เข้าสู่ระบบJessica mengikat rambut panjangnya menjadi satu lalu berlari keluar dari lobi apartemen. Sudah menjadi jadwalnya tiap pagi untuk berlari sekeliling halaman apartemen, namun baru pintu apartemen terbuka, rombongan wartawan langsung mengelilinginya.
"Bagaimana tanggapan anda terhadap tuduhan Miranda?" tanya seorang wartawan menyodorkan alat rekamnya seenaknya ke mulut Jessica.
"Jessy, Jessica!" panggil para wartawan itu dengan sok akrab. Mereka saling dorong dan menutup jalan sehingga Jessica terperangkap di tengah- tengah mereka. Tubuh mereka saling bergesekan, mencoba bertanya dengan pertanyaan yang semakin kurang ajar.
"Apa tanggapan kamu dengan tuduhan Miranda, Jess?" tanya seorang wartawan dengan gaya seperti mereka sudah bersahabat selama 10 tahun, kameramennya memasang lampu sorot ke arah Jessica.
Mata Jessica buta, jantungnya berdebar kencang, bau keringat yang memuakkan dan mereka saling mendorong, sampai wanita itu hampir terjatuh, seketika panik melanda.
"Jessica, kamu kok mau jadi pelakor?" tanya seorang wartawan yang lain lagi, Jessica ingin membalas, tapi tiba- tiba tangannya ditarik kencang oleh seseorang.
“Kurang ajar!” pekik Jessica dalam hati. Wartawan semakin riuh dan mengambil foto. Mereka semakin menghimpitnya sehingga napas Jessica menjadi sesak.
"Woi Adrian, jadi ini pacar baru lagi ya?" Terdengar pertanyaan dari wartawan di belakang Jessica. Wanita itu tersadar kalau yang memeluknya dengan kencang ini adalah Adrian. Pria itu mengenakan perlengkapan menyamar, tapi karena tubuhnya yang tinggi, dia tetap terlihat menonjol dari kerumunan wartawan ini.
"Adrian, Miranda menangis tuh, kok kamu tega sih!" teriak wartawan yang lain mencoba memancing emosi Adrian.
“Hebat kamu tiap projek ada pacarnya!”
Suara wartawan bergaung saat mereka berhasil masuk kembali ke dalam lobi apartemen. Namun, saat Jessica sudah merasa aman dalam lobi, Adrian tetap menggandeng tangannya menuju lift karena ternyata beberapa wartawan masih bisa menerobos masuk ke dalam.
"Jes, panggilan sayang Adrian apa?" tanya wartawan yang tersisa.
Jessica mengerutkan kening atas pertanyaan absurd itu. Walaupun misalnya dia benar pacaran dengan Adrian, apakah panggilan sayang mereka butuh diketahui publik?
Lift terbuka, Adrian menggandeng Jessica masuk dan untungnya wartawan yang tersisa tak berani ikut masuk, hanya kamera yang tak berhenti mengambil foto.
Keheningan dalam lift kali ini membuat Jessica lega.
"Maaf." Adrian memandang bola mata biru Jessica dengan penuh sesal.
"Maaf, karena aku, kamu jadi terseret masalah lagi," gumamnya lagi sambil melepaskan genggaman tangannya. Kemarin Adrian terlihat begitu ceria, tapi pagi ini senyumnya sama sekali tidak tampak.
"Nggak apa-apa, mereka kan hanya salah orang, nanti juga mereka klarifikasi dan meminta maaf," ujar Jessica mencoba menenangkan Adrian.
Wartawan gosip seperti itu tidak melakukan riset dengan baik, mereka pasti salah orang, tidak mungkin artis terkenal seperti Adrian mau pacaran dengan seorang seperti Jessica. Wanita itu baru mau mengatakan apa yang ada dalam pikirannya sambil mendengus geli, memandang Adrian.
