Share

Bab 3

Author: Dandelion
last update publish date: 2025-12-18 13:05:12

Langkah Sekar terhenti, napas yang tadinya sudah berhembus lega kini kembali tercekat. Otot-otot dalam tubuhnya kembali menegang, pikirannya sudah berkelana jauh merangkai

kemungkinan-kemungkinan buruk jika pria dibelakangnya ini berubah pikiran.

Namun ternyata Jagat justru mengatakan hal yang tak terduga, “Saya nggak setua itu, lain kali jangan panggil saya dengan sebutan ‘Bapak’.”

“Hah, gimana?” Balas Sekar sambil membalikkan badannya ke arah Jagat.

Hal begitu saja Sekar tak paham, tapi ya mana bisa paham? Wanita itu bahkan masih kebingungan dengan semua yang sedang terjadi. Tiba-tiba jadi bahan guncingan orang, dan tiba-tiba salah kamar.

Dirinya butuh waktu mencerna kejutan-kejutan itu.

Baru saja kakinya bergerak beberapa langkah dari kamar itu, tiba-tiba Sekar melihat ada dua orang wanita yang baru saja berbelok ke lorong yang sama dengannya. Pembicaraan mereka terdengar jelas di tengah sunyinya lorong hotel.

“...Kayaknya di hotel ini deh, foto cewek check in yang baru viral itu. Desain dan interior hotelnya sama tahu..” Ucap salah satu wanita itu.

Mendengar itu langkah Sekar terhenti, dirinya mulai panik sendiri.

“Yang cewek check in viral terus kepergok sama pacarnya itu?” Tanya wanita satunya lagi.

“Iya, mana kata cowoknya mereka mau nikah lagi. Sumpah deh malu-maluin kaum kita aja tuh cewek.”

Tidak salah lagi, dua orang wanita itu sedang membicarakan foto dirinya yang sedang viral. Sekar mulai menengok ke kanan dan ke kiri mencari celah yang mungkin ada di lorong ini untuk bersembunyi sebelum dua orang wanita itu melihatnya.

Bisa-bisa ia kena hujat langsung di depan muka yang jelas Sekar tidak akan siap menghadapinya. Hujatan yang ada di dunia maya saja tidak ia baca, masa harus mengahadapi hujatan yang ada di dunia nyata?

Tidak. Tidak akan Sekar biarkan itu terjadi.

Membalikkan badan, Sekar berjalan pelan tak tentu arah. Celah untuk bersembunyi tak kunjung ia temukan, sementara langkah kaki kedua wanita itu semakin mendekat dari tempatnya berdiri sekarang.

Satu-satunya tempat sembunyi yang terlintas di pikirannya adalah kamar pria asing itu. Tanpa banyak berpikir lagi, Sekar langsung berjalan cepat lalu kembali masuk ke kamar itu.

Persetan jika ia harus menangggung malu di depan pria itu, yang terpenting sekarang ia tidak berhadapan langsung dengan dua wanita yang jelas-jelas sedang membicarakannya itu.

Sementara itu, Jagat yang sedang berbaring di ranjangnya kaget karena mendengar pintu kamar dibuka dari luar tanpa seijinnya. Tubuh yang tadinya ingin ia istirahatnya seketika bangkit dari ranjang, kepalanya menoleh ke arah pintu.

“Ngapain lagi kamu?” Tanya Jagat . Kini ia bukan lagi heran, tapi sudah mulai curiga dengan wanita yang sudah dua kali masuk ke kamarnya.

Pertanyaan itu membuat Sekar tersentak kaget, hampir saja dia lupa dimana ia sedang bersembunyi saat ini.

Dengan jantung yang berdebar, wanita itu memutar tubuhnya menghadap si pemilik kamar. Hal pertama yang ia lihat adalah tatapan tajam pria itu dan tangan yang disilangkan di depan dada bidangnya.

Atmosfer menakutkan seketika terasa mengelilingi Sekar.

“Itu, Pak.. Anu, begini...” Jawab Sekar kebingungan mau mengatakan apa. Jelas sekali wanita itu tidak punya jawaban yang pasti dari tindakannya saat ini.

