LOGIN"Aku mau kita rujuk, Dav. Bagaimana caranya? Aku harus apa?!" jerit Trian seraya menangis penuh frustrasi. Suaranya pecah, menggema di setiap sudut ruang tamu yang dingin itu. Pria yang biasa berdiri tegak memimpin perusahaan itu kini tersungkur di kaki Davina, meratapi kebodohannya sendiri. Davina ikut menangis melihat pemandangan yang menyayat hati itu. Air matanya menetes deras, membasahi kain jubah mandi yang ia peluk erat di dadanya. Dadanya sesak luar biasa melihat pria yang teramat dicintainya begitu hancur dan berantakan. "Aku nggak bisa tanpa kamu, Dav..." lanjut Trian lagi. Pria itu mendongak, menatap Davina dengan mata merah yang basah oleh air mata dan keputusasaan yang mendalam. "Aku gila, Dav. Setiap detik tanpa kamu adalah neraka buat aku." Trian meraih kedua belah tangan Davina, menggegamnya begitu erat seolah-olah wanita itu akan menguap jika ia lepaskan. Sorot matanya me
"Mama... Mayi pulang dulu ya," cicit Kamari seraya memeluk leher Davina erat-erat di ambang pintu. Pipi mungilnya menempel hangat di leher sang ibu. "Besok Mayi ke sini lagi kan, Ma? Janji ya, Ma?" Davina mengecup kedua pipi putrinya bergantian, menahan air mata yang mendadak menggenang di pelupuk matanya. "Iya, Sayang. Janji. Kamari anak pintar, di rumah nurut sama Oma dan Papa, ya." Di samping Kamari, Suster Rina berdiri seraya menjinjing tas perlengkapan medisnya. Ia mengukir senyum hangat pada Davina. "Mbak Davina, kondisi Mbak secara keseluruhan sudah sangat stabil. Karena Mbak juga sudah merasa mampu beraktivitas mandiri, tugas saya mendampingi Mbak berakhir hari ini. Saya pamit ya, Mbak." "Terima kasih banyak ya, Sus," balas Davina tulus. Ia lalu memandang ke arah Biru yang berdiri tegap menanti di koridor. "Biru, tolong antar Suster Rina sekalian ya. Kasihan kalau
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Trian melangkah maju dan merengkuh tubuh Davina ke dalam pelukan yang teramat erat. Pria itu menyembunyikan wajahnya di leher jenjang Davina, menyesap dalam-dalam aroma sabun dan kehangatan memabukkan dari kulit wanita itu—aroma yang selama ini menjadi rumah sekaligus penenang jiwanya. Tubuhnya bergetar hebat, meluapkan seluruh rasa takut, rasa bersalah, dan keputusasaan yang membakar dadanya selama ini. Davina terpaku sejenak. Namun, kehangatan tubuh Trian yang begitu familier dan detak jantung pria itu yang memburu di dadanya meruntuhkan seluruh pertahanan dirinya. Dengan jemari yang gemetar hebat, Davina mengangkat kedua tangannya, melingkarkannya di punggung lebar Trian dan membalas pelukan itu tak kalah erat. Dalam keheningan ruang tamu apartemen yang dingin, keduanya tak berkata apa pun. Hanya ada deru napas yang memburu dan isak tangis tertahan yang menyuarakan ke
Biru menghembuskan napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya dengan tegas. Sorot matanya memancarkan keprihatinan yang mendalam, namun keputusannya sudah bulat. "Maafkan saya, Pak Trian. Saya sangat menghormati Bapak dan bersyukur atas semua kebaikan Bapak selama ini. Saya rela mempertaruhkan nyawa saya untuk perusahaan dan Bapak... tapi untuk hal yang satu ini, saya tidak bisa," ujar Biru dengan nada suara yang mantap namun tetap penuh rasa hormat. "Biru, tolong..." bisik Trian, suaranya hampir menyerupai rintihan. "Pak Trian, ini bukan sekadar bantuan bisnis atau formalitas di atas kertas," potong Biru pelan, mencoba menyadarkan atasannya. "Jika saya melakukan ini, saya justru hanya merusak masa depan keluarga Bapak, bukannya membantu. Tolong, Pak... jangan biarkan rasa frustrasi membuat Bapak mengambil jalan yang salah." Trian perlahan meluruhkan tangannya. Tubuhnya bersandar lemas pada tepi meja ke
Trian terdiam. Tidak memiliki jawaban atas pernyataan Davina. Otaknya buntu. Syariat agama adalah hal yang tidak bisa ditawar, sekuat apa pun rasa cinta yang membakar dadanya saat ini. Lalu tak lama ia pamit untuk kembali ke kantor. Trian bilang akan menjemput Kamari sore hari. Trian mau Davina istirahat total dulu, biarlah urusan Kamari diurus oleh Bik Asih dan Nyonya Sandra untuk sementara waktu. Meski berat dan hatinya berat melepas putri kecilnya, Davina terpaksa setuju. Ia mengangguk pelan, mengantar Trian hingga ke depan pintu apartemen dengan kecanggungan yang begitu pekat membelit udara di antara mereka. Di kantor, Trian benar-benar tidak fokus bekerja. Otaknya terus berpikir bagaimana ia bisa kembali memiliki Davina. Berkas-berkas laporan keuangan dan dokumen kerja sama di atas meja mahoninya sama sekali tak tersentuh. Tatapannya hampa menerobos dinding kaca ruang kerjan
"Baiklah, Sayang... Papa janji," bisik Trian seraya mengusap lembut punggung Kamari yang masih terisak di dekapannya. "Besok pagi, setelah Kamari siap, Papa akan antar Kamari bertemu Mama. Kita main bersama di sana sepanjang hari." Mendengar janji itu, tangisan Kamari perlahan mereda. Usapan hangat di kepalanya dan ketegasan dalam suara Trian berhasil menenangkan dada mungilnya. Dengan mata yang masih sembap dan hidung yang memerah, putri kecil itu akhirnya mengangguk pelan. Nyonya Sandra segera mengambil mangkuk sup yang sempat terabaikan, lalu menyuapkannya perlahan kepada cucunya. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah hari-hari yang melelahkan, Kamari mau menghabiskan makanannya hingga tak tersisa. Keesokan harinya, matahari pagi menyinari balkon unit apartemen dengan lembut. Trian tiba bersama Kamari tepat pukul sembilan. Begitu pintu unit terbuka, Kamari langsung berlari kencang m







