Share

Melewati batas

last update Dernière mise à jour: 2026-02-23 10:15:04

Jantung Jena berdegup kencang merasakan hapas Jonathan menyentuh kutnya hangat. Sesuatu di dalam dirinya berteriak, menyuruhnya bangkit dan pergi. Menyadarkan jika Jo sudah bertunangan. Laki-laki itu akan segera menikah.

Tapi tubuh Jena justru mengatakan lain. Dia tidak bergerak, Jonathan tahu ini tidak benar.

Namun wajahnya terus saja mendekat pada gadis itu.

Terlalu dekat.

Jena tidak langsung menjawab. Tangannya yang semula menahan dada Jonathan perlahan melemah.

Ia tahu pintu itu masih ada di belakangnya. Jena harusnya berdiri, membukanya, kemudian pergi, lalu pulang dengan kereta terakhir. Besok dia bisa berkerja, dan kembali memanggil Jonathan Pak seperti sebelumnya. Tapi tubuhnya masih tak bergerak. Tatapan mereka terkunci pada satu titik, dengan jarak yang perlahan makin menipis.

Jonathan tidak menyentuh lagi, seolah menunggu. Solah memberi waktu dan kesempatan pada Jena untuk menolak. Beberapa detik berlalu, lampu dapur memantul di mata Jena, tapi dia tetap tidak bangkit.

Bagi Jo itu cukup.

Tangan Jonathan kembali terangkat menyentuh wajah Jena. Lebih hati-hati kali ini. Seolah takut membuat gadis itu benar-benar pergi.

Ciuman kedua datang lebih lambat. Tidak terburu-buru, tapi lebih dalam dari sebelumnya. Melahap bibir Jena perlahan seperti sedang menikmati permen terenak di dunia, dan tak ingin permen itu cepat habis. Jena menarik napas di sela-selanya. Tangannya mencengkeram kerah kemeja Jonathan. Entah reflek, atau dia sama menginginkannya. Jena tidak tahu.

Jonathan mundur beberapa senti.

Napasnya terengah-engah.

"Kita tidak boleh,” gumam Jena pelan disela jeda.

“Ya, aku tahu," balas Jo parau.

Tapi tidak ada yang bergerak, dan di ruang yang terlalu sunyi itu--batas yang seharusnya mereka jaga, lenyap begitu saja.

Jonathan kembali melumat bibir Jena rakus. Jena melotot saat merasakan lidah Jo berusaha menyusup ke dalam mulutnya. Untuk Jena, ini benar-benar sesuatu yang baru. Dia tidak pernah berciuam dengan laki-laki manapun sebelum ini. Mulut Jena terbuka sedikit, membiarkan lidah Jo menyapu liar setiap sudut di mulutnya.

Kemudian Jo menggelitik lidah Jena dengan lidahnya, dan menyedot habis udara di dalam mulut Jena hingga gadis itu hampir kehilangan napas. Ditengah napas Jena yang terputus-putus, Jo mengangkat tubuh Jena ringan.

Kali ini tangan Jena sudah melingkar di leher Jonathan. Rasa baru yang Jo berikan di mulutnya, membuat Jena tanpa sadar ingin terus meraskannya. Kali ini Jena jadi lebih berani, mendekat terlebih dahulu dan mencumbu Jonathan yang sedang membawa tubuhnya masuk ke dalam kamar.

Jonathan menurunkan tubuh gadis itu lembut, tanpa melepaskan ciuman di bibirnya. Sebelah lengan Jo menopang tubuh, sedang yang lain membelai rambut Jena sayang.

Kecupan itu perlahan turun ke leher Jena. Jonathan mencium aroma sabun mandi dari kulit lehernya yang mulus. Terus turun perlahan, hingga ke dada bagian atas gadis itu. Tangan Jonathan berpindah ke kancing kemeja Jena, bersiap melepasnya, tapi Jena memegang tangan Jo berusaha mencegah.

"Jangan, Pak. Aku belum penah melakukannya..."

