Share

Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!
Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!
Penulis: Dewi masitoh

1. Kecerobohan 

Penulis: Dewi masitoh
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-08 13:09:23

Gadis cantik sedang berlenggak-lenggok mendengar suara musik di sebuah klub malam. Zaman modern yang membuat anak muda sering melakukan ini. Banyak pria yang menari menemani gadis ini.

“Yasmine! Hei, Yasmine!” teriak Ranti.

“Apa sih!” balas Yasmine masih mengabaikan Ranti.

“Taksimu udah datang! Cepatlah pulang!” titah Ranti menarik tangan Yasmine setengah sadar.

“Iya, Bawel!” teriak Yasmine setengah mabuk yang sulit mengontrol emosi.

Ranti tanpa basa-basi lagi, ia membawa Yasmine keluar klub. Yasmine saja berjalan sedikit sempoyongan. Ranti membuka pintu mobil agar Yasmine masuk ke dalam.

“Hei! Sampai rumah jangan lupa selfie, kirim ke aku ya!” teriak Ranti.

“Iya, Bawel,” lirih Yasmine merasa pusing.

 Mobil pun melaju ke apartemen Yasmine. Butuh waktu 30 menit Yasmine sampai di apartemen. Sampai di apartemen dengan kepala yang pusing Yasmine mencoba memasukan password. Sudah dua kali salah membuat Yasmine kesal.

Tit …

Pintu terbuka membuat Yasmine senang. Di dalam apartemen Yasmine melempar tas ke sembarang arah. Yasmine merebahkan tubuhnya di ranjang, sesaat Yasmine ingat harus mengirim foto kepada Ranti.

“Akh! Gerah sekali,” gumam Yasmine sambil membuka pakaiannya.

Setelah menemukan ponselnya Yasmine pun berpose sangat seksi yang hanya mengenakan dalaman saja. Setelah selesai Yasmine tertidur dengan pulas.

Tuling … tuling …

Ponsel Yasmine berdering, tanda ada seseorang yang menelepon. Yasmine dengan mata tertutup mencari keberadaan ponselnya. 

“Halo!” ucap Yasmine yang sudah duduk di tepi ranjang.

“Kamu jangan lupa hari ini kita ada bimbingan sama Pak Reno di kampus buat lihat judul kita diterima atau tidak!” Ranti memeringati.

“Gimana foto aku semalam cantik, ‘kan?” tanya Yasmine sambil berjalan ke kamar mandi untuk bersiap ke kampus.

“Foto? Memangnya kamu kirim foto?” Ranti jelas mengingat tidak ada pesan dari Yasmine.

“Kamu mabuk sih!” Yasmine menaruh ponselnya di westafel, ia lalu mencuci wajah.

“Beneran nggak ada.” Ranti tetap dengan pendiriannya.

“Hah! Nggak lucu, terus aku kirim foto ke siapa? Anjir!” 

“Entahlah!” 

Yasmine seketika mematikan telepon mereka berdua. Yasmine lalu memeriksa pesan di ponsel. 

Pletak …

Ponsel yang terjatuh begitu saja di lantai. Tubuh Yasmine terasa lemas saat melihat foto itu dikirim ke dosen bimbingan. Yasmine segara membereskan diri lalu pergi ke kampus.

Sampai di kampus Yasmine masih terengah karena mencari keberadaan dosen pembimbing itu. Ternyata sudah ada beberapa mahasiswa yang akan bimbingan hari ini dengan beliau. Yasmine masih merasa bersalah bercampur malu jika bertemu beliau.

“Tumben, nggak telat?” tanya Ranti.

“Diamlah, mood-ku lagi nggak enak pagi ini.” Yasmine tidak berani bercerita kepada Ranti.

Menunggu beberapa saat Yasmine dan Ranti bimbingan skripsi. Setelah selesai Ranti pamit untuk pergi dari sana.

“Pak, kita duluan ya,” pamit Ranti.

“Kamu duluan saja, aku ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan sama Pak Reno.” Yasmine mencoba mengontrol rasa paniknya.

