Home / Romansa / Pacarku, Artis / Ch. 5 Pacarku Artis

Share

Ch. 5 Pacarku Artis

Author: Pinnacullata
last update publish date: 2025-11-06 10:14:49

Jessica mengikat rambut panjangnya menjadi satu lalu berlari keluar dari lobi apartemen. Sudah menjadi jadwalnya tiap pagi untuk berlari sekeliling halaman apartemen, namun baru pintu apartemen terbuka, rombongan wartawan langsung mengelilinginya. 

"Bagaimana tanggapan anda terhadap tuduhan Miranda?" tanya seorang wartawan menyodorkan alat rekamnya seenaknya ke mulut Jessica.

"Jessy, Jessica!" panggil para wartawan itu dengan sok akrab. Mereka saling dorong dan menutup jalan sehingga Jessica terperangkap di tengah- tengah mereka. Tubuh mereka saling bergesekan, mencoba bertanya dengan pertanyaan yang semakin kurang ajar. 

"Apa tanggapan kamu dengan tuduhan Miranda, Jess?" tanya seorang wartawan dengan gaya seperti mereka sudah bersahabat selama 10 tahun, kameramennya memasang lampu sorot ke arah Jessica. 

Mata Jessica buta, jantungnya berdebar kencang, bau keringat yang memuakkan dan mereka saling mendorong, sampai wanita itu hampir terjatuh, seketika panik melanda.

"Jessica, kamu kok mau jadi pelakor?" tanya seorang wartawan yang lain lagi, Jessica ingin membalas, tapi tiba- tiba tangannya ditarik kencang oleh seseorang. 

“Kurang ajar!” pekik Jessica dalam hati. Wartawan semakin riuh dan mengambil foto. Mereka semakin menghimpitnya sehingga napas Jessica menjadi sesak.

"Woi Adrian, jadi ini pacar baru lagi ya?" Terdengar pertanyaan dari wartawan di belakang Jessica.  Wanita itu tersadar kalau yang memeluknya dengan kencang ini adalah Adrian. Pria itu mengenakan perlengkapan menyamar, tapi karena tubuhnya yang tinggi, dia tetap terlihat menonjol dari kerumunan wartawan ini. 

"Adrian, Miranda menangis tuh, kok kamu tega sih!" teriak wartawan yang lain mencoba memancing emosi Adrian.

“Hebat kamu tiap projek ada pacarnya!” 

Suara wartawan bergaung saat mereka berhasil masuk kembali ke dalam lobi apartemen. Namun, saat Jessica sudah merasa aman dalam lobi, Adrian tetap menggandeng tangannya menuju lift karena ternyata beberapa wartawan masih bisa menerobos masuk ke dalam.

"Jes,  panggilan sayang Adrian apa?" tanya wartawan yang tersisa. 

Jessica mengerutkan kening atas pertanyaan absurd itu. Walaupun misalnya dia benar pacaran dengan Adrian, apakah panggilan sayang mereka butuh diketahui publik? 

Lift terbuka, Adrian menggandeng Jessica masuk dan untungnya wartawan yang tersisa tak berani ikut masuk, hanya kamera yang tak berhenti mengambil foto.

Keheningan dalam lift kali ini membuat Jessica lega. 

"Maaf." Adrian memandang bola mata biru Jessica dengan penuh sesal. 

"Maaf, karena aku, kamu jadi terseret masalah lagi," gumamnya lagi sambil melepaskan genggaman tangannya. Kemarin Adrian terlihat begitu ceria, tapi pagi ini senyumnya sama sekali tidak tampak.

"Nggak apa-apa, mereka kan hanya salah orang, nanti juga mereka klarifikasi dan meminta maaf," ujar Jessica mencoba menenangkan Adrian.

Wartawan gosip seperti itu tidak melakukan riset dengan baik, mereka pasti salah orang, tidak mungkin artis terkenal seperti Adrian mau pacaran dengan seorang seperti Jessica. Wanita itu baru mau mengatakan apa yang ada dalam pikirannya sambil mendengus geli, memandang Adrian.

Namun, hatinya seketika merosot ketika pria itu malah menatapnya serius. Dengan lembut Adrian mengangkat tangan dan menepis sedikit rambut yang jatuh di kening Jessica. Hanya dengan gerakan sesederhana itu, kaki Jessica langsung terasa lemas.

