Home / Romansa / Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku / Tamparan yang Menggambar Garis Baru

Share

Tamparan yang Menggambar Garis Baru

Author: Makaira
last update Last Updated: 2026-01-21 13:21:27

"Arion! Menjauh dari pacarku!" hardik Gavi dengan suara lantang, berjalan menghampiri mereka dengan wajah merah padam dan napas memburu.

Penampilannya jauh dari kata rapi, rambutnya acak-acakan, mencerminkan emosi yang tengah berkecamuk dalam dirinya.

Arion mengangkat kedua tangannya, menunjukkan gestur menyerah, dan perlahan menjauh dari Senja.

"Santai, bro," jawabnya dengan nada mengejek. "Aku hanya membantu membersihkan lukanya saja, bukan seperti pikiran kotormu!"

Arion mengembangkan senyum sinis yang semakin memprovokasi emosi Gavi.

"Maksudmu?" tanya Gavi dengan nada mengancam. Langkahnya makin mendekat sampai jarak mereka cuma beberapa sentimeter.

"Aku bukan dirimu yang suka mengambil keuntungan," sindir Arion, matanya menatap tajam ke mata Gavi. "Memilih asisten baru, mengenalkannya pada kolegamu dan lupa sama pacarmu, bukan begitu, Nona Beringin?"

Wajah Senja membeku mendengar ucapan Arion. Matanya bergerak cepat, menatap Arion dan Gavi secara bergantian. Ia merasa bingung, marah, dan terluka pada saat bersamaan.

"Omong kosong!" balas Gavi dengan nada membela diri, nafasnya makin kencang. "Buktinya, aku langsung datang begitu mendengar kabar pacarku kecelakaan. Tidak sepertimu yang selalu bernaung di bawah nama besar ayahmu."

"Iya deh, pacar setia," ejek Arion sambil menyerahkan plester luka kepada Gavi, tapi tangannya terasa lambat dan sengaja menyentuh telapak tangan Gavi.

"Giliranmu. Jangan sampai luka dia tambah parah karena pikiranmu yang terlalau jauh."

Kalau sebelumnya Gavi cuma marah, sekarang ia benar-benar kehilangan kendali. Tanpa ragu, dia menggenggam kerah baju Arion dengan erat, membuat Arion mundur selangkah.

"Jangan pengaruhi dia dengan pergaulan liarmu, dan jangan pernah menyindirku seperti itu!" teriak Gavi, suaranya bergema di ruangan klinik.

Arion tetap tenang meskipun lehernya tertekan. Dia malah tersenyum lagi, tapi matanya sudah tidak lagi lucu.

"Lepaskan, Gavi. Kalau tidak, orang akan tahu betapa jahat dan licik kelakuanmu, bahkan sama sekali tidak pantas jadi pacar dia."

Arion perlahan memegang tangan Gavi yang menggenggam kerahnya, mencoba melepaskannya dengan tegas.

Suara teriakan Senja tiba-tiba terdengar: "Cukup! Kalian berdua berhenti!" Ia berdiri dengan cepat, meskipun luka di kakinya masih menyakitkan, dan menempati posisi di tengah mereka berdua.

Kakinya yang terluka sedikit melengkung, tapi dia tetap tegak, mata penuh kemarahan yang membara.

"Aku disini lagi sakit, tapi kalian malah berkelahi? Apa ini ada gunanya?!"

Baru kemudian Gavi menyadari apa yang di lakukannya. Perlahan ia melepaskan kerah baju Arion, wajahnya merah bukan karena marah lagi, tapi malu.

Arion merapihkan kerahnya yang kusut, tanpa mengganggu Senja yang lagi marah.

Dengan langkah santai, Arion berjalan menuju pintu keluar. "Ah, Nona Beringin....," ucapnya sambil menoleh ke arah Senja, Bimbingan jam 3 sore, pastikan memilih yang tepat."

Untuk terakhir kalinya, Arion mengedipkan mata sebelum akhirnya menghilang dari klinik, meninggalkan atmosfer ketegangan yang masih terasa begitu pekat.

Tatapan Gavi yang merendahkan membuat Senja semakin terluka.

"Aku bisa memasangnya sendiri," ucap Senja dengan ketus, merebut plester luka dari tangan Gavi.

"Apa-apaan tadi? Dia dosenmu, dan kalian berduaan di ruangan ini. Bagaimana kalau aku terlambat datang, hah?" tanya Gavi dengan nada menuduh.

"Memangnya apa yang akan terjadi?" tantang Senja, memaksa Gavi untuk mengungkapkan pikiran kotornya.

"Halah, kayak nggak tahu pria aja," jawab Gavi dengan sinis.