Reno tampak dingin sekali saat Yasmine mengatakan itu. Yasmine bingung akan mulai bicara dari mana. Mereka hanya saling bergeming hingga akhirnya Reno membuka pembicaraan.

“Jika tidak ada pembicaraan lagi, saya akan masuk kelas, karena ada mata kuliah yang akan saya ajarkan.” Reno berdiri lalu meninggalkan Yasmine.

Yasmine malah bergeming, entah mengapa tubuhnya sulit diajak berkompromi kali ini. Jujur saja Yasmine sedikit tertekan dengan semua ini. Rasa malu telah merasuki tubuh Yasmine.

Namun, kenyataannya adalah Yasmine dengan gigih menunggu Reno  di luar kelas. Reno sekilas tersenyum tanpa ada orang yang sadar di sekitar sana. Reno sengaja melewati Yasmine begitu saja.

“Kamu masih di sini?” Reno menatap Dingin.

Yasmine bukannya menjawab bergeming sesaat. Ia bingung harus mulai dari mana. Wajah Yasmine pun mulai pucat dengan tatapan Reno.

“Saya ingin bicara dengan Bapak.” Yasmine memberanikan diri. Mereka berdua sambil berjalan.

“Bicaralah,” titah Reno.

“Saya ingin bicara soal semalam, Pak,” ucap Yasmine ragu-ragu.

“Tentang apa?” Reno sengaja mempermainkan Yasmine.

Yasmine langsung panik. “Tentang f-foto, Pak.” Yasmine menundukkan kepalanya.

Reno dengan tenang lalu menjawab, “Ikuti Saya.”

Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengikuti. Reno berjalan ke arah ruangannya, Yasmine pun mengikuti dari belakang. Suasana kampus terlihat sepi karena sudah sore. Sampai di ruangan Reno, mereka pun masuk.

“Gadis ini,” batin Reno. “Duduk!” 

“I-iya, Pak!” 

Jantung Yasmine berdegup tidak karuan, bukan karena ketampanan Reno. Melainkan sikap dingin Reno membuat Yasmine mati kutu. Yasmine duduk dengan tenang walaupun sedikit gugup.

“Foto?” Lagi-lagi Reno mempermainkan Yasmine.

“Semalam saya salah kirim foto, Pak.” Yasmine jujur.

“Aku kira kamu sengaja mengirim foto itu kepada saya.” Reno menatap lurus.

“Semalam saya mabuk, Pak. Saya salah kirim,” lirih Yasmine mencoba menjelaskan lagi.

“Jadi kamu mau mengirim foto itu kepada pacarmu?” tebak Reno merasa panas.

“Bukan, Pak! Bukan!” Yasmine panik sendiri.

“Lalu?” Reno menoleh ke arah Yasmine yang terlihat jujur.

“Saya akan mengirim ke Ranti, Pak! Tapi nomor Bapak di bawah nomor Ranti. Dan saya belum pernah pacaran, Pak.” Yasmine menundukkan kepalanya.

Reno menyeringai Yasmine saat Yasmine menundukkan kepala. Reno bergeming sesaat seperti sedang berpikir.

“Mau kamu apa?” tanya Reno. 

“Tolong hapus foto saya, Pak.” Yasmine dengan berani meraih tangan Reno yang berada di atas meja lalu menggenggamnya.

Reno hanya melirik tangannya yang disentuh oleh Yasmine. Yasmine yang sadar langsung melepas tangannya dari tangan Reno.

“Maaf, Pak.”

“Temui saya di alamat ini, besok malam.” Reno memberikan secarik kertas.

“Bapak di apartemen ini?” Yasmine tidak menyangka.

“Kenapa?” Reno datar.

“Nggak pa-pa, Pak,” lirih Yasmine tidak berani mengatakan jika mereka satu apartemen hanya berbeda tower saja.

“Keluar,” usir Reno.

Yasmine merasa kesal karena belum selesai bicara sudah diusir oleh Reno. Yasmine keluar dari ruangan Reno dengan wajah muram.

Ceklek …

Rasanya Yasmine ingin membanting pintu itu, untuk meluapkan emosinya. Saat berjalan tidak jauh dari ruangan Reno ada seseorang dari belakang menyentuh lengan Yasmine.

