MasukSebelum Edward sempat berbicara, Azka sudah menepuk bahunya dan melanjutkan, "Aku serahkan Clara padamu." Setelah itu, Azka memijat pelipisnya yang berdenyut dan terasa nyeri, lalu pergi lebih dulu.Edward menghampiri Clara, mengambilkan tasnya, lalu menggendongnya dan berjalan keluar dari ruangan tempat jamuan.Di lantai bawah, saat Edward menggendong Clara menuju mobil, Doni kebetulan juga ada di sana.Melihat mereka berdua, Doni tertegun sejenak.Karena kemesraan antara Edward dan Clara, Doni sempat terpaku, lalu mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa foto.Posisi mobil Edward berada tidak jauh dari mobilnya Doni, tak lama kemudian, Edward sudah membawa Clara masuk ke mobilnya.Doni tertegun sejenak, namun akhirnya langsung masuk ke mobilnya sendiri. Setelah mobil Edward melaju, dia pun menginjak pedal gas dan mengikuti mereka.Edward mengemudi dengan lancar sepanjang perjalanan, Doni tidak memperhatikan waktu sampai akhirnya mobil Edward memasuki kawasan perumahan mewah ter
Clara hanya menjawab, "Iya." Elsa bertanya lagi, "Banyak sekali orang yang mengucapkan selamat hari raya untuk Mama ya?" Sebelum Clara sempat menanggapi, Elsa sudah berlari mendekat untuk melihat bunga-bunga itu karena penasaran. "Yang ini dari … Gery, yang ini nggak ada namanya ...." Saat hendak melihat siapa yang mengirim buket ketiga, Elsa tiba-tiba seperti terpikirkan sesuatu dan menoleh ke arah Clara, lalu bertanya, "Ma, Gery itu siapa? Apa dia teman Mama? Kenapa namanya seperti nama laki-laki?" Ekspresi Clara tetap sama. Dia mengiyakan dan berkata, "Dia teman Mama." Kemudian langsung mengganti topik obrolan. "Elsa, apa kamu mau pergi bermain hari ini?" Perhatian Elsa langsung teralihkan. Elsa kembali ke sisi Clara, menggenggam tangannya, dan berkata, "Aku dan Ayah datang ke sini memang khusus ingin merayakan hari ini bersama Mama. Kami akan temani ke mana pun Mama ingin pergi. Hari ini, kami akan turuti semua keinginan Mama." Setelah mengatakan itu, dia bertanya kepada Edw
Setelah mengatakan itu, Dylan kembali bertanya pada Clara, "Bagaimana denganmu? Bukannya kau sering bertemu dengannya akhir-akhir ini? Apa kau pernah mendengar soal ini?"Clara menggeleng dan menjawab singkat, "Nggak."Meskipun dia dan Edward sering bertemu, namun mereka hampir tidak pernah berinteraksi di luar urusan pekerjaan.Dylan berkata, "Aneh sekali ...."Dia tidak mengerti, tetapi segera tak ada waktu untuk terus memikirkan hal itu karena ada seseorang yang datang mendekati mereka untuk mengobrol.Diana yang melihat Clara dipuji dan disanjung dari kejauhan, merasa marah dan tidak bisa menahan diri untuk berbisik dan bertanya, "Bukannya kemarin bilang mau membuat dia dan Dylan benar-benar bersama? Kapan mulai bergeraknya?"Fani berkata, "Nenekmu dan yang lainnya bilang kalau waktu dan situasinya nggak tepat, harus tunggu lain kali."Kalau bicara soal cemas, dia juga merasa cemas. Tetapi dia juga tahu bahwa dalam hal-hal seperti ini, walaupun mendesak, semuanya tetap harus ditang
Keesokan harinya, Clara dan Dylan menghadiri sebuah pesta koktail bersama.Tidak lama setelah mereka tiba, Vanessa dan rombongannya juga sampai di lokasi.Mereka segera melihat Clara dan Dylan yang berdiri tak jauh dari sana.Begitu melihat Clara, ekspresi Diana dan Fani langsung berubah masam.Alasannya sederhana, karena gaun yang dikenakan Clara sama dengan gaun yang baru-baru ini diincar Vanessa.Gaun itu bernilai lebih dari dua miliar. Jika itu terjadi dulu, Vanessa pasti akan langsung membelinya tanpa berpikir panjang.Tetapi kali ini .…Selain gaun itu, gelang dan kalung Clara juga merupakan mahakarya dari seorang desainer terkenal dengan nilai hampir dua puluh miliar.Meskipun gaun dan perhiasan yang dikenakan Vanessa juga baru dan bermerek, namun dari segi harga dan kualitas, jauh lebih murah daripada yang melekat di tubuh Clara.Vanessa sebelumnya pernah beberapa kali mengenakan gaun dan perhiasan yang tak ternilai harganya, ditambah lagi dengan penampilannya yang memang sanga
