Home / Romansa / Pacar Rahasia Bos Muda / Batas yang Mengabur

Share

Batas yang Mengabur

last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-22 17:17:08

Kini mereka berdua sudah ada di dalam mobil Jonathan, yang membelah pelan jalan kota Alvendere.

Pijar lampu-lampu jalan sesekali menyusup dari balik kaca mobil yang gelap. Udara dingin AC mobil itu menusuk bahkan sampai ke balik jaket rajut Jena yang tipis.

Dari sudut matanya, Jonathan melirik ke arah gadis itu. Dari pada dingin AC, Jena lebih tersiksa dengan kecanggungan yang menyelimuti setiap sudut ruang di mobil ini.

Barang kali hanya Jena saja yang menganggapnya begitu, karena seperti biasanya--Jo selalu diam tanpa ekspresi. Datar dan selalu terlihat tidak berperasaan. Mendapatkan tawaran tumpangan dari pria itu malam ini saja sudah cukup mengejutka.

"Sepertinya kamu cukup tertarik dengan menejemen."

Suara berat Jonathan membelah keheningan.

"Saya selalu ingin mengambil jurusan manejemen bisnis saat kuliah."

"Kenapa tidak kamu lakukan?"

Kepala Jena menoleh ke arah samping. Dia tersenyum kecil melihat ekspresi yang Jo tampikan. Tentu saja bagi Jo yang lahir dengan sendok emas, hal-hal berjalan sesederhana--jika kamu ingin, kamu tinggal lakukan.

Pria itu mungkin tidak pernah memaksakan diri berjalan berkilo meter setiap hari untuk menghemat ongkos, atau hanya mengisi perut dengan sepotong roti di pagi hari agar bisa menyisihkan sedikit uang untuk ditabung.

Tapi itu bukan berarti Jena menggap hidup Jonathan mudah. Semakin kamu punya banyak hal, maka semakin banyak harga yang harus kamu bayar. Jena tahu itu.

"Saat tabungan saya cukup. Mungkin beberapa tahun lagi..."

Jo menoleh sebentar. Meski kini Jena mengucapkan kata itu dengan senyum mengembang di wajah polosnya, Jo melihat kesedihan yang Jena tak pernah ingin tunjukan.

Dan hal itulah yang membuat Jo akhir-akhir ini suka menebak-nebak akan Jena.

"Waktu itu kamu bilang kamu tinggal sendirian. Di mana orang tuamu? apa mereka sudah meninggal?"

Jo tidak tahu kenapa dia menanyakannya, kalimat itu keluar begitu saja.

Jonathan masih memandang lurus ke depan. Ke arah jalanan yang mulai sepi. Sesekali mobil lain menyalip dari arah kanan, meninggalkan mobil Jo yang melaju pelan seolah ia tak ingin cepat sampai ke tujuan.

"Saya nggak tahu orang tua saya masih hidup atau sudah mati. Saya besar di panti asuhan bahkan tanpa pernah tahu asal-usul saya... bagi saya mereka sudah mati sejak mereka meninggalkan saya di depan pintu asuhan."

Nada suara Jena terdengar tegar, tapi Jo bisa mendengar helaan napas pelan di antara kalimatnya.

"Maaf...

"Nggak masalah, Pak. Saya cerita bukan untuk bikin saya terlihat menyedihkan. Saya tahu semua orang punya kesakitannya sendiri... " Kalimat itu terjeda, Jena tampak berpikir sejenak, sebelum kembali melanjutkan, "kalau Bapak butuh seseorang untuk diajak bicara, Bapak bisa bicara sama saya..."

untuk sejenak keheningan kembali mengatung di udara. Tatapan Jo lurus kedepan, tapi mendengar kalimat yang Jena ucapkan tadi, tiba-tiba mobil Jonathan memelan, dan berhenti di bahu jalan.

Jena memandang Jo dengan alis bergelombang. Apa ucapannya barusan membuat Jo terseinggung dan marah? segera saja Jena menggigit bibir bawahnya. Hanya saja setelah mendengar kata 'capek' yang Jo ucapkan, Jena merasa Jonathan mungkin butuh seseorang untuk diajak bicara.

Tapi sepertinya, setelah ini Jonathan akan memgomelinya dengan kata menyakitkan seperti apa yang biasa pria itu lakukan.

Tatapan mereka bertemu. Cukup lama. Jena sama sekali tak bisa membaca raut wajah bosnya itu.

Tapi sungguh mengejutkan, karena kalimat berikutnya yang keluar dari mulut Jo bukanlah apa yang seperti Jena bayangkan.

"Kamu sudah makan?"

