LOGINArion duduk di antara dua penguji senior lainnya. Jas charcoal yang melekat di tubuh tegapnya tampak sangat pas, dipadukan dengan tatanan rambut yang sedikit casual—memberikan kesan modern namun tetap berwibawa. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidung mancungnya, menambah aura intelektual yang mengintimidasi sekaligus memikat."Silakan duduk, Kahlani."Senja masih bergeming di ambang pintu, mencuri satu detik berharga hanya untuk mengagumi paras pria itu. Di dada kanan Arion, sebuah pin emas tanda pengacara tersemat dengan gagah. Penangguhan profesinya telah resmi berakhir; Arion Wiratama kembali ke takhtanya setelah seluruh bukti membuktikan bahwa ia hanyalah korban konspirasi KUPRUM yang berusaha ia bongkar."Kita bisa mulai, Kahlani," suara Arion mengalun tenang, dalam, dan penuh otoritas."Ah... iya, Pak," sahut Senja gugup. Ia melangkah mendekat, memberikan bundel skripsi bersampul tebal itu dengan tangan yang sedikit dingin.Suasana ruangan mendadak senyap, hanya menyis
"Ada apa ke sini sepagi ini?" Senja menyipitkan mata, menatap sedan hitam Arion yang terparkir kaku di bahu jalan. Kendaraan itu tampak dingin, seolah telah membeku di sana sejak semalam tanpa pernah beranjak pulang.Arion tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di samping pintu penumpang yang terbuka lebar. "Ikut aku. Ada tempat yang harus kita tuju.""Ke mana?"Bukannya penjelasan, Senja justru mendapati keheningan. Arion hanya memberi isyarat dagu agar ia segera masuk. Meski dadanya mulai berdegup kencang oleh tumpukan tanya, Senja tetap melangkah masuk, membiarkan pintu mobil tertutup dengan dentuman pelan yang meredam suara dunia luar.Di balik kemudi, Arion menyetir dengan santai—terlalu santai hingga terasa tidak wajar. Rahangnya mengeras, dan jemarinya mengetuk stir dengan ritme yang gelisah. Ada sesuatu yang tertahan di ujung lidahnya, sesuatu yang berat dan menyesakkan.Mobil akhirnya melambat, lalu berhenti tepat di depan gedung beton dengan papan nama yang membuat na
Suasana ruang rawat itu terasa menyesakkan, pengap oleh aroma antiseptik dan deru ritmis mesin pendeteksi jantung yang menyayat kesunyian. Sejumlah dokter spesialis bergerak cepat dalam balutan jas putih mereka, mengerumuni brankar tempat Bas terbaring. Tubuh pria itu kini tampak ringkih, seolah tenggelam di balik labirin selang dan kabel yang membelenggunya.Sitaresmi mematung di ambang pintu. Topeng dingin yang biasa ia kenakan nyaris retak saat matanya menangkap pemandangan di depannya. Ketidakberdayaan Bas adalah pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan."Apa yang terjadi?" Suara Sitaresmi bergetar. Ia berusaha keras menekan kepanikan, namun nada bicaranya mengkhianati ketenangan semu di wajahnya.Arion menarik napas berat, matanya tertuju pada tubuh Bas yang kaku. "Cctv menangkap basah pelakunya. Koh melakukan ini semua. Dia menyuntikkan bahan adiktif dosis tinggi langsung ke sistem Om Bas... saraf motoriknya lumpuh total.""Apa?!" Pekik Sitaresmi, suaranya melengking taja
"Sudah merasa lebih baik, Om Bas?"Arion menarik kursi, duduk dengan santai di samping kursi roda saat pria tua itu terpaku menatap miniatur kota di balik jendela besar. Udara sejuk dari pendingin ruangan beradu dengan semilir angin yang membawa aroma tajam antiseptik dan sisa-sisa obat yang menyesakkan.Dengan tangan terikat selang infus, Bas melirik sekilas—sebuah tatapan dingin yang tak bernyawa—sebelum kembali membuang muka. "Keluar. Aku tidak ingin bicara denganmu.""Oh, ayolah. Biasanya Om selalu rindu padaku," goda Arion dengan nada ceria yang dibuat-buat. Ia meletakkan sebuah paper bag di atas meja bundar dengan bunyi puk yang sengaja dikeraskan. "Ini hadiah dariku.""Mau meracuniku?" suara Bas serak, nyaris berupa bisikan penuh kecurigaan.Arion terkekeh, namun matanya tetap sedingin es. "Aku tidak sekejam dirimu, Om. Lagipula, aku lebih suka membenturkan kepalamu ke tembok; siapa tahu ingatanmu yang 'hilang' itu bisa pulih seketika."Bas tersentak. Tatapannya kini penuh wa
Ruang pemeriksaan itu terasa steril dan menghimpit. Arion berdiri di sisi bangsal, mengawasi setiap kabel yang tertempel di pelipis dan dada Bas. Di balik meja kaca, dokter memantau layar monitor yang menampilkan grafik fluktuasi gelombang otak dan detak jantung—sebuah upaya untuk membedah kejujuran melalui sinyal elektrik tubuh."Om Bas tahu apa itu KUPRUM? Atau Damian Law?" Arion melempar umpan, suaranya rendah namun penuh penekanan. Ia mencari reaksi mikro pada otot wajah pamannya.Bas mengerutkan kening, matanya berkedip dengan kepolosan yang menjengkelkan. "Apa itu? Nama obat?" Ia menoleh ke arah Arion dengan tatapan asing. "Dan kamu... siapa sebenarnya? Kenapa terus memanggilku 'Om'? Mana Damian? Kenapa bukan dia yang datang?""Aku keponakanmu!" Arion menggeram, rahangnya mengeras hingga otot lehernya menegang. "Damian, ayahku, sudah meninggal beberapa tahun lalu. Dan Om adalah alasan kenapa napasnya berhenti lebih cepat!""Ngaco!" Bas mendesis, ada kilat kemarahan di matan
Sitaresmi berdiri mematung. Pakaian putih pasien yang dikenakannya terasa dingin, sekaku tangannya yang dibebat kain kasa. Di balik kaca ruang rawat, ia menatap Bas yang baru saja dipindahkan. Sosok itu tampak ringkih, namun senyum yang tersungging di bibir pucatnya terasa asing—terlalu murni, terlalu naif."Kakak ipar... aku kenapa?" suara Bas parau, serak seperti gesekan amplas. Matanya beralih ke tangan Sitaresmi yang terluka. "Tanganmu? Kenapa?"Sitaresmi tak bergeming. Ia mencari kilat kelicikan di bola mata itu, lubang kecil kebohongan yang biasa disembunyikan Bas. Namun, yang ia temukan hanyalah kekosongan yang jujur."Dadaku sakit sekali," rintih Bas, merengek layaknya remaja yang mengadukan luka kecil. "Aku tidak ingat kenapa aku terluka, Kak.""Bas," suara Sitaresmi bergetar, "kamu tahu ini tahun berapa?"Bas memejamkan mata lama, keningnya berkerut dalam seolah sedang menggali sumur kering. "Aku... tidak ingat. Memang sekarang tahun berapa? Mana Damian? Apa dia masih sibu







