Share

2. Godaan Pak Dosen

Author: Dewi masitoh
last update Last Updated: 2025-09-08 13:11:37

“Menurutmu Shita?” goda Yasmine yang sengaja membuat marah.

“Jangan pernah kamu menggoda Pak Reno!” ancam Shita—musuh bebuyutan Yasmine. Mereka dari zaman SMA selalu berebut prestasi.

“Ha-ha-ha! Pak Reno bukan tipeku,” balas Yasmine.

Shita terlihat emosi karena ia menyukai Reno dari dulu. Papa Reno salah satu rekan bisnis papa Shita. Mengapa Shita menyukai Reno. Yasmine enggan meladeni Shita, ia memilih pergi begitu saja.

***

Keesokan harinya, Yasmine dan Ranti ke kampus untuk mengajukan judul skripsi kepada Reno. Yasmine dan Ranti sudah menunggu Reno di depan ruangannya. Ternyata hari ini Reno tidak ada di kampus. Membuat Yasmine kesalnya setengah mati.

“Dosen sialan!” gerutu Yasmine ingin sekali menendang pintu ruangan Reno. 

“Kamu  kenapa sih, kayanya nggak suka banget sama Pak Reno?” tanya Ranti yang penasaran.

“Nggak pa-pa. Nggak suka aja,” balas Yasmine.

“Awas nanti jatuh cinta loh,” goda Ranti yang asal bicara.

“Amit-amit.” Yasmine memilih pulang ke apartemen ketimbang keluyuran bersama Ranti. 

Pukul 19.00 Yasmine sudah siap untuk pergi ke apartemen Reno. Yasmine gugup, pikirannya melayang entah ke mana.

“Kalo nanti aku di sana diapa-apain gimana?” gumam Yasmine tiba-tiba menutup dadanya lalu bergidik ngeri.

Belum bertemu saja sudah bergidik ngeri. Tak butuh lama Yasmine sampai di apartemen Reno. Yasmine memencet bel berharap Reno tidak ada di dalam apartemen. Tuhan berkehendak lain, tidak butuh lama Reno membukakan pintu.

Ceklek …

Pintu terbuka, Yasmine melihat Reno membuka pintu dengan aura sangat dingin dan mengintimidasi. Yasmine sampai ingin lenyap dari sana dengan tatapan Reno yang enggan berpaling.

“Masuk,” ajak Reno datar.

“I-iya, Pak.” Yasmine mengikuti Reno dari belakang.

“Duduk, mau minum apa?” tawar Reno sambil berjalan ke mini bar.

Mata Yasmine mengikuti pergerakan Reno yang mengambil sebuah wine. Yasmine sadar, apa yang dilakukan Reno membuat dirinya gugup.

“Minum apa saja, Pak.” Yasmine tidak mau terpancing oleh Reno.

Reno membawa minuman itu di hadapan Yasmine. Yasmine hanya menatap segelas minuman itu membuat jantung Yasmine berdegup tidak karuan. 

“Minumlah, tidak ada racun di gelas itu.” Reno datar yang duduk tidak jauh dari Yasmine.

Suasana canggung semakin kuat, Yasmine tidak tahu harus berbicara darimana. Reno pun membuka pembicaraan lagi.

“Saya ingin membuat kesepakatan denganmu.” Reno terdengar tegas.

“Apa, Pak!” Yasmine memberanikan diri untuk berbicara.

“Jadilah pacar sewaan saya.” Reno tanpa basa-basi lagi.

 “Saya tidak mau, Pak!” Yasmine menolak mentah-mentah. “Lagi pula apa hubungannya dengan foto saya, tolong sekarang hapus saja.”

Reno menyeringai Yasmine, spontan membuat bulu kuduk Yasmine berdiri. Yasmine merasa terintimidasi, padahal hanya sebuah senyuman saja.

“Saya tidak akan menghapus foto kamu. Karena kamu berbeda dengan gadis lain. Justru itu yang saya butuhkan,” ucap Reno penuh dengan penekanan. 

Motif Reno sangat tersembunyi, mungkin karena kesetaraan mereka Reno mau dengan Yasmine. Atau mungkin, Reno hanya ingin bermain-bermain. 

“Apakah Bapak tidak berpikir, jika ini ketahuan oleh pihak kampus, akan menjadi skandal yang besar.” Yasmine berpikir dengan tenang.

“Jika kamu bisa menjaga rahasia tidak akan terjadi sesuatu, Yasmine.” Reno dengan santainya.

Yasmine tidak habis pikir dengan pernyataan Reno. Yasmine bergeming sambil memikirkan jalan keluar bagaimana cara menghasut Reno agar mau menghapus foto itu. Reno sedang memegang ponsel itu dipastikan foto itu ada di sana. Setelah meminum minuman pemberian Reno, Yasmine mendapatkan ide brilian.