Namun, hatinya seketika merosot ketika pria itu malah menatapnya serius. Dengan lembut Adrian mengangkat tangan dan menepis sedikit rambut yang jatuh di kening Jessica. Hanya dengan gerakan sesederhana itu, kaki Jessica langsung terasa lemas.
"Andai semudah itu Jess," ucapnya lalu keluar dari lift.
Jessica baru sadar kalau mereka sudah sampai di penthouse-nya.
Baru kali ini Jessica masuk ke penthouse. Semua yang ada di penthouse ini terasa mahal dan mewah. Adrian melepaskan topi dan maskernya sambil mempersilahkan Jessica untuk duduk di sofa yang berwarna hitam.
"Maaf aku hanya ada kopi atau air putih, tadi baru aja buat kopi," ujar Adrian meminta maaf.
"Kopi," balas Jessica segera menghirup kopi yang Adrian berikan. Rasa panas menjalar di perut dengan nyaman, wanita itu menghirup kopi itu lagi dengan bersyukur.
Pria itu mengintip ke balkon dan melihat ke bawah. Jessica yang masih penasaran, mengikutinya ke balkon. Wartawan masih banyak berkumpul di pintu lobi, namun karena mereka di penthouse, mereka terlihat kecil.
"Waah angin di lantai 21 kencang sekali ya!" seru Jessica mencoba mencairkan suasana karena Adrian masih murung.
Namun, usaha Jessica mengakibatkan sesuatu yang wanita itu tak pernah duga. Adrian menatapnya lembut dan tersenyum.
Karena pandangan mata Adrian yang seakan bisa membaca debar jantungnya, Jessica segera membuang pandangan dan menutup mata pura- pura menikmati tiupan angin yang menerpa wajahnya. Tapi, tiba- tiba keseimbangan Jessica menghilang dan Adrian segera meraih pinggang Jessica dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
"Hati-hati kamu melihat terlalu ke bawah," ucap Adrian khawatir. Tubuh Jessica yang mungil terasa sangat pas dalam pelukan sehingga Adrian tak mau melepaskan pelukannya ketika Jessica meletakkan kedua tangannya di dada Adrian. Wajah Jessica seketika terasa panas. Mereka kembali saling pandang dan waktu seakan berhenti.
"EHEEM..." Terdengar suara dari belakang sehingga mereka segera melepaskan diri.
"Jadi ini kah Jessica yang terkenal itu?" ujar seorang pria paruh baya sambil memandang Jessica dengan penuh selidik.
"Pak Lionel, kenapa jadi begini?" tanya Adrian dengan emosi, dia berjalan masuk ke dalam dengan gusar. Jessica menarik napas panjang agar jantungnya kembali normal, dan segera ikut masuk.
"Popularitasnya semakin meningkat, pagi ini dia jadi trending topik, #savemiranda, astaga mau aku lempar batako, mereka semua itu!" seru Edo dengan penuh emosi.
"Umm sebenarnya ... Miranda siapa ya?" tanya Jessica polos karena tidak mengenal dunia artis sama sekali. Bahkan sejujurnya, dia baru tahu tentang Adrian saat dokter kepala membangga-banggakannya.
"Sebenarnya Miranda itu siapa?" ulang Edo bingung, seakan-akan Jessica baru bertanya satu tambah satu berapa.
"Sebenarnya Miranda siapa?” ulang pria paruh baya tadi, tapi dengan nada yang berbeda sama sekali. "Bagus juga pertanyaannya!" serunya tersenyum senang.
"Kalau kita menyangkal, itu membuat dia semakin terkenal dan itu emang yang dia mau!" dengus Adrian membuang napas dengan kasar.
"Betul, kita harus membuat orang-orang lupa, dasar pansos!" kata Edo dengan geram.
"Tapi caranya gimana?" tanya Adrian menggaruk rambutnya sehingga menjadi acak-acakan.
Pria paruh baya itu menatap Jessica yang berdiri canggung, dengan tatapan aneh. Edo yang sedang menatap pria itu ikut memperhatikan Jessica dengan senyuman penuh arti.
