تسجيل الدخولTak ingin terus meratapi kegalauannya, Sekar dengan cepat menyelesaikan kegiatannya mengeringkan rambut. Lebih baik sekarang ia bersiap-siap untuk pergi dengan Mamanya, tak. Untungnya saat ia membuka pintu kamar, ia masih mendapati Mamanya yang menonton televisi."Ma, kita berangkat sekarang aja gimana? Ajak aku jalan-jalan dong, Ma. Nanti kalau udah lapar kita baru makan." Ucapnya sambil menaikturunkan kedua alisnyaDan bukan Mamanya kalau langsung mengiyakan. Wanita yang telah melahirkannya itu justru memutar kedua bola matanya terlebih dahulu sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Ya sudah, Mama siap-siap dulu."Setelah Mamanya beranjak dari ruang televisi, Sekar pun masuk ke dalam kamarnya kembali untuk mengambil tas dan ponselnya. Hingga setengah jam kemudian ia dan sang Mama sudah ada di Suntec City Mall - salah satu pusat perbelanjaan yang ada di dekat Marina Bay Sand. Di sana banyak sekali pilihan ritel dan makanan.Sekar langsung menuju gerai pakaian, sudah lama ia tidak berbel
Rapat pemegang saham telah usai beberapa menit lalu, namun Jagat harus terjebak di ruangan ini bersama Mamanya, Pak Januar, dan juga Rachel. Ia sudah mencoba menghindar, tapi Mamanya memaksa untuk berbicara."Ada apa lagi ini? Saya benar-benar sibuk hari ini, jika akan membicarakan hal yang tidak penting sebaiknya tidak usah.""Kita mau membicarakan acara pertunangan kamu dengan Rachel. Mama sudah mengatakan itu sama kamu dari beberapa hari lalu, tapi pesan Mama cuma kamu baca. Jadi dengan terpaksa sekarang Mama menganggu waktu kamu bekerja." Ucap Bu Dian dengan tegas.Jagat menghela napas panjang. Ia sudah lelah menanggapi hal itu. Selama beberapa waktu ini Mamanya semakin gencar dan menuntut pertunangannya dengan Rachel harus cepat dilakukan. Ia sampai kehabisan kata dan cara untuk menolak, tapi untuk setuju pun hatinya begitu berat. Pertunangan dengan Rachel bukanlah keinginannya.Jagat kemudian melirik pada Pak Januar yang hanya diam saja tanpa bicara. Ia sungguh herang dengan pri
Jagat memasukkan pin untuk membuka pintu apartemen yang dulu pernah ditinggali Sekar. Ia sudah tahu lama, bahwa wanita pujaan hatinya itu telah pergi dari apartemen ini. Sekar benar-benar meninggalkan dia dan semua yang ia berikan pada wanita itu. Bahkan sertifikat kepemilikan apartemen ini Sekar tinggalkan di dalam lemari.Tak ada surat atau kata-kata yang Sekar tinggalkan. Apartemen ini kosong saat ia datangi beberapa waktu lalu. Hanya tersisa barang-barang yang ia beli, semua barang milik Sekar sudah tidak ada.Kini setiap kali ia membuka pintu apartemen ini yang ada hanya sunyi. Tak ada lagi suara televisi yang biasanya memenuhi ruang tengah. Dapur yang biasanya menguarkan bau harum masakan Sekar, kini terlihat dingin tak tersentuh.Jagat kemudian menatap ke arah kamar mandi. Ia ingat betapa terkejutnya dia saat mendapati testpack di sana. Meski ternyata hasilnya negatif, ia sungguh-sungguh berharap hasil itu positif dan Sekar benar-benar hamil. Agar ada yang mengikat mereka sehin
Sekar langsung mengalihkan tatapannya sebelum hatinya terlalu sakit. Ia harus sadar diri bahwa sekarang ia dan Jagat bukan lagi pasangan kekasih. Kemarin ia yang sudah memutuskan pria itu, mengakhiri hubungan mereka dan untungnya Sisil menariknya masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai tempat ruang kerja mereka berada.Untuk beberapa saat di dalam lift itu Sekar dan Sisil sama-sama diam sampai akhirnya Sisil yang seolah mengerti apa yang sedang Sekar rasakan, mencoba mengalihkan pikiran temannya itu."Gue harus gimana ya, Kar kalau si narsistik berhasil sama tantangan yang gue kasih?"Sebenarnya Sisil tak berniat bertanya seperti itu, tapi karena otaknya untuk mencari topik pembicaraan, akhirnya ia membuka hal yang sejujurnya ingin ia terus sembunyikan."Tunggu, emang lo kasih tantangan ke Pak Devan?"Sisil menganggukkan kepalanya cepat membuat Sekar kian tertarik dengan hal itu."Tantangan apa emangnya? Wah, lo belum cerita ke gue. Jangan-jangan pesan yang
