LOGIN"Arion! Menjauh dari pacarku!" hardik Gavi dengan suara lantang, berjalan menghampiri mereka dengan wajah merah padam dan napas memburu.
Penampilannya jauh dari kata rapi, rambutnya acak-acakan, mencerminkan emosi yang tengah berkecamuk dalam dirinya. Arion mengangkat kedua tangannya, menunjukkan gestur menyerah, dan perlahan menjauh dari Senja. "Santai, bro," jawabnya dengan nada mengejek. "Aku hanya membantu membersihkan lukanya saja, bukan seperti pikiran kotormu!" Arion mengembangkan senyum sinis yang semakin memprovokasi emosi Gavi. "Maksudmu?" tanya Gavi dengan nada mengancam. Langkahnya makin mendekat sampai jarak mereka cuma beberapa sentimeter. "Aku bukan dirimu yang suka mengambil keuntungan," sindir Arion, matanya menatap tajam ke mata Gavi. "Memilih asisten baru, mengenalkannya pada kolegamu dan lupa sama pacarmu, bukan begitu, Nona Beringin?" Wajah Senja membeku mendengar ucapan Arion. Matanya bergerak cepat, menatap Arion dan Gavi secara bergantian. Ia merasa bingung, marah, dan terluka pada saat bersamaan. "Omong kosong!" balas Gavi dengan nada membela diri, nafasnya makin kencang. "Buktinya, aku langsung datang begitu mendengar kabar pacarku kecelakaan. Tidak sepertimu yang selalu bernaung di bawah nama besar ayahmu." "Iya deh, pacar setia," ejek Arion sambil menyerahkan plester luka kepada Gavi, tapi tangannya terasa lambat dan sengaja menyentuh telapak tangan Gavi. "Giliranmu. Jangan sampai luka dia tambah parah karena pikiranmu yang terlalau jauh." Kalau sebelumnya Gavi cuma marah, sekarang ia benar-benar kehilangan kendali. Tanpa ragu, dia menggenggam kerah baju Arion dengan erat, membuat Arion mundur selangkah. "Jangan pengaruhi dia dengan pergaulan liarmu, dan jangan pernah menyindirku seperti itu!" teriak Gavi, suaranya bergema di ruangan klinik. Arion tetap tenang meskipun lehernya tertekan. Dia malah tersenyum lagi, tapi matanya sudah tidak lagi lucu. "Lepaskan, Gavi. Kalau tidak, orang akan tahu betapa jahat dan licik kelakuanmu, bahkan sama sekali tidak pantas jadi pacar dia." Arion perlahan memegang tangan Gavi yang menggenggam kerahnya, mencoba melepaskannya dengan tegas. Suara teriakan Senja tiba-tiba terdengar: "Cukup! Kalian berdua berhenti!" Ia berdiri dengan cepat, meskipun luka di kakinya masih menyakitkan, dan menempati posisi di tengah mereka berdua. Kakinya yang terluka sedikit melengkung, tapi dia tetap tegak, mata penuh kemarahan yang membara. "Aku disini lagi sakit, tapi kalian malah berkelahi? Apa ini ada gunanya?!" Baru kemudian Gavi menyadari apa yang di lakukannya. Perlahan ia melepaskan kerah baju Arion, wajahnya merah bukan karena marah lagi, tapi malu. Arion merapihkan kerahnya yang kusut, tanpa mengganggu Senja yang lagi marah. Dengan langkah santai, Arion berjalan menuju pintu keluar. "Ah, Nona Beringin....," ucapnya sambil menoleh ke arah Senja, Bimbingan jam 3 sore, pastikan memilih yang tepat." Untuk terakhir kalinya, Arion mengedipkan mata sebelum akhirnya menghilang dari klinik, meninggalkan atmosfer ketegangan yang masih terasa begitu pekat. Tatapan Gavi yang merendahkan membuat Senja semakin terluka. "Aku bisa memasangnya sendiri," ucap Senja dengan ketus, merebut plester luka dari tangan Gavi. "Apa-apaan tadi? Dia dosenmu, dan kalian berduaan di ruangan ini. Bagaimana kalau aku terlambat datang, hah?" tanya Gavi dengan nada menuduh. "Memangnya apa yang akan terjadi?" tantang Senja, memaksa Gavi untuk mengungkapkan pikiran kotornya. "Halah, kayak nggak tahu