Se connecterJena terbangun esokan harinya. Cahaya mentari menyusup lembut dari balik tirai apartemen, memberi sedikit sinar pada ruang yang lampunya sudah dimatikan itu.
Jena mengintip ke dalam selimut. Tubuhnya tanpa terbalut sehelai benang pun. Ia membalik badan, tak ada Jo di sana. Jena beranjak perlahan, membawa dirinya masuk ke dalam kamar mandi. Cukup lama dia membiarkan tubuhnya berada di bawah guyuran shower. Berkali-kali merutuki dirinya sendiri, yang terbangun pagi ini di ranjang bosnya. Jena yakin dia pasti sudah gila. Memikirkannya saja sudah cukup membuat Jena ingin tetap berlama-lama di dalam sini, sebab dia sama sekali tidak tahu bagaimana dia harus berhadapan dengan Jo setelah ini. Namun setelah merenung cukup lama, akhirnya Jena keluar dengan selembar handuk yang membalut tubuhnya. Jena sama sekali tidak menyangka jika saat dia membuka pintu kamar mandi, hal yang pertama kali dia dapati adalah Jonathan. Duduk di atas kasur tepat menghadap kamar mandi seolah sedang menunggu. Jena segera menutup bagian dada dan pahanya dengan tangan panik. "Untuk apa menutupinya? aku sudah melihat semuanya," kata Jo sembari meyerahkan sebuah paperbag pada Jena. Nadanya kembali datar seperti sebelumnya. Jena mengambil paperbag itu dengan waspada, seakan Jo bisa menerkamnya kapan saja sekarang. Jo tersenyum miring. "Itu baju. Kamu nggak mungkin pakai lagi baju yang sudah kamu pakai seharian kemarin." "Terimakasih, Pak..." Jena segera berbalik masuk kembali ke kamar mandi dan menutup pintunya. Jena masih tidak bisa mencerna situasi dengan benar. Di dalam paperbag itu terdapat sepasang dalaman wanita berenda berwarna senada. Sebuah baju seragam toko lentera yang masih terbungkus plastik bening, dan sebuah rok hitam pendek seperti apa yang selalu Jena kenakan. Tapi sebentar. Ukurannya lebih kecil--bukan tidak muat, hanya saja terlalu pas hingga mencetak lekuk tubuh Jena dengan jelas dan membuatnya agak tidak nyaman. Selain itu, didalamnya juga terdapat sebuah stoking. Jena mengambilnya, dengan kedua sudut bibir terangkat naik. Entah kenapa stoking ini membuatnya senang. Jena keluar sembari menarik ujung roknya kebawah, karena rok yang Jena kenakan sekarang lebih pendek dari yang selau dia kenakan. Kamar itu sudah kembali rapi. Baju Jena dan Jo yang tadinya masih tercecer di lantai sudah tidak ada. Jena keluar kamar, dan mendapati Jonathan sedang duduk di sofa ruang tamu, sambil menyeruput cairan hitam dengan asap tipis yang masih mengepul dari gelasnya. Jo melirik sekilas ke arah gadis itu. Jena terlihat berbeda hari ini, tapi Jo masih belum menyadari apa yang membuatnya terlihat seperti itu. Ia mendorong cangkir berisi teh ke arah Jena, dan sepiring berisi sandwich yang dia buat sendiri. "Habiskan. Kita berangkat 15 menit lagi," ucap Jo. "Saya bisa berangkat sendiri, Pak. Saya akan naik bus," kata Jena. "Ikut aku. Urusan kita belum selesai." Jena menelan ludahnya dengan susah payah. "Saya akan bersikap seolah nggak pernah terjadi apa-apa." Jena segera bangkit berdiri, "terimakasih sarapannya." Sebelum Jo kembali menghentikan langkahnya, Jena segera menyambar tas dan jaket rajut yang tergeletak di atas meja, dan berlari keluar. Jena menyusuri apartemen setengah berlari tanpa menoleh kebelakang. Ia baru bisa bernapas dengan lega setelah pintu lift tertutup dan membawanya turun ke lantai dasar. *** Perjalanan menuju toko terasa lebih panjang dari pada sebelumnya. Jena melemparkan pandangannya ke luar jendela bus, jalan dan gedung-gedung tinggi berlari cepat berganti dengan pertokoan. Namun satu-satunya yang tidak mau pergi hanya bayangan akan malam tadi. Setiap jengkal kulitnya mengingat sentuhan-sentuhan yang Jonathan berikan. Tanpa terasa Jena sudah tiba di halte tujuannya. Dia turun, berjalan