“Siapa sebenarnya kamu? Apa kamu disuruh orang untuk memata-matai saya?”

Jagat sudah tidak bisa untuk tidak curiga dengan wanita di hadapannya ini. Sebagai seorang pengusaha ia sangat paham dengan adanya persaingan bisnis.

Bisa saja wanita ini adalah orang suruhan pesaing bisnisnya yang sengaja dikirim untuk memata-matai atau yang lebih parah adalah untuk menjebak dirinya dan berujung dijadikan senjata untuk menghancurkannya.

“Bukan, Pak. Saya nggak ada niat jahat sama, Bapak.” Jawab Sekar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya membantah tuduhan Jagat. 

Situasi di kamar milik Jagat kini tak lagi menenangkan untuk Sekar bersembunyi.

Wanita itu bagai lepas dari mulut harimau, lalu masuk ke dalam mulut buaya. Bermaksud bersembunyi di kamar ini untuk menghindari dua wanita yang tengah menggosipkannya, tapi justru dirinya kini terjebak tuduhan dari sang pemilik kamar. Dan pada akhirnya Sekar harus menjelaskan pada pria di depannya.

“S–Saya dijebak, Pak.”

Setelah itu Sekar menjelaskan situasinya sampai harus bersembunyi di kamar milik pria itu. Namun ia merasa penjelasan panjangnya itu bagai angin lalu untuk si pria pemilik kamar. Karena bukannya menanggapi, pria di depannya ini hanya diam terpaku.

Apa Sekar tersinggung? Tentu tidak. Wanita itu justru memanfaatkan keterdiaman Jagat untuk mencoba peruntungannya. “Pak, apa boleh saya bermalam di sini untuk malam ini saja?”

Keheningan menyelimuti mereka. Jagat tak kunjung menjawab pertanyaan itu, tapi Sekar tak menyerah. Wanita itu kembali bertanya.

 “Boleh tidak, Pak?”

Jagat berdeham kecil. Menimang apakah sebegitu gentingnya untuknya menetap? 

Sekar yang melihat raut wajah pria di depannya akhirnya sadar diri, harusnya ia tak meminta lebih pada pria yang tak ia kenal. Apalagi setelah ia mengganggu kenyamanan pria itu

 “Kalau tidak boleh, saya pamit. Terima kasih ya, Pak. Maaf kal—”

“Boleh.” utusnya memotong Sekar.

Mata Sekar berbinar senang, senyum terukir di wajahnya. 

Benarkah?

Setidaknya malam ini ia bisa menghindar dari orang-orang yang mungkin sedang membicarakannya di hotel ini.

“Terima kasih, Pak. Saya nggak akan melupakan kebaikan, Bapak. Kalau begitu saya ijin pakai kamar mandinya ya, Pak.”

Tanpa menunggu jawaban Jagat, Sekar langsung berlari ke arah kamar mandi. Sedangkan pria itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Tak berselang lama Sekar keluar dari kamar mandi, wajahnya terasa lebih segar setelah terbasuh air. Ia bisa melihat pria itu sudah berbaring di satu sisi ranjang dengan satu tangan yang menutup kedua matanya.

Sekar lalu melangkah ke arah sofa panjang yang tak jauh dari ranjang, dengan pelan ia membaringkan tubuhnya di sana. Pikirannya melayang pada peristiwa yang baru saja terjadi.

Sepanjang hidupnya Sekar tak pernah sekali pun membayangkan dirinya ada di posisi seperti sekarang. Tak pernah ada di pikirannya hubungannya dengan David akan berakhir dengan cara seperti ini. Pria itu, pria yang begitu ia cintai ternyata setega ini padanya.

Tak terasa air matanya mengalir tanpa bisa Sekar cegah. Kenapa semuanya jadi seperti ini? Apa ia pernah tak sengaja menyakiti David sampai membuat pria itu dendam dan melakukan hal sejahat ini padanya?

Tapi berkali-kali Sekar mencoba mengingat, ia tak bisa menemukan memori saat dirinya menyakiti pria itu. Ataukah ini sifat David yang sebenarnya? Dan selama ini ia hanya dibutakan oleh cinta.