pria aja," jawab Gavi dengan sinis. "Jadi, kamu anggap aku murahan begitu?" Mata Senja mulai berkaca-kaca, bukan hanya karena rasa sakit luka, tapi tuduhan Gavi yang menyakitkan membuatnya begitu. "Bukan gitu," jawab Gavi dengan suara melankolis, menyadari kesalahannya. Emosinya mulai mereda melihat air mata di mata Senja. "Aku ada kelas," ucap Senja lirih, berusaha menghindari tatapan Gavi. Gavi menghadang jalannya, mencegahnya untuk pergi. "Kamu belum menjawab pertanyaanku," ucapnya dengan nada memaksa. "Pertanyaan yang mana? Kamu datang langsung marah-marah, menuduh tanpa bukti, dan merendahkanku," urai Senja dengan suara bergetar, menahan air mata yang hendak menetes. "Sekarang kamu menginterogasiku?" "Loh, aku harus tahu kamu ngapain sama si pengacara korup itu!" balas Gavi dengan nada meninggi. "Berhenti menghinanya! Dia dosenku!" bentak Senja, membela Arion meskipun hatinya masih dipenuhi dengan keraguan. "Oh, berani ya sekarang kamu membela dia," ketus Gavi dengan nada sinis. "Belum pernah digoda cowok tampan, jadi merasa kecantikanmu bertambah begitu?" Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Gavi, membuatnya terkejut dan terdiam. "Jaga ucapanmu!" ucap Senja dengan tegas, sebentar lagi air mata membasahi pipinya yang pucat akan tuduhan Gavi. Senja menurunkan tangannya yang bergetar setelah menampar Gavi. Ini adalah kali pertama ia melakukan kekerasan fisik pada kekasihnya sendiri. Kaget, marah, dan bersalah. Semua itu campur aduk dalam dirinya. "Kamu berani menamparku?" ucap Gavi dengan nada tidak percaya, memegangi pipinya yang memerah. "Kamu mau membalas?" tantang Senja, aliran air matanya semakin deras, membasahi dagunya. "Tampar saja! Dari semalam aku sudah menahan kesabaranku. Aku pikir kamu akan menghubungiku setelah pesta, tapi ternyata tidak ada kabar!" Gavi terdiam. Ia bisa melihat kekecewaan dan luka yang mendalam di mata Senja. "Apa Tara membuatmu lupa denganku? Apa yang membuatnya berbeda? Aku pacarmu, tapi perhatianmu terbagi dua, Gavi!" ucap Senja dengan suara bergetar, mengungkapkan semua perasaan yang selama ini ia pendam. "Itu hanya perasaanmu saja," kelak Gavi, berusaha meyakinkan Senja. "Apa kamu mencintaiku?" tanya Senja dengan suara pelan, namun pertanyaan itu mampu membekukan gerakan Gavi. Wajahnya menjadi datar, dan tatapannya beralih dari wajah Senja, seolah menghindari pertanyaan itu. Senja tertawa histeris, air mata pun menetes perlahan, menyertai rasa terluka dan marah akan sikap Gavi. "Tentu saja aku cinta," akhirnya Gavi bersuara, meskipun nada suaranya terdengar ragu. Senja menganggukkan kepalanya berkali-kali, senyum pedih tetap menghiasi wajahnya yang pucat. Telunjuknya menusuk tepat di dada Gavi, di mana hatinya berada. "Coba tanya hatimu, apa kamu jujur?" Senja menyenggol bahu Gavi begitu melangkah keluar klinik. Meskipun jalannya pincang, ia tidak berhenti ataupun menoleh ke belakang. Bahkan, suara Gavi yang memanggil namanya pun ia hiraukan. "Senja..." panggil Tara, menyandar di dinding tidak jauh dari ruang klinik. Ia tampak cemas, matanya mengawasi Senja yang wajahnya pucat dan berkeringat akibat luka. "Sudah puas menguping?" sindir Senja dengan tajam, menebak bahwa Tara-lah yang membawa Gavi ke klinik. "Senja, jangan salah paham. Aku dan Gavi tidak ada hubungan spesial. Aku menghubunginya karena kamu terluka, cuma itu," jelas Tara dengan nada membela diri, tangannya bergoyang-goyang khawatir. Senja hanya menghela nafas, tidak mau mempercayainya. Mana ada maling