LOGIN
Harusnya hari ini adalah hari spesial, di mana Senja merayakan ulang tahun Gavi.
Langkahnya masih riang saat mendekati kafe tempat mereka janjian bertemu. Tapi, suara kecipak dari dalam kafe menghentikannya.
Semakin mendekat, desahan mengalun seperti melodi yang menjatuhkannya ke neraka.
Dari depan sana, Senja bisa melihat dua orang terdekatnya: pacarnya, Gavi, dan sahabatnya, Tara.
Bibir mereka bertautan dengan hasrat. Gavi memegang pinggang Tara kuat, tak mau melepaskan. Tara menutup mata, penuh kepuasan.
Tara mendorong tubuh Gavi melepas ciumannya, "Nanti ketahuan Senja."
"Aman, dia kirim pesan katanya telat," Gavi sambil menunjukkan layar ponselnya dengan senyum sombong.
"Tapi gimana kalo dia marah?" Tara menggoda dengan memainkan jemarinya di dada Gavi.
"Bodo amat," acuh Gavi yang menelusupkan jemarinya ke dalam blus Tara. "Aku sudah punya firma sendiri dan beberapa klien tetap, jadi aku gak butuh si rambut Einstein lagi,"
Seperti ada peluru yang menembus hati Senja berkali-kali.
"Sejak kapan?" gumam Senja menggigit bibirnya.
Semua ingatan bersama Gavi terbangun: hari bantu dia mengurus izin firma sampai larut malam, hari dia meminjamkan uang tabungannya, hari dia menangis karena terlambat hadir di ulang tahunnya dan Senja memaafkannya dengan cepat.
Semua itu sia-sia.
Air mata menggenang dan langsung menetes ke pipinya. Tangannya yang memegang kue mulai gemetar, sampai kue itu tergelincir ke tanah.
Tara tertawa kecil, "Jadi kamu gak cinta dia?" tanyanya.
Gavi mendengus, "Cinta?" Ia seolah jijik akan pertanyaan Tara.
"Kalau bukan karena mendiang ayahnya, mana mau aku deket-deket modelan kayak gitu," tambahnya.
"Kalo aku, gimana?" manja Tara.
Gavi memijit hidung Tara gemas, "Cintalah," jawabnya.
Suara dering telepon terdengar memecah tautan bibir keduanya, Gavi mengambil ponselnya.
Mengetahui itu Senja, Tara melengos pergi, tapi Gavi mendekapnya, "Sstt... jangan berisik," bisiknya.
Tara menggigit bibirnya saat Gavi mencumbu mesra sekaligus mengangkat teleponnya, "Halo," sapanya.
Senja berdeham mengatur suaranya, "Sayang, aku gak bisa datang, besok aja kita rayakan di kantormu ya."
Di tempatnya berdiri, ia bisa melihat lengkungan di bibir kekasihnya yang penuh sindiran.
Terdengar kecupan kecil di telepon, ia memandang Tara mengecup di sudut bibir Gavi.
"Kamu dimana?" tanyanya, mencoba memberi kesempatan akan kejujuran sang kekasih.
Gavi measih sibuk mengelus wajah Tara mesra. "Ah iya, gak apa-apa, toh aku juga masih sibuk di kantor," bohongnya begitu lugas.
"Oh... Besok aku kabarin lagi ya, bye, love you," ucap Senja.
Tanpa menjawabnya, Gavi mematikan ponselnya lebih dulu, "Kita bebas hari ini." Ia memeluk Tara, "Boleh kan aku buka hadiahnya?" godanya.
Kurang ajar! Kelakuanmu menjijikan, Gavi Alaric! batin Senja.
Senja memasukkan ponsel ke tas. Tidak sudi melihat lagi, ia berjalan menjauh.
Di hari ultah Gavi, ia sudah mengubah penampilan: gaun kuning bunga, rambut dirapihkan, kacamata diganti lensa kontak, make-up tipis, sneaker jadi high heels.
Ironinya, usaha berjam-jam di salon di bayar pengkhiatan, kini kakinya berdenyut sakit di trotoar.
"Bodohnya, cuma dikasih perhatian dikit aja luluh."
Melihat pantulan di etalase, "Aku juga cantik, meski tak punya body goals," katanya dengan kekehan sedih.
