Home / Romansa / Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku / Harmoni Jahat di Sudut Kafe

Share

Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku
Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku
Author: Makaira

Harmoni Jahat di Sudut Kafe

Author: Makaira
last update Last Updated: 2026-01-21 13:12:41

Harusnya hari ini adalah hari spesial, di mana Senja merayakan ulang tahun Gavi.

Langkahnya masih riang saat mendekati kafe tempat mereka janjian bertemu. Tapi, suara kecipak dari dalam kafe menghentikannya.

Semakin mendekat, desahan mengalun seperti melodi yang menjatuhkannya ke neraka.

Dari depan sana, Senja bisa melihat dua orang terdekatnya: pacarnya, Gavi, dan sahabatnya, Tara.

Bibir mereka bertautan dengan hasrat. Gavi memegang pinggang Tara kuat, tak mau melepaskan. Tara menutup mata, penuh kepuasan. 

Tara mendorong tubuh Gavi melepas ciumannya, "Nanti ketahuan Senja."

"Aman, dia kirim pesan katanya telat," Gavi sambil menunjukkan layar ponselnya dengan senyum sombong. 

"Tapi gimana kalo dia marah?" Tara menggoda dengan memainkan jemarinya di dada Gavi.

"Bodo amat," acuh Gavi yang menelusupkan jemarinya ke dalam blus Tara. "Aku sudah punya firma sendiri dan beberapa klien tetap, jadi aku gak butuh si rambut Einstein lagi,"

Seperti ada peluru yang menembus hati Senja berkali-kali.

"Sejak kapan?" gumam Senja menggigit bibirnya.

Semua ingatan bersama Gavi terbangun: hari bantu dia mengurus izin firma sampai larut malam, hari dia meminjamkan uang tabungannya, hari dia menangis karena terlambat hadir di ulang tahunnya dan Senja memaafkannya dengan cepat. 

Semua itu sia-sia.

Air mata menggenang dan langsung menetes ke pipinya. Tangannya yang memegang kue mulai gemetar, sampai kue itu tergelincir ke tanah.

Tara tertawa kecil, "Jadi kamu gak cinta dia?" tanyanya.

Gavi mendengus, "Cinta?" Ia seolah jijik akan pertanyaan Tara.

"Kalau bukan karena mendiang ayahnya, mana mau aku deket-deket modelan kayak gitu," tambahnya.

"Kalo aku, gimana?" manja Tara.

Gavi memijit hidung Tara gemas, "Cintalah," jawabnya.

Suara dering telepon terdengar memecah tautan bibir keduanya, Gavi mengambil ponselnya.

Mengetahui itu Senja, Tara melengos pergi, tapi Gavi mendekapnya, "Sstt... jangan berisik," bisiknya.

Tara menggigit bibirnya saat Gavi mencumbu mesra sekaligus mengangkat teleponnya, "Halo," sapanya.

Senja berdeham mengatur suaranya, "Sayang, aku gak bisa datang, besok aja kita rayakan di kantormu ya."

Di tempatnya berdiri, ia bisa melihat lengkungan di bibir kekasihnya yang penuh sindiran.

Terdengar kecupan kecil di telepon, ia memandang Tara mengecup di sudut bibir Gavi.

"Kamu dimana?" tanyanya, mencoba memberi kesempatan akan kejujuran sang kekasih.

Gavi measih sibuk mengelus wajah Tara mesra. "Ah iya, gak apa-apa, toh aku juga masih sibuk di kantor," bohongnya begitu lugas. 

"Oh... Besok aku kabarin lagi ya, bye, love you," ucap Senja.

Tanpa menjawabnya, Gavi mematikan ponselnya lebih dulu, "Kita bebas hari ini." Ia memeluk Tara, "Boleh kan aku buka hadiahnya?" godanya.

Kurang ajar! Kelakuanmu menjijikan, Gavi Alaric! batin Senja.

Senja memasukkan ponsel ke tas. Tidak sudi melihat lagi, ia berjalan menjauh.

Di hari ultah Gavi, ia sudah mengubah penampilan: gaun kuning bunga, rambut dirapihkan, kacamata diganti lensa kontak, make-up tipis, sneaker jadi high heels. 