“Kamu kenapa keluar dari ruangan Pak Reno?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   195. Tumbler Tuku

    “Ini Tumbler Tuku, warna biru! Lucu ‘kan?” ucap Sesil.“Wah! Kami dapat satu per satu?” tanya salah satu dari mereka.“Tentu saja, kecuali Risa! Kamu dapat Tumbler Lion Star! Nggak cocok dapat tumbler ini.” Sesil menyilangkan kedua tangannya di dada.Reno mengajak Sesil untuk masuk ke dalam ruangannya. Kini Yasmine hanya menahan tawa saja. Risa terlihat emosi sekali. Teman-teman lain juga menahan tawa.“Apa yang lucu! Diam kalian!” Risa pergi ke tempat duduknya.Kubikel kantor modelnya memanjang saja. Di ujung adalah tempat duduk Risa. Risa mampu melihat Yasmine sedang mengerjakan tugas.“Sayang, ini untukmu.” Reno memberikan buah-buahan untuk Yasmine makan.“Makasih, Kak.” Yasmine tersenyum.Reno pun pergi dari sana. Para wanita yang melihat pun iri.“Beruntung ya, kamu!” ucap Nina—teman kerja.“Semoga kamu dapat lebih dari Kak Reno,” jawab Yasmine yang kembali bekerja.“Alah, gitu aja bangga,” gumam Risa dengan suara yang keras, mampu didengar beberapa orang.Yasmine seringai sambil

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   194. Drama Kantor

    Ceklek …Saat pintu terbuka, tubuh Risa membeku sesaat. Leo masuk dengan wajah yang garang. Risa langsung berdiri lalu menghampiri Leo.“T-tuan!” Suara Risa yang bergetar.“Duduk.” Leo duduk di kursi.Risa pun duduk di singgasananya. Leo pun menyampaikan apa yang diinginkan oleh Yasmine. Wajah Risa langsung berubah.“Kamu maunya gimana?” tanya Leo.“Saya akan meminta maaf di depan karya, Pak.” Risa menundukkan kepalanya.“Akh! Satu lagi. Kamu akan turun jabatan.” Leo berdiri. “Tunggu sekretarisku ke sini membuat surat perjanjian.” Leo pergi.Risa mengepalkan tangannya. Wanita itu terbakar emosi. Sampai-sampai tidak sadar di tangan satunya menggenggam pulpen.Pletak …Pulpen itu patah sampai tangan Risa berdarah. Dendam telah merasuki wanita itu.“Lihat saja nanti.” Risa seringai.***Keesokan harinya, di pagi itu Leo dan Venya akan kembali ke Prancis. Satu bulan lagi di sana, tugas Venya selesai menjadi peracik parfum.“Hati-hati di jalan, ya!” ucap Yasmine sambil memeluk Venya di ban

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   193. Sudah Diujung

    “Tante sakit ya,” ucap Lino merasa bersalah.“Nggak pa-pa kok Sayang.” Yasmine tersenyum.Risa tidak merasa bersalah di hadapan Reno. Ia malah mengadu ke pria itu soal kelancangan Yasmine.“Tuan! Lihat dia itu! Tidak sopan.” Risa berakting seolah Yasmine salah.“Bohong!” Lino dengan berani.Plak …Reno menampar pipi Risa. Ia berjalan menghampiri Yasmine.“Tuan!” Risa bingung sambil menahan sakit.“Diam kamu!” bentak Reno.“Sayang, kita ke rumah sakit ya!” Reno langsung membopong tubuh Yasmine.Deg …Semua karyawan termasuk Risa dan Farel tercengang. Ucapan Reno begitu jelas membuat mereka tidak percaya.“Nggak usah, ini diobatin salep aja sembuh,” tolak Yasmine yang menenangkan hati Reno.“Ya, sudah. Ayo, ke ruanganku.” Reno meninggalkan departemen itu.Risa membeku, Leo dan Farel meninggalkan ruangan itu juga. Namun, sampai di lift ternyata Reno dan Yasmine sudah pergi terlebih dahulu.“Astaga! Dari tadi yang urus Anakmu ini si Yasmine.” Leo menggelengkan kepala.“Aku tidak tahu Yasm