"Jadi, kamu anggap aku murahan begitu?" Mata Senja mulai berkaca-kaca, bukan hanya karena rasa sakit luka, tapi tuduhan Gavi yang menyakitkan membuatnya begitu.

"Bukan gitu," jawab Gavi dengan suara melankolis, menyadari kesalahannya. Emosinya mulai mereda melihat air mata di mata Senja.

"Aku ada kelas," ucap Senja lirih, berusaha menghindari tatapan Gavi.

Gavi menghadang jalannya, mencegahnya untuk pergi. "Kamu belum menjawab pertanyaanku," ucapnya dengan nada memaksa.

"Pertanyaan yang mana? Kamu datang langsung marah-marah, menuduh tanpa bukti, dan merendahkanku," urai Senja dengan suara bergetar, menahan air mata yang hendak menetes. "Sekarang kamu menginterogasiku?"

"Loh, aku harus tahu kamu ngapain sama si pengacara korup itu!" balas Gavi dengan nada meninggi.

"Berhenti menghinanya! Dia dosenku!" bentak Senja, membela Arion meskipun hatinya masih dipenuhi dengan keraguan.

"Oh, berani ya sekarang kamu membela dia," ketus Gavi dengan nada sinis. "Belum pernah digoda cowok tampan, jadi merasa kecantikanmu bertambah begitu?"

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Gavi, membuatnya terkejut dan terdiam.

"Jaga ucapanmu!" ucap Senja dengan tegas, sebentar lagi air mata membasahi pipinya yang pucat akan tuduhan Gavi.

Senja menurunkan tangannya yang bergetar setelah menampar Gavi. Ini adalah kali pertama ia melakukan kekerasan fisik pada kekasihnya sendiri. Kaget, marah, dan bersalah. Semua itu campur aduk dalam dirinya.

"Kamu berani menamparku?" ucap Gavi dengan nada tidak percaya, memegangi pipinya yang memerah.

"Kamu mau membalas?" tantang Senja, aliran air matanya semakin deras, membasahi dagunya.

"Tampar saja! Dari semalam aku sudah menahan kesabaranku. Aku pikir kamu akan menghubungiku setelah pesta, tapi ternyata tidak ada kabar!"

Gavi terdiam. Ia bisa melihat kekecewaan dan luka yang mendalam di mata Senja.

"Apa Tara membuatmu lupa denganku? Apa yang membuatnya berbeda? Aku pacarmu, tapi perhatianmu terbagi dua, Gavi!" ucap Senja dengan suara bergetar, mengungkapkan semua perasaan yang selama ini ia pendam.

"Itu hanya perasaanmu saja," kelak Gavi, berusaha meyakinkan Senja.

"Apa kamu mencintaiku?" tanya Senja dengan suara pelan, namun pertanyaan itu mampu membekukan gerakan Gavi.

Wajahnya menjadi datar, dan tatapannya beralih dari wajah Senja, seolah menghindari pertanyaan itu.

Senja tertawa histeris, air mata pun menetes perlahan, menyertai rasa terluka dan marah akan sikap Gavi.

"Tentu saja aku cinta," akhirnya Gavi bersuara, meskipun nada suaranya terdengar ragu.

Senja menganggukkan kepalanya berkali-kali, senyum pedih tetap menghiasi wajahnya yang pucat. Telunjuknya menusuk tepat di dada Gavi, di mana hatinya berada.

"Coba tanya hatimu, apa kamu jujur?"

Senja menyenggol bahu Gavi begitu melangkah keluar klinik. Meskipun jalannya pincang, ia tidak berhenti ataupun menoleh ke belakang. Bahkan, suara Gavi yang memanggil namanya pun ia hiraukan.

"Senja..." panggil Tara, menyandar di dinding tidak jauh dari ruang klinik. Ia tampak cemas, matanya mengawasi Senja yang wajahnya pucat dan berkeringat akibat luka.

"Sudah puas menguping?" sindir Senja dengan tajam, menebak bahwa Tara-lah yang membawa Gavi ke klinik.

"Senja, jangan salah paham. Aku dan Gavi tidak ada hubungan spesial. Aku menghubunginya karena kamu terluka, cuma itu," jelas Tara dengan nada membela diri, tangannya bergoyang-goyang khawatir.

Senja hanya menghela nafas, tidak mau mempercayainya. Mana ada maling yang mau ngaku, ejek pikiran Senja.

"Terima kasih, tapi niat baikmu justru jadi masalah buatku," desahnya lelah. "Sebentar lagi kelas dimulai," ucapnya memotong percakapan, berusaha mengakhiri drama ini.