Ironinya, usaha berjam-jam di salon di bayar pengkhiatan, kini kakinya berdenyut sakit di trotoar.

"Bodohnya, cuma dikasih perhatian dikit aja luluh."

Melihat pantulan di etalase, "Aku juga cantik, meski tak punya body goals," katanya dengan kekehan sedih.

***

Lampu redup menyelimuti bar, musik blues lembut, suara tawa sesekali terdengar. Bau bir dan wine bercampur.

Senja duduk di meja bartender, di depannya tersaji 10 shot dengan warna yang menggugah selera.

Tanpa ragu ia minum, rasa pedas meledak di tenggorokan, langsung membuat kepala ringan. Beberapa menit kemudian, dunia melayang, langkah goyah.

"Pertama kali ke bar?"

Senja menoleh, pria berjaket kulit dengan wajah tampan mengamatinya lekat. Ia balik memandangi, meneliti wajahnya. 

Apa dia tertarik padanya?

"Ya, kamu?"

"Aku? Lumayan lah," kekehnya. "Putus cinta?"

"Diselingkuhin," koreksi Senja.

"Oh," dia melepaskan pandangan.

Entah mengapa, Senja merasa pernah mengenalnya, "Aku Senja, kamu?"

Pria itu menatapnya dengan pandangan menyirat, "Arion."

"Arion," ulangnya, mencoba mengukir nama itu di kepala yang mau pecah. "Kita bersenang-senang, peduli setan dengan Gavi atau Tara!" jeritnya.

Ia ambil gelas cairan biru, "Cheers!" Mendetingkan ke gelas Arion, lalu mengernyit — rasanya pahit dan segar sekaligus, seketika meluncur ke tenggorokannya. 

Ia tertawa riang mengobrol sampai alkohol menguasai pikiran. "Toilet," gumamnya, perut mulai terasa gejolak.

"Aku bantu," Arion sigap memegangnya.

Tatapan Senja sedingin es, "Hush, sana! Aku tak butuh bantuanmu, dasar tukang selingkuh!"

Seruan itu langsung membuat para pengunjung bar menatap Arion. "Kamu ngomong apa?" bisiknya dengan wajah kesal.

"Aku tahu aku jelek, tapi kalian tak beradab — selingkuh sama temanku di hari ultahmu!" terisak Senja.

Khawatir kerumunan memojokkan, Arion menariknya ke tempat sepi dengan kasar, "Cewek gila!"

Guncangan itu bikin Senja memuntahkan isi perut di baju Arion. "Huekk!"

Arion menegang, menyadari apa yang terjadi. Belum beres, Senja jatuh ke pelukannya tak sadarkan diri.

"Hei… Bangun," Arion mengguncangnya, tapi cuma terdengar erangan pelan. Lalu terpaksa memopongnya karena pandangan pengunjung.

Di mobil, Arion memandangnya lama. Mata Senja yang terpejam, air matanya yang menggenang di sudut mata.

Perempuan ini tampaknya sangat rapuh. Tak tahu kemana harus membawanya, Arion menyetir sampai menemukan motel.

Setelah membayar untuk sebuah kamar, pria itu menjatuhkan Senja ke kasur. Ia hendak berbalik dan meninggalkan perempuan itu, tapi tangan Senja menggapai-gapai, menarik lengannya.

"Jangan tinggalin aku …" isaknya sendu. "Aku dikhianati … karena nggak menarik!"

Mata Senja terbuka, berkaca-kaca oleh air mata.

"Kamu juga begitu ya? Kamu akan membuangku?"

Saat menatap wanita yang rapuh itu, sesuatu di dalam tubuh Arion berdenyut. Dan seolah mengikuti nalurinya tanpa sadar, ia membawa Senja ke dalam pelukannya.

Merebah di kasur, bibir mereka bertaut dalam ciuman yang penuh gairah.

***

Pagi harinya, Senja membuka mata.

Dering alarm ponselnya meledak nyaring, mengguncang seluruh ruangan yang semula sunyi.