Meskipun Vanessa jarang berkumpul bersama mereka dalam dua atau tiga bulan terakhir.Namun, Gading berasumsi bahwa Edward dan Vanessa pastilah sering bertemu.Melihat Edward dan Vanessa tetap membicarakan urusan sendiri saat pertemuan mereka yang jarang terjadi, membuat Gading sengaja menggodanya.Mata Vanessa sedikit meredup saat mendengar hal itu, tetapi dia segera tersenyum dan berkata jujur, "Kami nggak bertemu setiap hari. Aku dan Edward juga jarang bertemu akhir-akhir ini."Vanessa mengatakan itu karena tahu bahwa terkadang saat mengatakan yang sebenarnya, justru orang lain tidak akan percaya.Bahkan jika mereka memercayainya pun, mereka akan tetap berasumsi bahwa keduanya hanya sibuk dengan urusan masing-masing, bukan berpikir bahwa mereka mungkin sedang memiliki masalah hubungan asmara.Benar saja, setelah dia berbicara, Gading tersenyum dan berkata, "Iya, iya. Aku nggak akan mengganggu kalian lagi. Kalian lanjutkan saja, oke?"Mereka segera mengganti topik pembicaraan.Malam i
Setelah membahas urusan bisnis selama beberapa waktu, mereka akhirnya berhenti untuk beristirahat sambil mengobrol santai, saat itu ponsel Clara berdering.Itu panggilan telepon dari Elsa.Setelah berpamitan singkat kepada yang lain, dia bangkit untuk menjawab telepon sambil berjalan keluar, "Elsa, ada apa?""Tania sudah kembali dan nanti mengundang kita makan malam. Apa Mama mau ikut?"Clara menjawab, "Maaf ya, Mama masih ada acara malam ini, jadi nggak bisa ikut dengan kalian."Kemudian, dia membuka pintu dan keluar dari ruangan.Dia benar-benar sibuk dan tidak bisa pergi.Setelah mengobrol sebentar dengan Elsa di luar, Clara kembali untuk melanjutkan diskusi tentang pekerjaan dengan Edward dan yang lainnya.Setelah urusan pekerjaan selesai, Clara dan Gery pergi lebih dulu.Edward melanjutkan obrolan dengan Azka sebentar, lalu pulang menjemput Elsa untuk pergi makan malam.Elsa sudah lama tidak bertemu Tania, dia telah menyiapkan cukup banyak hadiah untuk Tania dan merasa sangat bers
Clara berkata, "Kalian makan berdua saja, aku nggak ikut."Elsa berkata, "Hah? Mama nggak ikut?""Iya." Dia menyentuh kepala Elsa dengan lembut, "Mama pergi dulu, kalian nikmati makanannya.""Iya."Clara tersenyum, tidak berkata apa-apa lagi, berbalik dan pergi tanpa menoleh ke belakang.Edward mena
Clara mengangguk, "Iya."Doni tak bisa berkata-kata melihat mereka.Dylan memang sengaja buat Doni menderita.Sebenarnya, tak seorang pun di antara mereka yang peduli dengan sedikit uang itu.Selama makan, mereka mulai bicara serius tentang kerja sama mereka.Sementara Clara duduk di samping dan mak
Ada kue kering yang ingin dimakan Dylan.Mereka hendak pergi ke sana, tetapi dihentikan dan mulai diajak mengobrol tentang proyek terbarunya.Di sana, setelah Richard menyapa Vanessa, dia juga menyapa Dani dan Gading, "Pak Dani, Pak Gading."Dani mengangguk.Pada saat itu, Edward juga sudah menyeles
"Kak Dani."Melihat Dani kembali, Diana memanggilnya dengan suara lembut.Tapi Dani hanya mengangguk dengan dingin.Melihat Edward seperti cari seseorang, Rita berkata, "Vanessa baru saja dapat telepon, jadi dia pergi angkat."Edward berkata, "Oke, Tante."Begitu dia selesai berbicara, terjadi keram