Senja sudah lelah secara fisik dan emosi. Ia sengaja membuat jarak dengan Tara, meskipun tujuan mereka sama. Ia duduk di kursi yang berbeda, merasakan punggungnya penuh dengan tatapan menusuk dari Tara dan mungkin juga dari Gavi.

****

Arion menyandarkan diri di mobil, jari-jarinya memutar puntung rokok yang masih menyala. Asapnya melayang tipis, menyertai kegelisahan yang melanda dirinya saat mata melirik jam tangan: pukul 3.10. Telat.

"Mungkin aku terlalu yakin dia akan berpihak padaku," gumamnya lirih, mematikan rokok dan membuka pintu mobil dengan gerakan ragu.

"Mau pergi, Pak Dosen?"

Bibir Arion melengkung membentuk senyum tipis mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.

"Apa aku mendapat kompensasi dari keterlambatanmu?" tanyanya dengan nada menggoda, membalikkan badan dan menemukan Senja berdiri di hadapannya.

Wajah Senja tampak tegas dan penuh tekad. Pancaran matanya menunjukkan kepercayaan diri yang baru, meskipun perban masih menghiasi lutut dan lengannya, menjadi pengingat atas kejadian yang baru saja menimpanya.

"Kuharap jawabanmu bisa memuaskanku," ucap Arion dengan nada serius.

"Apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Senja balik, menguji kesungguhannya.

Sebelah alis Arion terangkat, menunjukkan ekspresi tertarik dan sedikit terkejut. Rambutnya yang ditata rapi tertiup angin sepoi di sore yang mulai mendung.

"Aku bisa menjanjikanmu tiga hal," balas Arion dengan nada meyakinkan. "Skripsimu, nama baik ayahmu, dan pembalasan kepada pacarmu."

Senja mengulurkan tangannya, menawarkan kesepakatan. "Oke, setuju," ucapnya dengan mantap.

Arion menyambut jabat tangan Senja dengan senyum kemenangan. Entah apa yang telah mengubah pikiran Senja, tetapi sekarang ia memiliki sekutu yang akan membantu melancarkan rencananya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Rima Kematian di Balik Mikrofon

    Senja tidak datang untuk berpesta; dia datang untuk menghadiri pemakaman reputasi orang-orang yang telah menghancurkan ayahnya. Lautan manusia berbalut sutra dan kemewahan itu seolah menghimpit ruang gerak Senja. Sepanjang selasar, sapaan-sapaan formal mampir padanya—bukan sebagai bentuk pengakuan, melainkan sekadar upeti penghormatan bagi Gavi, atau konfirmasi dingin bahwa ia memang darah daging Elio Kahlani.Di sudut ruangan, pandangan Senja terantuk pada netra Arion. Namun, bukan Arion yang membuat napasnya tertahan, melainkan Sitaresmi yang berdiri di samping pria itu. Perempuan itu melemparkan tatapan sedingin es, sarat akan keangkuhan yang menguliti harga diri siapa pun yang dipandangnya.Tanpa sadar, jemari Senja meremas lengan Gavi hingga kain jas pria itu kusut dalam genggamannya. Gavi melirik tajam, menyadari getaran halus di sana."Gugup?" bisik Gavi, suaranya datar namun menuntut."Sedikit," sahut Senja pendek, berusaha mengontrol degup jantungnya.Gavi menepuk punggung

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Investasi Paling Berbahaya

    Semenjak Arion menurunkannya di depan kos dengan amarah yang meledak, Senja seolah kehilangan jejak. Arion dan Garda tidak pernah mendatanginya, seolah keduanya ditelan bumi. Bahkan ruko Dokter Koh pun mendadak mati, terkunci permanen dengan garis sunyi yang menyiratkan tempat itu baru saja digerebek.Di bawah bayangan gedung kantor Gavi, Senja meremas sebuah kancing manset dalam genggamannya. Logam dingin itu terasa seperti satu-satunya kunci yang tersisa."Hanya ini jalannya," gumamnya lirih.Ia melangkah masuk ke lift, menyembunyikan kancing itu di balik saku jaket denimnya yang kaku. Saat pintu lift berdenting terbuka, Tara mendongak dari balik monitor. Sebuah senyum merekah di wajahnya—terlalu manis, hingga Senja merasa ada duri di baliknya."Gavi ada?" tanya Senja, mencoba menetralkan nada suaranya."Ada," jawab Tara singkat, kembali pada layar monitornya.Kerutan di dahi Senja dalam. Biasanya Tara punya seribu alasan untuk menghalanginya, tapi sekarang perempuan itu seolah ke