Ini dimana ya?

Pikiran Senja mulai terjaga. Ia cepat membuka matanya dan terlonjak kaget.

Ia menoleh ke badan sendiri yang setengah telanjang, baju gaun kemarin berceceran seperti peta di lantai. 

Kilas balik ingatan semalam muncul dengan cepat: perselingkuhan Gavi, malam di bar, minuman yang berlebihan, teriaknya menyebut Arion "tukang selingkuh", lalu... tidak ada lagi yang jelas.

"Arion! Sial!" jeritnya dengan suara marah, menendang bantal ke dinding. 

Apa yang dia lakukan pada Senja semalam?

Ia cepat memungut potongan-potongan baju, mencoba mengenakannya dengan tergesa-gesa.

Aku harus cari dia dan minta penjelasan!

HP-nya ditemukan di laci meja ada pesan dari Tara: "Senja, cepet dateng! Dosen pembimbing baru udah dateng, kita yang pertama dapet bimbingan!"

Oh tidak, lupa ada bimbingan skripsi hari ini!

Senja berlari ke halte, hati berdebar kencang. Sampai di kampus, ia langsung ke ruang bimbingan, sudah ada beberapa teman menunggu di luar.

"Kamu dari mana! Dosennya keren banget loh, namanya Pak Arion," ucap Tara dengan senyum ceria. Ia memandanginya dan menangkap ada yang tidak biasa dengannya. 

Senja membeku. Arion? Bukan dia kan...

Pintu kelas terbuka. Seorang pria berjas hitam, rambut sedikit kusut, dan wajah yang sangat familiar keluar. 

Ia menoleh ke arah Senja, mata keduanya bertemu, dan Arion mengerutkan alis dengan ekspresi yang sama kagetnya.

"Kita mulai kelasnya," ucap Arion kaku dengan wajah dingin. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Tamparan yang Menggambar Garis Baru

    "Arion! Menjauh dari pacarku!" hardik Gavi dengan suara lantang, berjalan menghampiri mereka dengan wajah merah padam dan napas memburu. Penampilannya jauh dari kata rapi, rambutnya acak-acakan, mencerminkan emosi yang tengah berkecamuk dalam dirinya.Arion mengangkat kedua tangannya, menunjukkan gestur menyerah, dan perlahan menjauh dari Senja. "Santai, bro," jawabnya dengan nada mengejek. "Aku hanya membantu membersihkan lukanya saja, bukan seperti pikiran kotormu!"Arion mengembangkan senyum sinis yang semakin memprovokasi emosi Gavi. "Maksudmu?" tanya Gavi dengan nada mengancam. Langkahnya makin mendekat sampai jarak mereka cuma beberapa sentimeter."Aku bukan dirimu yang suka mengambil keuntungan," sindir Arion, matanya menatap tajam ke mata Gavi. "Memilih asisten baru, mengenalkannya pada kolegamu dan lupa sama pacarmu, bukan begitu, Nona Beringin?"Wajah Senja membeku mendengar ucapan Arion. Matanya bergerak cepat, menatap Arion dan Gavi secara bergantian. Ia merasa bingung

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Nama Ayahku di Bibir Geng

    Lingkaran hitam terlukis di mata Senja, semalaman ia mencari informasi tentang kasus ayahnya yang terhubung dengan Arion Wiratama yang ternyata ketua Brandal Baja. Namun, tidak membuahkan hasil. Dia mendapat sedikit petunjuk dari rekaman semalam, tapi belum sepenuhnya yakin bisa mengungkap sosok sebenarnya.Semua beban ini menekan dada, rasanya ingin menangis tapi tidak bisa. "Sepertinya aku harus pulang, sebentar lagi peringatan kematian Ayah, dan Arion yang tahu nama ayahku membuatku semakin khawatir," gumam Senja. "Senja... Senja..." panggil Tara dengan manja, suaranya yang dibuat-buat lemah tidak menggubris pikiran Senja. Semua tentang Arion menguasai fokusnya. "Senja..." jerit Tara yang menarik rambut mengembangnya dengan kasar.Senja refleks melayangkan tangannya begitu berbalik ke belakang, "Kyaa..." teriak Tara segera melepas jemarinya di rambut Senja."Tara..." gagap Senja kaget akan kehadirannya."Senja apaan sih! Aku panggilin kamu dari tadi gak nengok juga," sewotnya,

