Masuk“Kenapa kau pulang terlambat?” Nathan langsung mencegat langkah sang kakak yang pulang menjelang dini hari. Gadis itu turun dengan kuda dengan penuh kehati-hatian, kemudian menyerahkan kuda itu pada salah satu pengawal yang siaga berjaga di depan paviliun.Sebetulnya, Thorian melarangnya agar tidak pulang malam itu. Sebaiknya, ia pulang keesokan akhirnya. Namun, Clara—dengan sikap keras kepalanya sama sekali tidak mendengar nasehat pria itu. “Jangan banyak tanya. Aku lelah.” Clara melewati adiknya begitu saja, masuk ke dalam kamar.Tanpa membuang tempo, karena ia sudah sangat kelelahan, ia hanya mengganti pakaiannya dengan gaun tidur berbahan linen yang tipis. Lalu detik berikutnya, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang yang empuk.Dan, keesokan harinya, Clara menemui Leonhart yang sedang berada di dalam ruangan pribadinya. Setelah melakukan kontemplasi, akhirnya ia sudah mengambil sebuah keputusan untuk diri dan masa depannya.Ruang pribadi di sayap timur istana Ravensel pagi itu
Keheningan sempat turun ketika Thorian berbicara tentang sesuatu hal yang serius. Clara tidak pernah menyangka jika pria itu sudah berpikir terlampau jauh bahkan sebelum ia sendiri memberikan kepastian. Rupanya, sosok pangeran itu visioner. Kendati hidupnya sudah tidak berada di dalam istana hingga kehilangan hak suksesinya, ia masih memiliki rumah besar dengan halaman yang luas serta usaha yang terlihat nyata. Tak jauh dari rumah besar itu ada istal kuda dan lahan sawit, eh, lahan gandum—yang katanya sudah dibeli olehnya. Thorian berbeda dengan Evander yang emosional dan hanya berpikir sesaat. Mungkin karena perbedaan usia yang matang. Thorian tampak seperti seseorang yang telah menyiapkan hidupnya dengan matang—bahkan untuk kemungkinan terburuk sekalipun.Andaikata, Clara menerima cintanya kemudian menikah dan memutuskan hidup bersamanya, maka hidupnya akan terjamin, tidak akan kekurangan sesuatu apapun. Namun menerimanya tak semudah itu. Sial, ia terkadang lupa, bahwa dirinya mil
Clara mengernyitkan keningnya mendengar ajakan Thorian. “Kalau ini ternyata rapat politik terselubung, aku akan turun di tengah jalan.”“Tidak ada dewan. Tidak ada utusan. Hanya aku.” Ia menuntunnya melewati jalan setapak menuju kuda hitam besar yang terikat di bawah pohon. Sesekali pria itu tersenyum melihat sikap Clara yang memang unik menurutnya. Clara menyipitkan mata. “Kau selalu membawa kuda sebesar ini?”Thorian menganguk kecil. “Aku perlu sesuatu yang cukup kuat membawa dua orang.”Clara belum sempat mencerna kalimat itu ketika Thorian sudah mengangkat tubuhnya dengan mudah, menempatkannya di pelana depan.“Tuan Thorian!” Clara berjengit kaget mendapat perlakuan seperti itu. “Apa?”“Aku bisa naik sendiri.”“Aku tahu.”Nada itu membuat Clara mendengus, tapi ia tidak benar-benar marah. Jantungnya justru berdetak terlalu cepat.Berduaan dengan Thorian dalam keadaan sadar membuatnya merasa gugup, cemas dan canggung. Pokoknya, segala perasaan tumpang tindih pada akhirnya. Bebera
Thorian melangkahkan kakinya, memangkas jarak di antara dirinya dengan gadis yang akhir-akhir ini selalu mengusik tidurnya. Gadis yang berhasil meluluhlantakkan pikirannya. Gadis yang telah berhasil mewarnai kanvas dalam hidupnya. Wajah Clara menegang tatkala merasakan tatapan pria dewasa di depannya. Tatapannya sayu dan hangat. Tatapan yang berbeda dari biasanya. Tatapan yang lebih tajam ketimbang tatapan anak panah yang menembus kulit di tubuhnya. Bibirnya bergerak hendak bertanya. Apa yang ingin kaukatakan, Pangeran? Namun entah kenapa, tiba-tiba jantungnya berdegup tak karuan. Lidahnya terasa kelu hingga ia kesulitan hanya untuk meloloskan sepatah kata pun. Tanpa tedeng aling-aling, Thorian meraih ke dua tangan lentiknya, menggenggamnya hangat. Clara mengerjap, mendapat sentuhan tiba-tiba itu. Apalagi tatapan pria itu masih terpacak pada wajahnya, lurus, sayu dan tidak berkedip. Detik berikutnya, tubuhnya terasa membeku tatkala sesuatu mengusap bibirnya dengan lembut. Napasnya
Clara berjalan bolak-balik di depan kamar yang ia tempati. Ia tidak bisa tidur nyenyak. Di tangannya sebuah surat digenggam erat. Surat yang dikirim oleh Thorian untuknya—yang memintanya bertemu. “Pergi? Enggak? Pergi? Enggak?” monolognya dengan hati yang gelisah. “Kau mau melamar jadi pengawal istana?” Nathan menghampiri kakaknya. Ia berjalan ke arahnya sembari mengucek matanya yang terasa berat. Malam sudah larut, tetapi suara-suara kecil yang dibuat sang kakak, membuatnya terbangun dari mimpi indahnya. Padahal ia tengah bermimpi menjadi seorang putra mahkota di negeri antah berantah. Ketika mendengar suara adiknya, Clara menoleh dengan tatapan tajam. “Aku seorang tabib. Aku tidak tertarik mengawal orang.” Nathan mendesah pelan. “Jadi apa yang kaulakukan malam begini? Apa jangan-jangan kau berniat kabur dari istana?”Clara memutar ke dua bola matanya jengah. Adiknya itu memang sosok yang paling senang menggodanya. “Nathan, ini bukan urusanmu,” bentak Clara akan tetapi sama seka
Meggie melangkah pelan mendekat, menundukkan sedikit tubuhnya sebelum berbisik di samping Inez. “Mereka sering bertanya… kapan semua orang akan berkumpul lagi seperti dulu.”Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat senyum Inez meredup. Di seberangnya, Evander yang semula berdiri tegak mendadak terdiam, napasnya terasa berat.“Seperti dulu?” ulang Inez lirih.Meggie mengangguk. “Ya. Sebelum wabah. Sebelum banyak hal berubah.”Inez memalingkan wajahnya ke arah Juliana yang tengah berdiri di atas kursi kecil, kedua tangannya terentang, berusaha menyeimbangkan diri seolah sedang menaklukkan panggung besar.“Banyak hal memang berubah,” gumam Inez, suaranya nyaris tenggelam oleh tawa anak itu.Evander menangkap nada sendu yang tak sempat disembunyikan. Ia melangkah mendekat, berdiri di sisi Inez tanpa menyentuh, tapi cukup dekat untuk menunjukkan bahwa ia ada di sana. “Tapi tidak semua berubah menjadi buruk,” ujarnya tenang.Inez menoleh, alisnya terangkat tipis. “Tidak?”Evander men