Jonathan hanya tersenyum, lebih lebar dari yang pernah dia tunjukkan, hingga kali ini Jena kembali mengalah. Tangan Jena melonggar, dan Jo kembali melepas kancing kemeja gadis itu satu persatu hingga terlepas seluruhnya.

Jena tidak pernah mengenakan kemeja yang ketat, dan membuat lekuk tubuhnya menonjol dengan jelas, sampai-sampai Jonathan lumayan terkejut pendapati ukuran dada gadis itu yang padat dan besar, dari balik branya.

Tangan Jonathan menyusup ke balik punggung Jena, dan melepaskan kaitan bra yang Jena kenakan. Tubuh Jena bergetar saat bibir Jonathan menyentuh putingnya, terlebih ketika pria itu menyedotnya seperti seorang bayi yang lapar. Tangan Jena terangkat meremas keras rambut Jonathan yang biasanya selalu tersisir rapi.

Satu-persatu erangan lembut lolos dari bibirnya yang sudah terasa membengkak.

"Ah... jangan Pak. Geli... ughh..."

Jo menjilatnya lembut, kemudian kembali mengecup setiap inci kulit Jena hingga kembali ke lehernya. Jo berbisik pelan di sana. "Jangan panggil Pak. Panggil namaku..." lantas kembali menghujami leher Jena dengan ciuman.

"J-Jo..."

"Iya, seperti itu," kata Jonathan.

Tangan Jonathan meraih dan melempar bra yang masih menempel di dada Jena, ke sembarang tempat. Jena bisa merasakan hangat yang menjalar dari telapak tangan Jonathan, memijit lembut payudaranya. Setiap sentuhannya yang Jonathan berikan membuat tubuh Jena ingin menuntut lebih.

Sesuatu di dalam tubuh Jena bagian bawah berdenyut. Bahkan Jena bisa merasakan jika cela dalamnya kini basah.

Cukup lama mulut Jonathan bermain di niple Jena yang berwarna pink, mencumbunya, dan menghisipnya bergantian. Sementata di bagian lain, tangan Jonathan mulai membelai lembut paha Jena, kemudian menyusup di balik rok hitam yang Jena kenakan. Jemarinya bergerak pelan membelai di antara paha Jena, di area celana dalam Jena yang lembab ketika menentuh kulit Jo.

Dengan satu gerakan, Jo berhasil menarik turun celana dalam berenda berwarna merah itu. Jo Segera berdiri, dan melepas sabuk yang melingkar di pinggangnya. Setelah itu, tangan Jo membuka kancing dan reseleting celana bahan yang dia kenakan, lalu menarik celana itu tunun hingga menyisakan boxer dengan sesuatu yang sudah menonjol di antara pahanya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Jena melihat penis seorang pria dewasa. Berukuran 18 cm, menantang tepat di depan wajahnya. Dada Jena bergemuruh, dia memejamkan mata sembari menggigit kuku jarinya, dan memalingkan wajah dari Jonathan.

Jena masih tidak percaya dengan apa yang sedang dia lakukan dengan bosnya itu sekarang. Otaknya berkerja cepat, tapi satu-satunya yang terpikirkan hanya sentuhan-sentuhan Jonathan di tubuhnya, dan sensasi tidak biasa yang dia terima dengan sukarela.

Kini Jonathan sudah ada di atasnya. Mengangkat kedua kaki Jena lebar, dan meletakkannya di atas pundak, hingga Jo bisa melihat jelas milik gadis itu ditutupi rambut tipis, merah jambu, dan basah.

Jo menggesek ujung miliknya, di sana. Dia melihat tubuh gadis yang ada di bawahnya menggeliat pelan. Jena masih menggingit ujung kukunya, membuatnya terlihat makin menggoda di mata Jo. Sebelah tangan Jonathan yang bebas, mendekat ke wajah Jena dan menyapu bibir Jena yang seksi dengan ibu jarinya.

Mulut Jena sedikit tebuka. Jo menyusupkan jempolnya kedalam mulut gadis itu, yang langsung didigit lembut oleh Jena.