"Dih!!! Baru semalam aja bangga."Langkah Sekar terhenti ketika ia mendengar suara Sisil yang jauh. Ia baru menyadari bahwa temannya itu ternyata masih berada beberapa langkah di belakangnya dan entah sedang membicarakan apa."Sil, ayo. Lo lagi ngapain sih?""Ehh iya, sebentar." Sisil langsung buru-buru memasukkan ponsel ke dalam tas dan menyusul tempat di mana Sekar berdiri."Lo tadi lagi ngomongin siapa sih? Kesal amat kayaknya?" Tanya Sekar saat mereka melangkah masuk ke dalam lift dari area parkir perusahaan seperti pagi-pagi sebelumnya."Biasa si orang narsis temannya Pak Jagat. Tadi kirim pesan ke Instagr*m gue, kasih tahu kalau semalam udah bisa menahan diri nggak pergi ke club malam."Sekar mengangkat sebelah alisnya. Hatinya bersorak senang karena ada bahan untuk menggoda teman baiknya itu. "Ceritanya udah saling kirim pesan, nih. Kapan PJ atau pajak jadiannya keluar?"Sisil melotot seketika. Tak terima digoda seperti oleh Sekar. Wanita itu jadi
Bila yang tertulis untukku adalah yang terbaik untukmu.Kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku.Namun takkan mudah bagiku...."Sampai kapan lo mau dengar lagu galau kayak gini sih, Ben?"Entah sudah berapa kali Devan menanyakan hal itu padanya, tapi bukannya menjawab ia justru terus hanyut pada setiap lirik lagu yang seolah-olah selaras dengan nasib percintaannya saat ini.Sungguh kali ini patah hatinya memang berbeda. Lebih sakit, lebih pedih, lebih tidak bisa ia terima. Karena jika dulu dengan Rachel, ia memang tak sepenuhnya diinginkan oleh wanita itu atau hanya selingan saat Rachel bosan dan membutuhkannya. Sehingga lambat laun ia merasa cinta sendirian. Namun dengan Sekar, perasaannya jelas berbalas. Wanita itu juga mencintainya.Sekar mampu membuatnya menjadi dirinya sendiri. Selama dengan Sekar, ia lebih ekspresif tanpa takut membuat wanita itu tidak nyaman. Ia juga menikmati bagaimana Sekar selalu menunjukkan apa yang sedang dirasakannya. Cemberutnya, cemburun
"Akhirnya selesai juga." Ucap Sekar seraya memandang laptop yang menampilkan surat pengunduran dirinya.Besok ia akan berangkat pagi sekali untuk mencetak surat itu dan memberikannya pada kepala divisi untuk diteruskan kepada pihak HRD. Biasanya menunggu kurang lebih lima belas hari kerja atau pali
"Stop! Jangan mendekat, Mas! Biarkan aku bicara terlebih dahulu." Ucapan itu mampu menghentikan langkah Jagat yang sedang mendekat ke arahnya. Saat ini ia ingin meluapkan semua hal yang beberapa waktu ini ia pendam. "Kamu bilang pertemuan kamu dengan Rachel di Labuan Bajo itu tidak di sengaja, aku
Acara ulang tahun perusahaan semakin meriah dengan adanya bintang tamu sebuah band yang sedang naik daun di Indonesia. Tadi setelah adanya sambutan dari Bu Dian, Jagat, dan dua petinggi perusahaan, kini acara berganti menjadi hiburan dengan penampilan ban itu. Saat ini mereka sedang tampil membawak
Sementara di Singapura Bu Wulan tetap merasa tidak tenang. Firasatnya berkata Sekar tak mengatakan yang sebenarnya. Ia tahu anak perempuan itu tak pernah mau menceritakan tentang masalah hidupnya. Ia selalu tahu dari orang lain, bukan dari anaknya.Dulu saat masih di sekolah, Sekar pernah diskors k