***
Lampu redup menyelimuti bar, musik blues lembut, suara tawa sesekali terdengar. Bau bir dan wine bercampur.
Senja duduk di meja bartender, di depannya tersaji 10 shot dengan warna yang menggugah selera.
Tanpa ragu ia minum, rasa pedas meledak di tenggorokan, langsung membuat kepala ringan. Beberapa menit kemudian, dunia melayang, langkah goyah.
"Pertama kali ke bar?"
Senja menoleh, pria berjaket kulit dengan wajah tampan mengamatinya lekat. Ia balik memandangi, meneliti wajahnya.
Apa dia tertarik padanya?
"Ya, kamu?"
"Aku? Lumayan lah," kekehnya. "Putus cinta?"
"Diselingkuhin," koreksi Senja.
"Oh," dia melepaskan pandangan.
Entah mengapa, Senja merasa pernah mengenalnya, "Aku Senja, kamu?"
Pria itu menatapnya dengan pandangan menyirat, "Arion."
"Arion," ulangnya, mencoba mengukir nama itu di kepala yang mau pecah. "Kita bersenang-senang, peduli setan dengan Gavi atau Tara!" jeritnya.
Ia ambil gelas cairan biru, "Cheers!" Mendetingkan ke gelas Arion, lalu mengernyit — rasanya pahit dan segar sekaligus, seketika meluncur ke tenggorokannya.
Ia tertawa riang mengobrol sampai alkohol menguasai pikiran. "Toilet," gumamnya, perut mulai terasa gejolak.
"Aku bantu," Arion sigap memegangnya.
Tatapan Senja sedingin es, "Hush, sana! Aku tak butuh bantuanmu, dasar tukang selingkuh!"
Seruan itu langsung membuat para pengunjung bar menatap Arion. "Kamu ngomong apa?" bisiknya dengan wajah kesal.
"Aku tahu aku jelek, tapi kalian tak beradab — selingkuh sama temanku di hari ultahmu!" terisak Senja.
Khawatir kerumunan memojokkan, Arion menariknya ke tempat sepi dengan kasar, "Cewek gila!"
Guncangan itu bikin Senja memuntahkan isi perut di baju Arion. "Huekk!"
Arion menegang, menyadari apa yang terjadi. Belum beres, Senja jatuh ke pelukannya tak sadarkan diri.
"Hei… Bangun," Arion mengguncangnya, tapi cuma terdengar erangan pelan. Lalu terpaksa memopongnya karena pandangan pengunjung.
Di mobil, Arion memandangnya lama. Mata Senja yang terpejam, air matanya yang menggenang di sudut mata.
Perempuan ini tampaknya sangat rapuh. Tak tahu kemana harus membawanya, Arion menyetir sampai menemukan motel.
Setelah membayar untuk sebuah kamar, pria itu menjatuhkan Senja ke kasur. Ia hendak berbalik dan meninggalkan perempuan itu, tapi tangan Senja menggapai-gapai, menarik lengannya.
"Jangan tinggalin aku …" isaknya sendu. "Aku dikhianati … karena nggak menarik!"
Mata Senja terbuka, berkaca-kaca oleh air mata.
"Kamu juga begitu ya? Kamu akan membuangku?"
Saat menatap wanita yang rapuh itu, sesuatu di dalam tubuh Arion berdenyut. Dan seolah mengikuti nalurinya tanpa sadar, ia membawa Senja ke dalam pelukannya.
Merebah di kasur, bibir mereka bertaut dalam ciuman yang penuh gairah.
***
Pagi harinya, Senja membuka mata.
Dering alarm ponselnya meledak nyaring, mengguncang seluruh ruangan yang semula sunyi.
Ini dimana ya?
Pikiran Senja mulai terjaga. Ia cepat membuka matanya dan terlonjak kaget.
Ia menoleh ke badan sendiri yang setengah telanjang, baju gaun kemarin berceceran seperti peta di lantai.
Kilas balik ingatan semalam muncul dengan cepat: perselingkuhan Gavi, malam di bar, minuman yang berlebihan, teriaknya menyebut Arion "tukang selingkuh", lalu... tidak ada lagi yang jelas.