"Andai semudah itu Jess," ucapnya lalu keluar dari lift. 

Jessica baru sadar kalau mereka sudah sampai di penthouse-nya.

Baru kali ini Jessica masuk ke penthouse. Semua yang ada di penthouse ini terasa mahal dan mewah. Adrian melepaskan topi dan maskernya sambil mempersilahkan Jessica untuk duduk di sofa yang berwarna hitam. 

"Maaf aku hanya ada kopi atau air putih, tadi baru aja buat kopi," ujar Adrian meminta maaf. 

"Kopi," balas Jessica segera menghirup kopi yang Adrian berikan. Rasa panas menjalar di perut dengan nyaman, wanita itu menghirup kopi itu lagi dengan bersyukur.

Pria itu mengintip ke balkon dan melihat ke bawah. Jessica yang masih penasaran, mengikutinya ke balkon. Wartawan masih banyak berkumpul di pintu lobi, namun karena mereka di penthouse, mereka terlihat kecil.

"Waah angin di lantai 21 kencang sekali ya!" seru Jessica mencoba mencairkan suasana karena Adrian masih murung. 

Namun, usaha Jessica mengakibatkan sesuatu yang wanita itu tak pernah duga. Adrian menatapnya lembut dan tersenyum. 

Karena pandangan mata Adrian yang seakan bisa membaca debar jantungnya, Jessica segera membuang pandangan dan menutup mata pura- pura menikmati tiupan angin yang menerpa wajahnya. Tapi, tiba- tiba keseimbangan Jessica menghilang dan Adrian segera meraih pinggang Jessica dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. 

"Hati-hati kamu melihat terlalu ke bawah," ucap Adrian khawatir.  Tubuh Jessica yang mungil terasa sangat pas dalam pelukan sehingga Adrian tak mau melepaskan pelukannya ketika Jessica meletakkan kedua tangannya di dada Adrian. Wajah Jessica seketika terasa panas. Mereka kembali saling pandang dan waktu seakan berhenti. 

"EHEEM..." Terdengar suara dari belakang sehingga mereka segera melepaskan diri.

"Jadi ini kah Jessica yang terkenal itu?" ujar seorang pria paruh baya sambil memandang Jessica dengan penuh selidik.

"Pak Lionel, kenapa jadi begini?" tanya Adrian dengan emosi, dia berjalan masuk ke dalam dengan gusar. Jessica menarik napas panjang agar jantungnya kembali normal, dan segera ikut masuk.

"Popularitasnya semakin meningkat, pagi ini dia jadi trending topik, #savemiranda, astaga mau aku lempar batako, mereka semua itu!" seru Edo dengan penuh emosi.

"Umm sebenarnya ... Miranda siapa ya?" tanya Jessica polos karena tidak mengenal dunia artis sama sekali. Bahkan sejujurnya, dia baru tahu tentang Adrian saat dokter kepala membangga-banggakannya.

"Sebenarnya Miranda itu siapa?" ulang Edo bingung, seakan-akan Jessica baru bertanya satu tambah satu berapa.

"Sebenarnya Miranda siapa?” ulang pria paruh baya tadi, tapi dengan nada yang berbeda sama sekali. "Bagus juga pertanyaannya!" serunya tersenyum senang.

"Kalau kita menyangkal, itu membuat dia semakin terkenal dan itu emang yang dia mau!" dengus Adrian membuang napas dengan kasar.

"Betul, kita harus membuat orang-orang lupa, dasar pansos!" kata Edo dengan geram.

"Tapi caranya gimana?" tanya Adrian menggaruk rambutnya sehingga menjadi acak-acakan. 

Pria paruh baya itu menatap Jessica yang berdiri canggung, dengan tatapan aneh. Edo yang sedang menatap pria itu ikut memperhatikan Jessica dengan senyuman penuh arti. 

Seketika perut Jessica melilit. Adrian menyadari arah tatapan mata mereka berdua, segera menggeleng.

"Ah ... jangan, nggak mungkin, kasihan Dokter Jessica," ucapnya memohon, membuat hati Jessica semakin bergetar.

"Kenapa, mau apa?" tanya Jessica bingung, karena semua orang memandangnya dengan aneh. 