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Kepingan yang Hilang

    Rahang Arion mengeras, menciptakan garis tegas yang kaku di sepanjang perjalanannya mengantar Senja. Jemarinya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara tangan kirinya tak sedetik pun berpindah dari tas laptop di sampingnya—seolah benda itu adalah jantung yang harus ia lindungi."Tindakanmu impulsif, Arion," suara Senja memecah keheningan yang menyesakkan di dalam kabin mobil."Dia dalangnya. Titik." Suara Arion rendah, parau oleh amarah yang tertahan."Itu bukan Garda.""Kenapa kamu terus membelanya?!" Arion menghantam kemudi, membuat mobil sedikit oleng."Aku tidak membela siapa pun. Aku memintamu melihat dengan kepala dingin!" Senja menyambar lengan Arion, memaksanya menepi. "Kejadian ini terlalu rapi. Seolah-olah panggung ini memang sengaja disiapkan untukmu."Arion tertawa sinis, matanya menyalang merah. "Hanya dia yang tahu koordinat tempat itu, Senja. Hanya dia!""Bisa saja seseorang membuntutimu tanpa kamu sadari.""Mustahil. Aku tidak sebodo

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Jejak yang Tertinggal

    Arion menyentak tubuh Senja ke kursi penumpang dengan kasar. Belum sempat gadis itu memprotes, tubuh besar Arion sudah mengurungnya, menghalangi celah keluar."Diam. Jangan berontak," desis Arion. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman binatang buas yang sedang memperingatkan mangsanya.Senja hanya mendengus, memilih membuang muka. Ia menelan semua makian yang sudah di ujung lidah. Ia tahu harga yang harus dibayar jika melawan; rahasia tentang tempat itu tidak boleh bocor. Sikap arogan pria itu adalah racun yang harus ia teguk demi keamanan.Sekilas, Senja mendongak. Di sana, di bawah remang lampu jalan, Garda berdiri mematung. Wajahnya tertutup bayangan, namun Senja bisa merasakan sepasang mata itu menghujamnya—dingin dan menuntut penjelasan."Apa yang kamu lihat?" Arion mengikuti arah pandang Senja. Sebuah tawa sinis lolos dari bibirnya saat menyadari keberadaan Garda. Tanpa ragu, ia mengacungkan jari tengahnya ke udara. "Keparat. Jangan harap kamu bisa mendapatkan milikku."Ari

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Saat Bayangan Mulai Bicara

    Sisa pagutan Arion masih terasa membakar di bibirnya, namun Senja tidak membiarkan sensasi itu melumpuhkan logikanya. Begitu pintu lift griya tawang terbuka di lobi, ia melangkah lebar, mengabaikan tatapan penjaga keamanan dan rintik gerimis yang menyambutnya di luar. Ia melangkah keluar dari lobi apartemen dengan langkah yang nyaris tersandung. Hawa dingin malam itu langsung menusuk kulitnya, namun tidak mampu memadamkan panas yang menjalar di wajahnya akibat ulah Arion beberapa menit lalu. Ia merasa seperti baru saja menandatangani kontrak dengan iblis. Ia tidak butuh taksi mewah; ia butuh menghilang. Di bawah payung ojek daring yang pengap, Senja memacu tujuannya menuju ruko di pinggiran kota yang aromanya selalu menghantuinya setiap malam."Jangan sekarang, Senja. Jangan biarkan dia menang," bisiknya pada diri sendiri sambil merapatkan jaket.Sepanjang perjalanan, ia tidak bisa tenang. Matanya terus terpaku pada sebuah mobil sedan gelap di belakang ojek yang ia tumpangi. Pera

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Bibir yang Membungkam Logika

    "Kamu menuduhku mencuri?"Suara Senja memecah keheningan, tajam dan bergetar karena amarah. Di depannya, Arion hanya menyesap sisa-sisa kesabarannya. Tatapan pria itu sinis, menguliti harga diri Senja tanpa ampun."Uangnya lenyap, Nona Beringin. Itu fakta, bukan tuduhan," jawab Arion santai. Ia menyandarkan punggung, menumpangkan kaki dengan gestur arogan yang seolah mengatakan bahwa ia memiliki seluruh ruangan—termasuk nasib Senja di dalamnya.Senja terbungkam. Ia mencoba memutar otak, membedah setiap detik dalam ingatannya, mencari detail kecil yang mungkin terlewat seperti retakan pada dinding yang nyaris tak terlihat. Namun, Arion tidak membiarkannya tenang."Bagaimana kamu akan bertanggung jawab?" Arion mendesak, suaranya rendah namun penuh intimidasi. Konsentrasi Senja buyar berkeping-keping. "Aku tidak punya alasan untuk membiarkanmu melenggang pergi sebelum uangku kembali utuh."Arion mencondongkan tubuh, mengikis jarak hingga Senja terperangkap di antara sandaran kursi d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status