Seketika perut Jessica melilit. Adrian menyadari arah tatapan mata mereka berdua, segera menggeleng.
"Ah ... jangan, nggak mungkin, kasihan Dokter Jessica," ucapnya memohon, membuat hati Jessica semakin bergetar.
"Kenapa, mau apa?" tanya Jessica bingung, karena semua orang memandangnya dengan aneh.
"Halo Jessica, saya Lionel, senior manager di MG entertainment," ucap pria itu sambil memberikan kartu namanya. Jessica mengambil kartu namanya yang berwarna hitam dengan perasaan tidak enak.
"Bagaimana, jika anda menjadi pacar Adrian?" tanya Lionel dengan senyum penuh rencana.
Joe sebenarnya tak akan membiarkan Jessica jalan sendiri ke kantor polisi. Namun, entah kenapa Louise bisa terlibat pertengkaran dengan dua dokter residen. Memang banyak yang berubah dari Louise akhir- akhir ini. Wanita itu seakan menjelma menjadi wanita baru yang Joe tidak kenal. Masalahnya mereka bertengkar serius sampai bisa-bisanya dokter residen itu menampar dan menjambak Louise. “Aku bisa sendiri, ini bukan masalah gede, sepertinya aku pasang charger yang dah rusak jadi korslet. Kemarin aku dah liat percikan api tapi aku lupa cabut.” Tentu saja Jessica berbohong. Tapi, Joe tak boleh tau. Jessica tau ini pasti ada hubungannya dengan si pengancam berantai. “O… oke, maaf ya aku nggak bisa nemenin, ini Louise…” Joe melambai sambil berlari ke arah ruangan yang lain. Operasi sudah selesai sehingga Jessica bebas, dan pikirannya segera kembali ke Adrian. Apalagi saat membaca pesan resmi yang terkirim di handphonenya. Wanita itu segera sampai ke kantor polisi. Awalnya dia merasa
Sam memperhatikan wajah Adrian yang polos. Berlagak polos untuk lebih tepatnya. Polisi muda yang tidak berpengalaman seperti Dennis pasti langsung tertipu dengan gelagat Adrian, namun tidak bagi Samuel yang sudah berpengalaman sebagai penyelidik.Polisi yang beruban itu segera menyadari arah tangan Adrian yang menuju kantong bajunya itu adalah untuk sesuatu tetap ada di dalam kantung itu. Apa itu Samuel tidak tahu tetapi Samuel tidak punya hak untuk memeriksa atau menggeledah Adrian saat ini. Ia butuh surat perintah. Tatapan mereka bertemu dan jantung Adrian seakan berhenti sekejap. Polisi tidak boleh tahu kalau dia sedang diancam? Apakah dia akan memeriksa dan menggeledahnya? “Kalau seperti ini, saya mau minta izin menelpon as… “ Tapi belum sempat Adrian menyelesaikan kata-katanya, Edo sudah berlari masuk ke dalam ruang interogasi dengan terengah-engah. “Dia tak bersalah!” Teriakan Edo dengan keras sambil buka pintu sehingga suaranya menggelegar di dalam ruangan periksa yang k
Entah bagaimana, Adrian bisa melewati rombongan wartawan yang memenuhi lantai dasar, di depan pintu masuk rumah sakit. Sepertinya para wartawan sudah belajar dari pengalaman tadi, kali ini mereka tak masuk ke dalam rumah sakit. Namun hujan flash kamera dan pertanyaan wartawan yang seperti dengung lebah mengikuti Adrian, sampai pria itu masuk ke dalam mobil polisi. “Heran, emang para wartawan itu nggak tidur, nggak makan kah?” tanya polisi yang berada di belakang setir. “Ya nggak laah, emang lo kalo lagi ngikutin orang ada waktu buat makan? Ke toilet aja susah.” Temannya yang duduk di sebelah mendengus sambil melirik ke arah Adrian. “Untung yang ini nurut, klo nggak lewatin segini banyak orang gimana?” dengusnya lagi dengan nada mengejek. “Yah gitu deh orang cari makan,” desah polisi pertama sambil menyalakan mobil, lalu mobil melaju dengan cepat ditemani suara sirene yang memekakkan telinga Adrian. “Adrian, senang bertemu denganmu, saya Bripka Vald, Samuel Vald.” Pria itu mengul