Tiba-tiba ingatan tentang Mamahnya yang tak setuju dengan hubungan mereka terlintas di pikiran Sekar. Ia kira itu hanya alasan Mamahnya saja yang tak suka dengan David, tapi sekarang ia justru menyesal karena tak mendengarkan.

Malam ini ia hanya ingin beristirahat, biarlah masalah foto itu ia urus besok. Beberapa saat setelahnya wanita itu jatuh ke alam mimpi.

Sekar bangun dan langsung terkejut ketika mendapati dirinya sudah berbaring di ranjang dengan selimut yang membungkus tubuhnya. 

Terdengar pula suara air dari kamar mandi yang membuat otaknya memikirkan hal yang tidak-tidak. Tapi...

Pakaiannya masih utuh.

Tanpa berpikir lagi, Sekar buru-buru meninggalkan kamar ini. Terlebih saat ia melihat jam di ponselnya, Sekar tak punya waktu untuk menunggu pria itu keluar dari kamar mandi hanya sekedar untuk mengucapkan terima kasih.

Sesampainya di apartemen, Sekar menekan password dengan terburu-buru, ia belum siap untuk bertemu dengan siapa pun saat ini. Beberapa tetangga di apartemen mengenalnya dan ia belum siap untuk menjelaskan jika saja mereka melihatnya lalu bertanya.

Lagaknya sudah seperti selebriti yang sedang terkena skandal, tapi mau bagaimana lagi? Sebagai wanita yang jarang sekali membagikan sesuatu di media sosial dan selalu menjalani hidup seperti orang biasa lalu tiba-tiba menjadi perbincangan publik sungguh membuatnya terkejut.

Sekarang ia sedang berdiri di depan cermin memandang penampilannya, celana panjang yang ia padukan dengan kemeja merah maroon akan menjadi pakaian kerjanya hari ini.

Sekar sengaja berangkat dari apartemen sedikit lebih siang dari biasanya agar nanti saat sampai di perusahaan ia sudah terlambat dan tak bertemu dengan banyak orang.

Dan benar saja sesampainya ia di perusahaan, area parkir sudah sepi dan hampir penuh. Sekar sangat yakin banyak karyawan yang sudah berada di ruangan mereka masing-masing.

Namun keyakinan Sekar keliru, karena ia justru melihat semua karyawan sedang berkumpul di lobby perusahaan entah untuk apa.

Saat Sekar ingin masuk lift untuk bisa segera ke ruangannya, ia justru dihadang oleh security perusahaan. Katanya semua karyawan harus ikut berkumpul di lobby karena ada hal penting yang harus diberitahukan.

“Kenapa nggak diumumkan di grup aja, sih?!” Ucapnya dalam hati.

Sekar pun akhirnya melangkah untuk ikut berkumpul bersama karyawan lainnya. Namun langkahnya terhenti ketika matanya justru bertemu tatap dengan mata pria yang dua malam lalu ia masuki kamarnya.

“...kita sambut pemimpin baru di perusahaan ini – Jagat Benjamin.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Jagat! Cintai Aku!   Bab 155

    Devan berlutut di hadapan Sisil dengan cincin berlian yang begitu indah setelah wanita pujaannya itu menerima buket bunga darinya. "Maaf karena udah bikin kamu kesal, maaf karena udah bohongi kamu. Semua aku lakukan biar semua rencana ini berhasil. I really love you, Sil. You're the only one for me now and forever. Will you marry me?"Sisil masih berdiri di depan Devan, matanya berkaca-kaca tak menyangka bahwa kekasihnya ini sedang melamarnya. Karena sejujurnya dari awal memiliki hubungan dengan Devan, ia tak terlalu berharap untuk bisa berlanjut sampai ke jenjang serius meskipun pria itu berulang kali selalu mengatakan ingin menikahinya. Makanya setiap orang yang bertanya tentang hubungannya akan selalu ia jawab "Doakan saja."Sisil tak mau sesumbar mengatakan bahwa ia akan dinikahi oleh seorang Devan, terlebih dengan track record pria itu yang sebelum dengannya selalu mudah berganti pasangan. Kata kedua orang tua dan kakak Devan, ia adalah wanita pertama dengan durasi terlama yang d