Jena menggelengkan kepala, setengah tercengang. Betapa banyak hal tentang Jo yang membuatnya terkejut hari ini.

Setelah itu, Jo tak menanyakan apapun lagi. Ia memacu mobilnya ke arah yang berlawanan dengan tujuan Jena. Jena diam sambil sesekali mengamati jalan, sampai akhirnya mobil Jonathan berhenti di sebuah restoran mewah.

"Saya turun di sini, Pak?" tanya Jena ketika Jo mulai melepaskan sabuk pengaman yang dia kenakan.

Gerakan tangan Jo berhenti, "tentu saja. Kamu bilang kamu belum makan..."

Jena bergeming. Memandang ke arah restoran bintang lima itu dari balik kaca mobil.

"Kamu nggak suka makan di sini?" tanya Jo saat mendapati Jena sama sekali tidak beranjak.

"Sebenarya, saya agak nggak suka keramaian."

Jena tidak sedang mencoba melolak tawaran Jo secara halus. Jena hanya merasa dia sedang berasa di tempat, dimana dia seharusnya tidak. Orang-orang keluar masuk mengenakan setelan, dan gaun mewah, sedang dirinya, hanya seorang karyawan biasa.

Masih mengenakan stoking yang beberapa sisinya mulai robek. Kepala jena menunduk, dia menutupi robekan itu dengan tasnya.

Setelah melihat kemana mata gadis itu menamdang, Jo kembali memasang sabuk, dan menyalakan mesin mobilnya.

"Baiklah kalau begitu, kita cari tempat lain..."

Mobil Jo kembali membelah jalanan ibu kota. Tak lama mobilnya kembali memelan, dan masuk ke area parkir sebuah apartemen. Ketika mobilnya sudah berakhir dia parkirkan, Jo keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Jena.

"Kita mau ke mana, Pak?" Jena melemparkan pandangannya kesana kemari. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya mobil-mobil yang terparkir, sunyi.

"Kamu bilang tidak suka keramaian..."

Hanya itu yang Jo katakan. Kalimat yang sama sekali tidak menjawab apa pun yang sedang terlintas di kepala Jena. Jo kembali melangkah, membuat Jema mau tak mau harus mengikuti pria itu masuk ke dalam lift.

Di dalam lift, Jena tidak menanyakan apa-apa lagi. Otaknya sudah dipenuhi banyak pertanyaan, tapi berada berdua saja drngan Jo di ruang sekecil ini cukup membuat Jena tidak bisa berpikir cepat. Terlebih karisma yang Jo miliki selalu berhasil mengintimidasi.

Tentu Jena selalu siap bertanya. Mungkin sebentar lagi.

Denting lift berbunyi lembut, sebelum terbuka di lantai 35. Kaki jenjang Jonathan melangkah lebar. Kedua lengannya tenggelam ke dalam saku celana.

Jena mengekoronya diam-diam dari belakang.

Hanya ada satu lorong yang panjang yang mengarah pada satu pintu di ujung. Kalau Jena boleh menebak, pintu itu merupakan satu-satunya ruangan yang ada di lantai ini, dan sekarang mereka sedang menuju ke sana.

Pertanyaan yang sedari tadi memenuhi kepala Jena kini terjawab saat Jo membuka pintu itu dengan sebuah sandi, dan mempersilahkan Jena masuk.

"Ini apartemen saya. Buka tempat tinggal tetap, tapi kalau saya butuh waktu, saya akan datang ke sini."

Jena mengangguk kecil, melangkah masuk ke dalam. Jo mempersilahkan gadis itu duduk, sebari melepas jas, dan jam tangan lalu meletakkannya di atas mini bar.

"T-tapi, kenapa saya di ajak ke sini, ya, Pak?" kali ini Jena terdengar berhati-hati. Tidak pernah seberhati-hati itu sebelumnya. Jena yang Jonathan tahu, adalah gadis yang selalu percaya diri dalam setiap ucapannya.

"Kamu takut saya ingin macam-macam sama kamu?"

"Eh, bukan gitu, Pak!" Jena menggelang cepat. Telinganya tiba-tiba saja sudah semerah tomat.

Jonathan tersenyim tipis. Sangat tipis.

"Kamu bilang kamu nggak terlalu suka tempat yang ramai, dan satu-satunya tempat yang terlints di pikiran saya cuma tempat ini."

Jo mulai mengeluarkan bahan-bahan dari dalam kulkasnya, dan metelakkan bahan itu ke atas meja dapur yang membuatnya bisa langsung berhadap-hadapan dengan Jena.

"Kamu sudah terlanjur menawarkan sesuatu kepada saya, jadi saya harus kasih kamu sesuatu juga sebagai balasannya..."