yang mau ngaku, ejek pikiran Senja. "Terima kasih, tapi niat baikmu justru jadi masalah buatku," desahnya lelah. "Sebentar lagi kelas dimulai," ucapnya memotong percakapan, berusaha mengakhiri drama ini. Senja sudah lelah secara fisik dan emosi. Ia sengaja membuat jarak dengan Tara, meskipun tujuan mereka sama. Ia duduk di kursi yang berbeda, merasakan punggungnya penuh dengan tatapan menusuk dari Tara dan mungkin juga dari Gavi. **** Arion menyandarkan diri di mobil, jari-jarinya memutar puntung rokok yang masih menyala. Asapnya melayang tipis, menyertai kegelisahan yang melanda dirinya saat mata melirik jam tangan: pukul 3.10. Telat. "Mungkin aku terlalu yakin dia akan berpihak padaku," gumamnya lirih, mematikan rokok dan membuka pintu mobil dengan gerakan ragu. "Mau pergi, Pak Dosen?" Bibir Arion melengkung membentuk senyum tipis mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. "Apa aku mendapat kompensasi dari keterlambatanmu?" tanyanya dengan nada menggoda, membalikkan badan dan menemukan Senja berdiri di hadapannya. Wajah Senja tampak tegas dan penuh tekad. Pancaran matanya menunjukkan kepercayaan diri yang baru, meskipun perban masih menghiasi lutut dan lengannya, menjadi pengingat atas kejadian yang baru saja menimpanya. "Kuharap jawabanmu bisa memuaskanku," ucap Arion dengan nada serius. "Apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Senja balik, menguji kesungguhannya. Sebelah alis Arion terangkat, menunjukkan ekspresi tertarik dan sedikit terkejut. Rambutnya yang ditata rapi tertiup angin sepoi di sore yang mulai mendung. "Aku bisa menjanjikanmu tiga hal," balas Arion dengan nada meyakinkan. "Skripsimu, nama baik ayahmu, dan pembalasan kepada pacarmu." Senja mengulurkan tangannya, menawarkan kesepakatan. "Oke, setuju," ucapnya dengan mantap. Arion menyambut jabat tangan Senja dengan senyum kemenangan. Entah apa yang telah mengubah pikiran Senja, tetapi sekarang ia memiliki sekutu yang akan membantu melancarkan rencananya. "Arion! Menjauh dari pacarku!" hardik Gavi dengan suara lantang, berjalan menghampiri mereka dengan wajah merah padam dan napas memburu. Penampilannya jauh dari kata rapi, rambutnya acak-acakan, mencerminkan emosi yang tengah berkecamuk dalam dirinya.Arion mengangkat kedua tangannya, menunjukkan gestur menyerah, dan perlahan menjauh dari Senja. "Santai, bro," jawabnya dengan nada mengejek. "Aku hanya membantu membersihkan lukanya saja, bukan seperti pikiran kotormu!"Arion mengembangkan senyum sinis yang semakin memprovokasi emosi Gavi. "Maksudmu?" tanya Gavi dengan nada mengancam. Langkahnya makin mendekat sampai jarak mereka cuma beberapa sentimeter."Aku bukan dirimu yang suka mengambil keuntungan," sindir Arion, matanya menatap tajam ke mata Gavi. "Memilih asisten baru, mengenalkannya pada kolegamu dan lupa sama pacarmu, bukan begitu, Nona Beringin?"Wajah Senja membeku mendengar ucapan Arion. Matanya bergerak cepat, menatap Arion dan Gavi secara bergantian. Ia merasa bingung
Lingkaran hitam terlukis di mata Senja, semalaman ia mencari informasi tentang kasus ayahnya yang terhubung dengan Arion Wiratama yang ternyata ketua Brandal Baja. Namun, tidak membuahkan hasil. Dia mendapat sedikit petunjuk dari rekaman semalam, tapi belum sepenuhnya yakin bisa mengungkap sosok sebenarnya.Semua beban ini menekan dada, rasanya ingin menangis tapi tidak bisa. "Sepertinya aku harus pulang, sebentar lagi peringatan kematian Ayah, dan Arion yang tahu nama ayahku membuatku semakin khawatir," gumam Senja. "Senja... Senja..." panggil Tara dengan manja, suaranya yang dibuat-buat lemah tidak menggubris pikiran Senja. Semua tentang Arion menguasai fokusnya. "Senja..." jerit Tara yang menarik rambut mengembangnya dengan kasar.Senja refleks melayangkan tangannya begitu berbalik ke belakang, "Kyaa..." teriak Tara segera melepas jemarinya di rambut Senja."Tara..." gagap Senja kaget akan kehadirannya."Senja apaan sih! Aku panggilin kamu dari tadi gak nengok juga," sewotnya,