  • Pak Jagat! Cintai Aku!   Bab 154

    Satu minggu telah berlalu sejak curhatan Sisil pada Sekar malam itu dan kini mereka sudah berada di puncak Bogor untuk merealisasikan liburan yang tadinya direncakan oleh Sisil dan Devan."Sumpah gue masih sebel banget sama Devan. Rasa keselnya masih ada sampai sekarang. Gue udah mencoba pengertian tapi ternyata gue nggak bisa. Nggak ikhlas banget karena ini rencana udah dari berbulan-bulan lalu." Ucap Sisil dengan wajah yang bersungut-sungut."Gue paham kok perasaan lo, Sil. Tapi coba deh ambil sisi positifnya - kesempatan kita bisa ngumpul kek gini." Sebenarnya dalam hati Sekar tertawa terlebih saat melihat ekspresi di wajah Sisil. Namun tetap ia harus bersikap biasa saja agar semua yang Devan rencanakan berhasil.Ah... tapi ada hal yang sampai saat ini masih membuat Sekar kesal, bukan pada Sisil atau Devan, melainkan pada Jagat karena sepertinya pria itu berbohong padanya.Ia masih ingat betul saat pertemuan mereka, Jagat bilang Devan meminta tolong untuk menyampaikan padanya tenta

  • Pak Jagat! Cintai Aku!   Bab 153

    Sekar duduk di sofa panjang tepat di samping Mamanya. Televisi di depannya masih menyala karena setelah beberapa saat sang Mama masih fokus menonton acara yang sedang ditayangkan dan ia lebih memilih diam menunggu Mamanya berbicara terlebih dahulu."Mama tahu kamu pulang dengan Jagat dan malam ini bukan untuk yang pertama kalinya. Benar kan?"Sekar tercekat. Selama ini ia berusaha menutupi pertemuannya dengan mantan kekasihnya itu dari sang Mama, namun ternyata Mamanya malah sudah tahu.Meski Mamanya tak pernah bertanya atau berusaha ingin tahu tentang kehidupan pribadinya, namun ia tetap merasa telah mengkhianati sang Mama karena menyembunyikan pertemuannya dengan Jagat.Bukan tanpa alasan ia merasa seperti itu. Semua karena ia teringat bagaimana Bu Dian pernah mengancamnya dan mengancam sang Mama demi bisa memisahkan dirinya dengan Jagat. Dan kini dengan bertemunya ia dan Jagat kembali seolah membuka ingatan dan luka yang terjadi saat itu."Ma, Sekar bisa jelasin. Ini nggak seperti

  • Pak Jagat! Cintai Aku!   Bab 152

    Sekar tak menjawab jalimat yang beberapa saat lalu keluar dari mulut Jagat. Meski sedari tadi ia berharap pria itu mengajaknya jalan, nyatanya kalimat rindu dari Jagat tetap terasa menyakitkan untuknya karena ia kenyataan tentang hubungan mereka yang tidak direstui oleh Bu Dian kembali berputar di pikirannya.Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Bu Dian mengancamnya untuk mengakhiri hubungannya dengan Jagat. Ia juga masih ingat saat Arjuna memberitahunya bahwa Mamanya juga diancam oleh Bu Dian.Rasanya sulit untuk ia dan Jagat kembali bersama jika tak ada restu dari ibu pria itu. Ia juga tak mungkin rela membuat keluarganya terluka atau celaka hanya karena keegoisan cintanya untuk Jagat."Saya pamit pulang, Pak. Terima kasih atas minumannya." Setelah beberapa saat hanya berdiri diam di tempatnya, akhirnya Sekar memilih berpamitan tanpa menanggapi ucapan Jagat."Saya antar." Ucap Jagat begitu saja.Sekar akhirnya menoleh untuk mengatakan bahwa ia bisa pulang sendiri, tapi ucapannya te