Jena mengingat sesaat, sesuatu apa yang sudah dia tawarkan untuk Jo. Kemudian Jena teringat akan percakapan mereka di mobil sebelumnya. Kemudian Jena teringat dia sempat menawarkan diri jika Jo butuh seseorang yang bisa diajak bicara.

Jena tersenyum lembut.

"Bapak bisa masak?" tanya Jena.

"Kamu nggak sedang meragukan saya, kan?"

Jena terkekeh kecil melihat sebelah alis Jo yang tebal terangkat naik.

"Enggak, Pak. Mana berani saya begitu... cuma, Bapak nggak terlihat sepeti orang yang bisa masak."

"Lalau di mata kamu, saya terlihat seperti apa?"

"Terlihat seperti orang yang sempurna... tapi ketus, dingin, dan tidak berperasaan," ujar Jena seolah kata itu keluar dari lubuk harinya yang paling dalam. Jena juga penasaran, dapat dari mana dia keberanian sebesar itu. Tapi kemudian Jena tercengir, dan melanjutkan, "tapi saya ngelihat Bapak seperti itu cuma untuk menutupi sesuatu. Barang kali luka yang nggak ingin Bapak perlihatkan pada siapa pun... "

Gerakan tangan Jo yang sedang memotong berhenti. Harusnya dia marah pada gadis yang sudah lancang itu. Tapi kini bukan amarah yang tinggal di hati Jo, melainkan sesuati yang lain.

Barangkali yang Jena katakan ada benarnya.

Dan untuk pertama kalinya, Jo merasa ada yang memahami, tanpa perlu Jo minta.

"Akhir-akhir ini saya nggak tahu apa yang kngin saya lakukan."

"Tentang?"

"Tentang semuanya... lucu, ya? padahal semua dalam hidup saya sudah tertata rapi, dan saya tinggal menjalaninya saja. Tapi rasanya semakin melelahkan."

"Karena akhirnya Bapak sadar kalau bukan itu yang Bapak inginkan?"

Mungkin saja. Jo tidak pernah melakukan apa yang benar-benar dia inginkan sepanjang hidupnya.

"Saya bahkan nggak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini."

Jena tertawa hambar. "Lucu, ya Pak. Bapak yang bisa melakukan semua hal, nggak tahu apa yang Bapak ingin lakukan. Sedang saya yang punya sesuatu yang ingin saya lakukan, justru nggak bisa... tapi dunia selalu berkerja dengan cara seperti itu."

"Apaa kamu pernah membenci hidupmu?"

"Setiap detik. Tapi saya yakin ada alasan kenapa saya terlahir ke dunia ini."

Bau bawang putih memenuhi dapur kecil itu. Tidak menyengat, hanya hangat. Mereka kembali tenggelam dalam diam, namun dengan pikiran yang tengah berperang dengan hati masing-masing. Gaduh. Berdebat tentang batasan yang barang kali sudah bergeser tanpa mereka sadari.

Beberapa saat kemudian sepiring Pasta Aglio e Olio tersaji di depan Jena. Pasta itu terlalu sederhana untuk disebut makan malam. Tapi cukup untuk membuat Jena tidak ingin pulang. Jena menikmatinya dengan lahap, seolah sedang makan masakan Ibu--hal yang bahkan tidak pernah dia rasakan.

Baru pertama kali ada seseorang yang memasak untuknya.

"Terimakasih banyak makan malamnya, Pak," kata Jena cerah, setelah menyeruput segelas air mineral yang Jonathan sudah sediakan.

"Maaf, cuma bisa masakin kamu ini. Nggak ada bahan masakan yang tersisa di kulkas."

"Ini sudah lebih dari cukup. Nggak pernah ada yang melakukannya untuk saya sebelum ini... "

Ucapan itu mengalir tulus dan jujur. Mata Jena memantulkan kaca-kaca bening, memandang langsung ke arah mata Jo lamat dan hangat.

Seketika. Tanpa diberi aba-aba. Sebuah ciuman datang dengan cepat. Begitu lembut dan hangat.

Mata Jena membola. Ciuman Jo seolah memberi bius yang mematikan semua syaraf-syaraf di tubuhnya. Sebelum Jena sempat menarik diri, Jo terlebih dulu melakukannya.

Jena segera bangkit dan mengambil tasnya yang terletak di meja. "saya akan pura-pura ini nggak pernah terjadi.

Tapi tangan Jo lebih dulu menarik lengan Jena hingga langkahnya terhenti. Jo menarik gadis itu keras, hingga Jena jatuh tepat di atas pangkuan Jo.