Karena dipenuhi wartawan, Jessica tak dapat melihat Adrian yang tadi keluar duluan. Namun yang lebih parah adalah, karena wartawan memenuhi lorong rumah sakit, tempat tidur pasien yang selesai dioperasi tadi, jadi tak bisa lewat. “Permisi,” ucap perawat yang mendorong tempat tidur pasien dengan wajah kesal. Tapi wartawan entah pura-pura tak dengar entah memang tak dengar, tak ada yang memberi jalan agar pasien bisa lewat. “Permisi!” ucapnya lagi dengan suara lebih keras sambil menatap Jessica dengan kesal. Jessica segera berusaha menyingkirkan wartawan, namun mereka malah sibuk bertanya, akhirnya sambil merayap menempel ke dinding, Jessica berjalan keluar melalui tangga darurat agar rombongan wartawan mengikutinya. Setidaknya kini pasien bisa masuk ke ruang pemulihan yang tadi tertutup oleh wartawan. Namun, kini masalahnya semakin pelik. Jessica terperangkap dengan para wartawan itu dalam tangga darurat yang sempit tanpa ventilasi yang cukup. Berdesak-desakan dengan para kuli t
Louise bingung saat melihat ada sosok yang masuk lalu keluar lagi dari ruang operasi.Namun, karena memang wajahnya sungguh viral, hanya dengan sekilas saja semua sudah tahu siapa orang itu. “Buset! Nggak salah tuh!” “Gila tu cewek! Nggak salah dia ajak pacarnya datang?” “Mantan! Dah mantan!” “Lah itu! Muncul lagi? Kenapa nggak sekalian aja dia pasang kamera, gila pansos banget sih!” Ucapan sumbang itu segera membuat Louise segera turun menuju ruangan operasi, mungkin Adrian tersesat, mungkin Adrian ada perlu penting, yang pasti bukan Jessica yang mengundang pria itu datang. Louise sangat mengenal sahabatnya itu. Jessica bingung saat perawat senior mendekatinya. “Maaf, sepertinya kamu harus keluar sekarang,” ucap wanita beruban itu dengan suara berbisik namun mendesak. “Hah, kenapa?” tanya Jessica dengan terkejut. Wanita beruban itu melirik pintu seakan memberi tanda sehingga Jessica melirik ke pintu dan terkesiap saat mengenali bagian belakang seseorang. Hanya dengan meliha
“Sebenarnya menang aneh. Kenapa bisa mereka yang masuk? Kan nggak ada hubungannya?” desis suara di balik tembok. “Bener! Ini kan urusan dokter bedah, kenapa malah mereka yang dokter jantung malah masuk? Itu kan jatahnya residen bedah toraks dong!” jawab suara sumbang yang lain. Mereka saling sikut saat menonton operasi yang belum dimulai. “Ada yang mau protes malah, tapi percuma sih protes kan operasinya sekarang? Emang bisa diulang?” sembur yang satu lagi dengan penuh emosi. “Kapan sih kita bisa dapat adil, itu perempuan kan emang diratukan di mana-mana mentang- mentang pacar… eh… mantan artis itu, cih jangan-jangan dia emang mo jadi artis juga!” desis temannya sambil mendesah pelan. “Kalo liat gayanya yang sok cakep itu sih, kayaknya sih bisa-bisanya nanti jadi artis, jadi dokter otaknya nggak nyampe, jadi artis deh,” ucap lawan si sinis dengan jahat. Louise pura-pura tak dengar semua itu, dia harus sabar agar tidak merusak kesempatan Jessica dan Joe. Memang sejak d