"Halo Jessica, saya Lionel, senior manager di MG entertainment," ucap pria itu sambil memberikan kartu namanya. Jessica mengambil kartu namanya yang berwarna hitam dengan perasaan tidak enak. 

"Bagaimana, jika anda menjadi pacar Adrian?" tanya Lionel dengan senyum penuh rencana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pacarku, Artis   Ch. 111 Pemilik Saham

    Jessica memandang penunjuk lantai di atas kepalanya. Entah kenapa rasanya lift hari ini berjalan lambat sekali. Dia tak ingin terus berdekatan dengan Ryan. Walau rasanya tak mungkin karena hari ini, Jessica tetap harus bersamanya, bahkan sampai besok pagi karena mereka jadwal jaga bersama. “Aku akan tinggal di rumahku, dan mencari kehangatan sendiri. Kamu juga boleh, asal pake pengaman ya, jangan ada anak lain selain dari aku. Oke sayang?” ucap pria itu sambil mengedipkan sebelah matanya yang membuat Jessica semakin mual.Tiap kata yang keluar dari mulut Ryan entah kenapa semakin absurd. “Plis Ryan, kita nggak usah ngomongin ini semua. Aku pusing,” ucap Jessica sambil mengangkat tangannya. Pria itu meraih tangan Jessica yang terangkat dan mengecupnya dengan ringan. Bekas kecupan itu segera terasa terbakar. Jessica menarik tangannya dengan cepat.“Oke sayang. Hanya saja, kapan lagi kita cuma berdu

  • Pacarku, Artis   Ch. 110 Hanya Akting

    Jessica memperhatikan Adrian yang sedang syuting bersama Miranda. Ada yang aneh dengan film ini, bukannya temanya kedokteran, tapi kenapa malah mereka sedang duduk santai di ruang dokter bercanda sambil bergelayutan begini?Kemarin Jessica kan sudah memberi tahu tentang teknis kedokteran, apakah hari ini Jessica harus memberitahu kalau nggak ada dokter yang bisa sesantai itu seharian?“Apaan tuh tangannya sampe pegang-pegang muka segala, Dokter itu nggak boleh pegang sembarangan,” pikir Jessica saat melihat Miranda dengan seenaknya meraba dada Adrian lalu meraih wajah pria itu. Ada perasaan aneh di perut Jessica.“Ini hanya akting, kenapa aku jadi gelisah sih? Sepertinya AC di sayap kiri ini masih butuh perbaikan, kenapa jadi panas begini?&rdquo

  • Pacarku, Artis   Ch. 109 Foto Kelima

    Adrian seakan baru ditampar. Kenapa selama ini dia berpikir kalau Jessica adalah seorang dokter miskin yang tak berdaya.Setelah dipikir-pikir, komplek apartemen yang mereka tempati, adalah komplek apartemen yang cukup mahal. Adrian memang menempati penthouse, tapi Jessica juga menempati apartemen yang cukup luas, dan seingat Adrian, wanita itu selalu bilang kalau itu adalah apartemennya, bukan sewa.Jessica juga ada pekerja yang membersihkan apartemennya, suatu kemewahan bagi seseorang yang ada di negara mereka. Jessica memiliki mobil, yang walaupun bukan baru, tapi juga tidak bobrok.Jessica adalah anak orang berada, berbeda dengan Adrian yang memiliki semua itu karena fasilitas manajemennya, tapi Jessica memang memiliki semua itu karena memang dia anak orang berada.

  • Pacarku, Artis   Ch. 108 Anak Petinggi

    Ryan sedang duduk dan makan chips di meja dokter saat Jessica datang. Pria itu tersenyum lebar melihat kedatangan Jessica. Sejak kejadian waktu itu, Jessica dan Louise tidak pernah meremehkan Ryan lagi. Bahkan sekarang pria itu seakan ketua dari mereka dibandingkan Joe.“Torakosentesis-nya Ben sudah dilakukan,” ucapnya seakan laporan. Ben memiliki riwayat yang sama seperti Nico pasien Jessica, sehingga Jessica menjadi lebih nyaman mengawasinya.“Oh, baguslah,” jawab Jessica sambil menaruh tasnya.“Dapat 20ml doang tapi,” ucap Ryan sambil kembali mengambil chips dan memasukkannya ke dalam mulut.“Yah dia baru 3 tahun.” Jessica mengingat-ingat kasus Nico di dalam k