Pinggang Jo mulai bergerak maju mundur perlahan, menghujam kepala penisnya kedalam bagian tubuh Jena yang terasa sangat sempit. Jo mendorong pinggangnya beberapa kali, tapi terhenti karene mendengar rintih kecil lolos dari bibir Jena.

"Ah, sakit sekali Jo..." Jo merasa kuku Jena yang tajam neusuk kulit lehernya.

Jena yang ada di bawah Jo dengan rambut hitamnya tergerai berantakan, dan anak rambut menempel di beberapa bagian wajahnya. Dia menggigit bibir bawah kuat, seolah menahan sakit yang teramat. Jo bahkan bisa melihat kristal bening mengatung di sudut matanya.

Samar Jo teringat bahwa Jena bilang ini kali pertamanya.

Jo menghentikan gerakan pinggangnya. Dia membelai pelan pucuk kepala gadis itu, lalu mengecupnya. Cukup lama. Kemudian tatapan Jo berpindah pada mata beling Jena yang kini memandangnya dengan berkaca-kaca. Jo memandangnya sayu.

"Boleh kulanjutkan?"

Cukup lama Jena membiarkan pertanyaan itu mengatung di udara, sebelum akhirnya ia balas dengan sebuah anggukan kecil.

Kepala Jo turun, kembali mencumbu leher Jema yang jenjang. Sesekali dia menghisap, dan menjilatinya, memberi rasa rileks pada gadis itu. Pinggang Jo mulai dia gerakkan maju mundur dengan perlahan.

"Sakit, Jo. Ah, jangan... tolong..." cicit Jena.

Kali ini Jo tidak menghentikannya. Jo tetap lanjut menggerakkan pinggulnya maju mundur, memompa gadis itu. Jo bahkan menghentaknya beberapa kali hingga akhirnya miliknya berhasil terbenam sepenuhnya dalam tubuh Jena, menyisakan jeritan Jena yang menggema ke seluruh ruangan.

Saat Jena bilang dia masih gadis, Jo sempat meragukannya. Bukan karena dia tidak percaya pada gadis itu, tapi melakukan hubungan sebelum menikah adalah hal yang umum di kota ini. Bahkan saat pertama kali Jo melakukannua dengan Clarissa, gadis itu sudah tidak perawan.

Jo tidak tahu rasanya tidur dengan gadis yang masih ting-ting, hingga akhiranya dia merasakannya hari ini. Milik Jena yang masih sempit mencekik nikmat Jo hingga Ia tak mampu menahan hasratnya. Jo membiarkan miliknya berada di dalam Jena beberapa waktu, sampai gadis itu tidak lagi menangis.

"Apa masih begitu sakit?" tanya Jo setelah beberapa saat.

Jena, masih dengan air mata yang mengalir di pipinya menggeleng. Jo menyapu basah di pipi gadis itu dengan jari, lalu melanjutkan gerakan di bawah sana. Pertama lembut, lalu mulai memompa cepat.

Kaki jena yang tadi ada di pundak Jo kini turun, dan melingkar di pinggang pria itu. Kuat. Seakan ingin Jo menusuknya lebih dalam. Jo menghentak kuat, hingga ke dasar, menciptakan rasa sesak sampai ke dada Jena.

Semakin lama gerakan Jonathan semakin intens, hingga tanpa sadar Jena menggerakkan bokongnya sesuai dengan ritme hentakan Jonathan.

Saat Jonathan akhirnya tiba dipuncaknya, dia menambah kecepatannya sampai alhirnya tubuh Jo bergetar pelan, dan sesuatu yang hangat menyembur memenuhi bagian dalam Jena. Jonathan ambruk di atas gadis itu, sementara otot-otot Jena memijat pelan milik Jo yang masih ada di dalam sana. Setelah cukup lama berada di posisi yang membuat Jena sesak, akhirnya Jo menghemoaskan badannya di sebelah gadis itu.