  • Pak Jagat! Cintai Aku!   Bab 151

    Nyatanya Sekar tak langsung pulang setelah ia keluar dari salah satu restoran tempat ia bertemu dengan Cindy karena ia justru berbelok ke sebuah toko pakaian. Tiba-tiba ia ingin membeli celana jins panjang di sana.Saat matanya sibuk memilih, mulutnya juga tak kalah sibuk. Ia menceritakan hal yang baru saja terjadi pada Sisil. Telat saat tadi ia masuk ke toko pakaian, Sisil menelpon dan akhirnya terjadilah sesi saling curhat di antara mereka."Sumpah tadi gue udah mikir si Dimas itu datang sama Mas Jagat, Sil. Gue udah panik duluan.""Yeee, itu mah lo yang kepedean." Sisil kemudian tertawa setelah mengatakan hal itu yang membuatnya mendengus seketika. Tapi benar juga sih, dia yang sepertinya kepedean. Jagat kan orang sibuk, mana mungkin mengikuti kencan sekretarisnya."Ingat Sekar, kalian itu cuma mantan. Jangan kepedean." Ucap batinnya pada dirinya sendiri."Iya sih, Sil, gue yang kepedean hahaha. Gue yang memang belum move on dari dia, tapi sok jaga jarak pas waktu itu ketemu. Mungk

  • Pak Jagat! Cintai Aku!   Bab 150

    "Saya sudah janjian dengan dia, Pak. Katanya dia mau bawa temannya saat kami ketemuan nanti."Ucap Dimas saat mereka akan melakukan boarding di bandara."Kamu suruh dia bawa teman, Dim?" Jagat sedikit terkejut bahwa ada seorang wanita yang akan membawa temannya untuk first date. Sungguh aneh menurutnya. Atau mungkin Dimas yang menyuruh?"Nggak, Pak. Dia bilang sebelum saya ajak ketemu, dia sudah ada janji dengan temannya itu. Jadi nggak enak kalau tiba-tiba dibatalkan. Salah saya juga karena mengajak dia ketemu mendadak."Jagat meringis, merasa bersalah juga karena sebenarnya ide liburan ke Singapura adalah idenya."Tapi, Pak. Katanya temannya ini teman kerja di perusahaannya, bisa jadi itu Bu Sekar." Ucap Dimas lagiJagat mengangguk-anggukkan kepalanya. Ya, kemungkinan itu memang ada melihat beberapa highlight di media sosial wanita itu, sepertinya memang hanya Sekar yang begitu akrab dengannya."Terima kasih informasinya, Dim." Jagat kemudiaj duduk di kursinya menunggu saat take off

  • Pak Jagat! Cintai Aku!   Bab 96

    Sekar membeku. Untuk sesaat ia terpaku seolah tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat sekarang, Jagat berpelukan dengan Rachel yang kata pria itu hanyalah wanita dari masa lalunya.Dengan tangan gemetar, ia memegang kemudi dan memundurkan mobilnya lalu berbalik melaju menjauhi rumah Jagat. Hati

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Pak Jagat! Cintai Aku!   Bab 90

    "Hallo, Mas."Di seberang sana Jagat tak langsung menjawab sapaannya. Pria itu terdengar menghembuskan napas panjang."Akhirnya kamu angkat telepon saya, Sekar. Saya benar-benar khawatir dari kemarin karena tidak mendengar kabar dari kamu secara langsung. Saya tanya Arjuna, katanya kamu sudah pulan

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Pak Jagat! Cintai Aku!   Bab 14

    Sekar memandangi pesan itu tanpa berniat untuk membalas. Ia tahu siapa pemilik nomor yang tak ia simpan itu - David. Ia masih hafal nomornya.Setelah Sekar tahu nomornya diblokir oleh David, ia juga menghapus nomor pria itu di kontak ponselnya, termasuk menghapus semua pesan-pesan di antara mereka.

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Pak Jagat! Cintai Aku!   Bab 6

    Sekar terdiam cukup lama. Perasaan terkejut itu belum hilang, tapi sekarang sudah ada banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya.Apa tadi ia tidak salah dengar, menjadi tunangan pura-pura pria itu?Tapi tunggu, bagaimana mungkin Jagat yang seorang pimpinan itu tahu tentang gosip staff biasa seperti

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status