  • Pacarku, Artis   Ch. 107 Jessica Lagi

    Jason segera mendekati Miranda. Dia sudah menemani Miranda untuk mempersiapkan syuting hari ini. Jadi dia tahu wanita itu bisa mengamuk kalau tiba- tiba syuting dibatalkan. Miranda juga sudah sengaja memundurkan jadwal syuting iklannya, agar hari ini bisa syuting film.“Ada kesalahan dalam script yang harus diperiksa, pengambilan gambar yang kemarin- kemarin juga harus di cek, untung aja Dokter Jessica di sini, mau kasih tau aku, makasi ya dok!” ucap Bob sambil menepuk pundak Jessica dengan hangat.Miranda menatap Jessica dengan tatapan jijik. “Wanita ini lagi, kenapa sih semua cowok tergila-gila sama dia!” pikir Miranda dengan kesal. Dia menatap Jason dengan penuh arti agar pria itu memihaknya.

  • Pacarku, Artis   Ch. 106 Restitusi Vs Resusitasi

    Dulu, Jessica berpikir membuat film adalah seperti jalannya cerita, tapi ternyata sepotong demi sepotong sesuai dengan ketersediaan aktor dan lingkungannya. Jadi walau mengawasi film, Jessica tidak bisa mendapati kisah utuh dari film tersebut. Jadi seperti syuting hari ini, tiba- tiba saja Adrian menangisi salah satu aktor muda, sepertinya sih anak muda itu ternyata sakit parah, dan Adrian gagal menyembuhkannya, Jessica tidak tahu pasti karena dia enggan bertanya. Cuma ada yang aneh, kalau sudah meninggal tak akan bisa lagi pakai alat kejut, Jessica mengerutkan keningnya karena merasa kewajibannya untuk memberitahu. “Maaf, menggunakan alat pacu kejut saat monitor jantung menunjukkan garis datar (asistol). Padahal kejut listrik hanya untuk irama jantung tertentu seperti ventrikel fibrilasi,” ucap Jessica sambil mendekati sutradara yang sedang mengawasi Adrian.“Eh…” Pria itu menoleh dan memperhatikan Jessica dengan tatapan tengganggu. “Siapa dia?” tanya Robert Vlack dengan kasar

  • Pacarku, Artis   Ch. 4 Pesona Artis

    "Mobilmu yang mana?" tanya Adrian sambil memakai ulang kaca mata hitam, masker dan topi. Karena memang dia sangat tampan dan tinggi, Jessica sempat terdiam terpesona."Itu!" jawab Jessica setelah menggigit bibirnya agar dia sadar diri lalu membuka kunci pintu mobil, namun terkejut saat Adrian menuj

  • Pacarku, Artis   Ch. 3 Pangeran Tampan Dan Putri Embun

    "HAH! Kamu mau cerita apa?" tanya Jessica dengan tatapan tidak rela acaranya akan Adrian rusak. Pria itu memandang dokter mungil di hadapannya. Sebenarnya wanita itu cukup cantik, matanya besar bewarna biru laut dengan bulu mata lentik. Hidungnya tinggi tapi mungil sama seperti bibirnya. Sayang,

  • Pacarku, Artis   Ch. 2 Ciuman Pertamaku Direbut!

    Wanita berjas putih segera menuju ruang buku, Dr. Jessica mengambil beberapa buku yang semalam sudah dia siapkan lalu berjalan ke arah pintu. Namun tiba- tiba pintu itu terbuka, dan pria besar itu menabrak lalu membuatnya terjatuh terlentang di lantai.Bukan hanya itu... Bibirnya... Bibirnya entah

  • Pacarku, Artis   Ch. 1 Melarikan Diri

    "Adrian, coba liat sini!" Satu fotografer berteriak padahal Adrian di sampingnya persis. Kilatan cahaya membutakan mata Adrian walau dia sudah mengangkat tangan agar cahaya itu tidak langsung mengenai mata."Adrian, senyumnya mana?" bujuk fotografer yang lain. Suara kamera mengambil foto membuat A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status