Mereka berdua menatap langit-lagit, ke arah lampu putih yang berpijar lembut menimpa tubuh setengah telanjang mereka. Jo menarik selimut yang ada di bagian bawah, lalu membuat selimut itu menutupi tubuhnya dan Jena lalu dia mendekap tubuh Jena dari belakang.

"Aku yang pertama melakukannya?"

Ibu bukan konfirmasi. Itu validasi.

Jena menangguk. Dada Jonathan yang bidang menempel hangat pada punggung Jena, sedang lengan kekarnya melingkar di pinggang Jena yang ramping. Jena masih merasakan dadadnya berdebar kencang seakan ingin meledak. Mata Jena memejam, cukup lama, berhatap jika yang barusan terjadi hanya sebuah mimpi.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Transaksi

    Jena terbangun esokan harinya. Cahaya mentari menyusup lembut dari balik tirai apartemen, memberi sedikit sinar pada ruang yang lampunya sudah dimatikan itu. Jena mengintip ke dalam selimut. Tubuhnya tanpa terbalut sehelai benang pun. Ia membalik badan, tak ada Jo di sana. Jena beranjak perlahan, membawa dirinya masuk ke dalam kamar mandi. Cukup lama dia membiarkan tubuhnya berada di bawah guyuran shower. Berkali-kali merutuki dirinya sendiri, yang terbangun pagi ini di ranjang bosnya. Jena yakin dia pasti sudah gila. Memikirkannya saja sudah cukup membuat Jena ingin tetap berlama-lama di dalam sini, sebab dia sama sekali tidak tahu bagaimana dia harus berhadapan dengan Jo setelah ini. Namun setelah marenung cukup lama, akhirnya Jena keluar dengan selembar handuk yang membalut tubuhnya. Jena sama sekali tidak menyangka jika saat dia membuka pintu kamar mandi, hal yang pertama kali dia dapati adalah Jonathan. Duduk di atas kasur tepat menghadao kamar mandi seolah sedang menungg

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Melewati batas

    Jantung Jena berdegup kencang merasakan hapas Jonathan menyentuh kutnya hangat. Sesuatu di dalam dirinya berteriak, menyuruhnya bangkit dan pergi. Menyadarkan jika Jo sudah bertunangan. Laki-laki itu akan segera menikah. Tapi tubuh Jena justru mengatakan lain. Dia tidak bergerak, Jonathan tahu ini tidak benar. Namun wajahnya terus saja mendekat pada gadis itu. Terlalu dekat. Jena tidak langsung menjawab. Tangannya yang semula menahan dada Jonathan perlahan melemah. Ia tahu pintu itu masih ada di belakangnya. Jena harusnya berdiri, membukanya, kemudian pergi, lalu pulang dengan kereta terakhir. Besok dia bisa berkerja, dan kembali memanggil Jonathan Pak seperti sebelumnya. Tapi tubuhnya masih tak bergerak. Tatapan mereka terkunci pada satu titik, dengan jarak yang perlahan makin menipis. Jonathan tidak menyentuh lagi, seolah menunggu. Solah memberi waktu dan kesempatan pada Jena untuk menolak. Beberapa detik berlalu, lampu dapur memantul di mata Jena, tapi dia tetap tidak bang

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Batas yang Mengabur

    Kini mereka berdua sudah ada di dalam mobil Jonathan, yang membelah pelan jalan kota Alvendere. Pijar lampu-lampu jalan sesekali menyusup dari balik kaca mobil yang gelap. Udara dingin AC mobil itu menusuk bahkan sampai ke balik jaket rajut Jena yang tipis. Dari sudut matanya, Jonathan melirik ke arah gadis itu. Dari pada dingin AC, Jena lebih tersiksa dengan kecanggungan yang menyelimuti setiap sudut ruang di mobil ini. Barang kali hanya Jena saja yang menganggapnya begitu, karena seperti biasanya--Jo selalu diam tanpa ekspresi. Datar dan selalu terlihat tidak berperasaan. Mendapatkan tawaran tumpangan dari pria itu malam ini saja sudah cukup mengejutka. "Sepertinya kamu cukup tertarik dengan menejemen." Suara berat Jonathan membelah keheningan. "Saya selalu ingin mengambil jurusan manejemen bisnis saat kuliah." "Kenapa tidak kamu lakukan?" Kepala Jena menoleh ke arah samping. Dia tersenyum kecil melihat ekspresi yang Jo tampikan. Tentu saja bagi Jo yang lahir dengan sen

