik sendiri.”“Aku tahu.”Nada itu membuat Clara mendengus, tapi ia tidak benar-benar marah. Jantungnya justru berdetak terlalu cepat.Berduaan dengan Thorian dalam keadaan sadar membuatnya merasa gugup, cemas dan canggung. Pokoknya, segala perasaan tumpang tindih pada akhirnya. Bebera