"Kamu membuntutiku ya?" terka Senja memandang Arion penuh selidik.Arion tertawa, giginya rapi menyinari, "Aku mengantar omku." Dia menunjuk pria tua di kejauhan – yang menatapnya dengan pandangan dingin, membuat Senja bergidik. "Kamu kenal om Bas?""Aku tidak kenal dia," jawab Senja."Arion Wiratama," Mengenalkan namanya sambil mengeluarkan kartu undangan dari saku. "Aku juga punya undangan kok. Hanya setahun ini aku di luar negeri, jadi mungkin kamu belum pernah denger nama ku di sini sebelumnya."Wiratama? Keluarga yang punya Dominion Law? Senja merasa dada terasa sesak.Senja tahu keluarga itu terkenal sebagai bilioner, tapi juga selalu menyembunyikan sesuatu. "Jadi kamu teman Gavi? Dan menjebakku di bar dengan rekaman AI yang dipalsukan?" Senja mendekat, bibirnya hampir menyentuh bahu Arion, "Kita tidak pernah berhubungan intim, kan?"Arion menarik pinggangnya perlahan – panas tangannya menyebar ke kulitnya seperti nyala api. "Tapi aku suka membayangkan rambutmu acak-acakan di b
Senja berdiri kaku di depan pintu, mata tak bisa lepas dari Arion yang berdiri dengan jas hitam, tampilan profesional yang jauh berbeda dari pria yang ia temui di bar malam kemarin. Tara menyelipkan lengan ke sampingnya, "Senja, kamu baik-baik aja? Wajahmu pucat banget."Senja cuma bisa mengangguk, hati berdebar kencang. Ini nggak mungkin, ini nggak mungkin... Kilas balik malam itu tiba-tiba muncul lagi — Arion yang memeluknya, bibir mereka yang bertaut — dan ia merasakan malu yang menyelimuti badannya.Arion memutar badan, matanya sebentar menyoroti Senja sebelum berkata, "Siapa yang mau pertama?" Suaranya dingin, seolah tidak mengenalnya. Tapi Senja melihat ke dalam matanya — ada sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang membuat ia bingung."Kamu – yang rambutnya kayak beringin," Arion memutuskan, menunjuknya dengan senyum tipis sebelum kembali ke ruangan.Tara menyenggol, "Senja, kamu dipanggil," memperingatkan temannya yang sedari tadi melamun."Ah," gumam Senja."Kamu disuruh mas
Harusnya hari ini adalah hari spesial, di mana Senja merayakan ulang tahun Gavi.Langkahnya masih riang saat mendekati kafe tempat mereka janjian bertemu. Tapi, suara kecipak dari dalam kafe menghentikannya.Semakin mendekat, desahan mengalun seperti melodi yang menjatuhkannya ke neraka.Dari depan sana, Senja bisa melihat dua orang terdekatnya: pacarnya, Gavi, dan sahabatnya, Tara.Bibir mereka bertautan dengan hasrat. Gavi memegang pinggang Tara kuat, tak mau melepaskan. Tara menutup mata, penuh kepuasan. Tara mendorong tubuh Gavi melepas ciumannya, "Nanti ketahuan Senja.""Aman, dia kirim pesan katanya telat," Gavi sambil menunjukkan layar ponselnya dengan senyum sombong. "Tapi gimana kalo dia marah?" Tara menggoda dengan memainkan jemarinya di dada Gavi."Bodo amat," acuh Gavi yang menelusupkan jemarinya ke dalam blus Tara. "Aku sudah punya firma sendiri dan beberapa klien tetap, jadi aku gak butuh si rambut Einstein lagi,"Seperti ada peluru yang menembus hati Senja berkali-kal