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Sesuatu yang mengawali

    Velmora terlihat lebih terang malam itu. Lampu butik di Arvendale memantul di kaca mobil Jonathan ketika ia berhenti di depan gedung perancang busana langganan keluarga Adipati. Ia hampir lupa, bahwa hari ini dia sudah janji pada Clarissa akan meluangkan waktu untuk fitting baju pernikahan. Clarissa sudah berdiri di depan pintu. Hari ini dia mengenakan gaun putih sederhana, buatan perancang busana kenamaan. Rambutnya diikat setengah. Ia tersenyum begitu melihat Jonathan keluar dari mobil. “Akhirnya kamu datang Jo. Aku pikir kamu akan lupa." Nada suaranya terdengar lega. Seolah ia sempat ragu bahwa Jo akan datang. “Maaf, tadi di toko-" “Tidak apa-apa.” Clarissa memotong cepat, sebelum Jo sempat menyelesaikan kalimatnya. Bahkan terlalu cepat. Clarissa menggenggam lengan Jonathan. "Ayo, masuk!" Ruangan itu hangat. Lampu kuning berpijar lembut menyinari seisi ruangan. Dindingnya penuh kain mahal yang digantung rapi. Seorang asisten datang membawa setelan

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Hal remeh yang mengganggu

    Jena sedang terduduk di dalam kamar kosnya yang sempit. Setelah kejadian tadi, tak banyak percakapan yang terjadi antara dirinya dan Dimas di sepanjang sisa perjalanan. Jena masih menghitung beberapa lembar uang yang tergeletak di atas meja kecil, sambil mencoret-coret buku keuangannya beberapa kali. Uang itu adalah tabungan yang berhasil dia kumpulnya selama lebih dari setahun dia berkerja di toko Lentera. Jumlahnya masih jauh dari kata cukup, untuk Jena bisa mendaftar di universitas impiannya. Uang itu kini bahkan harus Jena kurangi untuk membayar biaya kosnya yang tiba-tiba saja naik. *** Langit masih kelabu ketika Jena menaiki tangga keluar stasiun kereta Alvendere. Udara dingin menusuk kulit, padahal cahaya mentari mulai tampak bersinar malu-malu dari balik awan-awan tebal. Jena berjalan cepat menyusuri trotoar, melewati deretan café yang belum buka dan butik dengan etalase bersih, yang terpajang gaun-gaun cantik di dalamnya. Toko Buku Lentera berdiri di sudut jalan ut

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Rasa tidak nyaman

    Audit membuat semua orang pulang lebih lambat dari biasanya. Rak-rak yang seharusnya sudah rapi kembali diperiksa. Laporan yang seharusnya sudah selesai sejak sore tadi, harus dicetak ulang sebab formatnya tidak sesuai dengan standar pusat. Rani sudah pamit lebih dulu karena harus menghadiri acara keluarga, begitu pun karyawan lain. Satu per satu bergerak meninggalkan toko, karena kini jam di dinding telah menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh malam. Lampu utama dimatikan sebagian. Hanya menyisakan cahaya di dekat kasir dan lorong tengah. Jena masih duduk di meja kasir, menatap layar komputer dengan mata yang mulai perih dan berair. Angka-angka pelanggan tetap itu harus benar sebelum audit datang. Kalau ada satu saja yang salah mereka harus menyusun ulang data dari awal. Ia menarik napas pelan, berdiri mengambil map laporan yang baru saja selesai dicetak. Jena melirik sebentar ke arah kantor Jonatan yang lampunya masih meyala, pintu tidak tertutup rapat. Jena kemudian memutus

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status