beberapa saat, dan mendapati lampu loko sudah menyala. Jena segera masuk dan melihat bahwa lampu di ruangan Jo juga sudah menyala. Pria itu sampai lebih dulu. Jena menyapa Rani yang sedang tersenyum dibalik kasir, memegang kemoceng, dan membersihkan debu yang menpel di setiap sela meja. "Je, kamu melihatan beda sekali hari ini." Bola mata Rani berbinar saat mengucapkannya. "Oh ya?" "Ya... sepertinya hari ini baju dan rokmu kelihatan agak... kekecilan," ucap Rani sambil memgamati. "Tapi kamu terlihat mantap sekali." Jonathan keluar dari ruangannya saat Rani mengucapkan kalimat itu. Seketika dia menyadari bahwa dia salah memberikan ukuran rok dan baju untuk Jena, sehingga membuat Jena terlihat tidak nyaman beraktifitas. "Apa sih, Ran! aku cuma salah beli ukuran. Dari online," ucap Jena sambil berlalu meninggalkan Rani, dan berjalan ke arah rak belakang. Jena berusaha terlihat biasa saja saat melewati Jo. Dia bahkan menyapa Jonathan dengan normal seperti biasanya, menjaga ekspresi untuk tetap terlihat begitu, walaupun dadanya sudah mau meledak sekarang. Tidak hanya Jena, sepanjang pagi Jo bahkan tidak bisa melepaskan perhatiannya dari gadis itu. Tanpa sadar Jo terus menerus mencari keberadaannya, memperhatikan setiap gerakannya dari kejauhan, bahkan ketika berdiri di balik layar komputernya, bayangan jadis itu masih berlarian dikepalanya. Rasanya sudah lama sekali Jo tidak merasakan debaran yang sama. *** Tidak terasa waktu sudah mulai mendekati tutup toko. Setiap karyawan mulai meninggalkan toko kecuali Jena. Dia masih ada di gudang belakang, menyelesaikan laporan sok import yang harusnya dia selesaikan kemarin. Toko agak ramai di akhir pekan, jadi dia belum sempat mengerjakannya seharian ini. Jena bisa saja menyelesaikannya di depan, di meja kasir, tapi Jena tahu bahwa Jo belum meninggalkan toko dan Jena sedang nerusaha menghindari untuk bertemu dengan bosnya itu. Jo hampir pulang saat dia kira sudah tak ada seorang pun di sana, sampai untuk yang terakhir Jo ingin mengecek gudang. Dia tidak tahu untuk apa, tapi hatinya berkata harus. Saat dia berhasil membuka gudang, Jena sedang duduk di antara rak-rak. Roknya yang ketat mencetak jelas bokong Jena, dengan kedua paha yang seakan ingin merobek rok itu. Saat ia melihat Jonathan berdiri di pintu, Jena segera berdiri dan dengan wajah seperti baru saja melihat hantu. "B-bapak belum pulang?" tanyanya berusaha menyembunyikan kegugupan. "Ini sudah mau. Bagaimana dengan kamu?" "S-saya juga akan pulang... sementara lagi." "Ayo aku antar..." Jena menyadarinya. Jo tidak lagi mengunakan kata saya, dia menggantinya dengan aku. Tapi ajakannya tidak seperti penawaran, melainkan perintah. "Saya nggak bisa pak." Sebelah alis Jo terangkat. Jo berjalan masuki gudang itu, menipiskan jarak antara dirinya dan Jena. "Kamu mau kabur lagi seperti tadi pagi?" Kepala Jena menunduk dalam. Ia menggeleng lemah. Jonathan menyodorkan sebuah map cokelat pada Jena, membuat gadis itu perlahan mendongak. "Apa ini?" "Bukalah..." Jena membukanya perlahan. Di bawah sinar satu-satunya lampu yang masih menyala, terlihat selembar kertas dengan tulisan bercetak tebal di atasnya; Universitas Velmora Raya Fakultas Ekonomi & Bisnis. Program Studi: Manajemen Alis Jena berkerut. “Beasiswa," ucap Jo seakan bisa menjelaskan segalanya. Jena mengangkat wajahnya. Menatap Jonathan untuk memastikan ia tidak salah dengar. “Saya nggak pernah mendaftar.” “Sekarang kamu akan.” Hening mengatung di udara. Di bagian bawah formulir--ada catatan kecil. Ditandatangani Jonathan Max Endrew sebagai rekomendator. Tangan Jena yang memegang kertas itu bergetar. Ia tidak menyangka jika sedang menggenggam mimpi ditangannya yang akan datang secepat ini. "Tapi ini untuk apa?" "Untukmu, apa lagi?" "Apa ini