"Arion! Sial!" jeritnya dengan suara marah, menendang bantal ke dinding.
Apa yang dia lakukan pada Senja semalam?
Ia cepat memungut potongan-potongan baju, mencoba mengenakannya dengan tergesa-gesa.
Aku harus cari dia dan minta penjelasan!
HP-nya ditemukan di laci meja ada pesan dari Tara: "Senja, cepet dateng! Dosen pembimbing baru udah dateng, kita yang pertama dapet bimbingan!"
Oh tidak, lupa ada bimbingan skripsi hari ini!
Senja berlari ke halte, hati berdebar kencang. Sampai di kampus, ia langsung ke ruang bimbingan, sudah ada beberapa teman menunggu di luar.
"Kamu dari mana! Dosennya keren banget loh, namanya Pak Arion," ucap Tara dengan senyum ceria. Ia memandanginya dan menangkap ada yang tidak biasa dengannya.
Senja membeku. Arion? Bukan dia kan...
Pintu kelas terbuka. Seorang pria berjas hitam, rambut sedikit kusut, dan wajah yang sangat familiar keluar.
Ia menoleh ke arah Senja, mata keduanya bertemu, dan Arion mengerutkan alis dengan ekspresi yang sama kagetnya.
"Kita mulai kelasnya," ucap Arion kaku dengan wajah dingin.
Senja tidak datang untuk berpesta; dia datang untuk menghadiri pemakaman reputasi orang-orang yang telah menghancurkan ayahnya. Lautan manusia berbalut sutra dan kemewahan itu seolah menghimpit ruang gerak Senja. Sepanjang selasar, sapaan-sapaan formal mampir padanya—bukan sebagai bentuk pengakuan, melainkan sekadar upeti penghormatan bagi Gavi, atau konfirmasi dingin bahwa ia memang darah daging Elio Kahlani.Di sudut ruangan, pandangan Senja terantuk pada netra Arion. Namun, bukan Arion yang membuat napasnya tertahan, melainkan Sitaresmi yang berdiri di samping pria itu. Perempuan itu melemparkan tatapan sedingin es, sarat akan keangkuhan yang menguliti harga diri siapa pun yang dipandangnya.Tanpa sadar, jemari Senja meremas lengan Gavi hingga kain jas pria itu kusut dalam genggamannya. Gavi melirik tajam, menyadari getaran halus di sana."Gugup?" bisik Gavi, suaranya datar namun menuntut."Sedikit," sahut Senja pendek, berusaha mengontrol degup jantungnya.Gavi menepuk punggung
Semenjak Arion menurunkannya di depan kos dengan amarah yang meledak, Senja seolah kehilangan jejak. Arion dan Garda tidak pernah mendatanginya, seolah keduanya ditelan bumi. Bahkan ruko Dokter Koh pun mendadak mati, terkunci permanen dengan garis sunyi yang menyiratkan tempat itu baru saja digerebek.Di bawah bayangan gedung kantor Gavi, Senja meremas sebuah kancing manset dalam genggamannya. Logam dingin itu terasa seperti satu-satunya kunci yang tersisa."Hanya ini jalannya," gumamnya lirih.Ia melangkah masuk ke lift, menyembunyikan kancing itu di balik saku jaket denimnya yang kaku. Saat pintu lift berdenting terbuka, Tara mendongak dari balik monitor. Sebuah senyum merekah di wajahnya—terlalu manis, hingga Senja merasa ada duri di baliknya."Gavi ada?" tanya Senja, mencoba menetralkan nada suaranya."Ada," jawab Tara singkat, kembali pada layar monitornya.Kerutan di dahi Senja dalam. Biasanya Tara punya seribu alasan untuk menghalanginya, tapi sekarang perempuan itu seolah ke