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Takhta Pesta yang di Huni Dusta

    "Kamu membuntutiku ya?" terka Senja memandang Arion penuh selidik.Arion tertawa, giginya rapi menyinari, "Aku mengantar omku." Dia menunjuk pria tua di kejauhan – yang menatapnya dengan pandangan dingin, membuat Senja bergidik. "Kamu kenal om Bas?""Aku tidak kenal dia," jawab Senja."Arion Wiratama," Mengenalkan namanya sambil mengeluarkan kartu undangan dari saku. "Aku juga punya undangan kok. Hanya setahun ini aku di luar negeri, jadi mungkin kamu belum pernah denger nama ku di sini sebelumnya."Wiratama? Keluarga yang punya Dominion Law? Senja merasa dada terasa sesak.Senja tahu keluarga itu terkenal sebagai bilioner, tapi juga selalu menyembunyikan sesuatu. "Jadi kamu teman Gavi? Dan menjebakku di bar dengan rekaman AI yang dipalsukan?" Senja mendekat, bibirnya hampir menyentuh bahu Arion, "Kita tidak pernah berhubungan intim, kan?"Arion menarik pinggangnya perlahan – panas tangannya menyebar ke kulitnya seperti nyala api. "Tapi aku suka membayangkan rambutmu acak-acakan di b

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Dosen dari Malam yang Lupa

    Senja berdiri kaku di depan pintu, mata tak bisa lepas dari Arion yang berdiri dengan jas hitam, tampilan profesional yang jauh berbeda dari pria yang ia temui di bar malam kemarin. Tara menyelipkan lengan ke sampingnya, "Senja, kamu baik-baik aja? Wajahmu pucat banget."Senja cuma bisa mengangguk, hati berdebar kencang. Ini nggak mungkin, ini nggak mungkin... Kilas balik malam itu tiba-tiba muncul lagi — Arion yang memeluknya, bibir mereka yang bertaut — dan ia merasakan malu yang menyelimuti badannya.Arion memutar badan, matanya sebentar menyoroti Senja sebelum berkata, "Siapa yang mau pertama?" Suaranya dingin, seolah tidak mengenalnya. Tapi Senja melihat ke dalam matanya — ada sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang membuat ia bingung."Kamu – yang rambutnya kayak beringin," Arion memutuskan, menunjuknya dengan senyum tipis sebelum kembali ke ruangan.Tara menyenggol, "Senja, kamu dipanggil," memperingatkan temannya yang sedari tadi melamun."Ah," gumam Senja."Kamu disuruh mas

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Harmoni Jahat di Sudut Kafe

    Harusnya hari ini adalah hari spesial, di mana Senja merayakan ulang tahun Gavi.Langkahnya masih riang saat mendekati kafe tempat mereka janjian bertemu. Tapi, suara kecipak dari dalam kafe menghentikannya.Semakin mendekat, desahan mengalun seperti melodi yang menjatuhkannya ke neraka.Dari depan sana, Senja bisa melihat dua orang terdekatnya: pacarnya, Gavi, dan sahabatnya, Tara.Bibir mereka bertautan dengan hasrat. Gavi memegang pinggang Tara kuat, tak mau melepaskan. Tara menutup mata, penuh kepuasan. Tara mendorong tubuh Gavi melepas ciumannya, "Nanti ketahuan Senja.""Aman, dia kirim pesan katanya telat," Gavi sambil menunjukkan layar ponselnya dengan senyum sombong. "Tapi gimana kalo dia marah?" Tara menggoda dengan memainkan jemarinya di dada Gavi."Bodo amat," acuh Gavi yang menelusupkan jemarinya ke dalam blus Tara. "Aku sudah punya firma sendiri dan beberapa klien tetap, jadi aku gak butuh si rambut Einstein lagi,"Seperti ada peluru yang menembus hati Senja berkali-kal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status