“Pak,” panggil Yasmine dengan nada menggoda.

“Emb.” Reno menatap Yasmine berjalan mulai mendekat.

“Saya ingin ponsel Bapak!” Yasmine dengan cepat mengambil ponsel itu dari genggaman Reno. Reno lengah dengan daya tarik Yasmine.

Namun, hanya sesaat saja Reno lengah. Dengan cekatan Reno menarik tangan Yasmine hingga terjatuh di pangkuan Reno. Napas Yasmine tercekat, ia sulit untuk bernapas karena wajah mereka berdua terlalu dekat. Reno merebut ponselnya dari tangan Yasmine. Yasmine menoleh ke arah lain karena gugup.

“Jika kamu tidak mau menuruti kemauanku, akan kupersulit skripsimu, atau bisa juga aku laporkan foto ini ke pihak kampus,” ancam Reno.

“Bapak jangan gila!” Yasmine mencoba berdiri, tetapi ditahan oleh Reno.

“Apa kamu ingin kuliahmu sia-sia begitu saja? Dan keluargamu akan hancur mengetahui anaknya telah menggoda dosennya sendiri.” Reno menaikkan salah satu alisnya. 

Napas Reno yang terlalu dekat membuat otak Yasmine buyar. Yasmine sulit berpikir jernih, ketampanan Reno terpangpang nyata. Yasmine mengendalikan emosinya mencoba tenang.

“Saya mohon, Pak,” lirih Yasmine memohon dengan wajah memelas.

Reno mendekatkan kepalanya di telinga Yasmine. “Aku harap kamu tidak akan depresi jika seluruh negeri ini tahu kelakuanmu,” bisik Reno membuat Yasmine bergeming. Suara itu membuat merinding, jantung Yasmine terasa terhenti sesaat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   204. Amara Syok

    “Iya.” Andri terdengar pasrah.Venya mendekati sang mertua. Ia mencoba berbicara dari hati ke hati. “Papa,” ucap Venya dengan lembut kini. “Iya.” Andri menatap sang menantu yang duduk di hadapannya. “Papa menangisi perempuan seperti itu?” Venya meremehkan Andri dengan tatapannya itu. Soft spoken sekali Venya itu. Kelembutan wanita itu membuat Andri sadar. Ucapannya mampu menusuk relung hati yang paling dalam.“Mama cukup lama mengenal dia, ternyata begitu.” Andri sedikit menyesalinya. “Papa nanti akan aku carikan wanita yang sesuai untuk Papa.” Venya tersenyum. “Gadis?” sahut Leo yang penasaran dengan ucapan sang istri.“Enaknya temenku ‘lah! Masak temenku.” Venya melirik sinis. “Ayo, ke kantor. Kita telat.” Leo melihat di jam tangannya.***Keesokan harinya, tanpa terasa di Jepang urusan sudah selesai. Mereka berempat kembali ke Konoha. Sampai di bandara Yasmine membeku sesaat.“Kenapa Sayanh?” tanya Reno melihat sang istri tidak bergerak. “Itu.” Yasmine menunjuk ke arah dua

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   203. Pulang?

    Tring …Wajah Sesil merasa senang karena ia tahu tidak mungkin kakak iparnya akan marah. Reno menatap penuh harap. “Gimana?” tanya Reno.“Aman aku sudah tahun apa yang dia inginkan.” Sesil berdiri. “Main ke mana?” tanya Reno lagi. “Eh, kamu nggak bilang aku nyuruh kamu tanya, ‘kan?” Reno memastikan. “Nggaklah, Kak.” Sesil menarik Reno agar mengikuti.Sesil mengajak Reno untuk memesan makanan ke pihak hotel. Sesil bercakap-cakap di telepon. Reno hanya mengangguk saja. “Selesai,” ucap Sesil. “Buat Yasmine apa tadi?” Reno masih belum paham. “Sup Miso, cocok untuk ibu hamil.” Sesil tahu jika sang kakak ipar suka yang berkuah. “Apa itu?” sahut Dimas mendengar namanya saja sudah membuat lapar. “Sup Miso (Miso Soup) adalah hidangan sup tradisional Jepang yang berbahan dasar kaldu dashi yang dicampur dengan pasta miso (pasta kedelai fermentasi). Sup ini merupakan makanan pendamping pokok dalam diet Jepang yang sering disajikan sebagai sarapan atau pendamping menu utama karena rasanya