bayaran untuk malam itu?" tanya Jena ragu-ragu. Jonathan masih memandangnya. Masih dengan ekspresi yang tidak bisa Jena baca. Tidak ada senyum penuh kasih yang dia perlihatkan semalam, saat Jo berada di atas tubuhnya. "Kalau kamu ingin bayaran untuk itu, anggap saja ini uang mukanya." Plak! Entah bagaimana, tangan Jena sudah mendarat di pipi Jonathan keras, hingga cukup untuk membuat telapak tangannya memanas. Jena memundurkan langkahnya perlahan. Jo mengangkat wajahnya, kembali memandang gadis di hadapannya. Kali ini tatapan Jo melemah. "Aku nggak menganggapnya sebagai transaksional. Aku kasih kamu ini, karena kamu pantas mendapatkannya." *** Jena menatap kertas yang ada di tangannya. Memandang dalam selembar keras itu; mimpi yang sebelumnya terasa jauh kini ada di depan mata. Kini ada di genggamannya. Harusnya Jena senang bukan? Namun Jena sama sekali tidak bisa mengartikan perasaannya kini. Jena tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Pantaskah dia merayakannya? atau harusnya Jena berduka? sebab beasiswa ini terasa seperti rantai yang Jonathan ikatkan di lehernya. Jo bilang ini bukan sebuah transaksi, ia bilang Jena pantas mendapatkannya. Tapi atas dasar apa? atas dasar cinta satu malam yang mereka lakukan, atau justru-ini akan jadi awal atas malam-malam berikutnya? Jena menggeleng cepat. Apapun yang akan terjadi esok, biarlah terjadi. Jena memutuskna untuk mengangkat pulpennya, kemudian mengisi baris-baris kosong di kertas itu. Ini impian yang Jena kejar sepanjang hidupnya, dan Jena tidak akan melepaskannya begitu saja.Tentu saja. Dan tidak ada wanita baik yang mau jadi selingkuhan. Namun Jena bersuara bukan karena dia ingin terlihat baik, dia hanya mencoba memberi tahu pada Jonathan; jika kamu tidak bisa berbuat baik pada orang lain, cukup untuk tidak menjadi jahat. Namun ternyata kalimat pendek yang terucap dari mulut Jo cukup membuat Jena berpikir panjang. Memperjelas statusnya yang sekarang adalah seorang pacar rahasia. Seorang selingkuhan. Dan itu cukup membuat Jena merasa terganggu. Setelah percakapan itu, Jena keluar dari ruangan Jo. Di depan keadaan kembali seperti biasanya. Yang berubah hanya suana hati Jena sebab kini dia menyadari bahwa berbuat baik ternyata tidak lantas membuatnya jadi baik. *** Hari sudah gelap, namun jalan di jantung kota tetap ramai seolah tidak punya waktu untuk istirahat. Jena sedang menjejakkan langkahnya di trotoar sambil menikmati nyeri kecil yang terasa menusuk-nusuk pinggang dan betisnya. Jena mungkin mulai menikmati jadwal baru yang ia atu
Berakhirnya audit tidak serta-merta membuat perkerjaan orang-orang di Lentera jadi lebih santai. Terlebih setelah suplay stok buku impor dari Aurora masuk. Banyak kolektor buku yang berbondong-bondong datang mencari buku baru yang kini Lentera sediakan. Meski Jonathan sudah berupaya merekrut karyawan baru untuk bisa membuat toko tetap berjalan stabil, nyatanya mengajari karyawan baru tidak semudah Jo memerintah. Maya dan Rani yang kini ditugaskan di meja pre-scan menggantikan Jena lumayan kewalahan sebab hari ini pelanggan datang silih berganti, dan terasa lebih bawel dari pada biasanya. Maya baru bisa mengatur napasnya dengan baik dan benar setelah beberapa saat. Ia sedang berdiri di dekat meja kasir sembari meneguk air mineral dari botol yang ia bawa dari rumah--ketika Maya merasa ada sesuatu yang dia lewatkan, tetapi dia sama sekali tidak bisa mengingat tentang apa itu. Sampai pintu kantor Jonathan terbuka, dan Jo berdiri di depan pintu sambil beracak pinggang ke arah May