Jonathan tahu ini tidak benar. Namun wajahnya terus saja mendekat pada gadis itu. "Kalau kamu tidak ingin, kamu bisa pergi sekarang," bisiknya pelan di telinga Jena.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Kencan?

    Tentu saja. Dan tidak ada wanita baik yang mau jadi selingkuhan. Namun Jena bersuara bukan karena dia ingin terlihat baik, dia hanya mencoba memberi tahu pada Jonathan; jika kamu tidak bisa berbuat baik pada orang lain, cukup untuk tidak menjadi jahat. Namun ternyata kalimat pendek yang terucap dari mulut Jo cukup membuat Jena berpikir panjang. Memperjelas statusnya yang sekarang adalah seorang pacar rahasia. Seorang selingkuhan. Dan itu cukup membuat Jena merasa terganggu. Setelah percakapan itu, Jena keluar dari ruangan Jo. Di depan keadaan kembali seperti biasanya. Yang berubah hanya suana hati Jena sebab kini dia menyadari bahwa berbuat baik ternyata tidak lantas membuatnya jadi baik. *** Hari sudah gelap, namun jalan di jantung kota tetap ramai seolah tidak punya waktu untuk istirahat. Jena sedang menjejakkan langkahnya di trotoar sambil menikmati nyeri kecil yang terasa menusuk-nusuk pinggang dan betisnya. Jena mungkin mulai menikmati jadwal baru yang ia atu

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Istilah yang tidak Jena sukai

    Berakhirnya audit tidak serta-merta membuat perkerjaan orang-orang di Lentera jadi lebih santai. Terlebih setelah suplay stok buku impor dari Aurora masuk. Banyak kolektor buku yang berbondong-bondong datang mencari buku baru yang kini Lentera sediakan. Meski Jonathan sudah berupaya merekrut karyawan baru untuk bisa membuat toko tetap berjalan stabil, nyatanya mengajari karyawan baru tidak semudah Jo memerintah. Maya dan Rani yang kini ditugaskan di meja pre-scan menggantikan Jena lumayan kewalahan sebab hari ini pelanggan datang silih berganti, dan terasa lebih bawel dari pada biasanya. Maya baru bisa mengatur napasnya dengan baik dan benar setelah beberapa saat. Ia sedang berdiri di dekat meja kasir sembari meneguk air mineral dari botol yang ia bawa dari rumah--ketika Maya merasa ada sesuatu yang dia lewatkan, tetapi dia sama sekali tidak bisa mengingat tentang apa itu. Sampai pintu kantor Jonathan terbuka, dan Jo berdiri di depan pintu sambil beracak pinggang ke arah May

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Dunia Baru Jena

    "Jo, aku sudah bilang, kamu nggak perlu nganterin aku...""Aku mau, Je. Sudah, ya, jangan bawel. Aku cuma antar sampai gerbang belakang, kok."Akhirnya Jena mengalah, dan membiarkan Jonathan memgantarnya ke kampus pagi itu. Hari ini Jena mengenakan sweater berwarna merah muda, yang dipadukan dengan rok ketat yang membalut hingga ke bawah lututnya. Rambut hitamnya Jena biarkan terurai membuat Jena terlihat sangat cantik hari ini, hingga Jo tidak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu. Ia terus saja memandangi Jena, sampai-sampai Jena salah tingkah. "Jo, kenapa ngeliatin aku kaya gitu, sih? penampilanku aneh, ya?" tanya Jena, ia memeriksa lagi menampakannya dari kaca sepion mobil. "Nggak aneh, kok. Kamu jauh lebih cantik kalau lagi nggak pakai seragam toko," balas Jo, membuat Jena makin tersipu. Tampaknya ia tidak butuh perona pipi tambahan, sebab Jonathan sudah berhasil membuat pipinya semerah tomat sekarang. "Tcih, sejak kapan, sih, kamu jadi gombal gini...""Aku nggak sedang

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Gadis yang mulai berani

    "Jo, kamu tahu kenapa aku marah sekali? Karena ini pemberianmu ... ini baju favoritku." Jonathan bahkan lupa kalau ia pernah memberikan baju itu untuk Clarissa. Ia melirik gadis yang sedang menyandarkan kepala di dadanya, dengan ekor mata. Untuk sesaat, rasa bersalah memenuhi hati Jonathan. Jo tidak tahu rasa bersalahnya muncul karena dia sungguh-sungguh merasa begitu, atau justru Jo merasa bersalah karena kini ia diam-diam menjalin hubungan dengan Jena padahal mereka akan menikah. Jena yang saat ini pasti sedang menunggu kedatangnnya di apartemen. Sedang Jo yang sudah berjanji akan datang, justru sedang ada di kamar Clarissa setelah makan malam mereka yang romantis jadi dipindahkan ke rumah Clarissa, dengan menu masakan rumahan yang dimasak dadakan oleh pembantu di rumah ini. "Aku akan belikan lagi kalau kamu suka..." Clarissa mengangkat kepala, menatap ke arah Jo dengan senyum yang merekah di wajahnya. "Beneran?" Jonathan mengangguk. "Tapi aku mau kamu yang beli dan