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   202. Rumitnya Wanita

    Sampai di bandara Yasmine merasa bersalah. Reno yang menyeret koper sendirian. “Aku bantu ya,” ucap Yasmine ingin mengambil alih koper besar di tangan kiri pria itu. “Jangan aneh-aneh. Ini berat, Yasmine.” Reno dengan tegas.“Aku mau bantu,” lirih Yasmine.“Cukup kamu diem, nggak merepotkan saja itu buat aku sudah senang, Sayang.” Reno yang menghentikan langkahnya.“Beneran?” Suara lembut Yasmine yang terdengar imut membuat Reno merasa gemas.“Iya.” Reno memeluk Yasmine sesaat di tengah kerumunan.“Baiklah.” Wanita itu tersenyum sangat manis.Dimas dan Sesil merasa geli sendiri melihat pasutri itu. Padahal, mereka juga tidak kalah mesra. “Eh, itu private car kita.” Dimas menunjuk ke arah mobil. Mereka pergi ke sana. Yasmine lagi-lagi mual kembali. “Huek!” Wanita muntah di pinggir trotoar. “Kamu masih kuat nggak?!” Sesil panik.“Masih kok.” Yasmine tersenyum tawar.Reno langsung membukakan pintu. Pria itu membawa masuk ke dalam mobil sang istri. Yasmine langsung bersandar di kurs

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   201. Baikan

    “Hei, kamu malah ngelamun itu kenapa?” tanya Reno memakai kaus lalu memakai sweater karena di Jepang masih winter.“I-iya Kak.” Yasmine memakai pakaiannya.Di depan cermin wanita itu bersolek. Reno memeluk dari belakang.“Jangan cantik-cantik,” bisik Reno di telinga sang istri.“Apa si Kak!” Yasmine mengomel.“Galak banget,” balas Reno sambil menegakkan tubuhnya.Pria itu keluar dari kamar, Yasmine menoleh merasa tidak enak hati sudah membuat sang suami kecewa. Wanita berdiri lalu turun ke bawah. Melihat Reno yang sedang mengawasi sopir memasukan koper mereka berdua.“Tumben ngambekan?” batin Yasmine lalu menghampiri sang suami. “Sayang!” Yasmine bergelayut mesra.“Hem!” Reno cuek.“Kamu kenapa?” tanya Yasmine polos.“Nggak pa-pa.” Reno tersenyum tawar.“Ish.” Yasmine lalu masuk ke dalam mobil.Aura canggung sangat terasa, wanita itu memilih memejamkan mata hingga bandara. Pria itu pun sibuk dengan tablet-nya. Tanpa terasa mereka sampai di bandara. Yasmine langsung turun tanpa mengata

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   200. Jepang?

    Amara menekan tombol lift lalu menuju ruang CEO. Sampai di sana Fero dan Reno akan keluar dari ruangan.“Kalian mau ke mana?” tanya Amara.“Kapan kamu pulang?” Fero tidak menyangka jika wanita itu datang kembali.“Aku duluan ya, sebentar lagi ada jam bimbingan di kampus.” Reno mengabaikan Amara.Amara cemberut, ia kesal sekali. Fero menahan tawa melihat Amara diabaikan oleh Reno. “Ada yang lucu?!” bentak wanita itu. “Sudahlah kamu jangan berharap lebih. Dia sudah ada istri.“Apa!” Amara syok.“Aku duluan, mau jemput anak sekolah.” Fero pergi.Amara masih terdiam, ia mencoba mencerna ini semua. Wanita itu masih tidak percaya begitu saja.***Di kampus, Reno baru saja selesai mengisi kelas. Ternyata Bella menunggu di depan kelas. Gadis itu memberanikan diri untuk mengajak Reno makan.“Pak Reno!” Bella menyelipkan rambut di telinga dengan gaya centil. “Kenapa?” Reno dingin. “Bapak sibuk?” Bella mulai basa-basi.“Saya hari ini tidak ada bimbingan jadi mau pulang.” Reno menolak halus.

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   199. Amara=Amarah

    “Aku pusing,” lirih Yasmine. “Kamu gimana Istrimu begini nggak peduli.” Fero yang hampir menggendong Yasmine. Reno tidak menggubris ia langsung menggendong sang istri. Kini mereka berdua menjadi pusat perhatian. Beberapa karyawan pergi dari snaa. “Kak Fero tolong jaga sikapmu.” Sesil meninggalkan Fero yang masih terpaku di tempat. *** Reno meletakkan Yasmine di sofa ruang kerjanya. Tatapan Reno sulit diartikan oleh wanita itu. Ia tahu Reno khawatir bercampur marah. “Sayang, antar aku pulang,” lirih Yasmine takut Reno marah beneran. “Yakin?” Suara dingin itu mampu menusuk relung hati Yasmine. Yasmine menganggukkan kepalanya. Wanita itu memeluk sang suami yang masih berjongkok. “Maaf,” lirih Yasmine tanpa sadar air mata itu turun. Fero melihat itu, hatinya menghangat ia menjadi ingat dengan almarhum sang istri. Namun, Yasmine tersenyum ke arah Reno. Bukan karena suka, melainkan untuk menghormati Fero berdiri di sana. “Besok nggak usah kerja dulu ya,” ucap Reno sambil melepa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status