"Jo, aku sudah bilang, kamu nggak perlu nganterin aku...""Aku mau, Je. Sudah, ya, jangan bawel. Aku cuma antar sampai gerbang belakang, kok."Akhirnya Jena mengalah, dan membiarkan Jonathan memgantarnya ke kampus pagi itu. Hari ini Jena mengenakan sweater berwarna merah muda, yang dipadukan dengan rok ketat yang membalut hingga ke bawah lututnya. Rambut hitamnya Jena biarkan terurai membuat Jena terlihat sangat cantik hari ini, hingga Jo tidak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu. Ia terus saja memandangi Jena, sampai-sampai Jena salah tingkah. "Jo, kenapa ngeliatin aku kaya gitu, sih? penampilanku aneh, ya?" tanya Jena, ia memeriksa lagi menampakannya dari kaca sepion mobil. "Nggak aneh, kok. Kamu jauh lebih cantik kalau lagi nggak pakai seragam toko," balas Jo, membuat Jena makin tersipu. Tampaknya ia tidak butuh perona pipi tambahan, sebab Jonathan sudah berhasil membuat pipinya semerah tomat sekarang. "Tcih, sejak kapan, sih, kamu jadi gombal gini...""Aku nggak sedang
"Jo, kamu tahu kenapa aku marah sekali? Karena ini pemberianmu ... ini baju favoritku." Jonathan bahkan lupa kalau ia pernah memberikan baju itu untuk Clarissa. Ia melirik gadis yang sedang menyandarkan kepala di dadanya, dengan ekor mata. Untuk sesaat, rasa bersalah memenuhi hati Jonathan. Jo tidak tahu rasa bersalahnya muncul karena dia sungguh-sungguh merasa begitu, atau justru Jo merasa bersalah karena kini ia diam-diam menjalin hubungan dengan Jena padahal mereka akan menikah. Jena yang saat ini pasti sedang menunggu kedatangnnya di apartemen. Sedang Jo yang sudah berjanji akan datang, justru sedang ada di kamar Clarissa setelah makan malam mereka yang romantis jadi dipindahkan ke rumah Clarissa, dengan menu masakan rumahan yang dimasak dadakan oleh pembantu di rumah ini. "Aku akan belikan lagi kalau kamu suka..." Clarissa mengangkat kepala, menatap ke arah Jo dengan senyum yang merekah di wajahnya. "Beneran?" Jonathan mengangguk. "Tapi aku mau kamu yang beli dan
"Nggak ada yang akan melihat, kita cuma berdua di sini," bisik suara berat Jonathan di telinga Jena. Tangan kiri Jonathan sudah berada di payudra Jena. Membelai dan sesekali meremasnya pelan, sedang tangannya yang lain menyusup lebih dalam ke rok yang Jena kenakan. Jena mendesah pelan, menahan agar tak ada suara yang keluar. Ia menutup mulutnya dengan tangan saat Jo berhasil menyentuh area sensitisnya, sebelah tangannya lagi mencengkram tiang rak yang ada di sebelahnya karena lututnya mulai terasa lemas akibat gesekan jari Jo dari balik celana dalamnya. "Jo... jangan," katanya pelan. Namun setelah mengatakan itu, tangan yang tadinya Jena gunakan menutup mulutnya, kini justru melingkar ke atas, ke belakang leher Jonathan. Jemarinya menyusup di antara rambut belakang kepala Jo--hal yang selalu berhasil membuat napsu Jo naik hingga ke kepala. Jarinya menyelinap dari sisi celana dalam Jena, mengusap lembut bibir vagina yang mulai basah itu. Jena menggit bibir bawahnya, berus
Hari pertama setelah meja kecil itu di tambahkan di dekat meja kasir. Butuh waktu sampai akhirnya semua orang terbiasa dengan itu, dan tepat pada hari ketiga, laporan yang Jonathan inginkan sudah rapi. Rani, Jena, dan seorang karyawan lain bernama Maya memegang pre-scan secara bergantian. Namun pekerjaan itu lebih banyak dipegang oleh Rani dan Maya sebab sebentar lagi Jena akan mengubah jadwalnya menjadi pegawai paruh waktu. Dia tidak akan selalu ada di toko buku. Hari itu hari pertama Jena datang ke kampusnya--Universitas Velmora Raya terlihat sangat besar dari apa yang pernah Jena bayangkan sebelumnya. Fakultas Menejeman berada di sisi barat kampus, yang terletak lumayan jauh dari gerbang utama, dan Jena harus berjalan kaki sejauh satu kilo untuk bisa sampai di sana. Jena mengenakan baju kaos dan rok jins selutut yang dipadukannya dengan kemeja kotak-kotak sebagai luaran. Rambutnya diikat tinggi dan rapi. Tas maroonnya yang agak lusuh tergantung di pundak sebelah kanannya. Ka