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   192. Gara-Gara Secangkir Cokelat

    Yasmine dan Lino berpisah dengan Farel. Yasmine masuk ke departemen yang mempekerjakannya. Lino anteng sekali mengikuti Yasmine.“Hei kamu anak baru?!” tanya manajer departemen itu.Yasmine melihat wanita itu terlihat garang sekali. Lino bersembunyi di belakang tubuh Yasmine.“Iya, Ibu.” Yasmine tersenyum.“Kamu bawa anak saat kerja?! Hari pertama sudah membuat masalah saja!” omel wanita itu.“Memangnya ada larangan?” tanya Yasmine.“Baca! Surat kontrak tidak kamu itu!” bentak wanita itu.“Maaf, Bu. Saya jamin tidak akan berbuat masalah. Hari ini saja.” Yasmine memohon.“Apa katamu!” Wanita itu marah.“Satu jam saja Bu! Saya mohon.” Yasmine memelas.Ekspresi wajah itu membuat manajer itu luluh. Akhirnya, wanita itu memberi tahu tempat duduk Yasmine.***“Hai!” Leo menyapa Farel sambil memeluk.“Lama tidak bertemu!” Farel membalas pelukan Leo.Mereka melepaskan pelukannya lalu duduk di sofa. Lama tidak bertemu membuat mereka saling merindu. Persahabatan membuat mereka masih saling berh

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   191. Pertemuan Tak Terduga

    Deg …Reno baru mengerti Sesil meminta pergi dari rumah. Kini Reno pergi dari sana mencari keberadaan Yasmine. Sampai di kamar ia melihat sang istri tertidur pulas.“Aku kira dia kenapa-kenapa, untung saja tidur,” batin Reno yang menutup pintu dengan hati-hati.Setelah Reno menutup pintu, Yasmine membuka matanya. Ia menangis merasa sesak di dada.***“Sayang, kita sampai rumah—” Leo belum selesai melanjutkan ucapannya.“Kita packing, lusa kita pulang ke Prancis,” sela Venya sudah tahu otak mesum sang suami.“Jadi malam ini nggak jadi?” Leo sedih.Venya berpikir harus membahas apa agar Leo tidak memikirkan hal lain. Wanita itu meraih tangan sang suami.“Foto-foto kamu sama Ranti bisa disimpan?” tanya Venya dengan hati-hati.Leo menghentikan mobilnya, Venya takut sekali. Ia langsung berpikir jika suaminya itu marah atas permintaan Venya.“Maaf.” Venya melihat ekspresi Leo yang sulit diprediksi.“Kenapa harus minta maaf, harusnya aku yang peka.” Leo meraih tangan Venya. “Nanti di rumah k

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   190. Renggang

    “Siapa namanya?” tanya Reno penuh selidik.“Farel.” Leo singkat.“Jangan bilang jika dia itu—” Wajah Reno memerah. “Ya, Sintia sudah tidak ada karena sakit.” Leo menjawab santai.“Kamu tidak bercerita ini?!” Reno terkejut mendengar wanita yang pernah ia suka telah tiada.“Buat apa? ‘Kan nggak penting.” Leo memperjelas.“Memang iya sih.” Reno melanjutkan makan.“Sintia siapa?” tanya Yasmine yang kebingungan.“Nggak penting.” Reno dan Leo bersamaan saat menjawab.Sesil menahan tawa membuat Yasmine sakit hati. Ibu hamil pasti sensitif sekali. Yasmine memilih diam ia berpikir cerdas.Setelah makan siang, Yasmine mengajak Sesil ke ruang perpustakaan di rumah itu. Venya mengikuti mereka berdua.Ceklek …“Tutup!” Yasmine menatap tajam ke arah Venya.Deg …Venya dengan cepat menutup pintu lalu menuju lemari buku. Wanita itu berpura-pura mencari buku. Sedangkan, Sesil duduk dengan santai.“Kenapa? Mau tanya tentang Sintia ‘kan?” tebak Sesil telak.“Dia siapa?” tanya Yasmine sedikit gengsi.“D

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status