MasukAmara masih menggenggam kartu nama hitam dengan ukiran emas bertuliskan Maximilian Heuston itu. Syal lavender di atas meja tampak begitu kontras dengan suasana hatinya yang mulai diliputi kegelisahan. Ingatannya kembali ke basement, tatapan mata Max bukan sekadar tatapan pria yang berterima kasih. Itu adalah tatapan seseorang yang telah lama mengintai dari balik bayang-bayang."Nona, siapa pengirim paket indah itu?" suara Bi Ana mengejutkan Amara.Amara dengan cepat menyelipkan kartu nama itu ke dalam saku gaun rumahnya. "Hanya... kenalan baru, Bi. Dia berterima kasih karena aku membantunya kemarin," jawab Amara setenang mungkin, meskipun ia tahu Bi Ana bisa merasakan ketegangannya.Tanpa Amara sadari, di lantai atas, di balik pilar marmer yang megah, Inara menekan tombol kirim pada ponselnya. Sebuah foto Amara yang sedang memegang syal pemberian Max terkirim kepada "Nona"-nya. Inara tersenyum penuh kemenangan. Baginya, setiap inci gerakan Amara kini adalah amunisi untuk menghancur
Setelah ketegangan di ruang tamu mereda, Amara hanya bisa mengangguk pasrah saat Darian menegaskan perintahnya tentang pengawalan ekstra. Matahari jingga kini berubah pekat. Waktu makan malampun tiba, namun suasana makan malam itu terasa kaku. Darian lebih banyak diam, matanya sesekali melirik Amara dengan tatapan yang sulit diartikan, antara rasa syukur karena istrinya selamat dan amarah yang terpendam terhadap situasi tersebut. Inara duduk di sudut meja, menyantap supnya dengan gerakan yang sangat halus, seolah-olah ia tidak ada di sana. Namun, matanya yang tajam tidak melewatkan satu pun getaran emosi antara suami istri itu. Setelah makan malam usai, Amara memilih untuk segera naik ke kamar, beralasan kepalanya kembali terasa berat. Malam semakin larut. Di dalam kamar utama yang remang-remang, Darian sudah tertidur karena kelelahan setelah seharian bertempur dengan rapat dan berita mengejutkan dari basement. Lengannya melingkar protektif di pinggang Amara, namun Amara send
Amara masih terpaku di tempatnya berdiri, bahkan setelah mobil hitam mewah milik Maximilian melesat pergi meninggalkan area basement Fresh Market Royale. Di tangannya, tas yang tadi dilemparkannya terasa dingin, seolah masih menyisakan sisa sentuhan pria misterius itu. "Amara! Kau mendengarku tidak?" Maya mengguncang bahu Amara dengan wajah yang masih pucat pasi. "Siapa pria itu? Dan kenapa ada orang yang mau membunuhnya? Astaga, jantungku hampir copot!" Amara mengerjapkan mata, mencoba mengembalikan kesadarannya. "Aku tidak tahu, Maya. Dia bilang namanya Max. Dia hampir ditusuk dari belakang, dan aku hanya refleks bertindak." Dua pengawal Arcus yang dikirim Darian mendekat dengan wajah penuh penyesalan. Mereka menunduk dalam. "Maafkan kami, Nona. Kami lalai memantau pergerakan penyerang itu di balik pilar. Kami akan segera melaporkan kejadian ini pada Tuan Darian." "Jangan!" Amara memotong cepat, namun ia segera sadar itu mustahil. "Maksudku... Mas Darian pasti akan sangat kh
"Aku ingin mampir ke Fresh Market Royale, Maya. Stok sayur dan lauk di kulkas menipis," ajak Amara saat mereka kembali ke mobil. "Ok, let's go," ucap Maya bersemangat. Sesampainya di supermarket besar tersebut, Maya yang sudah kebelet langsung berlari keluar. "Aku ke toilet dulu ya! Setelah selesai, aku akan menyusul di lorong buah!" Amara tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya. Namun, saat ia hendak melangkah menuju lift, ia meraba tasnya. "Sial, ponselku tertinggal di laci mobil." Amara berbalik arah menuju basement parkir, diikuti oleh dua pengawalnya yang setia mengekor di belakang menjaga jarak aman. Setelah mengambil ponselnya, Amara berjalan keluar dari barisan mobil. Langkah kakinya menggema di lantai beton basement yang agak sepi. Namun, tiba-tiba, matanya menangkap sosok seorang pria yang berdiri di dekat pilar besar. Pria itu mengenakan kemeja rapi, sedang berbicara di ponsel dengan nada yang sangat fokus namun lembut. "Ya, Ma... aku sudah di basement. Cepatlah,
Suasana di ruang makan penthouse Lancaster seketika membeku. Maya, dengan mata tajamnya, masih berdiri mematung menatap Inara yang duduk dengan kruk di sampingnya. Amara menarik napas dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sempat memuncak akibat konfrontasi dengan Inara barusan. Amara berjalan mendekati sahabatnya, lalu merangkul lengan Maya dengan tenang. "sudahlah, Maya. Dia memang penyelamat masa kecil Mas Darian. Dia sedang terluka dan butuh tempat tinggal sementara untuk alasan keamanan." Maya mendengus sinis, matanya tidak lepas dari wajah Inara yang kini kembali memasang raut menyedihkan. "Penyelamat? Oh, heroik sekali." Inara menunduk dalam, jari-jarinya meremas ujung gaun tidurnya. "Maaf jika kehadiranku membuat temanmu tidak nyaman, Amara. Aku... aku akan masuk ke kamar sekarang." Dengan gerakan yang lambat dan tampak payah, Inara menyeret kruknya, meninggalkan ruang makan tanpa berani menatap Maya. "Wanita itu... aromanya tidak enak, Amara," gumam Maya sam
Malam merayap lambat di Penthouse Lancaster. Setelah insiden berdarah di dapur mereda, keheningan yang menyesakkan menyelimuti kamar utama. Amara berbaring miring, memunggungi sisi kosong tempat tidur. Matanya terbuka lebar di kegelapan, menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota Solterra. Terdengar suara pintu terbuka pelan. Aroma maskulin yang familiar, campuran kayu cendana dan sisa uap air hangat, masuk ke dalam ruangan. Darian baru saja selesai mandi, hanya mengenakan jubah mandi sutra hitam. Ia menatap siluet punggung istrinya yang tampak begitu rapuh namun sekaligus membentengi diri. Darian menghela napas panjang, sebuah suara yang sarat akan kelelahan mental. Ia menaiki ranjang dengan sangat hati-hati, seolah takut getaran sekecil apa pun akan membuat Amara semakin menjauh. Perlahan, ia merapatkan tubuhnya, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Amara. Ia menarik tubuh istrinya hingga punggung Amara menempel pada dadanya yang bidang. D