Rahang Arion mengeras, menciptakan garis tegas yang kaku di sepanjang perjalanannya mengantar Senja. Jemarinya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara tangan kirinya tak sedetik pun berpindah dari tas laptop di sampingnya—seolah benda itu adalah jantung yang harus ia lindungi."Tindakanmu impulsif, Arion," suara Senja memecah keheningan yang menyesakkan di dalam kabin mobil."Dia dalangnya. Titik." Suara Arion rendah, parau oleh amarah yang tertahan."Itu bukan Garda.""Kenapa kamu terus membelanya?!" Arion menghantam kemudi, membuat mobil sedikit oleng."Aku tidak membela siapa pun. Aku memintamu melihat dengan kepala dingin!" Senja menyambar lengan Arion, memaksanya menepi. "Kejadian ini terlalu rapi. Seolah-olah panggung ini memang sengaja disiapkan untukmu."Arion tertawa sinis, matanya menyalang merah. "Hanya dia yang tahu koordinat tempat itu, Senja. Hanya dia!""Bisa saja seseorang membuntutimu tanpa kamu sadari.""Mustahil. Aku tidak sebodo
Arion menyentak tubuh Senja ke kursi penumpang dengan kasar. Belum sempat gadis itu memprotes, tubuh besar Arion sudah mengurungnya, menghalangi celah keluar."Diam. Jangan berontak," desis Arion. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman binatang buas yang sedang memperingatkan mangsanya.Senja hanya mendengus, memilih membuang muka. Ia menelan semua makian yang sudah di ujung lidah. Ia tahu harga yang harus dibayar jika melawan; rahasia tentang tempat itu tidak boleh bocor. Sikap arogan pria itu adalah racun yang harus ia teguk demi keamanan.Sekilas, Senja mendongak. Di sana, di bawah remang lampu jalan, Garda berdiri mematung. Wajahnya tertutup bayangan, namun Senja bisa merasakan sepasang mata itu menghujamnya—dingin dan menuntut penjelasan."Apa yang kamu lihat?" Arion mengikuti arah pandang Senja. Sebuah tawa sinis lolos dari bibirnya saat menyadari keberadaan Garda. Tanpa ragu, ia mengacungkan jari tengahnya ke udara. "Keparat. Jangan harap kamu bisa mendapatkan milikku."Ari
Sisa pagutan Arion masih terasa membakar di bibirnya, namun Senja tidak membiarkan sensasi itu melumpuhkan logikanya. Begitu pintu lift griya tawang terbuka di lobi, ia melangkah lebar, mengabaikan tatapan penjaga keamanan dan rintik gerimis yang menyambutnya di luar. Ia melangkah keluar dari lobi apartemen dengan langkah yang nyaris tersandung. Hawa dingin malam itu langsung menusuk kulitnya, namun tidak mampu memadamkan panas yang menjalar di wajahnya akibat ulah Arion beberapa menit lalu. Ia merasa seperti baru saja menandatangani kontrak dengan iblis. Ia tidak butuh taksi mewah; ia butuh menghilang. Di bawah payung ojek daring yang pengap, Senja memacu tujuannya menuju ruko di pinggiran kota yang aromanya selalu menghantuinya setiap malam."Jangan sekarang, Senja. Jangan biarkan dia menang," bisiknya pada diri sendiri sambil merapatkan jaket.Sepanjang perjalanan, ia tidak bisa tenang. Matanya terus terpaku pada sebuah mobil sedan gelap di belakang ojek yang ia tumpangi. Pera
"Kamu menuduhku mencuri?"Suara Senja memecah keheningan, tajam dan bergetar karena amarah. Di depannya, Arion hanya menyesap sisa-sisa kesabarannya. Tatapan pria itu sinis, menguliti harga diri Senja tanpa ampun."Uangnya lenyap, Nona Beringin. Itu fakta, bukan tuduhan," jawab Arion santai. Ia menyandarkan punggung, menumpangkan kaki dengan gestur arogan yang seolah mengatakan bahwa ia memiliki seluruh ruangan—termasuk nasib Senja di dalamnya.Senja terbungkam. Ia mencoba memutar otak, membedah setiap detik dalam ingatannya, mencari detail kecil yang mungkin terlewat seperti retakan pada dinding yang nyaris tak terlihat. Namun, Arion tidak membiarkannya tenang."Bagaimana kamu akan bertanggung jawab?" Arion mendesak, suaranya rendah namun penuh intimidasi. Konsentrasi Senja buyar berkeping-keping. "Aku tidak punya alasan untuk membiarkanmu melenggang pergi sebelum uangku kembali utuh."Arion mencondongkan tubuh, mengikis jarak hingga Senja terperangkap di antara sandaran kursi d