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Hubungan yang sudah terlalu lama

    "Nggak ada yang akan melihat, kita cuma berdua di sini," bisik suara berat Jonathan di telinga Jena. Tangan kiri Jonathan sudah berada di payudra Jena. Membelai dan sesekali meremasnya pelan, sedang tangannya yang lain menyusup lebih dalam ke rok yang Jena kenakan. Jena mendesah pelan, menahan agar tak ada suara yang keluar. Ia menutup mulutnya dengan tangan saat Jo berhasil menyentuh area sensitisnya, sebelah tangannya lagi mencengkram tiang rak yang ada di sebelahnya karena lututnya mulai terasa lemas akibat gesekan jari Jo dari balik celana dalamnya. "Jo... jangan," katanya pelan. Namun setelah mengatakan itu, tangan yang tadinya Jena gunakan menutup mulutnya, kini justru melingkar ke atas, ke belakang leher Jonathan. Jemarinya menyusup di antara rambut belakang kepala Jo--hal yang selalu berhasil membuat napsu Jo naik hingga ke kepala. Jarinya menyelinap dari sisi celana dalam Jena, mengusap lembut bibir vagina yang mulai basah itu. Jena menggit bibir bawahnya, berus

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Seorang teman pria

    Hari pertama setelah meja kecil itu di tambahkan di dekat meja kasir. Butuh waktu sampai akhirnya semua orang terbiasa dengan itu, dan tepat pada hari ketiga, laporan yang Jonathan inginkan sudah rapi. Rani, Jena, dan seorang karyawan lain bernama Maya memegang pre-scan secara bergantian. Namun pekerjaan itu lebih banyak dipegang oleh Rani dan Maya sebab sebentar lagi Jena akan mengubah jadwalnya menjadi pegawai paruh waktu. Dia tidak akan selalu ada di toko buku. Hari itu hari pertama Jena datang ke kampusnya--Universitas Velmora Raya terlihat sangat besar dari apa yang pernah Jena bayangkan sebelumnya. Fakultas Menejeman berada di sisi barat kampus, yang terletak lumayan jauh dari gerbang utama, dan Jena harus berjalan kaki sejauh satu kilo untuk bisa sampai di sana. Jena mengenakan baju kaos dan rok jins selutut yang dipadukannya dengan kemeja kotak-kotak sebagai luaran. Rambutnya diikat tinggi dan rapi. Tas maroonnya yang agak lusuh tergantung di pundak sebelah kanannya. Ka

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Amplop putih

    "Jangan perlakukan aku kaya gini, Jo..." cicit gadis itu dengan kepala menunduk menghindari bertatapan langsung dengan pria di depannya. Ia takut jika menatap mata Jo, mungkin dia juga akan goyah. "Aku udah bilang, kamu bisa pergi kalau kamu mau. Tapi kamu nggak melakukannya, bukankah itu arti

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Aku menginginkanmu

    Tadi sore Clarissa datang dengan sebuah undangan biru yang sudah tercetak tebal tulisan dengan tinta emas; Clarissa Alexandria Adipati dan Jonathan Max Andrew. Berwarna biru muda, tebal dan terlihat mengkilap. Dia menenteng undangan itu dengan bangga, seakan sedang membawa dunia di tangannya. Kal

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Ketenangan yang menakutkan

    Malam ini, Jo pulang lebih cepat dari biasanya. Bukan karena tiba-tiba dia rindu rumah, hanya saja pesan dari sang Mama yang memaksa Jo untuk melakukannya. Pesan itu berbunyi, Makan malamlah di rumah malam ini, Jo. Mama sampai lupa jika Mama masih punya satu lagi anak laki-laki. Saat Jo tib

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Hal Baru yang Jo Nantikan

    Pegangan tangan Jo membuat Jena menghentikan sapuan tangannya di perut bagian bawah pria itu. Dalam sekejap, tubuh Jonathan sudah memutar dan mereka kini sudah berhadap-hadapan. Kedua telapak tangan Jo yang lebar memegang pundak Jena. Untuk sesaat, Jena merasakan debaran aneh di dadanya muncul la

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status